Sabtu, 23 Juli 2016

belajar tentang hati

Terbangun tengah malam dan hujan. Seperti jawaban atas betapa teriknya sehari ini. Melirik rak buku, teringat kurikulum belajarku yang aku tetapkan sendiri di bulan Ramadhan lalu, saatnya perbanyak membaca buku dan belajar tentang hati.

Selalu menarik, karena yang ada di hati adalah endapan. Menangkap maknanya mesti dalam ketenangan. Karena dalam air keruh semua jadi tak terlihat, biarkan reda. Saat mengendap itu yang "sebenarnya" akan terasa.

Ini pula yang aku gunakan untuk menekan rasa tersinggung saat seseorang marah ke kita. Aku harus memahami, dia sedang marah. Dan sejatinya dia pastilah bukan apa yang dilakukan dan dia ucapkan saat marah. Bagaimanapun juga marah hanya ekspresi, hanya permukaan. Substansi dirinya ada dalam endapan, dalam hatinya.

Demikian juga saat kita perlakukan diri kita, bagaimana menahan marah? Salah satunya adalah pertanyaan : mengapa harus marah? Atau: apakah perlu marah? Atau bisa juga : efektifkah hasil dari marah kita? Jangan jangan membiarkan itu lebih tepat. Ahai.... jadi naif aku.

Sudahlah... aku harus segera akhiri dan kembali tidur. Yang jelas di malam ini aku memahami satu hal, mengungkapkan keburukan seseorang itu ternyata tak membuat orang yang yang kita ceritakan itu menjadi semakin buruk, namun sebaliknya justru itu hanya menambah nilai buruk kita. Hiks.

Astaghfirulloh.

Bekasi, 16/07/2015, 00.52
Poetoe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...