Kamis, 15 Desember 2016

rantai di sosmed

Saat posting di sosmed diatur lebih ketat, maka postingan galau akan penuhi timeline. Karena dia yang lahir dari pencitraan itu mulai takut di rimba pertempurannya sendiri.

Sudah diduga, bola bekel itu memantul saat berbentur. Sibuk dandan pakai topeng, ya akhirnya bingung dengan topengnya sendiri.

Seperti kalimatmu dulu, kenapa tak jadi diri sendiri? Mungkin saja aku suka wajah aselimu. (Dalam hati bergumam: mungkin juga tidak).

Ternyata kuncinya pada orientasi. Selama sekedar dunyawi, maka berpura pura itu senjatanya. Khas dunia yang fana, seperti nenek yang bersolek.

Lalu jalani hidup dengan berharap tetap dalam nalar. Rajin mencubit pipi sendiri. Takut hanyut oleh informasi yang pekat persepsi basa basi.

Bayangkan betapa pekat belukar ini, karena pendusta demikian dominan. Jika tak berasa dusta pun, ternyata tetap saja ada yang disembunyikan.

Bekasi, 29/11/2016
Poetoe.

memang tak layak

Demikianlah....
semua tiba-tiba rumit
seperti tak cukup energi untuk mengetuk pintu
harus menunduk dalam
terlalu berat langkah lama menghalangi
tersadar yang lambat
bahwa hati teramat lemah
masih demikian ingat,
wajahmu saat gumamkan kalimat
"Salah pilih aku"

Dan siang itu hanya diam
memang tak layak
memang tak layak.

Sudahlah.

Bumyagara, 29/11/2016
Poetoe.

Ujian

Pada akhirnya semua akan diuji. Juga atas rasa. Ujian berkesinambungan. Kita akan liat hasilnya di ujung nanti.

Seperti rasa cinta yang mula-mula. Berawal dari sekedar ingin menguasai, lalu diuji oleh kegagalan, berubahlah ia menjadi serupa energi untuk melindungi, juga semangat untuk berbagi.

Apakah kita akan lulus? Atau harus mengulang, atau justru gagal? Dan terpental kita dalam sesal. Lihat saja nanti.

Jakarta-jogja 26/11/2016
Poetoe.

Selasa, 22 November 2016

Permaian Dunia

Ini permainan
cara pandang menjadi kunci
kemampuan bedakan kesementaraan dan keabadian adalah penentu
ternyata di dunia memang isinya kesementaraan
kepedihan adalah keengganan memahami bahwa tak ada abadi di muka bumi
kehilangan melukakan, namun yang lebih perih adalah rasa tak mau kehilangan
dan akhirnya justru nalar yang dicibir....
dipersalahkan atas perannya membangunkan kita dari mimpi indah.

Demikianlah....

Pancoran, 23/11/2016
Poetoe

ABG lagi

Terlempar lah
pada pusaran waktu
liat kita menabik nabik
terseret sajalah

Jarak atas tempat atau waktu
apatah beda

Hati bergerak detak
seolah medan magnet
berharap berdekat
namun apa daya

Berdiri saja
berdiam atas kegalauan
karena mendekat pun hanya bimbang yang kan ditemui
lalu sumbang lah angin yang menampar
lalu kering lah nafas yang terhirup

Demikianlah
waktu mengguruiku
tentang lalu
tentang keterlambatan
tentang kesalahan membaca firasat

.

Pancoran, 22/11/2016
Poetoe.

PAGUD1PA

Dua hari ini seru,
Konggres mungkin kurang sukses. Ada kejanggalan dan kekecewaan.
Tapi langkah Pagud1pa benar benar membanggakan.
Belum resmi terlahir, namun suasana kekeluargaannya terasa pekat.

Semua bersemangat ambil bagian, mungkin memang seharusnya demikian sebuah paguyuban.
Terlahir dari ikatan informal, bergerak atas dasar kerelaaan, bersemangat untuk berpartisipasi, dan sibuk untuk berbagi arti.

Terima kasih teman teman, kalian telah mengisi Rumah Pagud1pa hari ini dengan segenap rasa.

Jurangmangu, 13/11/2016
Poetoe'94

Thowaf

Saat berdesakan dalam ibadah thowaf kita memahami betapa pribadi kita melebur menjadi satu bersama gelombang putih pakaian ihrom itu. Bahkan langit pun seolah bersenandung, pula angin, pula cahaya matahari.

Dan doa yang selama ini demikian personal itu tiba-tiba terhenti. Malu. Betapa sedikit energiku untuk orang banyak. Karena tersibukkan aku oleh urusan pribadiku saja.

.........

Bis kota dan air mata.

Bis kota dan air mata. Sejak dulu ini sering terjadi. Kejadian di sekitar kita banyak yang mengundang air mata. Tak semua tentang kesedihan, karena terkadang tentang haru.

Seperti pagi ini, dua orang nenek mengamen di bis, salah satunya bahkan terihat seperti bencong. (Maaf jika aku salah) Dandanan mereka tebal, lagu yang mereka nyanyikan dangdut. Nenek yang menyanyi sudah renta, tangannya harus berpegangan pada tiang atau kursi penumpang. Mendengar dan melihat mereka menyanyi, membuat aku terlempar ke dunia yang cekung. Seperti ada dalam nampan yang berisi adonan kesedihan. Benar mungkin saja mereka bahagia, tapi tak bisa disangkal ini adalah masalah. Seorang setua dia tak seharusnya mengamen dan berdandan seperti itu. Ini tontonan atas luka kita sendiri.

Lalu diam. Aku terpejam. Tak terbayang apa yang bisa aku lakukan. Mungkin butuh waktu,butuh teman untuk berbagi isi hati dan atur rencana. Tapi paling tidak, pagi ini aku hanya menangis diam diam.

Bekasi-Jakarta, 08/11/2016
Poetoe.

To be or not to be.

Hidup sebagai rangkaian pilihan seringkali kita persulit dengan membenturkan dua titik ekstrim. Hitam atau putih. Iya atau tidak sama sekali. Seperti tesis lalu anti tesis, melupakan kelanjutannya yaitu sintesis.

Saya teringat almarhum Bapak. Seorang pekerja dakwah, yang awalnya ceramah dari mimbar ke mimbar, namun di penghujungnya lebih memilih jalan kultural, membuka perbincangan informal dengan kemasan bercanda. Materinya sama, terkadang bahkan tema bercanda Bapak itu muatan aqidahnya pekat. Mentertawakan ketakutan antar manusia, disiplin yang tak semestinya pada kegiatan pramuka misalnya. Sepertinya Bapak menyadari bahwa mimbar hanya bisa mendefinisikan mana benar mana salah. Jika tak lalu dilanjutkan dengan sarana lain, maka ummat hanya diberi pilihan yang kaku. To be or not to be. Bisa jadi sebagian mereka memilih tidak sama sekali, lalu berpaling menjauh. Pada sarana lain itulah peran yang diambil Bapak. Mediasi, saat ummat mulai tertarik pada jalan Islam.

Saya belajar banyak dari Bapak. Kemasan dakwah yang terlihat tetap nyaman. Ada beberapa tetangga dari keyakinan yang berbeda, tetap nyaman berdiskusi agama dengan Bapak. Tak ada lonjakan emosi. Suara keras berapi-api. Justru seringkali tertawa-tawa. Hasilnya paling tidak, RT tempat yang dia pimpin sampai akhir hayatnya adalah lingkungan yang damai. Penuh tepa selira, dengan kajian di Mushola Al Ishlah markas dakwah RT kami tetap rutin dilaksanakan.

Demikian, pagi ini saya luangkan waktu khusus untuk mengenang almarhum Bapak, terinspirasi mas Maulana cucu pertamanya yang rajin menghitung hari menuju 1000 hari Tatungnya meninggal.

Bekasi, 08/11/2016
Poetoe.

Orang-orang Pergerakan

Dan ini bukan tentang aku, karena aku hanya duduk di pinggir sejarah dan mencatat yang memang perlu dicatat. Ini tentang sekumpulan orang muda yang serius membangun kapasitas internal mereka. Saling membantu dan menjaga satu sama lain. Ikatan hati mereka teramat dalam. Tak sekejap pun mereka biarkan teman lainnya terluka atau tersakiti. Mereka bukan sekumpulan wajah garang, karena senyuman adalah karakter dasarnya.

Tentang visi dan misi hidup mereka tak lagi risau, karena mereka yakin visi dan misi itu telah ditetapkan Sang Pencipta. Jadi mereka fokus pada cara, dan strategi, bagaimana mereka bisa menjadi lebih bermanfaat. Konsentrasi pada produktivitas.

Setiap hari mereka bergerak. Lakukan kebaikan dari hal hal terkecil. Menebar senyum, menebar kebaikan, berbagi makanan, berbagi kemudahan.

Saat dunia sibuk membangun citra, mereka justru sibuk membangun pemahaman. Kapasitas internal lebih utama dari pada performance.

Ah... Mereka luar biasa. Aku hanya mengagumi diam diam. Berharap menjadi bagian dari mereka. Walau hanya sebagai cacing tanah, di bawah kaki mereka.

November 2016
Poetoe.

Fithrah Komunal

Dan seperti itulah waktu mengajarkan pada kita tentang fithrah komunal kita. Perasaan bahagia saat bergerak bersama. Dengan respon yang bersegera sambut panggilan. Tak mudah membangun rasa itu. Butuh pemahaman yang utuh dan ketaatan yang sempurna.

Caranya harus sabar. Paling tidak secara rutin mengulang ulang FirmanNya dengan lesan maupun ingatan. Lalu mentadaburi secara sabar, berdasar sunnah Nabi dan kisah sahabat. Panduan tetap gunakan nalar. Karena yang kira bangun adalah it tiba' (mengikuti dengan kesadaran) bukan taklid (yang membuta).

