Monday, December 26, 2011

Darah kering itu;


Siapa sangka, bayang-bayang penuh kengerian itu tiba-tiba saja datang.
ia seperti rintik hujan di tengah hari…
awalnya entah, dari berita yang mana
aku jadi tertarik pada darah kering itu,
darah yang tersisa di kuku jari tangan mayat seorang gadis korban pemerkosaan…
darinya bercerita tentang banyak hal, karena bisa jadi darah itu darah si keji bejat moral,
atau darah gadis itu sendiri, saat tak kuasa menahan sakit, tercubit pipinya sendiri…
atau bisa pula darah entah siapa.

Dan mimpi buruk itu mengajariku tentang rasa sakit,
tentang harga diri yang poranda
tentang kebencian yang terhenti oleh maut
tentang keadilan yang sangat dirindukan

Lalu air mata menjadi tak lagi relevan,
karena yang ada adalah sedih yang campur ngeri
justru ia lebih dekat pada kemarahan

dan baju besar peradaban itu tersobek perlahan…
tertunduk malu nurani.

Tuesday, September 20, 2011

kesetiaan

di bawah payung senja, duduk bersama
bercakap tentang kesetiaan,
tentang cinta dan ikatan kata,
tentang janji dan gerak hati,
tentang rencana tertata dan goda semata....

ada yang bercerita tentang setianya cinta
yang walau terluka tetap saja sibuk mencari makna
ada yang cerita, betapa perjuangan saja
tak memadai untuk membangun asa
karena selalu saja ada; luka!

lalu juga tentang beberapa dari kita,
yang terjebak pada simpang, yang tak sengaja terbangun....
padahal sungguh ada takut tak terkira.

Saturday, September 17, 2011

belajar dari Anis Mata

Semestinya Iman itu menjadi energi kita dalam menjalani dua tugas:
1) Memikul Beban, dan
2) Melawan Musuh.

Dan Puasa adalah pelatihan yang tepat untuk mengasah jiwa "sabar" kita, sabar yang bermakna "Konsistensi Amal", karena puasa itu perintah untuk tidak melakukan; dan ini adalah pendidikan katakter kita, karena dalam ilmu pengembangan diri, bagian tersulit adalah "pengendalian diri".

Peradaban selalu saja melewati tiga tahapan, yaitu:
1) saat menanjak naik; dominasi "Ruhiyah" indikatornya Sumber Daya lebih kecil daripada Output.
2) bergerak datar; dominasi "Akal", indikatornya Sumber Daya sama besar dengan output, di sini realisme yang berkuasa.
3) bergerak turun; dominasi "syahwat" indikatornya Sumber Daya jauh lebih banyak dari Out put.

Wednesday, September 7, 2011

tentang Cinta

"Di Bawah Lindungan Ka'bah" difilmkan. Jadi teringat dulu pernah beberapa kali membacanya, dan beberapa kali pula teteskan air mata. Ini memang kisah cinta yang sedih, namun justru mengajarkan banyak hal. Seperti bagaimana cinta yang perlahan-lahan menjangkiti kita. Cinta yang semestinya membuat segalanya menjadi indah itu, justru menjadi belati yang menusuki rongga hati, atau menjadi pecahan kaca yang ditebar di sepanjang jalan tempat kaki telanjang kita harus menapak. Pedih.

Apa yang salah dengan Cinta? Bukan perasaan ini adalah pemberian dari Dzat yang Maha Cinta... mestinya Dia tak akan menyengaja menyakiti hamba-Nya. Namun kenapa?

Aku jadi tertarik memikirkan hal ini lebih jauh. Rasanya memang ada yang salah dalam "cara berfikir" kita. Kadang kita terjebak, untuk memberikan porsi yang kelewat bebas terhadap rasa Cinta ini. Karena ia [Cinta itu] memang serupa anak kecil, yang jika diberikan apa maunya, ia semakin kolokan... Karenanya jika kita hendak berlayar di samaudra Cinta, kita harus sedia panduan. Karena tanpa panduan, tentu kita bisa karam. Panduan yang paling tepat adalah "agama". Dan jangan lupa jadikan "akal sehat" sebagai Nahkoda.

