Kamis, 27 Oktober 2016

Jejak Langkah

Waktu melangkah,
Mengubah esok menjadi nanti,
nanti menjadi sekarang,
sekarang menjadi tadi,
tadi menjadi dulu.....

Jangan lalu ada penyesalan,
karena penyesalan itu hanya bukti kekalahan kita akan waktu.

...

KPPP Jakarta Mampang Prapatan, 27/10/2016
Poetoe

Sepi itu hiburan

Semakin percaya, bahwa sebenarnya sepi itu hiburan untukku. Banyak waktuku yang aku isi dengan gaduhku sendiri. Terlalu penuh hariku dengan bunyi.

Sunyi adalah rehat dari bunyi, sepi adalah rehat dari badai persepsi. Tersibukkan oleh anggapan orang, lalai atas kebutuhan diri.

Menepilah, sesaat bersembunyi di balik bayangan. Nyaman tak terlihat, tenang tak terbaca. Semua tanda aku simpan dalam bilik jiwa. Datar dan samar saja.

Bekasi, 22/10/2016
Poetoe

Kamis, 20 Oktober 2016

Hanyut

Seperti terlempar di arus deras,
kaki menjejak jejak namun tak temukan dasar sungai,
tangan menggapai gapai namun tak ada dahan yang bisa diraih.
Kepala timbul tenggelam, langit nampak namun sesekali air yang bungkam kelopak mata,
beberapa tenggak air terpaksa; gelagapan,

Kehidupan ternyata tak mudah.
Kebenaran yang terkumpul dulu dan mengendap dalam nurani,
tak lalu tenang. Sesekali syetan mengaduk aduknya kembali
Riak air kesadaran terkotori hasrat : menggelap
keruh oleh kepentingan.

Seperti gelas nalar kita,
jika tak dijaga, tumpah oleh kecerobohan kita sendiri.
Lalu menyesal. Nalar di akhir itu hanya bawa sesal.
Mestinya memang Nalar yang pimpin diri sedari awal,
hingga tak perlu sedu sedan itu. Semenjana yang terjaga.

jadi rima.
berirama.
tak tergesa.
tenang saja.

Sekitar tugu Pancoran; 20/10/2016
Poetoe


Mungkin es capucino atau late tiramisu

Wahai badai yang tersimpan di ceruk dalam,
arusnya berputaran saja di sela sela palung.
Hanya senja yang mengundangnya ke permukaan,
menggelegar menampar karang.

Mungkin es capucino atau late tiramisu
yang bisa jadi jeda,
sesaat reda,
seolah helaan nafas panjang dari rangkaian senggal tak beraturan itu.

Dan dongeng tentang cerdas dalam gelora,
juga rindu akan bahan cerita yang menjadi alasan untuk berani masuk ke belukar rimba.

Lalu gunung berapi di dasar lautan itu meletus
air mendidih menggelegak,
panasnya melesak ke permukaan....
namun...
permukaan laut tetap tenang,
nalar kendalikan arah layar,
dan nyanyian nelayan bersenandung merdu,
senandung tentang ratapan kata "maaf"
yang terbawa angin hingga ke bibir pantai.

Bekasi, 16/10/216
Poetoe.

dua sepi

Jika sepi itu telaga,
maka ada sepi yang dangkal
dan sepi yang dalam.

sepi yang dangkal itu sepi yang tanpa bunyi
sepi yang biasa saja.

Sedangkan sepi yang dalam itu tak sekedar tanpa bunyi,
melainkan juga nihil.
Ketiadaan yang absolut.

Seperti saat kau datang serupa rusa
yang tertusuk panah, dan darah berlumuruan.
Tatapan mata tanpa kata,
namun aku tahu itu cerita
tentang anak panahku yang melukai.

Lalu nihil. Sunyi yang wigati.

Mungkin berada dalam bayangan itu menyelamatkan. Mengikuti gerak benda, namun tak sepenuhnya terlihat.

Lalu tetap saja, saat terbaca olehmu,
maka kehatihatian itu bermakna tikaman.

Padahal kita memang harus betah di tepi telaga ini, bermain dengan mata kaki terendam atau sekaligus saja kita mencebur, berenang dalam sunyi yang terdalam. Nihil.