Demikianlah ketaatan memiliki ruang penting dalam membangun ketenangan. Dan saat ada ancaman, sekeras apapun, jawabannya adalah senyuman. Karena tak lagi ada yang layak takut dipertaruhkan saat kematian pun dikatakan dengan imbuhan "hanya"

November 2016
Poetoe

Bukti Iman

Dan demikianlah bukti iman itu dipertaruhkan,
Cinta kah atau hanya mengaku saja
Atau selama ini hanya ikut mengikut

Tiada pasti,
Karena gerak hati tak mudah terdefinisi
Hanya bisa kita tangkap tanda dan bekasnya saja....

Terkadang kita justru menepi, berdalih nalar yang lebih panjang...
Bersembunyi dalam analisa
Kepengecutan yang berwibawa.

Begitulah di setiap akhir sebuah aksi,
Selalu ada "diam" yang wingit,
Renungan sederhana,
Apakah hati kita lulus atau masih lalu harus mengulang....

Semoga.

Mutiara Gading Timur, 06/11/2016
Poetoe

Sakit

Ini memang cara Dia berbagi sayang, mengirimkan sakit yang membatasi agar aku lebih fokus atas hal hal yang lebih penting.

Karena ternyata keluangan itu terkadang melenakan, membahayakan....
Sedangkan keterbatasan itu seringkali menyelamatkan.

Bumyagara, 5/11/2016
Poetoe.

Rindu Saja

Seperti hukum sebab akibat,
setiap hal seolah harus ada sebab mendahuluinya...
beberapa dari kita memanggilnya dengan sebutan alasan.

Memang alasan menjadi lebih rendah dari sisi makna,
seperti kata "mencari alasan" atau "banyak alasan"

Bagaimana dengan rasa?
banyak rasa yang tak terdefinisi,
juga tak ditemukan apa sebabnya...
seolah hukum casualitas itu tak terbukti.

Seperti rindu yang tak bermula dari sebab,
iya.

Rindu saja.

Tugu Pancoran, 01/11/2016
Poetoe.

yang tertinggal

Ada yang terkunci,
tertinggal di belakang almari
badai yang tercatat dengan gurat ukir yang dalam.
Walau waktu yang meringkus kita,
dalam ketergesaan.
Geliat menegang. Ruh!

Ada yang tertinggal,
di setiap senti dinding.
Menangkap setiap kerjap kita,
merekam setiap helanaan nafas itu.
Terburu buru, senggal memburu.
Detik diketik keras, tusts waktu menggerus ingatan. Duh!

Ada yang kutanam paksa,
pada relung telinga, terkemas dalam nada.
Riang atau pedih itu abaikan saja.
Aku hanya mau menanam kenang.
Maka relakan saja. Gumpal merinduh. Fuih!

Jakarta, 29/10/2016
Poetoe.

Kamis, 27 Oktober 2016

Jejak Langkah

Waktu melangkah,
Mengubah esok menjadi nanti,
nanti menjadi sekarang,
sekarang menjadi tadi,
tadi menjadi dulu.....

Jangan lalu ada penyesalan,
karena penyesalan itu hanya bukti kekalahan kita akan waktu.

...

KPPP Jakarta Mampang Prapatan, 27/10/2016
Poetoe

Sepi itu hiburan

Semakin percaya, bahwa sebenarnya sepi itu hiburan untukku. Banyak waktuku yang aku isi dengan gaduhku sendiri. Terlalu penuh hariku dengan bunyi.

Sunyi adalah rehat dari bunyi, sepi adalah rehat dari badai persepsi. Tersibukkan oleh anggapan orang, lalai atas kebutuhan diri.

Menepilah, sesaat bersembunyi di balik bayangan. Nyaman tak terlihat, tenang tak terbaca. Semua tanda aku simpan dalam bilik jiwa. Datar dan samar saja.

Bekasi, 22/10/2016
Poetoe

Kamis, 20 Oktober 2016

Hanyut

Seperti terlempar di arus deras,
kaki menjejak jejak namun tak temukan dasar sungai,
tangan menggapai gapai namun tak ada dahan yang bisa diraih.
Kepala timbul tenggelam, langit nampak namun sesekali air yang bungkam kelopak mata,
beberapa tenggak air terpaksa; gelagapan,

Kehidupan ternyata tak mudah.
Kebenaran yang terkumpul dulu dan mengendap dalam nurani,
tak lalu tenang. Sesekali syetan mengaduk aduknya kembali
Riak air kesadaran terkotori hasrat : menggelap
keruh oleh kepentingan.

Seperti gelas nalar kita,
jika tak dijaga, tumpah oleh kecerobohan kita sendiri.
Lalu menyesal. Nalar di akhir itu hanya bawa sesal.
Mestinya memang Nalar yang pimpin diri sedari awal,
hingga tak perlu sedu sedan itu. Semenjana yang terjaga.

jadi rima.
berirama.
tak tergesa.
tenang saja.

Sekitar tugu Pancoran; 20/10/2016
Poetoe


Mungkin es capucino atau late tiramisu

Wahai badai yang tersimpan di ceruk dalam,
arusnya berputaran saja di sela sela palung.
Hanya senja yang mengundangnya ke permukaan,
menggelegar menampar karang.

Mungkin es capucino atau late tiramisu
yang bisa jadi jeda,
sesaat reda,
seolah helaan nafas panjang dari rangkaian senggal tak beraturan itu.

Dan dongeng tentang cerdas dalam gelora,
juga rindu akan bahan cerita yang menjadi alasan untuk berani masuk ke belukar rimba.

Lalu gunung berapi di dasar lautan itu meletus
air mendidih menggelegak,
panasnya melesak ke permukaan....
namun...
permukaan laut tetap tenang,
nalar kendalikan arah layar,
dan nyanyian nelayan bersenandung merdu,
senandung tentang ratapan kata "maaf"
yang terbawa angin hingga ke bibir pantai.

Bekasi, 16/10/216
Poetoe.

dua sepi

Jika sepi itu telaga,
maka ada sepi yang dangkal
dan sepi yang dalam.

sepi yang dangkal itu sepi yang tanpa bunyi
sepi yang biasa saja.

Sedangkan sepi yang dalam itu tak sekedar tanpa bunyi,
melainkan juga nihil.
Ketiadaan yang absolut.

Seperti saat kau datang serupa rusa
yang tertusuk panah, dan darah berlumuruan.
Tatapan mata tanpa kata,
namun aku tahu itu cerita
tentang anak panahku yang melukai.

Lalu nihil. Sunyi yang wigati.

Mungkin berada dalam bayangan itu menyelamatkan. Mengikuti gerak benda, namun tak sepenuhnya terlihat.

Lalu tetap saja, saat terbaca olehmu,
maka kehatihatian itu bermakna tikaman.

Padahal kita memang harus betah di tepi telaga ini, bermain dengan mata kaki terendam atau sekaligus saja kita mencebur, berenang dalam sunyi yang terdalam. Nihil.

Bekasi, 16/10/2016
Poetoe.

mata (hari)

Ini tentang mata yang menari
beterbangan penuhi ruang
dengan jelas ungkapkan kekaguman
atas semua kebaikan yang terlahir
.... dan kata yang terucap menjadi lagu
di telinga, walau kritik tetap saja indah.

Mungkin memang Dia yang kirimkan,
sehingga malam menjadi jaga,
sehingga ringan langkah ringan hati
demikian indah Sang Maha Indah itu benamkan rasa.

Dan ini tentang mata,
kerjapnya seolah kepak sayap kupu kupu,
percakapan apapun bermuara pada kualitas hidup.... Ah...
Bermutulah waktu. Bernaslah detik demi detik itu.

Jadi aku tempel saja sekarang,
plang nama itu,
menggantung di teras rumah.

Tak peduli hujan hantam bumi tak berkesudahan.

Jakarta, 13/10/2016
Poetoe

Tertinggal Mukhoyam tahun ini

Karena kesalahanku atur jadwal, aku gagal mengikuti program ini. Sebuah pelatihan survival, kami dilepas di hutan, tanpa makanan, dan hanya minuman. Dipaksa hanya mengkonsumsi apa yang tersedia di hutan selama hampir dua hari dua malam. Cerita teman yang tetap bisa ikut, ia akhirnya benar benar tidak makan dan hanya minum. Dan dalam posisi tanpa makan itu, kami tetap harus berjalan. Seru kata mereka. Aku hanya bisa membayangkannya, membayangkan kelelahan, lapar, dan terus bertahan untuk berjalan selama puluhan jam.

Menurutku ini pelatihan yang menarik. Karena menguji kemampuan kita. Emosi kita dalam lapar dan lelah itu bisa membuat kita kelihatan asli kita. Jika dalam posisi itu kita bisa bertahan maka itu membuktikan kita bisa mengalahkan "diri" kita. Mengendalikan "diri". Dalam bahasa psikologi fenomenologi: kemenangan "aku" atas "diri". Bahasa arabnya "ana" atas "nafsiy".

Mungkin pelatihan ini bisa kita ganti dengan puasa, dan tetap beraktifitas seperti biasa. Agar kita lihat seberapa mampu kita kendalikan diri dalam lapar dan lelah.

Wallohu a'lam

Mustika Jaya, 13/10/2016; 00.24
Poetoe.

Syetan dan Kita

Semakin terbukti kebenaran FirmanNya, bahwa syetan adalah musuh abadi. Karena mahkluk halus tak berwujud maka ia tak terlihat namun dapat kita rasakan. Merasakan kehadirannya pun tak mudah, karena menyelinap di relung hati. "Yuwas wisu fi shudurin nas."

Mendeteksinya adalah saat kita berjarak dengan kebaikan dan kebenaran, menjadi berat lakukan hal hal positif, atau mungkin menahan melakukan kebaikan, memelihara kedengkian, maka saat itu kita sedang terinfeksi syetan.

Teringat seorang sahabat yang sekaligus pernah menjadi atasanku, pernah mengatakan "Mas, kehidupan itu sederhana saja. Serupa bagan. Manusia di tengah, dengan diapit syetan dan malaikat. Setiap langkah kita terpengaruh dua tarikan itu. Cenderung ikut bisikan siapa kah kita?"

