Kamis, 21 Juni 2018

lelaki perempuan (memaki kegelisahan)

lelaki itu memaki
mengutuki sunyi yang mendengki
tanpa bunyi
menggerogoti semua nada hingga jadi percuma

rindu itu gula gula
sublimasi atas sepi yang nestapa
semua tentang perih yang terasa
sakit yang berlipat ganda

demikianlah ini ruang penuh tanda tanya
udara riuh dengan ketidakmengertian
gaduh oleh tanda baca koma
tanda waqof itu tak kunjung terbaca

perempuan itu menunduk di sudut gelap
mengguntingi kartu kartu senyap
mengais ais kata ikhlas
pengorbanan yang enggan pamrih balas

senyum getir
dan hutang semakin banyak saja
sementara lelaki itu berkali kali
belanja hanya untuk diri

menangis saja
perempuan hanya relawan tanpa kata kasihan

agh.

Bumiayu, 2018
Poetoe

senja saja

merindukan seorang yang tak rindukan kita
menunggu seorang yang tak menunggu kita
tabik tangan yang tak berbalas
kata tanya yang tak terjawab

senja yang menggelepar
berjalan di belakang
selepas maghrib
selepas lambaian tangan perpisah

tak ada bunga di akhir cerita
hanya genggam tangan terampas
namun lalu terhempas
wajah iba
tanpa air mata

degub dan detak
menyita satu waktu
mengulum kecewa, saja.

senja saja
sudah.

Bekasi, 20 Juni 2018
Poetoe

kamajaya - kala

terpasung dalam ikatan rindu
jaring yang kau tebarkan
terjebak dalam karam rasa
badai asmara yang kau panggil panggil

tak sanggup singup aku hirup
remah resah kumamah
hidangan atas kegenitan fragmen norak kita
basa basi aku dan kau

panggungnya waktu dan jarak
hiasannya kata kata
tanpa kata cinta
namun diam diam penuh gelora

ahai

memperistri sepi
berselir sunyi
dan batara kala berbantah manja dengan batara kamajaya

di pihak mana kita?

Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe

Pulang itu pengulangan

pulang itu pengulangan
diputar ulang piringan hitam kenangan
wajah dan peristiwa datang
bertandang lalu lalang

adalah rasa syukur atas ada dan tiadanya
mana kau pilih
saat menyimpang lalu ditegur sayang
atau tetap dibiar dalam riang senang

dalam perjalanan
kecupan punggung tangan
lantunan doa
juga bincang bincang kabar
berteman aroma kopi terbakar

cerita lalu mereka para pendahulu
pada para penerus
adalah tongkat estafet itu
terserahkan

setiap jumpa
mungkin hanya penambahan
atas kerutan di wajah kita
merekam segala cerita

pulang itu pengulangan
diputar ulang piringan hitam kenangan
wajah dan peristiwa datang
bertandang lalu lalang

Bumiayu, 18 Juni 2018
Poetoe

kata kata dan aku

kata kata yang terucap di depan banyak orang itu mengikatku
serupa barisan amanah yang bersiap menuntut balik sang penerbit kata katanya

ada takut menyangkut
ada gelisah basah
ada getir khawatir
ada cemas meremas jantung

akankah ini hanya sekedar kata kata tak mengada dalam peristiwa nyata
hingga semakin pantas tersematkan untuku gelar hipokrit itu

duh

tersadar bahwa bangunan tentang aku itu tersusun atas tulang, kenang, daging, pening, urat, hasrat, detak, juga kata kata yang terlahir dari lesan, tulisan bahkan sekedar lintasan pikiran

aku iya, aku.

Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe

tenang saja

opini ditebar
dengan tagar
pagar penguasa merasa dilanggar
terbakar

ceramah dibatasi
dengan pukulan besi
ulama kritis perlahan dihabisi
ada yang mati
ada yang ditakut takuti

berita dibuat
berpura ramah di tengah rakyat
namun lengan kuasa tetap melumat
marah kecewa pun semakin pekat

tenang
masih ada air mata
rapal doa
tetes darah
jadi tak perlu marah marah
simpan saja
biarkan jadi gumpalan harap
yang kelak kan melahap,
tirani itu pasti lenyap....
terisa hanya aku dan senyap.

Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe

sampah

janji janji penguasa mengangkasa
lukisan langit pertiwi
remah remah harap nyaris putus asa
mendongak nanap teratapi

bisik bisik di warung kopi
bisik bisik karena persepsi pun bisa bawa ke terali besi
bisik bisik karena opini ilmiah pun bisa lahirkan sanksi
bisik bisik karena mimpi juga bisa terhakimi

bebas terampas
merdeka hanya mereka
demokrasi itu basa basi
kritik pun dituduh intrik

ke tepi bukit
berdiri malam malam
menatap kota banyak lampu
lalu meludah
sampah

Muntilan, 14 Juni 2018
Poetoe

lelaki perempuan (memaki kegelisahan)

lelaki itu memaki mengutuki sunyi yang mendengki tanpa bunyi menggerogoti semua nada hingga jadi percuma rindu itu gula gula sublimasi atas ...