Bekasi, 16/10/2016
Poetoe.

mata (hari)

Ini tentang mata yang menari
beterbangan penuhi ruang
dengan jelas ungkapkan kekaguman
atas semua kebaikan yang terlahir
.... dan kata yang terucap menjadi lagu
di telinga, walau kritik tetap saja indah.

Mungkin memang Dia yang kirimkan,
sehingga malam menjadi jaga,
sehingga ringan langkah ringan hati
demikian indah Sang Maha Indah itu benamkan rasa.

Dan ini tentang mata,
kerjapnya seolah kepak sayap kupu kupu,
percakapan apapun bermuara pada kualitas hidup.... Ah...
Bermutulah waktu. Bernaslah detik demi detik itu.

Jadi aku tempel saja sekarang,
plang nama itu,
menggantung di teras rumah.

Tak peduli hujan hantam bumi tak berkesudahan.

Jakarta, 13/10/2016
Poetoe

Tertinggal Mukhoyam tahun ini

Karena kesalahanku atur jadwal, aku gagal mengikuti program ini. Sebuah pelatihan survival, kami dilepas di hutan, tanpa makanan, dan hanya minuman. Dipaksa hanya mengkonsumsi apa yang tersedia di hutan selama hampir dua hari dua malam. Cerita teman yang tetap bisa ikut, ia akhirnya benar benar tidak makan dan hanya minum. Dan dalam posisi tanpa makan itu, kami tetap harus berjalan. Seru kata mereka. Aku hanya bisa membayangkannya, membayangkan kelelahan, lapar, dan terus bertahan untuk berjalan selama puluhan jam.

Menurutku ini pelatihan yang menarik. Karena menguji kemampuan kita. Emosi kita dalam lapar dan lelah itu bisa membuat kita kelihatan asli kita. Jika dalam posisi itu kita bisa bertahan maka itu membuktikan kita bisa mengalahkan "diri" kita. Mengendalikan "diri". Dalam bahasa psikologi fenomenologi: kemenangan "aku" atas "diri". Bahasa arabnya "ana" atas "nafsiy".

Mungkin pelatihan ini bisa kita ganti dengan puasa, dan tetap beraktifitas seperti biasa. Agar kita lihat seberapa mampu kita kendalikan diri dalam lapar dan lelah.

Wallohu a'lam

Mustika Jaya, 13/10/2016; 00.24
Poetoe.

Syetan dan Kita

Semakin terbukti kebenaran FirmanNya, bahwa syetan adalah musuh abadi. Karena mahkluk halus tak berwujud maka ia tak terlihat namun dapat kita rasakan. Merasakan kehadirannya pun tak mudah, karena menyelinap di relung hati. "Yuwas wisu fi shudurin nas."

Mendeteksinya adalah saat kita berjarak dengan kebaikan dan kebenaran, menjadi berat lakukan hal hal positif, atau mungkin menahan melakukan kebaikan, memelihara kedengkian, maka saat itu kita sedang terinfeksi syetan.

Teringat seorang sahabat yang sekaligus pernah menjadi atasanku, pernah mengatakan "Mas, kehidupan itu sederhana saja. Serupa bagan. Manusia di tengah, dengan diapit syetan dan malaikat. Setiap langkah kita terpengaruh dua tarikan itu. Cenderung ikut bisikan siapa kah kita?"

Pilihan itu ada di setiap tindakan kita, pikiran kita, bahkan sekedar lintasan hati kita. Saat ini saat aku menulis di post ini pun dalam dua tarikan, ada bisikan syetan ada pula bisikan malaikat. Kesemuanya mengendap dalam nurani. (Sesaat aku benar-benar terhenti. Tangan gemetaran mau memilih huruf mana.)

Ada yang berbisik untuk apa menulis ini?

(Mungkin syetan tak suka) Tapi sudah saatnya berbenah. Bukankah perbaikan itu harus dimulai dari pemahaman bahwa kita sedang keliru? Seperti penggalan kalimat dalam sayidul istighfar kita, ".... Hari ini aku mengakui seluruh nikmat yang telah Kau beri, demikian pula aku akui dosa-dosaku." pengakuan.