Pilihan itu ada di setiap tindakan kita, pikiran kita, bahkan sekedar lintasan hati kita. Saat ini saat aku menulis di post ini pun dalam dua tarikan, ada bisikan syetan ada pula bisikan malaikat. Kesemuanya mengendap dalam nurani. (Sesaat aku benar-benar terhenti. Tangan gemetaran mau memilih huruf mana.)

Ada yang berbisik untuk apa menulis ini?

(Mungkin syetan tak suka) Tapi sudah saatnya berbenah. Bukankah perbaikan itu harus dimulai dari pemahaman bahwa kita sedang keliru? Seperti penggalan kalimat dalam sayidul istighfar kita, ".... Hari ini aku mengakui seluruh nikmat yang telah Kau beri, demikian pula aku akui dosa-dosaku." pengakuan.

Bahwa sikap hatiku: kecewa, marah, benci, dengki, sombong, enggan dikritik, suka dipuji, benci dicaci, menghamba pada citra dan persepsi orang, suka bermaksiat, berat beribadah, enggan bertobat, dan sejenisnya adalah hasil dari terinfeksi nya aku oleh syetan. Bahwa syetan adalah musuhku semestinya kembali aku ikrarkan. Lalu kembali jalani hidup sebagai pertempuran yang panjang melawannya.

Harapannya tentu, bisa tetap bertahan dalam sikap hati yang tenang terjaga, bahagia, tak ada satu pun kebencian, memiliki banyak amunisi untuk bertahan tanpa marah, mampu mendengar kritik sepedas apapun itu, risih terhadap pujian, tetap ringan lakukan kebaikan, tetap kaya dengan kasih sayang, dermawan, dan segala jenis kebaikan lainnya.

Sampai dengan saat aku akan mengakhiri tulisan ini pun masih ada bisikan, untuk apa ini ditulis dan diposting? Bukankah ini hanya akan mengikatmu? Bukankah kata kata ini akan memenjarakanmu, memberatkan langkahmu saat nanti kau kembali bermaksiat? Bukankah ini tulisan yang naif?

Entahlah, tapi aku putuskan, dengan lafadz "Bismillah" aku klik "poskan" (karena setting HPku gunakan bahasa Indonesia. Hehe.)

Mustika Jaya, 13/10/2016; 00.09
Poetoe.

Endapkan dulu

Teringat nasehat seseorang untukku dulu saat aku tersadar bahwa memang terlahir sebagai seorang ekstrovet, banyak bicara, maka harus diimbangi dengan banyak mendengar. Rajin ikut majelis taklim untuk mendengar banyak Ustadz dengan berbagai pendapat yang berbeda, juga nongkrong di warung kopi berbincang dengan banyak jenis orang.

Rasanya sama, dengan keinginan menulis banyak hal. Entah sekedar status di media sosial atau pun chating di banyak group, itu juga butuh diimbangi dengan banyak baca. Jika tak imbang, maka kualitas kalimat yang terucap maupun yang tertulis akan mengikuti. Bisa jadi semakin tak bermutu.

Dalam hal menulis aku coba cara baru, sesuatu yang terlintas tak segera aku tulis, melainkan aku endapkan dulu. Aku uji secara mandiri dalam cawan benak. Paling tidak sempat aku pikirkan menjelang tidur. Risikonya memang tercecer diserobot monster lupa. Tapi anggaplah itu seleksi alam. Toh, di muka bumi ini sudah teramat banyak kata yang diucapkan juga dituliskan. Menambah kata kata sampah hanya akan menambah beban dunia.

Bumyagara, 09/10/2016; dini hari
Poetoe.

Labirin Logika

Logika adalah salah satu aktifitas akal. Kalau dalam pelajaran ilmu Mantiq ada kaidah "al insaanu khayawannun natiq" manusia adalah hewan yang berlogika. Berbicara tentang cara berpikir ada banyak hal, pada tulisan ini saya hanya tertarik pada penggunaan metode berpikir yang bisa jadi kita ubah cara pendekatan atas satu masalah untuk mendapat pemahaman yang utuh. Contoh berpikir menyempit dan khusus untuk kemudian meluas atau umum. Begitu juga sebaliknya. Induktif juga deduktif. Saat kita ingin mengidentifikasi atau mendefinisikan sesuatu tentu kita menyempit, dengan membuat batasan masalah, sehingga jelas titik tekannya. Namun saat coba menjelaskan tentang sesuatu kita akan kembali meluaskan.

Demikianlah kerja logika. Meluas lalu menyempit, zoom out lalu zoom in. Namun ternyata pola ini juga rawan jebakan. Terkadang kita tersesat oleh labirin logika kita sendiri. Hipotesa memang tak mencukupi untuk menemukan kebenaran. Butuh petunjuk dari langit.

Apalagi saat pemikiran itu mengendap di perasaan. Objektivitas lebur perlahan menjadi subjektif. Karena rasa memang seperti harddisk dalam komputer yang menyimpan secara permanen hasil kerja CPU dalam memory sementara, CPU ini mewakili otak manusia, piranti tempat pemikiran itu bekerja.

Labirin logika itu lebih rumit saat terendap dalam rasa. Menjadi semakin banyak pintu, persimpangan, semakin rumit akan semakin gelap. Untuk selamat dari labirin itu kita butuh peta, dan lentera penerang. Peta itu kitab dari Tuhan, sedangkan lentera itu nurani.

Saat tersesat, ada baiknya kita menepi, berpikir mendalam namun tetap terus memohon pencerahan dari-Nya, akui kelemahan. Buang kesombongan diri. Merendah, terus merendah. Menghiba, yakinlah hanya atas pertolongan Nya kita bisa selamat.

Demikianlah, pantaslah jika kita terus berdoa "Ya Alloh perlihatkanlah yang benar itu benar, dan ringankan hati untuk mengikutinya, dan perlihatkan yang bathil itu bathil dan ringankan hati untuk bisa menjauhinya. Aamiin."

MutiaraGadingTimur, 08/10/2016
Poetoe.

Aksi Teatrikal RISMA Al Ghanniy

Di malam tahun tahun baru hijriyah, Remaja Islam Masjid Al Ghanniy (Risma Al Ghanniy) menampilkan aksi teatrikal, bertemakan konflik antara orang tua dan remaja yang aktif di masjid. Karena mereka sering rapat hingga larut malam, maka orang tua berkeberatan. Salah satunya sebenarnya saya, karena anak sulung juga aktif, anak gadis pulang larut tentu saja mengkhawatirkanku.

Adegan dalam drama pendek itu sederhana, lugas, tanpa kiasan. Apa adanya. Mereka berperan sebagai diri mereka sendiri, kecuali seorang dari berperan menjadi orang tua yang komplain keras terhadap aktifitas Risma yang sampai larut itu.

Pada akhirnya diceritakan dalam adegan tersebut mereka mengambil simpulan, untuk membenahi cara rapat mereka: dengan datang tepat waktu, dan agenda yang jelas sehingga rapat bisa efektif. Dan satu hal lagi, seusai rapat mereka harus bergegas pulang.

Saya sebenarnya tidak berani menonton langsung saat drama ditonilkan, karena saat latihan saya sudah menangkap arah ceritanya. Seperti biasa, sebagai sanguinis saya memang cenderung menghindari konflik. Namun ada beberapa hal yang menjadi catatanku.

Yang pertama, apresiasi bahwa Risma sudah dapat memanfaatkan seni peran sebagai sarana ekspresi atas aspirasi mereka. Memang sebenarnya jika dikemas dalam kiasan akan lebih indah dan menantang. Yang kedua, ini membuktikan bahwa Risma sudah dapat identifikasikan masalah dan alternatif penyelesaiannya. Untuk siasati pulang larut maka mereka tawarkan solusi berupa rapat yang lebih efektif, dimulai tepat waktu dan agenda yang jelas.

Demikianlah, acara malam tahun baru hijriyah ini menjadi sarana komunikasi antar generasi, remaja dan orang tua. Semoga ini menjadi pembuka pintu keberkahan untuk kita semua. Aamiin.

Taman Bumyagara, 02/10/2016
Poetoe.

Terhenti

kita tak menyangka, bahwa kita sudah sampai pada tepi tiang birama
saat sunyi kuasai diri, menghentikan rangkaian nada yang riuh sedari kemarin....

kita tak menduga, bahwa buritan kapal telah menyentuh tepian dermaga, namun bukan di pelabuhan yang kita inginkan
lalu seorang penyair memanjat tiang layar dan berseru
"Tak semua harapan itu dapat kita temukan di buku Kenyataan..."
....
tak ada tepukan tangan, tak ada sorak sorai.
sepi saja.

dan kita hanya memandang saja, pandangan mata yang tak memandang apa apa sebenarnya,
hanya memandang pada diri saja
mungkin memang bukan saatnya saling menunjuk....

dan.... "Cut..."
Sang Sutradara hentikan fragmen ini secara paksa.

Semakin Sunyi.

Pancoran, 29/09/2016
Poetoe

Capucino

Capucino. Jenis kopi yang sudah lama tak aku pesan. Aku memesannya siang ini. Padahal tak seberapa suka. Hanya sekedar ingin catat bahwa siang ini secara berbeda.

Sekedar mengurangi pengulangan saja. Irama memang perlu dalam lagu, pola. Namun sesekali kita memang butuh improvisasi. Membeda.

Seperti kata aneh yang dulu aku sengaja kenakan di keseharian, kini coba aku tanggalkan. Membiasa. Entah akan berhasil atau tidak. Menjadi biasa saat biasanya tak biasa. Padahal sama. Pengulangan juga pada akhirnya.

Dan siang ini, mungkin aku gagal pahami hari, namun paling tidak, aku paham bahwa sedotan pada segelas kopi capucino itu bisa berdiri tegak tanpa bersandar pada dinding gelas.

Circle K pancoran, 25/09/2016
Poetoe.

Gung Liwang Luwung

Menunduk di ruang dalam,
seperti enggan terkena sinar matahari,
menikmati dentuman nadi sendiri,
juga luka,
atas ingatan yang sengaja dinikmati...

