Minggu, 28 Agustus 2011

Bincang Keluarga di jelang Lebaran 1432 H


Jelang lebaran tahun ini, Alhamdulillah, kami berkumpul dengan keluarga besar di Bani Afwaniy...

Ini sudah menjadi ritual rutin tahunan, kami berbincang di meja makan, bicarakan banyak hal. Dari masalah keluarga, sampai masalah ummat. Hehe... rasanya acara-acara talk show di tivi itu pun kalah seru.

Tema kami berloncat-loncatan, kami sempat membahas tentang "ketiadaan Visi bisa membuat rancu gerakan bisnis" tentunya nara sumbernya pebisnis dik Din yang tahun ini melakukan lompatan besar, dengan membuka di tiga tempat "Ayam Penyet Kalasan", juga "Sabda Alam" di jalan Kaliuarang, juga "kolam ikan" di Klaten. Beberapa tips dan trik diberikan, seru juga.. sayang tidak semua berhasil dicatat. Yang jelas, ada rencana-rencana ke depan yang insya Alloh akan menjadi bahan perbincangan bisnis di lebaran tahun depan. hehehe...

Juga tentang manajemen dakwah, terkait dengan ke-khususan pendidikan Pesantren yang memeliki figur sentral Kyai, dan pentingnya ruh pendidik dalam diri sang kyai. Karena tanpa itu, program lembaga pendidikan akan menjadi garing. Kehilangan "nyawa". Lebih menarik lagi, ini sama dengan koki yang masak tanpa perasaan bahagia, akan menghasilkan masakan yang tidak berkualitas...

Seni sejatinya bumbu yang memberi rasa pada setiap aktifitas kita. Terkadang seni diterjemahkan dengan dosis yang lebay, di satu sisi menjadi kelewat "bebas", menciptakan sosok yang "aneh" bahkan dianggap gila oleh lingkungannya. Kata mas Rain, sebenarnya mereka tidak gila, melainkan hanya tidak bisa terbaca ide-ide mereka oleh masyarakat di sekitar mereka. Mereka butuh penerjemah atas ide-ide besarnya....

Juga tentang "kejernihan" membaca pola, yang sebenarnya inilah kunci kesuksesan orang-orang besar meraih mimpinya. Bebekal kejernihan membaca pola itulah, keputusan hidup yang tepat dapat diambil, dan potensi-potensi di sekitar kita dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai apa yang kita inginkan... Sekali lagi, ini juga tetap butuh Visi dan Misi yang jelas...

Entahlah, perbincangan kami malam itu bertema tentang apa, karena nyaris semua hal kita bahas...
Yang jelas, ini bagian dari menu lebaran yang berkualitas, semacam mata kuliah yang padat nilai dan makna. Dan tentunya tetap dalam koridor "ikatan persaudaraan" dan bumbu Cinta.

Alhamdulillah....

Senin, 22 Agustus 2011

belajar Sirah Nabawiy di Ramadhan 1432 H

Ramadhan tahun ini, aku menyengaja belajar lebih serius tentang Sirah Nabawiayah. Ada beberapa buku sejarah hidup Nabi yang memang paksa untuk aku kunyah pelan-pelan. Paling tidak ada 4 perang yang aku berikan catatan khusus:

1. Perang Badar, perang yang terjadi di tahun 2 Hijriyah; Al-Qur'an banyak bercerita tentang perang ini di Surah Al-Anfaal. Indah betul... dan dari kejadian-kejadian di perang ini, aku belajar tentang "Iman". Adalah kisah tentang kesiapan hati kita dalam menerima ketentuan Alloh; seperti kesiapan kaum muslimin saat itu yang berharap bertemu dengan kabilah dagang Abu Sofyan, ternyata justru ketemu dengan pasukan siap perang yang dipimpin Abu Jahal. Jumlah pasukan jauh lebih banyak, banyak yang mengira kaum muslimin tidak akan menang, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kekuatan Iman lah yang memotivasi mereka untuk bertempur sepenuh hati.

2. Perang Uhud, adalah perang yang terjadi sebagai balasan kekalahan kaum Kafir Quraisy; dan dari perang ini aku belajar tentang "keikhlashan". Bagaimana akhirnya pasukan panah yang ditempatkan di bukit "ainaini" itu tergoda ikut turun untuk mengambil harta rampasan perang, dan ini dimanfaatkan oleh pasukan kafir untuk menyerang kaum muslimin. Karena ketidaktaatan ini, banyak pasukan muslim yang syahid. Bahkan Rosululloh pun nyaris terbunuh.