Bahwa sikap hatiku: kecewa, marah, benci, dengki, sombong, enggan dikritik, suka dipuji, benci dicaci, menghamba pada citra dan persepsi orang, suka bermaksiat, berat beribadah, enggan bertobat, dan sejenisnya adalah hasil dari terinfeksi nya aku oleh syetan. Bahwa syetan adalah musuhku semestinya kembali aku ikrarkan. Lalu kembali jalani hidup sebagai pertempuran yang panjang melawannya.

Harapannya tentu, bisa tetap bertahan dalam sikap hati yang tenang terjaga, bahagia, tak ada satu pun kebencian, memiliki banyak amunisi untuk bertahan tanpa marah, mampu mendengar kritik sepedas apapun itu, risih terhadap pujian, tetap ringan lakukan kebaikan, tetap kaya dengan kasih sayang, dermawan, dan segala jenis kebaikan lainnya.

Sampai dengan saat aku akan mengakhiri tulisan ini pun masih ada bisikan, untuk apa ini ditulis dan diposting? Bukankah ini hanya akan mengikatmu? Bukankah kata kata ini akan memenjarakanmu, memberatkan langkahmu saat nanti kau kembali bermaksiat? Bukankah ini tulisan yang naif?

Entahlah, tapi aku putuskan, dengan lafadz "Bismillah" aku klik "poskan" (karena setting HPku gunakan bahasa Indonesia. Hehe.)

Mustika Jaya, 13/10/2016; 00.09
Poetoe.

Endapkan dulu

Teringat nasehat seseorang untukku dulu saat aku tersadar bahwa memang terlahir sebagai seorang ekstrovet, banyak bicara, maka harus diimbangi dengan banyak mendengar. Rajin ikut majelis taklim untuk mendengar banyak Ustadz dengan berbagai pendapat yang berbeda, juga nongkrong di warung kopi berbincang dengan banyak jenis orang.

Rasanya sama, dengan keinginan menulis banyak hal. Entah sekedar status di media sosial atau pun chating di banyak group, itu juga butuh diimbangi dengan banyak baca. Jika tak imbang, maka kualitas kalimat yang terucap maupun yang tertulis akan mengikuti. Bisa jadi semakin tak bermutu.

Dalam hal menulis aku coba cara baru, sesuatu yang terlintas tak segera aku tulis, melainkan aku endapkan dulu. Aku uji secara mandiri dalam cawan benak. Paling tidak sempat aku pikirkan menjelang tidur. Risikonya memang tercecer diserobot monster lupa. Tapi anggaplah itu seleksi alam. Toh, di muka bumi ini sudah teramat banyak kata yang diucapkan juga dituliskan. Menambah kata kata sampah hanya akan menambah beban dunia.

Bumyagara, 09/10/2016; dini hari
Poetoe.

Labirin Logika

Logika adalah salah satu aktifitas akal. Kalau dalam pelajaran ilmu Mantiq ada kaidah "al insaanu khayawannun natiq" manusia adalah hewan yang berlogika. Berbicara tentang cara berpikir ada banyak hal, pada tulisan ini saya hanya tertarik pada penggunaan metode berpikir yang bisa jadi kita ubah cara pendekatan atas satu masalah untuk mendapat pemahaman yang utuh. Contoh berpikir menyempit dan khusus untuk kemudian meluas atau umum. Begitu juga sebaliknya. Induktif juga deduktif. Saat kita ingin mengidentifikasi atau mendefinisikan sesuatu tentu kita menyempit, dengan membuat batasan masalah, sehingga jelas titik tekannya. Namun saat coba menjelaskan tentang sesuatu kita akan kembali meluaskan.

Demikianlah kerja logika. Meluas lalu menyempit, zoom out lalu zoom in. Namun ternyata pola ini juga rawan jebakan. Terkadang kita tersesat oleh labirin logika kita sendiri. Hipotesa memang tak mencukupi untuk menemukan kebenaran. Butuh petunjuk dari langit.

Apalagi saat pemikiran itu mengendap di perasaan. Objektivitas lebur perlahan menjadi subjektif. Karena rasa memang seperti harddisk dalam komputer yang menyimpan secara permanen hasil kerja CPU dalam memory sementara, CPU ini mewakili otak manusia, piranti tempat pemikiran itu bekerja.