Tiba tiba saja, berlama dalam diam itu pesona,
tak ada tempat untuk kebencian
tak ada waktu untuk marah

Gung liwang luwung.
Merem. Namun bukan tidur, karena jalan darah di kelopak mata masih terlihat jelas.

Diam.

Jakarta, 23/09/2016
Poetoe

istighfar

Di saat mustajab, dan itu adalah tempat tepat untuk berdoa, yang terlintas cepat adalah permohonan ampunan.

Kesadaran penuh, bahwa dosa telah beranak pinak demikian dahsyat. Meninggalkan jejak kerusakan, yang melahirkan tak hanya penyesalan namun juga ketakutan.

Permohonan ampunku kepada-Nya, aku haturkan, dengan aku sertakan permohonan agar diberikan jalan dalam rangkaian kenyataan yang mendukung: dari satu kebaikan menuju kebaikan yang lain, demikian pula berikan jalan agar dapat beranjak dari kesalahan satu demi satu, bukan sebaliknya tersesat dari kesalahan satu ke kesalahan lainnya.

Lalu gemetar demikian hebat, berlanjut ke sakit kepala cukup parah, hingga harus rebah. Padahal dulu di saat yang serupa ini, setelah sesal itu hanya air mata. Mungkin level dosa yang meningkat, menimbulkan kerusakan tubuh yang lebih serius.

Aku tahu obatnya, terus detoksifikasi dengan rajin memohon ampun, dan tetap hati-hati dalam melangkah. Berhenti jika tersadar, agar tak tersesat terlalu jauh.

(Resep itu masih aku pegang erat, sayangnya aku seringkali lupa untuk menebusnya di apotik terdekat.)

Al Ghanniy, 27/09/2016
Poetoe

ingkari ketiadaanmu

Mungkin ini saatnya, aku memberi harga lebih atas kata,
kata yang berupa tulisan yang tak terbaca,
kata yang berupa suara yang tak terdengar,
kata pada wajah yang tak terlihat.

Kau mengingari ada ku,
namun aku tetap coba ingkari ketiadaanmu.

Bukankah bunga yang tergeletak di depan pintu hingga layu itu pun tetap punya makna?

Kutaburi saja nampan kenangan itu, dengan detik detik kebersamaan kita dulu. Manis, sangatlah manis.

Pancoran, 25/09/2016
Poetoe

mengapa tak jaga tilawahmu?

Lalu serupa percakapan pada satu pagi,
Mengapa tua tak membuatmu semakin menunduk. Dan aku tergagap. Tak kuasa untuk tak mengiyakan.

Mengapa saat luang dalam lelah itu gitar yang kau raih, bukan mushaf Quran seperti dulu....?

Tanya yang tak untuk aku jawab, cukup mengendapkannya. Ini justru jawaban atas risau yang menganak pinak di setiap malamku belakangan ini.

Narasi dari langit. Berisi kalimat Tuhan yang dengan membacanya membuat ku tenang. Mengabaikannya adalah gelisah.

Baiklah, aku akan rajin menyapamu via chat, sambil kulaporkan tilawahku hari ini. Jaga aku, dik.

Pancoran, 21/09/2016
Poetoe.

aku : monster

Di pinggir waktu
tempat yang tak terlalu aku kenal
menenggak kopi serupa air putih
dan matahari menunduk malu di balik awan
aku bercerita tentang hal yang mengejutkanmu
ternyata aku bisa punya rahasia juga
kupikir aku sudah telanjang
jadi beginilah
aku monster yang tertanam dalam tubuh bocah. Dulu.
Sekarang tentu tak lagi bocah, namun monster mungkin saja masih.

Larutan kopi mengisi penuh nadi,
darah merah menghitam
sejarah memang hitam bukan?
Mungkin itu yang membuat sesekali kau lupakan nikmat kenangan.

Aku di sini.
Di pinggir waktu, di tempat yang tak terlalu aku kenal. Bersama secangkir kopi, cangkir kopi keduaku hari ini. Dan aku menenggaknya serupa air putih saja.

Rest Area 57, 8/9/2016
Poetoe

Doa itu memang ekspresi kerinduan

Doa memang ekspresi kerinduan, seperti saat benar benar rindu dan kita tak bisa lakukan sesuatu, maka berdoa adalah cara yang indah.

Doa juga ekspresi cinta, ekspresi perhatian, ekspresi rasa sayang. Terkadang tak terasa kalimat kita penuh doa. "Hati-hati di jalan" "fi amanillah", "sukses yaa", "tetap semangat yaa". Pada kata kata itu tersirat doa, harapan positif.

Doa itu memang luar biasa. Kekuatan yang terlahir dari pemahaman atas ketidakberdayaan. Kita ingin selalu dapat melindungi anak tercinta, namun jarak membatasi. Kita tak bisa selalu ada di sebelahnya. Tak berdaya. Maka doa yang bisa mewakili. Karena hanya dengan melibat kan Dia yang maha berkehendak, maka hidup kita akan tenang.

Demikianlah, ekspresi rindu juga cinta yang terindah adalah: doa.

Bis transjabodetabek, 29/08/2016
Poetoe.

Pigura Norma

Photo butuh frame. Batas.
Lagu pun butuh birama.
Demikian keindahan, butuh batas
Cantik itu cantik saja
Cukup. Jangan berlebih menikmatinya.

Hahaha.

Akrab butuh norma.
Butuh sopan.

Baiklah.

Indonesia, Agustus 2016
Poetoe

Galau di usiaku

Galau pada frase umur tertentu, ternyata mempunyai beda sebab. Dulu saat belia, galau itu tersebab oleh penasaran atas banyak hal. Seperti pencarian atas definisi untuk semua hal. Sedangkan sekarang setelah memasuki "kepala empat" sebabnya sedikit berbeda. Karena tak lagi risau atas definisi, justru sebaliknya, karena teramat banyak makna yang pernah tertangkap, maka untuk jelaskan satu hal saja, ditemukan banyak definisi dan narasi. Variabelnya menjadi teramat banyak. Menjadi sulit mencari sesuatu yang sederhana.

Tentang rasa, tentang sikap, tentang penilaian, tentang harapan, semua menjadi bagan pemahaman yang kompleks.

Bisa jadi, meminjam kaca mata masa lalu kita adalah solusi untuk mengembalikan dunia yang nampak sederhana.

Ini hanya masalah cara pandang.

Iya. Cara.

Bekasi, 28/08/2016
Poetoe

Rangkaian kebaikan

Hidup adalah serangkaian kebaikan orang lain atas kita. Dimulai dari saat pasangan kita membangunkan kita. Caranya yang lembut menjadi gerbang yang indah memasuki alam kesadaran. Berlanjut kebaikan lain melalui tersedianya sarapan dan secangkir kopi. Menjadi energi awal untuk lalui hari ini.

Di jalan pun, kita selamat karena kebaikan orang lain. Mereka yang memberi jalan saat kita mendahului, juga saat di bis selalu saja ada orang yang memberi ruang untuk kita. Di kantor ada senyum satuan pengamanan di gerbang lalu senyum resepsionis di depan lift mendukung keceriaan hati kita. Rekan kerja yang dengan ringan membantu tugas tugas kita, atasan yang cermat menjaga kita dari kesalahan. Ah, betapa banyak kebaikan orang lain atas hidup kita.

Belum lagi mereka yang berperan menjaga atmosfer nyaman kita. Melalui posting positif pada sosial media yang sempat kita baca, atau sekedar status yang membahagiakan. Juga teman-teman berbincang yang melengkapi hangatnya hari.

Dan yang lebih utama adalah mereka yang tak berhenti mendoakan kita. Orang tua kita, keluarga kita, juga orang-orang yang tak kita kenal yang diam diam mendoakan keselamatan dan kebaikan untuk kita.

Aku bersyukur atas ini semua. Dzat yang maha Baik itu telah melimpahkan hal hal baik di sekitar kita. Semoga keberkahan selalu terlimpah untuk kita semua.

Aamiin.

Bekasi-Jakarta, 16/08/2016
Poetoe.

bercakap dengan awan

Entah mulai kapan, aku jadi suka membaca awan. Mendongak ke atas, lalu mengeja setiap lekuk awan. Awalnya aku pikir aku butuh belajar bahasa awan, ternyata tidak. Cukup menatap lama saja, maka otak kita akan memproduksi banyak kata dan cerita. Awan bertutur dengan caranya sendiri.

Seperti sore ini, aku berbincang dengannya tentang kepentingan yang mengunyah kebaikan hati. Caranya lembut, tapi tanpa terasa kita dibutakan oleh kepentingan itu hingga orang orang menjadi nampak buruk. Kebaikan mereka hilang makna. Kita penuh dengan syak wasangka.

Aku masih menatap langit. Lama. Hingga awan putih itu melogam, lalu memerah, perlahan menggelap. Ajari aku. Ajari tentang memelihara ketulusan dan memandang semua dengan kejernihan hati. Tak ingin ada benci tak ingin ada dendam. Bersih saja.

Di bawah patung pancoran, senja, 15/08/2016
Poetoe.

mimpi : kesadaran yang lain

Keluar ke halaman
Mendongak ke atas
Apakah benar bulan ada dua?
Sayang di dekat sini tak ada taman kecil seperti tempat di mana ~tengo dan aomame~ akhirnya bertemu, sehingga aku bisa duduk di puncak papan luncur sambil menatap bulan, dua bulan itu. (Efek baca 1Q84 -Haruki Murakami)

Esok pagi mungkin kuulangi
Keluar ke halaman
Mendongak ke atas
Apakah ada beda dengan matahari?
Jika ada rintik hujan bisa jadi ada pelangi.

Jadi mengerti
Kenapa Dia sampaikan firmanNya dengan kiasan benda benda langit pada beberapa mula Surat....
Benda langit adalah penghubung antara kita dengan kesadaran kita.

Masih malam
Aku gunakan saja untuk terpejam
Namun kesadaran masih tersisa
Hasilnya aku melihat pelangi itu
Dalam imaji di balik kelopak mata sendiri
Di sini
Di kamar ini
Bersama guling
Bukan di halaman sana.

