Sabtu, 23 Juli 2016

teknik pemasaran dunia

Teknik pemasaran mungkin memang berguna mengaburkan objektifitas pembeli. Diskon, beli 2 gratis 1, ataupun harga khusus di waktu tertentu, hanya membuat pembeli melupakan antara kebutuhan dan keinginan, bahkan kualitas terabaikan.

Mungkin memang seperti itu pula dunia bekerja. Mengaburkan, melenakan, menyesatkan perlahan dalam kesenangan dan kenikmatan. Terkadang saat tersadar itu justru lelah, sakit dan pedih. 

.......

Blu plasa Bekasi, 17/05/2016
Poetoe

Makan siang

Di restoran, suatu siang
memilih tempat duduk di sudut terbaik 
hingga dapat tetap nyaman walau berlama lama duduk di sana.
Menu dan sajian menjadi bukan yang utama,
melainkan tema bincanglah yang kami butuhkan...

Maka bertuturlah, 
tentang dominasi, cara memimpin, biasa vs luar biasa, dan banyak lagi 
Aku bahkan kehilangan ingatan atas detailnya....

Lalu mengapa, atmosfer itu tetap terjaga?

Semalam aku tersadar, mungkin ada luka jiwa yang serupa...
Memang latar belakangnya berbeda, 
namun cara respon kami serupa... entah.

Jangan-jangan kami sama sakit jiwanya.

Jakarta, 16/07/2016
Poetoe

membaca berita

Hmm... aku membacanya,
kejadian kejadian ini pastilah terhubung
Coba saja renungkan.... ada pengampunan pajak, ada eksodus pekerja asing, ada banyak ide ide baru tentang pendangkalan akidah yang marak. ..

Ah... sulit mengatakan ini bukan konspirasi.

Aku khawatir, sangat khawatir.
Ini perang, iya... ini perang dengan gaya yang berbeda.
Caranya seakan akan santun. Padahal sejatinya norak, kasar dan kejam.
Norma direbus, keyakinan disayat sayat.

Senjakala....

Aku menatap dinding saja, berita saban hari hanya menggelisahkan, lebih baik menepi.
Angkat tangan, dan serius memohon pertolonganNya... wahai Sang Penguasa Makar... lindungi kami.

Aamiin.

Bekasi, 17/07/2016
Poetoe

belajar tentang hati

Terbangun tengah malam dan hujan. Seperti jawaban atas betapa teriknya sehari ini. Melirik rak buku, teringat kurikulum belajarku yang aku tetapkan sendiri di bulan Ramadhan lalu, saatnya perbanyak membaca buku dan belajar tentang hati.

Selalu menarik, karena yang ada di hati adalah endapan. Menangkap maknanya mesti dalam ketenangan. Karena dalam air keruh semua jadi tak terlihat, biarkan reda. Saat mengendap itu yang "sebenarnya" akan terasa.

Ini pula yang aku gunakan untuk menekan rasa tersinggung saat seseorang marah ke kita. Aku harus memahami, dia sedang marah. Dan sejatinya dia pastilah bukan apa yang dilakukan dan dia ucapkan saat marah. Bagaimanapun juga marah hanya ekspresi, hanya permukaan. Substansi dirinya ada dalam endapan, dalam hatinya.

Demikian juga saat kita perlakukan diri kita, bagaimana menahan marah? Salah satunya adalah pertanyaan : mengapa harus marah? Atau: apakah perlu marah? Atau bisa juga : efektifkah hasil dari marah kita? Jangan jangan membiarkan itu lebih tepat. Ahai.... jadi naif aku.

Sudahlah... aku harus segera akhiri dan kembali tidur. Yang jelas di malam ini aku memahami satu hal, mengungkapkan keburukan seseorang itu ternyata tak membuat orang yang yang kita ceritakan itu menjadi semakin buruk, namun sebaliknya justru itu hanya menambah nilai buruk kita. Hiks.

Astaghfirulloh.

Bekasi, 16/07/2015, 00.52
Poetoe

Aku diam

Aku diam. 
"Apa yang kau lakukan saat sendiri? Itulah dirimu yang sebenarnya."

Aku diam. Berpikir banyak tentang syetan yang bersembunyi dalam diri. Ada kesalahanku memang, sejak belia tak mengusir semua syetan dalam diri. Bahkan ada jenis syetan yang aku pelihara. 

Bersama waktu, kemampuan syetan itu pun tumbuh. Semakin kuat dan kreatif. Menunggu aku lengah untuk lalu segera kuasai hatiku. 

Saat aku semakin tua, melemah, syetan justru menguat. Aku semakin terbelenggu. Melepaskan darinya, rasanya harus ada luka. Terlalu erat ikatan, semakin meronta semakin lebar luka.

Senja ini, dengan kesadaran atas kelemahanku ini, aku mengangkat tangan. Menyerah. Aku tak sanggup beranjak tanpa campur tanganMu. Wahai Dzat yang menguasai hati, tetapkan hatiku untuk taat padaMu.

Aamiin.