Labirin logika itu lebih rumit saat terendap dalam rasa. Menjadi semakin banyak pintu, persimpangan, semakin rumit akan semakin gelap. Untuk selamat dari labirin itu kita butuh peta, dan lentera penerang. Peta itu kitab dari Tuhan, sedangkan lentera itu nurani.

Saat tersesat, ada baiknya kita menepi, berpikir mendalam namun tetap terus memohon pencerahan dari-Nya, akui kelemahan. Buang kesombongan diri. Merendah, terus merendah. Menghiba, yakinlah hanya atas pertolongan Nya kita bisa selamat.

Demikianlah, pantaslah jika kita terus berdoa "Ya Alloh perlihatkanlah yang benar itu benar, dan ringankan hati untuk mengikutinya, dan perlihatkan yang bathil itu bathil dan ringankan hati untuk bisa menjauhinya. Aamiin."

MutiaraGadingTimur, 08/10/2016
Poetoe.

Aksi Teatrikal RISMA Al Ghanniy

Di malam tahun tahun baru hijriyah, Remaja Islam Masjid Al Ghanniy (Risma Al Ghanniy) menampilkan aksi teatrikal, bertemakan konflik antara orang tua dan remaja yang aktif di masjid. Karena mereka sering rapat hingga larut malam, maka orang tua berkeberatan. Salah satunya sebenarnya saya, karena anak sulung juga aktif, anak gadis pulang larut tentu saja mengkhawatirkanku.

Adegan dalam drama pendek itu sederhana, lugas, tanpa kiasan. Apa adanya. Mereka berperan sebagai diri mereka sendiri, kecuali seorang dari berperan menjadi orang tua yang komplain keras terhadap aktifitas Risma yang sampai larut itu.

Pada akhirnya diceritakan dalam adegan tersebut mereka mengambil simpulan, untuk membenahi cara rapat mereka: dengan datang tepat waktu, dan agenda yang jelas sehingga rapat bisa efektif. Dan satu hal lagi, seusai rapat mereka harus bergegas pulang.

Saya sebenarnya tidak berani menonton langsung saat drama ditonilkan, karena saat latihan saya sudah menangkap arah ceritanya. Seperti biasa, sebagai sanguinis saya memang cenderung menghindari konflik. Namun ada beberapa hal yang menjadi catatanku.

Yang pertama, apresiasi bahwa Risma sudah dapat memanfaatkan seni peran sebagai sarana ekspresi atas aspirasi mereka. Memang sebenarnya jika dikemas dalam kiasan akan lebih indah dan menantang. Yang kedua, ini membuktikan bahwa Risma sudah dapat identifikasikan masalah dan alternatif penyelesaiannya. Untuk siasati pulang larut maka mereka tawarkan solusi berupa rapat yang lebih efektif, dimulai tepat waktu dan agenda yang jelas.

Demikianlah, acara malam tahun baru hijriyah ini menjadi sarana komunikasi antar generasi, remaja dan orang tua. Semoga ini menjadi pembuka pintu keberkahan untuk kita semua. Aamiin.

Taman Bumyagara, 02/10/2016
Poetoe.

Terhenti

kita tak menyangka, bahwa kita sudah sampai pada tepi tiang birama
saat sunyi kuasai diri, menghentikan rangkaian nada yang riuh sedari kemarin....

kita tak menduga, bahwa buritan kapal telah menyentuh tepian dermaga, namun bukan di pelabuhan yang kita inginkan
lalu seorang penyair memanjat tiang layar dan berseru
"Tak semua harapan itu dapat kita temukan di buku Kenyataan..."
....
tak ada tepukan tangan, tak ada sorak sorai.
sepi saja.

dan kita hanya memandang saja, pandangan mata yang tak memandang apa apa sebenarnya,
hanya memandang pada diri saja
mungkin memang bukan saatnya saling menunjuk....

dan.... "Cut..."
Sang Sutradara hentikan fragmen ini secara paksa.

Semakin Sunyi.

Pancoran, 29/09/2016
Poetoe

Capucino

Capucino. Jenis kopi yang sudah lama tak aku pesan. Aku memesannya siang ini. Padahal tak seberapa suka. Hanya sekedar ingin catat bahwa siang ini secara berbeda.

Sekedar mengurangi pengulangan saja. Irama memang perlu dalam lagu, pola. Namun sesekali kita memang butuh improvisasi. Membeda.