Rebah
Berusaha lelap
Lagi.

Mungkin mimpi memang kesadaran kita yang lain.

Bumyagara, 14/08/2016
Poetoe

dua kurva saling mengisi ruang

Kita kurva saling mengisi ruang
dua himpunan beririsan
berhentilah berharap selalu cantik
kau telah melampaui itu
saat tak ada jarak bukankah lalu lebur
dan ukuran sederhana tentang kekaguman itu tak lagi berguna
kau telah lama melampaui itu

Jadi mengapa pula risau oleh tata nilai
juga omong kosong nomor urut itu
bukankah kau telah menembus batas itu?

Kuharap kau sadar, tak lagi perlu gelisah itu
karena kita mungkin telah moksa bersama
menyublim bersama angin
tersangkut di awan itu.

Sejak disatukan oleh mimpi di tepian kali itu,
jangkar tersangkut. Melukai makna waktu.
Tak berdulu tak bernanti lagi.

Bekasi, 5/8/2016
Poetoe.

Rabu, 12 Oktober 2016

Nah

Iya, memang harus begitu
Lalu mereka mulai memanjat langit senja
Merobeknya. Mencari air mata.
Dan titik itu memang selalu punya "mungkin".

Aku lumat saja angin,
remahkan ingin
kita butuh cermin
bukan bedak dan gincu saja
Seolah sama, tapi beda.
Satu membantu melihat diri
Yang satu menutup diri.

Demikianlah
Saat langit bernanah
Awan pun datang bulan.

Nah.

Jakarta, 5/8/2016
Poetoe

Cerita Kemerdekaan

Ada permintaan seorang teman untuk mengisi acara 17-an, besok malam. Pengalaman pertama, mau isi apa? Kata dia mendongeng saja pak, cerita perjuangan. Hmmm... Langsung beterbangan dalam benak kisah kisah perjuangan yang tersisa di kepala.

Mungkin pola yang bagus itu jika diawali dengan kisah detail beberapa fragmen jelang kemerdekaan, lalu coba zoom in ke beberapa tokoh yang terlibat. Harapannya ada sosok teladan yang bisa ditiru anak anak, lalu mungkin bahas sekilas kondisi terkini, dan bentuk perjuangan macam apa di kondisi saat ini.

Menurutku ini permintaan tolong yang menarik, menantang. Masih ada waktu bongkar referensi buku buku sejarah. Jika teman teman ada ide mohon masukannya.

Terima kasih.

Transjabodetabek, 16/08/2016
Poetoe.

Merdeka

15 Agustus 1945, katanya ada peristiwa penculikan bung Karno dan bung Hatta oleh Sukarni dan kawan kawan. Adalah tentang drama semangat anak muda, dan perhitungan gaya tokoh pergerakan senior. Kesemuanya dengan tujuan akhir "merdeka".

Mereka berbeda cara, namun tetap padu pada akhirnya. Dan hasilnya kita nikmati saat ini. Merdeka.

Selalu saja, rumusnya sederhana. Bagan serupa koordinat. Dengan dua sumbu berbeda. Hasil ideal adalah kurva di antara dua sumbu itu. Semenjana. Tawazunitas.

Patung Pancoran, senja, 15/08/2016
Poetoe.

Hujan di tepian

Hujan memaksa menepi
seperti lelah yang memaksa berhenti
tetapi tak lalu selesai, karena ini
satu cara membuat ruang antara
agar muat untuk diisi dengan galau
gelisah
juga detak harap yang megap megap
menggelepar didera interlude panjang ini

Hujan memaksa menepi
menunggu derasnya berkurang
juga redanya ombak anggapan orang
juga norma
kita nada yang memang tak boleh sekehendak hati
menjadi sumbang
atau menghuni birama tanpa permisi.

Bekasi, 14/08/2016
Poetoe 

Hujan Rindu

Hujan
Rebah saja kan membantu
Denyut di kepala berirama
Bersama guling coba atur mimpi.

Ternyata tak mudah
Ingatan sederhana tentang tengah hari hingga senja itu demikian menguasai
Bagaimana bisa
Waktu terkulai
Ingatan jadi raja

Betapa indahnya
Bahkan detailnya tereja
Berapa kerut di dahiku sesuai hitunganmu.

Aku malu
Namun setuju
Rindu.

Indonesia, 13/08/2016
Poetoe

Persebukuanku

dan buku
menghina kita dengan menyajikan kesadaran
bahwa kita memang tidak mengerti
namun dengan gagah ku berdiri menantang
aku sudah cukup

dan gelas yang ku bawa memang sudah penuh
maaf
dunia terlalu bising
dan aku sudah pekat dan padat
jangan ganggu

citra yang memberhalaku
seolah pupuk yang suburkan tanaman angkuhku
aku tak pantas diberhinakan

lalu buku aku tutup
jika ada waktu aku akan buang saja
aku cukup

saat malam tersadar katup otak dan kesadaranku megap megap.

Jalan Tol, 05/08/2016
Poetoe

Selasa, 11 Oktober 2016

Calon Presiden

Beli bensin eceran di deket rumah, abang penjualnya sedang sibuk menemani belajar anaknya. Basa basi aku menyapa anaknya.. "Lagi belajar neh?" Ayahnya yang menjawab "iya. Calon presiden dia itu." spontan aku mengamini. Dia melanjutkan "Soalnya belum ada presiden dari Medan, Bang." Aku suka optimisnya. "Cukuplah nanti dua periode."

Sekali lagi aku mengamini. Ini doa yang indah.

Bumyagara, 4/08/2016
Poetoe

Tentang Ketidakjelasan

Tentang ketidakjelasan.... Saat banyak pertanyaan yang tak terjawab. Seperti satu ungkapan, novelis menulis untuk membuat banyak pertanyaan bukan untuk menjawab nya. Pantaslah, setelah aku selesai membaca satu novel, kepalaku justru memproduksi banyak pertanyaan. Tak semua terjawab. Makanya jadi penuh ketidakjelasan.

Pembelaannya : karena hidup terlalu sederhana. Kita butuh terus mencari masalah. Masalah lahir dari tanya dan tanya. Buktinya skipsi, tesis, atau desertasi itu dimulai dengan mencari masalah. Pun itu butuh dosen pembimbing. Siapa bilang orang cari masalah itu kurang kerjaan, justru secara akademik kita dituntut untuk pintar mencari masalah.

Dan ketidakjelasan kita pun jangan diartikan tanpa keindahan. Bukankah warna hitam itu pilar penting dalam lukisan, bukankah jeda sunyi itu bagian penting dari sebuah komposisi lagu, bukankah misteri itu sisi penting dari sebuah cerita?

Karenanya mari kita nikmati ketidakjelasan ini. Mari.

Halte pancoran 01/08/2016
Poetoe

Menunggu

Menunggu
sesal itu datang bertamu
ragu yang mengantarkan
gelisah yang menyilakan.

Jika tak benar mengapa gusar?
Otak pongah menerjemahkan hari
padahal tak senaif itu.
Karena ada rasa
ada ruang antara
curiga juga duga
marah juga sayang
sebel juga rindu.

Adakah senja ini yang kau tunggu?

Halte pancoran tugu; 29/07/2016
Poetoe

Kebaikan tanpa syarat

Seorang tetangga depan rumah, ia penghapal quran. Hidupnya tenang. Pernah suatu kali menjadi korban penipuan. Ia tetap tenang. Bahkan saat dipertemukan dengan si penipu setelah terbukti aksi penipuannya, ia tetap tenang tidak lalu marah. Justru kami saat itu yang terpancing emosi.

Pada kesempatan lain aku bertanya bagaimana bisa tetap tenang? Ia hanya tersenyum. Kata dia "Bisa jadi harta kita yang telah dia pakai itu menjadi jalan untuk dia bertobat."

Iya. Mungkin ini yang disebut kebaikan tanpa syarat. Kebaikan lalu "titik", tanpa embel embel.

Terkadang kita masih gagal, saat melakukan kebaikan masih menambahkan syarat "asal dia ngerti aja... Masak gitu sih, kebangetan kan..."

Mungkin banyak kebaikan kebaikan kita yang gagal menjadi buah pahala, karena tak terjaganya hati kita.

Halte Pancoran tugu, 3 Agustus 2016.
Poetoe

Petak Umpet

Mengapa petak umpet itu menarik?
Sembunyi memang permainan purba
Sejak mula mula manusia ada.

Demikian pula rahasia juga kejutan
Tetap menjadi pesona tersendiri
Manusia
di tengah kesibukannya menggali pengetahuan
mereka juga bermain main dengan ketidaktahuan.

Bukankah indahnya rahasia adalah ketidaktahuan, demikian halnya kejutan adalah ketidakdugaan?

Dan rindu itu menjadi lebih indah,
saat tersembunyi demikian dalam.
Menjadi rahsia, puisi diam diam.
Dan ke tidak terungkap nya bukanlah tragedi,
karena lestarinya rahasia itu menjadi karya
kata yang terucap itu lirik lagu,
rahsia rasa itu menjadi alunan nada,
dan rindu yang terlarang itu adalah birama.

Teringat bahwa salah satu doa yang makbul adalah doa yang terucap namun tetap menjadi rahasia antara si pendoa dengan Tuhannya saja, bahkan target yang didoakan pun tak mengerti.

Dan semakin yakinlah, ekspresi kerinduan terbaik adalah doa. Dan doa terbaik itu doa yang "diam-diam".

Bekasi, 27/07/2016
Poetoe

Kamis, 29 September 2016

Manajemen

Ada dua pilihan... Lawan arus atau ikuti arus.
Keduanya adalah piranti kita untuk memainkan nada hari, juga hati.

Melawan arus itu potensi konflik, tapi bagus untuk mendinamisasi. Sedang ikut arus itu bagus untuk hindari konflik, namun menjadi kehilangan momentum untuk lakukan terobosan.

Dalam kisah para gengster, butuh pria sisilia yang berani ambil risiko di depan juga pria yahudi yang rapi, hati hati sebagai orang kedua.

