Kamis, 15 Desember 2016

rantai di sosmed

Saat posting di sosmed diatur lebih ketat, maka postingan galau akan penuhi timeline. Karena dia yang lahir dari pencitraan itu mulai takut di rimba pertempurannya sendiri.

Sudah diduga, bola bekel itu memantul saat berbentur. Sibuk dandan pakai topeng, ya akhirnya bingung dengan topengnya sendiri.

Seperti kalimatmu dulu, kenapa tak jadi diri sendiri? Mungkin saja aku suka wajah aselimu. (Dalam hati bergumam: mungkin juga tidak).

Ternyata kuncinya pada orientasi. Selama sekedar dunyawi, maka berpura pura itu senjatanya. Khas dunia yang fana, seperti nenek yang bersolek.

Lalu jalani hidup dengan berharap tetap dalam nalar. Rajin mencubit pipi sendiri. Takut hanyut oleh informasi yang pekat persepsi basa basi.

Bayangkan betapa pekat belukar ini, karena pendusta demikian dominan. Jika tak berasa dusta pun, ternyata tetap saja ada yang disembunyikan.

Bekasi, 29/11/2016
Poetoe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...