Seperti kata aneh yang dulu aku sengaja kenakan di keseharian, kini coba aku tanggalkan. Membiasa. Entah akan berhasil atau tidak. Menjadi biasa saat biasanya tak biasa. Padahal sama. Pengulangan juga pada akhirnya.

Dan siang ini, mungkin aku gagal pahami hari, namun paling tidak, aku paham bahwa sedotan pada segelas kopi capucino itu bisa berdiri tegak tanpa bersandar pada dinding gelas.

Circle K pancoran, 25/09/2016
Poetoe.

Gung Liwang Luwung

Menunduk di ruang dalam,
seperti enggan terkena sinar matahari,
menikmati dentuman nadi sendiri,
juga luka,
atas ingatan yang sengaja dinikmati...

Tiba tiba saja, berlama dalam diam itu pesona,
tak ada tempat untuk kebencian
tak ada waktu untuk marah

Gung liwang luwung.
Merem. Namun bukan tidur, karena jalan darah di kelopak mata masih terlihat jelas.

Diam.

Jakarta, 23/09/2016
Poetoe

istighfar

Di saat mustajab, dan itu adalah tempat tepat untuk berdoa, yang terlintas cepat adalah permohonan ampunan.

Kesadaran penuh, bahwa dosa telah beranak pinak demikian dahsyat. Meninggalkan jejak kerusakan, yang melahirkan tak hanya penyesalan namun juga ketakutan.

Permohonan ampunku kepada-Nya, aku haturkan, dengan aku sertakan permohonan agar diberikan jalan dalam rangkaian kenyataan yang mendukung: dari satu kebaikan menuju kebaikan yang lain, demikian pula berikan jalan agar dapat beranjak dari kesalahan satu demi satu, bukan sebaliknya tersesat dari kesalahan satu ke kesalahan lainnya.

Lalu gemetar demikian hebat, berlanjut ke sakit kepala cukup parah, hingga harus rebah. Padahal dulu di saat yang serupa ini, setelah sesal itu hanya air mata. Mungkin level dosa yang meningkat, menimbulkan kerusakan tubuh yang lebih serius.

Aku tahu obatnya, terus detoksifikasi dengan rajin memohon ampun, dan tetap hati-hati dalam melangkah. Berhenti jika tersadar, agar tak tersesat terlalu jauh.

(Resep itu masih aku pegang erat, sayangnya aku seringkali lupa untuk menebusnya di apotik terdekat.)

Al Ghanniy, 27/09/2016
Poetoe

ingkari ketiadaanmu

Mungkin ini saatnya, aku memberi harga lebih atas kata,
kata yang berupa tulisan yang tak terbaca,
kata yang berupa suara yang tak terdengar,
kata pada wajah yang tak terlihat.

Kau mengingari ada ku,
namun aku tetap coba ingkari ketiadaanmu.

Bukankah bunga yang tergeletak di depan pintu hingga layu itu pun tetap punya makna?

Kutaburi saja nampan kenangan itu, dengan detik detik kebersamaan kita dulu. Manis, sangatlah manis.

Pancoran, 25/09/2016
Poetoe

mengapa tak jaga tilawahmu?

Lalu serupa percakapan pada satu pagi,
Mengapa tua tak membuatmu semakin menunduk. Dan aku tergagap. Tak kuasa untuk tak mengiyakan.

Mengapa saat luang dalam lelah itu gitar yang kau raih, bukan mushaf Quran seperti dulu....?

Tanya yang tak untuk aku jawab, cukup mengendapkannya. Ini justru jawaban atas risau yang menganak pinak di setiap malamku belakangan ini.

Narasi dari langit. Berisi kalimat Tuhan yang dengan membacanya membuat ku tenang. Mengabaikannya adalah gelisah.

Baiklah, aku akan rajin menyapamu via chat, sambil kulaporkan tilawahku hari ini. Jaga aku, dik.

Pancoran, 21/09/2016
Poetoe.

aku : monster

Di pinggir waktu
tempat yang tak terlalu aku kenal
menenggak kopi serupa air putih
dan matahari menunduk malu di balik awan
aku bercerita tentang hal yang mengejutkanmu
ternyata aku bisa punya rahasia juga
kupikir aku sudah telanjang
jadi beginilah
aku monster yang tertanam dalam tubuh bocah. Dulu.
Sekarang tentu tak lagi bocah, namun monster mungkin saja masih.