Jelang Bekasi, 27/07/2016
Poetoe.

Tuntaskan Rindu

Baiklah, aku catat saja
bahwa hari ini matahari membunuh rembulan
namun ia tak mati
bahkan membalas hingga malam
matahari tak berdaya.

Baiklah, aku berdehem saja
saat cinta meronta dan rantai waktu itu terurai
sengatan lebah waktu membengkakkan harga diri
Cinta tak berdaya.

Palu terayun, dan tangan terborgol
jeruji terkunci
hati terdiam
mati pun tak terasai.

Ayolah.... Sini.
Aku basuh kamu dengan pengakuan ku.
Aku lemah.
Aku salah.

Maaf.

Antara Jakarta Bekasi, 27/07/2016
Poetoe.

gung

Jika kanvas ini terlanjur tersiram cat,
Lalu mau apa?
Padahal belum seberapa

Handuk basah
Sisa tanah di lantai
Dosa yang dirindu
Lalu mau apa?

Padahal mungkin esok terhenti.

Basuh kening
Nada yang hening
Aku sendiri
Kamu pun sendiri

Kelak.

Di hari setelah bumi beradu dengan langit,
Tak lagi ada kita.
Tak ada lagi jumawa.

Air mata. Saja.

Transjabodetabek, 27/07/2016
Poetoe.

Sadar Tua

Mungkin karena usia, aku menjadi lebih serius menikmati setiap rasa sakit dalam tubuh. Seperti nyeri dalam lambung, kesemutan di kaki yang seperti riak gelombang, menampar nampar lembut. Atau sakit kepala yang terlahir karena nahan kantuk, denyut kepala yang kadang perih namun indah sebagai komposisi hari.

Di bis, penuh, tak ada kursi kosong, aku putuskan duduk di lantai. Nikmati kelelahan kaki menahan tubuh aku pindahkan ke panasnya pantat nikmati deru mesin dan kesemutan pada kakiku yang terlipat lama.

Kombinasinya menjadi semakin menarik, karena dalam duduk di lantai itu aku jadi sempat membaca. Jadi nutrisi sel sel kelabu benakku tercukupi.

Ups... Semakin banyak penumpang berdesakan berdiri di sekitarku, sampai ada uang dua ribuan jatuh mengenaiku. Sudah aku putuskan kembali berdiri.

Selamat pagi. Bernas pagiku.

Alhamdulillah....

Mimpi yang detail

Terbangun dini hari, setelah bermimpi "detail" seperti biasa. Dalam mimpi itu, aku bersama ibu dan almarhum bapak, mengantarkan mereka menghadiri satu pengajian. Namanya juga mimpi, kami bertemu dengan teman-teman kantor, bahkan ada adik kelas kuliah dulu yang lama sekali tidak ketemu secara nyata. Dalam mimpi tersebut aku perkenalkan bapak dan ibu ke teman-teman. Mereka bahagia.

Terpikir banyak hal setelah terbangun. Jadi mengingat ingat kembali pesan bapak dan ibu, rasanya masih ada yang aku lewatkan.

Dan bagaimana pun juga, mimpi bertemu mereka menjadi sarana pengingat untukku agar tak lupa doakan mereka berdua.

Bekasi, 26-07-2016
Poetoe

Nyanyi sepi

kita tak menyangka, bahwa kita sudah sampai pada tepi tiang birama
saat sunyi kuasai diri, menghentikan rangkaian nada yang riuh sedari kemarin....

kita tak menduga, bahwa buritan kapal telah menyentuh tepian dermaga, namun bukan di pelabuhan yang kita inginkan
lalu seorang penyair memanjat tiang layar dan berseru
"Tak semua harapan itu dapat kita temukan di buku Kenyataan..."
....
tak ada tepukan tangan, tak ada sorak sorai.
sepi saja.

dan kita hanya memandang saja, pandangan mata yang tak memandang apa apa sebenarnya,
hanya memandang pada diri saja
mungkin memang bukan saatnya saling menunjuk....

dan.... "Cut..."
Sang Sutradara hentikan fragmen ini secara paksa.

Semakin Sunyi.

Pancoran, 29/09/2016
Poetoe

Sabtu, 23 Juli 2016

teknik pemasaran dunia

Teknik pemasaran mungkin memang berguna mengaburkan objektifitas pembeli. Diskon, beli 2 gratis 1, ataupun harga khusus di waktu tertentu, hanya membuat pembeli melupakan antara kebutuhan dan keinginan, bahkan kualitas terabaikan.

Mungkin memang seperti itu pula dunia bekerja. Mengaburkan, melenakan, menyesatkan perlahan dalam kesenangan dan kenikmatan. Terkadang saat tersadar itu justru lelah, sakit dan pedih. 

.......

Blu plasa Bekasi, 17/05/2016
Poetoe

Makan siang

Di restoran, suatu siang
memilih tempat duduk di sudut terbaik 
hingga dapat tetap nyaman walau berlama lama duduk di sana.
Menu dan sajian menjadi bukan yang utama,
melainkan tema bincanglah yang kami butuhkan...

Maka bertuturlah, 
tentang dominasi, cara memimpin, biasa vs luar biasa, dan banyak lagi 
Aku bahkan kehilangan ingatan atas detailnya....

Lalu mengapa, atmosfer itu tetap terjaga?

Semalam aku tersadar, mungkin ada luka jiwa yang serupa...
Memang latar belakangnya berbeda, 
namun cara respon kami serupa... entah.

Jangan-jangan kami sama sakit jiwanya.

Jakarta, 16/07/2016
Poetoe

membaca berita

Hmm... aku membacanya,
kejadian kejadian ini pastilah terhubung
Coba saja renungkan.... ada pengampunan pajak, ada eksodus pekerja asing, ada banyak ide ide baru tentang pendangkalan akidah yang marak. ..

Ah... sulit mengatakan ini bukan konspirasi.

Aku khawatir, sangat khawatir.
Ini perang, iya... ini perang dengan gaya yang berbeda.
Caranya seakan akan santun. Padahal sejatinya norak, kasar dan kejam.
Norma direbus, keyakinan disayat sayat.

Senjakala....

Aku menatap dinding saja, berita saban hari hanya menggelisahkan, lebih baik menepi.
Angkat tangan, dan serius memohon pertolonganNya... wahai Sang Penguasa Makar... lindungi kami.

Aamiin.

Bekasi, 17/07/2016
Poetoe

belajar tentang hati

Terbangun tengah malam dan hujan. Seperti jawaban atas betapa teriknya sehari ini. Melirik rak buku, teringat kurikulum belajarku yang aku tetapkan sendiri di bulan Ramadhan lalu, saatnya perbanyak membaca buku dan belajar tentang hati.

Selalu menarik, karena yang ada di hati adalah endapan. Menangkap maknanya mesti dalam ketenangan. Karena dalam air keruh semua jadi tak terlihat, biarkan reda. Saat mengendap itu yang "sebenarnya" akan terasa.

Ini pula yang aku gunakan untuk menekan rasa tersinggung saat seseorang marah ke kita. Aku harus memahami, dia sedang marah. Dan sejatinya dia pastilah bukan apa yang dilakukan dan dia ucapkan saat marah. Bagaimanapun juga marah hanya ekspresi, hanya permukaan. Substansi dirinya ada dalam endapan, dalam hatinya.

Demikian juga saat kita perlakukan diri kita, bagaimana menahan marah? Salah satunya adalah pertanyaan : mengapa harus marah? Atau: apakah perlu marah? Atau bisa juga : efektifkah hasil dari marah kita? Jangan jangan membiarkan itu lebih tepat. Ahai.... jadi naif aku.

Sudahlah... aku harus segera akhiri dan kembali tidur. Yang jelas di malam ini aku memahami satu hal, mengungkapkan keburukan seseorang itu ternyata tak membuat orang yang yang kita ceritakan itu menjadi semakin buruk, namun sebaliknya justru itu hanya menambah nilai buruk kita. Hiks.

Astaghfirulloh.

Bekasi, 16/07/2015, 00.52
Poetoe

Aku diam

Aku diam. 
"Apa yang kau lakukan saat sendiri? Itulah dirimu yang sebenarnya."

Aku diam. Berpikir banyak tentang syetan yang bersembunyi dalam diri. Ada kesalahanku memang, sejak belia tak mengusir semua syetan dalam diri. Bahkan ada jenis syetan yang aku pelihara. 

Bersama waktu, kemampuan syetan itu pun tumbuh. Semakin kuat dan kreatif. Menunggu aku lengah untuk lalu segera kuasai hatiku. 

Saat aku semakin tua, melemah, syetan justru menguat. Aku semakin terbelenggu. Melepaskan darinya, rasanya harus ada luka. Terlalu erat ikatan, semakin meronta semakin lebar luka.

Senja ini, dengan kesadaran atas kelemahanku ini, aku mengangkat tangan. Menyerah. Aku tak sanggup beranjak tanpa campur tanganMu. Wahai Dzat yang menguasai hati, tetapkan hatiku untuk taat padaMu.

Aamiin.

Jakarta, 13/07/2016
Poetoe.

salamtus Shadr

Enam belas tahun lalu, mendengarkan khutbah jumat di daerah kalibata. Khotibnya masih sangat muda, aku mengenalnya karena ia tetanggaku. Materi khutbahnya menarik, hingga teringat sampai saat ini. Tentang hadits yang mengisahkan Rosulloh SAW saat duduk bersama para sahabatnya, mengatakan bahwa akan masuk ke masjid seorang ahli surga.

Ternyata yang masuk adalah seorang lelaki sederhana, dalam ibadah pun tak ada yang spesial. Hingga para sahabat lain penuh tanya mengapa dia mendapat surga? Sampai ada sahabat yang menginap di rumahnya untuk mempelajari amalan unggulan apa yang diamalkannya hingga menjadikannya masuk surga.

Hasilnya, dia hanya lelaki yang selalu memaafkan orang orang yang melakukan kesalahan padanya, membersihkan hati setiap malam memjelang tidur.salamatus shadr.