Hmm... itu sih teori; kata para pecinta yang sudah terlanjur terbawa arus indahnya gelora rasa itu. Bagi kami yang terseret arus dan nyaris tenggelam ini, apa yang bisa kami lakukan? Jadi teringat Novel "Laila Majnun" bagaimana Qois yang menjadi "majnun" untuk seorang Laila, hingga banyak tabib tak bisa sembuhkan virus asmara itu. Dalam hal ini, kita memang butuh orang lain. Seseorang di pinggir sungai yang bisa menabik kita, untuk menepi lalu beranjak ke dataran yang lebih tinggi. Inilah pentingnya seorang teman. Agar ia tetap sadar saat kita terlena. Atau bisa pula "keluarga" yang kadang lebih "terjaga" dibanding kita yang saat itu terserang demam Cinta. Memang seringkali sang korban justru "marah", kalap... "Kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan sih..." Kita lupa, bahwa teman atau keluarga yang sedang mengingatkan kita itu pun melakukan semua itu atas dasar Cinta. Kita tergoda untuk membenturkan Cinta satu dengan Cinta yang lain; sementara sebenarnya bisa disintesakan. Karena Cinta itu seperti kuman yang bisa membelah diri, menyebar, tanpa mengurangi yang lainnya. Lihat saja, saat kita mencintai pasangan kita, lalu menikah, lalu beranak pinak, Cinta itu bisa berkembang begitu pesat; Cinta pada anak-anak, pada orang tua, pada masyarakat sekitar... dan tanpa mengurangi cinta kita pada pasangan kita. Entahlah....

Bicara tentang Cinta, memang selalu saja membingungkan.
Wallohu a'lam.

Sunday, August 28, 2011

Bincang Keluarga di jelang Lebaran 1432 H


Jelang lebaran tahun ini, Alhamdulillah, kami berkumpul dengan keluarga besar di Bani Afwaniy...

Ini sudah menjadi ritual rutin tahunan, kami berbincang di meja makan, bicarakan banyak hal. Dari masalah keluarga, sampai masalah ummat. Hehe... rasanya acara-acara talk show di tivi itu pun kalah seru.

Tema kami berloncat-loncatan, kami sempat membahas tentang "ketiadaan Visi bisa membuat rancu gerakan bisnis" tentunya nara sumbernya pebisnis dik Din yang tahun ini melakukan lompatan besar, dengan membuka di tiga tempat "Ayam Penyet Kalasan", juga "Sabda Alam" di jalan Kaliuarang, juga "kolam ikan" di Klaten. Beberapa tips dan trik diberikan, seru juga.. sayang tidak semua berhasil dicatat. Yang jelas, ada rencana-rencana ke depan yang insya Alloh akan menjadi bahan perbincangan bisnis di lebaran tahun depan. hehehe...

Juga tentang manajemen dakwah, terkait dengan ke-khususan pendidikan Pesantren yang memeliki figur sentral Kyai, dan pentingnya ruh pendidik dalam diri sang kyai. Karena tanpa itu, program lembaga pendidikan akan menjadi garing. Kehilangan "nyawa". Lebih menarik lagi, ini sama dengan koki yang masak tanpa perasaan bahagia, akan menghasilkan masakan yang tidak berkualitas...

Seni sejatinya bumbu yang memberi rasa pada setiap aktifitas kita. Terkadang seni diterjemahkan dengan dosis yang lebay, di satu sisi menjadi kelewat "bebas", menciptakan sosok yang "aneh" bahkan dianggap gila oleh lingkungannya. Kata mas Rain, sebenarnya mereka tidak gila, melainkan hanya tidak bisa terbaca ide-ide mereka oleh masyarakat di sekitar mereka. Mereka butuh penerjemah atas ide-ide besarnya....

Juga tentang "kejernihan" membaca pola, yang sebenarnya inilah kunci kesuksesan orang-orang besar meraih mimpinya. Bebekal kejernihan membaca pola itulah, keputusan hidup yang tepat dapat diambil, dan potensi-potensi di sekitar kita dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai apa yang kita inginkan... Sekali lagi, ini juga tetap butuh Visi dan Misi yang jelas...

Entahlah, perbincangan kami malam itu bertema tentang apa, karena nyaris semua hal kita bahas...
Yang jelas, ini bagian dari menu lebaran yang berkualitas, semacam mata kuliah yang padat nilai dan makna. Dan tentunya tetap dalam koridor "ikatan persaudaraan" dan bumbu Cinta.

Alhamdulillah....