Larutan kopi mengisi penuh nadi,
darah merah menghitam
sejarah memang hitam bukan?
Mungkin itu yang membuat sesekali kau lupakan nikmat kenangan.

Aku di sini.
Di pinggir waktu, di tempat yang tak terlalu aku kenal. Bersama secangkir kopi, cangkir kopi keduaku hari ini. Dan aku menenggaknya serupa air putih saja.

Rest Area 57, 8/9/2016
Poetoe

Doa itu memang ekspresi kerinduan

Doa memang ekspresi kerinduan, seperti saat benar benar rindu dan kita tak bisa lakukan sesuatu, maka berdoa adalah cara yang indah.

Doa juga ekspresi cinta, ekspresi perhatian, ekspresi rasa sayang. Terkadang tak terasa kalimat kita penuh doa. "Hati-hati di jalan" "fi amanillah", "sukses yaa", "tetap semangat yaa". Pada kata kata itu tersirat doa, harapan positif.

Doa itu memang luar biasa. Kekuatan yang terlahir dari pemahaman atas ketidakberdayaan. Kita ingin selalu dapat melindungi anak tercinta, namun jarak membatasi. Kita tak bisa selalu ada di sebelahnya. Tak berdaya. Maka doa yang bisa mewakili. Karena hanya dengan melibat kan Dia yang maha berkehendak, maka hidup kita akan tenang.

Demikianlah, ekspresi rindu juga cinta yang terindah adalah: doa.

Bis transjabodetabek, 29/08/2016
Poetoe.

Pigura Norma

Photo butuh frame. Batas.
Lagu pun butuh birama.
Demikian keindahan, butuh batas
Cantik itu cantik saja
Cukup. Jangan berlebih menikmatinya.

Hahaha.

Akrab butuh norma.
Butuh sopan.

Baiklah.

Indonesia, Agustus 2016
Poetoe

Galau di usiaku

Galau pada frase umur tertentu, ternyata mempunyai beda sebab. Dulu saat belia, galau itu tersebab oleh penasaran atas banyak hal. Seperti pencarian atas definisi untuk semua hal. Sedangkan sekarang setelah memasuki "kepala empat" sebabnya sedikit berbeda. Karena tak lagi risau atas definisi, justru sebaliknya, karena teramat banyak makna yang pernah tertangkap, maka untuk jelaskan satu hal saja, ditemukan banyak definisi dan narasi. Variabelnya menjadi teramat banyak. Menjadi sulit mencari sesuatu yang sederhana.

Tentang rasa, tentang sikap, tentang penilaian, tentang harapan, semua menjadi bagan pemahaman yang kompleks.

Bisa jadi, meminjam kaca mata masa lalu kita adalah solusi untuk mengembalikan dunia yang nampak sederhana.

Ini hanya masalah cara pandang.

Iya. Cara.

Bekasi, 28/08/2016
Poetoe

Rangkaian kebaikan

Hidup adalah serangkaian kebaikan orang lain atas kita. Dimulai dari saat pasangan kita membangunkan kita. Caranya yang lembut menjadi gerbang yang indah memasuki alam kesadaran. Berlanjut kebaikan lain melalui tersedianya sarapan dan secangkir kopi. Menjadi energi awal untuk lalui hari ini.

Di jalan pun, kita selamat karena kebaikan orang lain. Mereka yang memberi jalan saat kita mendahului, juga saat di bis selalu saja ada orang yang memberi ruang untuk kita. Di kantor ada senyum satuan pengamanan di gerbang lalu senyum resepsionis di depan lift mendukung keceriaan hati kita. Rekan kerja yang dengan ringan membantu tugas tugas kita, atasan yang cermat menjaga kita dari kesalahan. Ah, betapa banyak kebaikan orang lain atas hidup kita.

Belum lagi mereka yang berperan menjaga atmosfer nyaman kita. Melalui posting positif pada sosial media yang sempat kita baca, atau sekedar status yang membahagiakan. Juga teman-teman berbincang yang melengkapi hangatnya hari.