Mendengarkan materi khutbah itu, saat itu membuatku menangis. Aku haru. Mungkin karena khotib masih sangat muda, dan penyampaiannya yang pas, juga materi itu menurutku menyentuh. Bagaimana surga hanya untuk mereka yang memiliki kebersihan hati. Sejak itu aku berharap bisa terbersihkan dari rasa benci atas siapapun.

Setiap ada teman yang tidak aku sukai gaya dan sikapnya, maka aku berusaha tetap menyukainya. Bahkan pernah sampai memasukkan dalam doa malamku, agar tampakkan sisi positif dia yang sering nampak menyebalkan.

Biasanya aku berhasil. Rasanya sampai hari ini aku tak memiliki daftar orang yang aku benci. Jika pun ada, aku akan segera menghapusnya dari daftar, dengan mencari sebanyak mungkin sisi positif yang dia miliki.

Harapanku: penuhi hati dengan cinta, bersihkan diri dari benci. Aamiin.

Kamis, 14/07/2016
Poetoe.

penggemar melahirkan haters

Terbangun jelang shubuh, terpikir tentang benci dan cinta. Jika memang hidup selalu seperti bagan koordinat, di mana kita berada dalam dua tarikan kutub, apakah juga lalu kita di antara tarikan benci dan cinta?

Aneh. Aku belum yakin tentang ini...?

Mengapa setiap ada penggemar selalu saja ada haters? Apakah memang seperti setiap ada cahaya maka akan ada bayangan?

Entahlah....

Bekasi, 13/07/2016
Poetoe.

Masihkah kau menyukai langit senja?

Masihkah kau menyukai langit senja, seperti kita dulu, juga aku hari ini?
Menyukainya bukan karena tenggelamnya matahari, atau seburat cahaya lembayungnya, ataupun awan yang melogam.
Suka karena tahu, di mana pun kau berada, mungkin saja kita sedang menikmati langit senja yang sama.

Jika pun ini mendung, apa salahnya....

Betara kala tetap saja terbang mengitari langit., menjemput harapan, dan mengusir keraguan...
Gelisah memang tak ada tempatnya di sini...
tangan memukul dada

Aku pulang. Dengan ketundukan, takut yang sangat atas kesombongan yang mungkin hinggap saat dengan percaya diri aku ungkap jati diriku tadi.

Aku ijin, untuk menangis lagi di senja ini.

Grand Wisata, 12 Juli 2016
Poetoe.

kopi pahit

Hujan siang, dan secangkir kopi pahit
adalah kalimat permisiku pada alam
bahwa aku lelah hari ini.

Tiba tiba saja, kopi dengan gula itu terlalu manis,
aku seperti mendengar gerutu bulir kopi,
yang mengeluh cemburu pada gula,
yang seenaknya mendominasi rasa pada gelas kopi itu...

Aku putuskan siang ini, lebih baik mereka berpisah.

Dan hujan adalah kelakar awan, yang menyengaja menginjak injak bumi dengan derasnya
aku dan sebagian ingatan tentangmu,
mengurung murung di sudut ruang.

Selamat siang, hujan...
Selamat siang, kopi (tanpa gula)

Jakarta, 12 Juli 2016
Poetoe.

tapi aku bahagia

Seperti apa siang, saat tiba-tiba saja kita beri warna
Kanvas waktu kita beri bercak
Semoga bukan hanya noda
Melainkan warna warna indah

Aku bahagia.

Semoga dua kata itu mewakili
Karena banyak tanya yang membuta
Persis setelah tanda tanya itu, langit lalu seolah gelap
Mengurung sepi 
Bergegas berdiri, tiba tiba sendiri 
Hitam
Legam
Tak ada bintang bahkan satu pun
Air mata, ketakutan.

Tapi aku bahagia.

Semoga saja tiga kata ini masih bisa menghiburmu
Walau ada kata tapi
Tetap saja pada akhirnya aku bahagia
Bagaimana tidak
Sementara hari demikian pekat oleh tawa
Bahkan senandung itu, berkali kali aku ulangkan
Memenuhiku hingga senja mengunyah hari.

Iya. Tidak apa apa. Aku bahagia. 

Jakarta, 11 Juli 2016
Poetoe

Apakah cinta itu kutukan?

Seorang teman membuat status tentang pertanyaan "Apakah cinta itu kutukan? "... Jadi terpikir, begitu mengerikannya cinta mengapa disebut kutukan bukan anugrah...

Sampai saat ini aku tak sependapat, jika cinta disebut kutukan. Karena pasti ada yang salah. Cinta semestinya membebaskan, meluas dan memerdekakan. Bukan menyempit, memenjarakan, dan menyengsarakan. 

Mungkin jika kita bertemu dengan cinta jenis ini, maka harus kita evaluasi bagaimana kita memperlakukan cinta itu dengan benar. Jika tetap tak temukan jalan keluar, ada baiknya kita kembalikan pada Yang Maha Cinta. Kita mohonkan petunjuk pelaksanaan dan peta yang tepat untuk menemukan cinta yang benar. 

Ini perkara yang tak mudah, karena tersesatnya di rimba rasa bisa membuat kita terperosok semakin dalam. Gelap dan pekat.

Kita butuh pelita berupa nasehat dan petuah bijak, juga harus disiplin jalani peta yang telah diberikan Sang Maha Cinta.

Semoga perjalanan ini ke arah yang seharusnya. Semoga Dia selalu berikan kekuatan untuk tetap sadar dan nalar jalani hidup ini. Aamiin.

Banjar, 10 Juli 2016
Poetoe.

belik diri

Seharian dalam perjalanan, setiap rehat aku usahakan di masjid atau mushola, sehingga bisa sesaat memberi hormat pada tempat ibadah itu dengan dua rokaat. Ada terlintas, tentang pentingnya ruang untuk menampung mata air ide, seperti belik pada tepian sungai. Menampung mata airnya, untuk dapat dimanfaatkan kejernihan airnya.

Terpikir, di masa senja nanti menyiapkan ruang khusus untuk istirah. Tempat berdiam diri, membaca, diskusi, atau menulis.... semoga dapat terwujud.

Aamiin.

Majalengka, 10 Juli 2016
Poetoe.

Semenjana dalam mudik

Catatan mudik tahun ini, beberapa kali rehat sholat di masjid yang masih bergaya tradisional. Sebelum adzan dilantunkan puji-pujian, di antara adzan dan qomat pun diisi dengan lantunan asmaul khusna. Dan seperti biasa setelah sholat berdoa bersama diakhiri dengan bersalam salaman dengan iringan sholawat.

Sebenarnya biasa saja, tetapi tidak biasa untukku yang sedari kecil bersama tradisi sholat berjamaah di masjid yang berbeda. Karena kami biasa lebih personal dalam berdoa sedangkan dalam masjid yang tradisional ini ritual menjadi terasa lebih komunal. Walau berbeda, aku menikmatinya.

Di perkotaan, masjid-masjid menyajikan menu kajian yang dinamis, cocok buat mereka yang haus ilmu. Akhirnya jadi banyak perbedaan yang tumbuh subur. Karena daya kritis dipupuk, dipelihara dalam kajian keilmuan yang berkecukupan. Sedangkan di perkampungan masjid ĺebih menyediakan ruang untuk mengendapkan pemahaman. Doa dan dzikir yang dominan menjadi menu untuk menenangkan diri.

Dua kutub yang saling mengisi, satu sisi perkotaan yang terbuka, dinamis, dan kritis yang meluaskan wawasan, dan sisi tradisional yang ritual, komunal dan cenderung mistis yang menenangkan, mengendapkan.

Seperti biasa cara pandang sintesis adalah cara pandang kearifan yang sakmadya, semenjana.

Bumiayu, 9 Juli 2016
Poetoe.

bincang di bak mandi

Aku sedikit menunduk, meratakan pandangan pada permukaan air di bak mandi, saat kran masih menyala. Perlahan permukaan air itu mulai rata dengan bibir bak mandi. Jadi terpikir banyak hal, tentang hidup yang penuh dengan tarikan-tarikan. Serupa titik pada bidang koordinat, yang terbangun dari tarikan sumbu x dan juga sumbu y. Dan hidup itu terbangun dari banyak sumbu dan kutub. Menjadi stabil saat kita sudah menemukan titik terbaik.

Adalah kearifan yang terlahir dari pengetahuan dan ketidaktahuan, antara percaya diri dan tahu diri, antara tegas dan kasih sayang, antara tega dan ķerinduan, antara iya dan tidak.

Kapan permukaan air di bak mandi itu mencapai batas yang pas dengan bibir bak mandi? Tanpa ada yang meluber tumpah? Kapan kita harus mematikan kran itu?

Kapan kita mencukupkan pengetahuan kita? Kapan kita menghentikan ambisi untuk menang? Kapan kita berani mengibarkan handuk tanda menyerah? Kapan kita tersadar bahwa kita hanya bejana ketidaktahuan dari sesendok pengetahuan kita?

Kapan ada waktu aku akan kembali menuliskan daftar pertanyaan ini, sebelum pada akhirnya nanti pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab oĺeh... "kopi?" Jawabmu. Nah kan... kau memang lebih cerdas dariku.

Bumiayu, 3 Syawal 1437 H
Poetoe

peta kata

Suatu hari kata bahkan bisa terjebak,
tersesat di belukar hasrat,
mana cahaya mana jelaga
menabrak kanan menabrak kiri....

aku terhimpit saja, dalam rongga gelisah
berharap menemukan jalan keluar
namun berputar saja di labirin kerinduan.

Boleh terus kutatap kamu? Agar tak hilang arah,
garis wajahmu adalah peta
senyum itu adalah pelita...

Namun harus segera aku sudahi,
mantra sihir ini mungkin akan melukai,
walau kau bilang punya penawar,
tapi siapa tahu kali ini kau tertusuk tepat di ulu hati.

#sublimasi

Indonesia, 7 Juli 2016
Poetoe

Ramadhan 1437 H #7

Belajar tentang hati itu ternyata luas pembahasannya. Ketemu beberapa buku dengan bahasan ini, petualangan dalam tema ini seru dan menantang. Banyak ulama bahkan mengkhususkan belajar tentang hati hingga harus menempuh perjalanan mencari ilmu yang jauh.