Monday, August 22, 2011

belajar Sirah Nabawiy di Ramadhan 1432 H

Ramadhan tahun ini, aku menyengaja belajar lebih serius tentang Sirah Nabawiayah. Ada beberapa buku sejarah hidup Nabi yang memang paksa untuk aku kunyah pelan-pelan. Paling tidak ada 4 perang yang aku berikan catatan khusus:

1. Perang Badar, perang yang terjadi di tahun 2 Hijriyah; Al-Qur'an banyak bercerita tentang perang ini di Surah Al-Anfaal. Indah betul... dan dari kejadian-kejadian di perang ini, aku belajar tentang "Iman". Adalah kisah tentang kesiapan hati kita dalam menerima ketentuan Alloh; seperti kesiapan kaum muslimin saat itu yang berharap bertemu dengan kabilah dagang Abu Sofyan, ternyata justru ketemu dengan pasukan siap perang yang dipimpin Abu Jahal. Jumlah pasukan jauh lebih banyak, banyak yang mengira kaum muslimin tidak akan menang, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kekuatan Iman lah yang memotivasi mereka untuk bertempur sepenuh hati.

2. Perang Uhud, adalah perang yang terjadi sebagai balasan kekalahan kaum Kafir Quraisy; dan dari perang ini aku belajar tentang "keikhlashan". Bagaimana akhirnya pasukan panah yang ditempatkan di bukit "ainaini" itu tergoda ikut turun untuk mengambil harta rampasan perang, dan ini dimanfaatkan oleh pasukan kafir untuk menyerang kaum muslimin. Karena ketidaktaatan ini, banyak pasukan muslim yang syahid. Bahkan Rosululloh pun nyaris terbunuh.

3. Perang Ahzab, atau perang Khandaq.. ini pelajaran tentang "Mimpi". Setelah mendengar informasi bahwa ada pasukan raksasa dari berbagai suku hendak menyerang Madinah, Rosululloh mengatur strategi; dan atas usulan Salman Al-Farisi dibuatlah parit di sekitar Madinah. Hanya dalam waktu tidak lebih dari satu pekan, parit itu harus dibuat. Banyak kejadian yang dramatis dalam proses pembuatan parit itu, konon diceritakan percikan api dari batu yang dipecahkan Rosululloh itu memiliki makna ekspansi dakwah Islam akan sampai ke persia dan romawi. Dan akhirnya memang terwujud dalam penaklukan Persia dan berhasil memukul mundur pasukan Romawi, di masa Khalifatur Rasyidin sepeninggal Rosululloh SAW. Ini menunjukkan pentingnya mimpi dalam isi kepala kita. Di saat ketakutan menghadapi Pasukan Multi nasional itu, Rosululloh justru memberikan mimpi kemenangan yang lebih besar. Seakan-akan Rosululloh ingin menjelaskan bahwa jangankan hanya Pasukan Kafir Qurais dari Makah, negara Persia atau pun Romawi [negara adi jaya di masanya] pun akan dapat kita kalahkan. hmm, motivasi yang luar biasa.

4. Perang Tabuk, [ekspedisi tabuk], darinya aku belajar tentang "totalitas". Karena Ekspedisi Tabuk ini membutuhkan kesiapan yang luar biasa, perjalanannya panjang dan melelahkan. Untuk melindungi umat Islam di Madinah, Muhammad SAW memutuskan untuk melakukan aksi preventif, dan menyiapkan pasukan. Hal ini disulitkan dengan adanya kelaparan di tanah Arab dan kurangnya kas umat Muslimin. Namun, Muhammad SAW berhasil mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 30.000 orang, jumlah pasukan terbanyak yang pernah dimiliki umat Islam. Dengan dibumbui sepenggal kisah tentang ketundukan tiga Sahabat yang tertinggal dalam ekspedisi tersebut, dan mereka siap menerima sanksi dari Rosululloh SAW atas kelalaiannya itu [Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’-]; indahnya kehidupan mereka....

Wallohu a'alam...

Monday, August 15, 2011

instan

Budaya instan sepertinya sudah merasuki di hampir semua sisi hidup kita. Dari makanan instan, kebahagiaan instan, kaya instan, karya instan, termasuk membangun performance.... Idealnya performance itu lahir dari kapasitas diri yang memang memadai. Kini justru terbalik, Perfomance dimanipulasi untuk menutupi kekurangan dalam kapasitas diri. Pura-pura berubah menjadi strategi marketing, dusta menjadi samar dalam kemasan basa basi.

Bahkan para politikus terbawa latah budaya "facebook", menjadi narsis dalam spanduk-spanduk, juga dalam iklan-iklan di media. Berebutan jabatan dengan dalih panggilan tugas.