Dan yang lebih utama adalah mereka yang tak berhenti mendoakan kita. Orang tua kita, keluarga kita, juga orang-orang yang tak kita kenal yang diam diam mendoakan keselamatan dan kebaikan untuk kita.

Aku bersyukur atas ini semua. Dzat yang maha Baik itu telah melimpahkan hal hal baik di sekitar kita. Semoga keberkahan selalu terlimpah untuk kita semua.

Aamiin.

Bekasi-Jakarta, 16/08/2016
Poetoe.

bercakap dengan awan

Entah mulai kapan, aku jadi suka membaca awan. Mendongak ke atas, lalu mengeja setiap lekuk awan. Awalnya aku pikir aku butuh belajar bahasa awan, ternyata tidak. Cukup menatap lama saja, maka otak kita akan memproduksi banyak kata dan cerita. Awan bertutur dengan caranya sendiri.

Seperti sore ini, aku berbincang dengannya tentang kepentingan yang mengunyah kebaikan hati. Caranya lembut, tapi tanpa terasa kita dibutakan oleh kepentingan itu hingga orang orang menjadi nampak buruk. Kebaikan mereka hilang makna. Kita penuh dengan syak wasangka.

Aku masih menatap langit. Lama. Hingga awan putih itu melogam, lalu memerah, perlahan menggelap. Ajari aku. Ajari tentang memelihara ketulusan dan memandang semua dengan kejernihan hati. Tak ingin ada benci tak ingin ada dendam. Bersih saja.

Di bawah patung pancoran, senja, 15/08/2016
Poetoe.

mimpi : kesadaran yang lain

Keluar ke halaman
Mendongak ke atas
Apakah benar bulan ada dua?
Sayang di dekat sini tak ada taman kecil seperti tempat di mana ~tengo dan aomame~ akhirnya bertemu, sehingga aku bisa duduk di puncak papan luncur sambil menatap bulan, dua bulan itu. (Efek baca 1Q84 -Haruki Murakami)

Esok pagi mungkin kuulangi
Keluar ke halaman
Mendongak ke atas
Apakah ada beda dengan matahari?
Jika ada rintik hujan bisa jadi ada pelangi.

Jadi mengerti
Kenapa Dia sampaikan firmanNya dengan kiasan benda benda langit pada beberapa mula Surat....
Benda langit adalah penghubung antara kita dengan kesadaran kita.

Masih malam
Aku gunakan saja untuk terpejam
Namun kesadaran masih tersisa
Hasilnya aku melihat pelangi itu
Dalam imaji di balik kelopak mata sendiri
Di sini
Di kamar ini
Bersama guling
Bukan di halaman sana.

Rebah
Berusaha lelap
Lagi.

Mungkin mimpi memang kesadaran kita yang lain.

Bumyagara, 14/08/2016
Poetoe

dua kurva saling mengisi ruang

Kita kurva saling mengisi ruang
dua himpunan beririsan
berhentilah berharap selalu cantik
kau telah melampaui itu
saat tak ada jarak bukankah lalu lebur
dan ukuran sederhana tentang kekaguman itu tak lagi berguna
kau telah lama melampaui itu

Jadi mengapa pula risau oleh tata nilai
juga omong kosong nomor urut itu
bukankah kau telah menembus batas itu?

Kuharap kau sadar, tak lagi perlu gelisah itu
karena kita mungkin telah moksa bersama
menyublim bersama angin
tersangkut di awan itu.

Sejak disatukan oleh mimpi di tepian kali itu,
jangkar tersangkut. Melukai makna waktu.
Tak berdulu tak bernanti lagi.

Bekasi, 5/8/2016
Poetoe.

Rabu, 12 Oktober 2016

Nah

Iya, memang harus begitu
Lalu mereka mulai memanjat langit senja
Merobeknya. Mencari air mata.
Dan titik itu memang selalu punya "mungkin".

Aku lumat saja angin,
remahkan ingin
kita butuh cermin
bukan bedak dan gincu saja
Seolah sama, tapi beda.
Satu membantu melihat diri
Yang satu menutup diri.

Demikianlah
Saat langit bernanah
Awan pun datang bulan.

Nah.