Peran hati memang demikian penting dalam hidup. Memahaminya membuat peta menuju bahagia itu terlihat lebih jelas. Tinggal ketangguhan menjalaninya. 

Semoga dimudahkan. Dan tidak terlambat. 

Muntilan, 30 Ramadhan 1437 H
Poetoe.

Ramadhan 1437 H #6

Mushola Al Ishlah, di kampung halamanku: Muntilan. Tempat yang padat kenangan, karena banyak ingatan lama yang terendap di sana. Ishlah adalah nama yang sengaja diberikan untuk mempertemukan banyak beda dan terikat dalam kesatuan hati. 

Bagaimana denganmu dulu, yang pernah duduk bersama mengkaji ayat dan berbantah tentang pemahaman hukum Tuhan. Selalu saja indah, ketika kenangan itu diputar ulang. Juga tentang anak anak yang semangat belajar membaca kitab suci.... Mengumpulkan mereka bahkan harus kita menggendongnya dari rumah hingga ke mushola. 

Dan saat kembali duduk di sini, sentak ada debar keras. Terasa bagaimana dulu mula mula Dia menyapaku untuk berkrab dengan kitab dan rumah-Nya. Menjadi haru. Saat teringat salah seorang dari kami, kini tak lagi di sini. Karena Dia telah menjemputnya lebih cepat. 

Sebelum akhirnya aku harus berbagi pengalamanku di mimbar kecil di musola ini, ijinkan sesaat aku terdiam, menikmati rindu dan basah oleh genangan kenangan ini.

***menarik nafas, lalu aku lantunkan salam dan tahmid, kumulai acara itu.

Tamanagung, 29 Ramadhan 1437 H
Poetoe

serendipity

Kita selalu menyukai kejutan. Seru dan indah. Adrenalin melonjak. Dan kejutan itu adalah ketidakterdugaan. Sehingga kisah pun akan seru saat penuh kebetulan. Banyak roman cerita yang menyajikan rangkaian kebetulan dengan kebetulan dan kebanyakan dari kita suka.

Bagaimana dengan kita? Sama. Betapa banyak kebetulan yang àkhirnya menjadi bagian dari penyedap rasa pada fragmen rasa yang perlahan kita tinggalkan.

Apa pun itu, serendipity tetap sesuai gambaran kisah kita.

Muntilan 04/07/2016
Poetoe.

keterhubungan antar waktu

Menoleh sesaat ke belakang, jejak.
Bagaimana sekarang telah dilahirkan oleh rahim waktu
Setelah tadi, kemarin, serta dulu.
Bagaimana ditiadakan?
Seperti kita yang tak ada jika nenek moyang kita tak ada.

Bahkan kebaikan kita hari ini, tak bisa lepas dari kekeliruan kita di hari lalu.

Pada akhirnya kita memang harus berterimakasih atas apapun yang telah terjadi.

Muntilan, 28 Ramadhan 1437 H
Poetoe.

Ramadhan 1437 H #4

Kami berbincang tentang bagaimana pengalaman spiritual itu mempengaruhi hidup kita. Rasanya banyak kisah dapat kita pelajari terkait hal ini. Kisah nabi Yusuf yang bermimpi sebelum diangkat menjadi nabi, kisah nabi Ibrahim yang diperintah olehNya melalui mimpi, juga kisah para sahabat hingga tabiin.

Ada yang beruntung, mengalami pengalaman spiritual yang indah, berupa mimpi dan bayangan yang berujung pada mendapatkan hidayah. Bahkan ada kisah dari seorang saudara yang menceritakan perjalanan hidup seorang mantan penjahat yang akhirnya menjadi penghapal Al Qur'an berawal dari perjalan spiritual yang panjang.

Namun banyak juga, yang tersesat karena pintu mimpi dan pengalaman spiritual lainnya. Ada yg tergoda menjadi rekan dari jin karena merasa memiliki kelebihan berkomunikasi dengan alam lain. Bahkan ada yang berpindah keyakinan hanya karena mimpi.

Bagaimana dengan kita? Terkadang ada mimpi yang menjadi mula satu dosa terulang dan terulang. Mimpi menjadi inspirasi atas dosa untuk direncanakan. Berbahaya ya.

Mestinya memang sebaliknya, mimpi itu menjadi inspirasi kebaikan. Di wilayah non fisik ini memang batas demikian tipis. Kesalahan membaca bisa merusak semuanya. Arah menjadi salah, kebaikan justru berjarak, sedangkan dosa justru terbiasakan.

"Semoga Kau perlihatkan yang benar itu benar, dan ringankan hati untuk mengikutinya, dan perlihatkan yang bathil itu bathil dan ringankan hati untuk menjauhinya."

Bumiayu, 27 Ramadhan 1437 H
Poetoe.

Ramadhan1437H #5

Pada akhirnya, nilai kita bergantung pada sikap terbaik kita atas ujian yang Dia berikan. Baik ujian yang menyenangkan maupun yang tak menyenangkan. Demikianlah Dia mengajarkan bahwa "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, dan sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan."

Kita diuji dalam setiap kondisi, untuk menemukan sikap terbaik dibalik kesulitan maupun kemudahan. Semoga kita mampu untuk selalu tersenyum dan optimis saat hadapi apapun dalam hidup ini. Karena ini hanya perkara bagaimana kita menemukan sikap terbaik kita, hingga kita dapat poin nilai dalam ujian hidup ini.

Aamiin.

jelang penghujung Ramadhan 1437 H
Poetoe.

Ramadhan1437H #3

Di sepuluh hari terakhir ini, aku jadi memiliki lebih banyak waktu untuk sendiri. Jadi mengerti mengapa terkadang tak mampu memahami sesuatu secara jelas, ternyata karena jarak demikian dekat dengan objek. Sesekali memang harus mundur kebelakang, zoom out, maka akan nampak lebih banyak pola hubungan objek dengan hal lain.

Terlalu dekat menatap membuat sempit semesta pembicaraan. Membuat terlalu fokus atas hal yang ternyata tak terlalu penting dalam hidup kita.

Aku coba lanjutkan saja, duduk diam berlama lama. Mematut diri. Seberapa pantas kita disebut sebagai manusia yang utuh.

Ramadhan 1437 H
Poetoe

Ramadhan1437H #2

Saat kita kehilangan cara untuk bicara,
kita tuna media,
maka doa adalah cara terbaik.

Demikianlah, jika ekspresi atas kerinduan adalah doa, maka tak ada cinta yang sia-sia.
[Posting yang sama, karena merasa masih suka dengan kalimat di atas. Ramadhan 1437 H]

Merindukan sunyi....

Tiba tiba aku merasa membutuhkanmu. Aku butuh duduk dan berbincang denganmu sambil menghabiskan senja. Ada yang ingin aku bincangkan. Tentang era pencitraan ini. Aku lelah, untuk tetap bertahan ternyata tak mudah. Bertahan untuk tak lalu tenggelam dan terbawa arus ke arah perjuangan atas persepsi saja, sibuk berbedak demi berhala citra.

Berbincang denganmu bisa menjadi obat. Karena dunia dari cara pandangmu benar benar berbeda dari cara pandang orang kebanyakan. Beranjak dari cara pandang wajar namun justru bersikap sangat normal. Miskin hentakan dan kegaduhan. Tertawa kecil saja kita di ceruk sempit itu. Sisi luar yang tak terperhatikan. Aku sungguh betah di sudut itu.

Sunyi, mungkin kau memang tak punya cukup waktu untukku senja ini. Karena hingar bingar terlalu mendominasi. Bahkan angin yang biasa lembut itu pun kini kasar manampar pipi. Tapi, Sunyi. ... kumohon luang kan waktumu di malam nanti. Aku butuh kamu, butuh duduk dan berbincang sambil perlahan tenggelamkan malam, dalam benak kita, dalam endapan rasa kita.

Halte busway Pancoran Tugu, 15/06/2016
Poetoe

Ramadhan 1437H #1

Mungkin ini memang tentang bagaimana kita mengisi malam malam kita di bulan penuh berkah ini. Adalah bagaimana kita menghisap energi langit, melalui rapal doa perlahan. Tumbuh keyakinan, akan selalu ada solusi atas segala masalah. Terkadang pintu keluar itu mengejutkan kita, tak menyangka Dia beri solusi dengan cara sederhana.

Demikianlah, bagaimana terjaga pada dini hari itu menguatkan. Membangun Impian positif, sehingga kita bisa membawa senyum hari esok itu di hari ini. 

Poetoe. 2016 

Asing

dalam keterasingan
duduk bersimpuh saja
jarak semena-mena pisahkan
namun pantang ada duka
karena yakin bahwa energi doa melampaui semua
lalu aku terjerambab dalam kubang sesal karena pengulangan,
sementara kau dalam kesadaran bahwa selalu ada peran dosa kita dalam setiap musibah
dan berdualah kita menangis
pada masa yang sama
namun jarak yang berbeda

keterasingan yang tetap mengikat
dalam simpul doa
atas permohonan ampun
segala salah segala alpa.

kita.

Bekasi, Ramadhan 1437 H.
Poetoe

Ma’al Quran



Dalam bulan ini, aku mencoba lebih banyak membaca buku puisi ini. Berisi kata kata Nya. Berusaha menikmati keindahannya, indah secara bunyi, indah pula secara makna.


Karena memenuhi otak dengan Bacaan ini, membuat hati lebih tenang. Seperti ada dahaga yang terobati. Mengulang ulang bacaannya pun tak membuat bosan. Justru lebih sering dibaca jadi lebih nyaman. Seperti menyusun mozaik, yang perlahan mengutuh di jiwa. 


Qur'an memang energi, penggerak mesin diri, saat letih diri dan letih hati. Seolah charger saat batré jiwa mulai low.


Berharap suasana ini lebih lama.  


Bekasi, 12 Juni 2016

 Poetoe.

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...