Rabu, 22 November 2017

R

di sela rimba waktu
terselip pertemuan kita
sangat sebentar
namun genangan telaga itu
ternikmati sejuknya

membuka pintu
dan persilakan kau masuk
lalu berjalan berkeliling
kubiarkan kau kenali satu satu
kubiarkan kau pahami setiap detail
masa laluku....

Iya.

mungkin ini karena telaga hening itu
sunyi namun penuh energi
yang tertahan menunggu momentum
jika sampai waktunya meledak saja
entah kapan

aku sih ingin kita menunggu saja di sini
sambil nikmati kopi
dan bincang isi sepi
dan kata kata serupa kayu bakar
perapian kecil
yang hangatkan ruang cakap kita.

Yuk.

Bekasi, November 2017
Poetoe

Minggu, 19 November 2017

Cinta teruji

akhirnya sepakat,
bahwa aku mencintaimu
dan seperti tradisi cinta
ia akan diuji
tanpa henti
hingga tersisa nanti
cinta yang berbeda dengan saat mula terasa dulu
yang masih sarat dengan cemburu
dan gelora yang norak
mungkin ini tentang langit yang menarik kita
tak terasa
terbang
semakin tak membumi

semakin lama semakin platonik
semakin tak membutuhkan kata
semakin miskin tuntutan
hak mengabur
semua tentang memberi saja
memberi tanpa henti

pada akhirnya bahkan ada tak ada pun kehilangan urgensi
karena saat tak dekat pun tak terasa jauh
selama dirimu tumbuh di kepalaku
tumbuh terus

masih saja begitu
kau juga cintaku
demikian pun aku adalah cintamu.

Indonesia 2017
Poetoe

Minggu, 12 November 2017

pagi, merdeka

memulai hari dengan berbekal cinta yang cukup
karena di luar banyak fakir rasa
sibuk berebut bahagianya masing masing

tak perduli saling rampas dan injak
bahagia semakin tak terdefinisi

senyum pun menjadi bias
seperti harus ada maksud dari setiap tarikan pipi ke belakang itu

padahal sejatinya senyum hanya ekspresi saja
atas bahagia di hati
tumpah ke bibir emosi

dan senandung, menjadi sekedar hymne atau mars
yang membawa kepentingan
yang sarat dengan beban citra

padahal aku rindu untuk sekedar bersiul
senandungkan lagu apa pun
tapi nada dan iramanya selalu jadi ekspresi cinta

Bekasi, 13/11/2017
Poetoe

bisik duga

sudah lama
tak kusuka
terlalu bersandar
pada data saja
butuh bumbu
seperti firasat
walau nanti saat
ditanya alasan
jadi belepotan
iya seperti itu
ini terasa saja
alarm hati berbunyi

terkadang bahkan
ini hasil dari terpejam
bersaat saat dalam diam
lalu tercerahkan
begitu saja.

seperti saat ini
aku membaca banyak
ada yang tak ingin terceritakan
terasa saja
ada yang akan terjadi

apapun itu
tugasku hanya bersiap
agar tak lalu luka
agar tak lalu kecewa

bisik duga itu aku simpan saja
bukan jadi dasar keputusan
namun paling tidak
menjadi anti biotik
pereda kecewa sejak mula mula.

November 2017
Poetoe

Kerja Syetan

Mungkin ini pekerjaan syetan
Menabur marah dan benci
Hati yang keruh menjadi tanah suburnya
Sangka dan duga menjadi pupuk yang tepat

Tumbuhlah lebat
Menggurita di sela sela posting kita di sosial media
Menyebar dengan cepat
Mengunyah rasa sayang
Menggantinya dengan semangat permusuhan.

Jika tak hati hati, postingan kita pun hanya jadi bukti
Bahwa kita andil dalam skema syetan itu. Kita menjadi salah satu serdadunya.

Semoga tidak. Tetaplah utuh jadi manusia. Saja.

Bekasi, 11/11/2017
Poetoe

Melebur angin, menabur ingin

Berjalan pulang sambil menggigit malam.
Berharap temukan rasa dalam jejak lelah.
Karena gelap itu selimut atas terang, melindungi agar gelora siang jadi tenangnya malam.

Di perempatan saat menyeberang aku siulkan gumam, coba usir gelisah atas rela yang ternoda ambisi.

Berhenti sejenak di tengah, menginjak marka jalan sambil berdiskusi atas diri.

Bebaskan sejenak
Liarkan sesaat.

Dan di atas kendara, aku pejamkan mata
Menyengaja terbang, menjejaki awan
Memainkan rembulan.

Melebur pada angin
Manabur ingin pada nampan kenyataan.

Bekasi, 10/11/2017
Poetoe

Memilih sepi

Berjalan pulang itu antaraku dengan isi kepalaku. Berapa capaianku hari ini, apakah aku benar benar bergerak, atau sekedar merasa bergerak?

Jika jawabannya nihil, gagal, aku jadi cemas.

Kesepian, itu berbeda dengan sepi. Kesepian itu serupa kutukan, sementara sepi bisa jadi memang pilihan kita.

Saat kota terlalu gaduh, saat nama terlampau banyak mengisi hari kita. Berdiam itu nyaman.

Berteduh saja.

Di bis angkutan kota, bersama banyak tulisan tersebar di gadget para penumpang.

Saling kini menjadi kata asing.
Masing masing.

Tradisi menutup pintu di dunia nyata, namun demikian terbuka di dunia maya.

Keheningan menjadi saat yang dirindu. Karena kata demikian banyak dibuat. Semena mena dilahirkan, dalam pikiran, tulisan, atau kata kata lisan.

Aku membutuhkanmu, untuk sekedar membaca riuh di dalam sepi pilihanku, senja ini.

Pancoran, 10/11/2017
Poetoe

R

di sela rimba waktu terselip pertemuan kita sangat sebentar namun genangan telaga itu ternikmati sejuknya membuka pintu dan persilakan kau m...