3. Perang Ahzab, atau perang Khandaq.. ini pelajaran tentang "Mimpi". Setelah mendengar informasi bahwa ada pasukan raksasa dari berbagai suku hendak menyerang Madinah, Rosululloh mengatur strategi; dan atas usulan Salman Al-Farisi dibuatlah parit di sekitar Madinah. Hanya dalam waktu tidak lebih dari satu pekan, parit itu harus dibuat. Banyak kejadian yang dramatis dalam proses pembuatan parit itu, konon diceritakan percikan api dari batu yang dipecahkan Rosululloh itu memiliki makna ekspansi dakwah Islam akan sampai ke persia dan romawi. Dan akhirnya memang terwujud dalam penaklukan Persia dan berhasil memukul mundur pasukan Romawi, di masa Khalifatur Rasyidin sepeninggal Rosululloh SAW. Ini menunjukkan pentingnya mimpi dalam isi kepala kita. Di saat ketakutan menghadapi Pasukan Multi nasional itu, Rosululloh justru memberikan mimpi kemenangan yang lebih besar. Seakan-akan Rosululloh ingin menjelaskan bahwa jangankan hanya Pasukan Kafir Qurais dari Makah, negara Persia atau pun Romawi [negara adi jaya di masanya] pun akan dapat kita kalahkan. hmm, motivasi yang luar biasa.

4. Perang Tabuk, [ekspedisi tabuk], darinya aku belajar tentang "totalitas". Karena Ekspedisi Tabuk ini membutuhkan kesiapan yang luar biasa, perjalanannya panjang dan melelahkan. Untuk melindungi umat Islam di Madinah, Muhammad SAW memutuskan untuk melakukan aksi preventif, dan menyiapkan pasukan. Hal ini disulitkan dengan adanya kelaparan di tanah Arab dan kurangnya kas umat Muslimin. Namun, Muhammad SAW berhasil mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 30.000 orang, jumlah pasukan terbanyak yang pernah dimiliki umat Islam. Dengan dibumbui sepenggal kisah tentang ketundukan tiga Sahabat yang tertinggal dalam ekspedisi tersebut, dan mereka siap menerima sanksi dari Rosululloh SAW atas kelalaiannya itu [Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’-]; indahnya kehidupan mereka....

Wallohu a'alam...

Senin, 15 Agustus 2011

instan

Budaya instan sepertinya sudah merasuki di hampir semua sisi hidup kita. Dari makanan instan, kebahagiaan instan, kaya instan, karya instan, termasuk membangun performance.... Idealnya performance itu lahir dari kapasitas diri yang memang memadai. Kini justru terbalik, Perfomance dimanipulasi untuk menutupi kekurangan dalam kapasitas diri. Pura-pura berubah menjadi strategi marketing, dusta menjadi samar dalam kemasan basa basi.

Bahkan para politikus terbawa latah budaya "facebook", menjadi narsis dalam spanduk-spanduk, juga dalam iklan-iklan di media. Berebutan jabatan dengan dalih panggilan tugas.

Kamis, 11 Agustus 2011

Monster Amanah...

“Selamat Pagi” Matahari pagi menyapaku. Ia serupa bola oranye raksasa di langit biru. Dan aku mengerjap, masih ada genangan sisa mimpi tentang kematian semalam. Entahlah, sudah beberapa bulan Ramadhan yang aku jalani, ada beberapa malam didalamnya aku kehadiran mimpi tentang kematian. Awalnya aku memang tidak biasa takut mati. Pelajaran dari Bapak, bahwa mati itu keniscayaan, yang mestinya perlu percaya diri untuk menghadapinya. Namun kini, ketika banyak amanah yang belum aku tunaikan, kematian itu menjadi begitu menakutkan. Dalam mimpiku, amanah-amanah itu mengejar aku. Serupa monster yang menyeramkan.

Mestinya memang, seorang bertakwa itu adalah seorang yang selalu rapih terhadap semua amanah, sehingga dia selalu siap menyambut kematian. Tanpa kita selesaikan amanah itu, bagaimana mungkin kita mampu menghadapi “hari perhitungan” itu.... hiks.

Ya Alloh, kuatkan hati dan semangat kami... agar tetap mampu selesaikan amanah-amanah ini...

Aamiin.

Senin, 08 Agustus 2011

SAJAK PULANG KANTOR, BERJALAN DI JEMBATAN PENYEBERANGAN

jengah pada angka, aku tinggalkan saja...
Seperti gelap yang bernafas
menyapa petugas keamanan,
dan malam menggulung keriangan.

Berjalan terburu, hanya semata ikut arus liar para pejalan kaki.
Karena memang tak ada agenda lain, selain rebah nanti mengisi energi....
Dan tawa abang pengamen, lenguhan bencong di halte.
Pengemis berkerudung, dengan batita pulas di sebelahnya, mulut tersenyum, mimpi indah ia pasti.
Dan jembatan penuh cahya, yang teringat satu waktu, saat tergila-gila padanya, berjalan bersama, dan angin malam rahsa surga meniupi daun telinga....

Dan kegaduhan yang tiba-tiba, juga sorot mata lelaki garang itu, kilatan pisau terhunus, dan nyeri yang sangat...
Anyir darah. Dan angin...dan angin membawaku terbang, menatap jasad terbujur, tertinggal dalam jaket berlumur darah, persis di depan loket busway.

Hiks....

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...