Jakarta, 13/07/2016
Poetoe.

salamtus Shadr

Enam belas tahun lalu, mendengarkan khutbah jumat di daerah kalibata. Khotibnya masih sangat muda, aku mengenalnya karena ia tetanggaku. Materi khutbahnya menarik, hingga teringat sampai saat ini. Tentang hadits yang mengisahkan Rosulloh SAW saat duduk bersama para sahabatnya, mengatakan bahwa akan masuk ke masjid seorang ahli surga.

Ternyata yang masuk adalah seorang lelaki sederhana, dalam ibadah pun tak ada yang spesial. Hingga para sahabat lain penuh tanya mengapa dia mendapat surga? Sampai ada sahabat yang menginap di rumahnya untuk mempelajari amalan unggulan apa yang diamalkannya hingga menjadikannya masuk surga.

Hasilnya, dia hanya lelaki yang selalu memaafkan orang orang yang melakukan kesalahan padanya, membersihkan hati setiap malam memjelang tidur.salamatus shadr.

Mendengarkan materi khutbah itu, saat itu membuatku menangis. Aku haru. Mungkin karena khotib masih sangat muda, dan penyampaiannya yang pas, juga materi itu menurutku menyentuh. Bagaimana surga hanya untuk mereka yang memiliki kebersihan hati. Sejak itu aku berharap bisa terbersihkan dari rasa benci atas siapapun.

Setiap ada teman yang tidak aku sukai gaya dan sikapnya, maka aku berusaha tetap menyukainya. Bahkan pernah sampai memasukkan dalam doa malamku, agar tampakkan sisi positif dia yang sering nampak menyebalkan.

Biasanya aku berhasil. Rasanya sampai hari ini aku tak memiliki daftar orang yang aku benci. Jika pun ada, aku akan segera menghapusnya dari daftar, dengan mencari sebanyak mungkin sisi positif yang dia miliki.

Harapanku: penuhi hati dengan cinta, bersihkan diri dari benci. Aamiin.

Kamis, 14/07/2016
Poetoe.

penggemar melahirkan haters

Terbangun jelang shubuh, terpikir tentang benci dan cinta. Jika memang hidup selalu seperti bagan koordinat, di mana kita berada dalam dua tarikan kutub, apakah juga lalu kita di antara tarikan benci dan cinta?

Aneh. Aku belum yakin tentang ini...?

Mengapa setiap ada penggemar selalu saja ada haters? Apakah memang seperti setiap ada cahaya maka akan ada bayangan?

Entahlah....

Bekasi, 13/07/2016
Poetoe.

Masihkah kau menyukai langit senja?

Masihkah kau menyukai langit senja, seperti kita dulu, juga aku hari ini?
Menyukainya bukan karena tenggelamnya matahari, atau seburat cahaya lembayungnya, ataupun awan yang melogam.
Suka karena tahu, di mana pun kau berada, mungkin saja kita sedang menikmati langit senja yang sama.

Jika pun ini mendung, apa salahnya....

Betara kala tetap saja terbang mengitari langit., menjemput harapan, dan mengusir keraguan...
Gelisah memang tak ada tempatnya di sini...
tangan memukul dada

Aku pulang. Dengan ketundukan, takut yang sangat atas kesombongan yang mungkin hinggap saat dengan percaya diri aku ungkap jati diriku tadi.

Aku ijin, untuk menangis lagi di senja ini.

Grand Wisata, 12 Juli 2016
Poetoe.

kopi pahit

Hujan siang, dan secangkir kopi pahit
adalah kalimat permisiku pada alam
bahwa aku lelah hari ini.

Tiba tiba saja, kopi dengan gula itu terlalu manis,
aku seperti mendengar gerutu bulir kopi,
yang mengeluh cemburu pada gula,
yang seenaknya mendominasi rasa pada gelas kopi itu...

Aku putuskan siang ini, lebih baik mereka berpisah.

Dan hujan adalah kelakar awan, yang menyengaja menginjak injak bumi dengan derasnya
aku dan sebagian ingatan tentangmu,
mengurung murung di sudut ruang.

Selamat siang, hujan...
Selamat siang, kopi (tanpa gula)

Jakarta, 12 Juli 2016
Poetoe.

tapi aku bahagia

Seperti apa siang, saat tiba-tiba saja kita beri warna
Kanvas waktu kita beri bercak
Semoga bukan hanya noda
Melainkan warna warna indah

Aku bahagia.

Semoga dua kata itu mewakili
Karena banyak tanya yang membuta
Persis setelah tanda tanya itu, langit lalu seolah gelap
Mengurung sepi 
Bergegas berdiri, tiba tiba sendiri 
Hitam
Legam
Tak ada bintang bahkan satu pun
Air mata, ketakutan.

Tapi aku bahagia.

Semoga saja tiga kata ini masih bisa menghiburmu
Walau ada kata tapi
Tetap saja pada akhirnya aku bahagia
Bagaimana tidak
Sementara hari demikian pekat oleh tawa
Bahkan senandung itu, berkali kali aku ulangkan
Memenuhiku hingga senja mengunyah hari.

Iya. Tidak apa apa. Aku bahagia. 

Jakarta, 11 Juli 2016
Poetoe