Jakarta, 5/8/2016
Poetoe

Cerita Kemerdekaan

Ada permintaan seorang teman untuk mengisi acara 17-an, besok malam. Pengalaman pertama, mau isi apa? Kata dia mendongeng saja pak, cerita perjuangan. Hmmm... Langsung beterbangan dalam benak kisah kisah perjuangan yang tersisa di kepala.

Mungkin pola yang bagus itu jika diawali dengan kisah detail beberapa fragmen jelang kemerdekaan, lalu coba zoom in ke beberapa tokoh yang terlibat. Harapannya ada sosok teladan yang bisa ditiru anak anak, lalu mungkin bahas sekilas kondisi terkini, dan bentuk perjuangan macam apa di kondisi saat ini.

Menurutku ini permintaan tolong yang menarik, menantang. Masih ada waktu bongkar referensi buku buku sejarah. Jika teman teman ada ide mohon masukannya.

Terima kasih.

Transjabodetabek, 16/08/2016
Poetoe.

Merdeka

15 Agustus 1945, katanya ada peristiwa penculikan bung Karno dan bung Hatta oleh Sukarni dan kawan kawan. Adalah tentang drama semangat anak muda, dan perhitungan gaya tokoh pergerakan senior. Kesemuanya dengan tujuan akhir "merdeka".

Mereka berbeda cara, namun tetap padu pada akhirnya. Dan hasilnya kita nikmati saat ini. Merdeka.

Selalu saja, rumusnya sederhana. Bagan serupa koordinat. Dengan dua sumbu berbeda. Hasil ideal adalah kurva di antara dua sumbu itu. Semenjana. Tawazunitas.

Patung Pancoran, senja, 15/08/2016
Poetoe.

Hujan di tepian

Hujan memaksa menepi
seperti lelah yang memaksa berhenti
tetapi tak lalu selesai, karena ini
satu cara membuat ruang antara
agar muat untuk diisi dengan galau
gelisah
juga detak harap yang megap megap
menggelepar didera interlude panjang ini

Hujan memaksa menepi
menunggu derasnya berkurang
juga redanya ombak anggapan orang
juga norma
kita nada yang memang tak boleh sekehendak hati
menjadi sumbang
atau menghuni birama tanpa permisi.

Bekasi, 14/08/2016
Poetoe 

Hujan Rindu

Hujan
Rebah saja kan membantu
Denyut di kepala berirama
Bersama guling coba atur mimpi.

Ternyata tak mudah
Ingatan sederhana tentang tengah hari hingga senja itu demikian menguasai
Bagaimana bisa
Waktu terkulai
Ingatan jadi raja

Betapa indahnya
Bahkan detailnya tereja
Berapa kerut di dahiku sesuai hitunganmu.

Aku malu
Namun setuju
Rindu.

Indonesia, 13/08/2016
Poetoe

Persebukuanku

dan buku
menghina kita dengan menyajikan kesadaran
bahwa kita memang tidak mengerti
namun dengan gagah ku berdiri menantang
aku sudah cukup

dan gelas yang ku bawa memang sudah penuh
maaf
dunia terlalu bising
dan aku sudah pekat dan padat
jangan ganggu

citra yang memberhalaku
seolah pupuk yang suburkan tanaman angkuhku
aku tak pantas diberhinakan

lalu buku aku tutup
jika ada waktu aku akan buang saja
aku cukup

saat malam tersadar katup otak dan kesadaranku megap megap.

Jalan Tol, 05/08/2016
Poetoe

Selasa, 11 Oktober 2016

Calon Presiden

Beli bensin eceran di deket rumah, abang penjualnya sedang sibuk menemani belajar anaknya. Basa basi aku menyapa anaknya.. "Lagi belajar neh?" Ayahnya yang menjawab "iya. Calon presiden dia itu." spontan aku mengamini. Dia melanjutkan "Soalnya belum ada presiden dari Medan, Bang." Aku suka optimisnya. "Cukuplah nanti dua periode."

Sekali lagi aku mengamini. Ini doa yang indah.

Bumyagara, 4/08/2016
Poetoe

Tentang Ketidakjelasan

Tentang ketidakjelasan.... Saat banyak pertanyaan yang tak terjawab. Seperti satu ungkapan, novelis menulis untuk membuat banyak pertanyaan bukan untuk menjawab nya. Pantaslah, setelah aku selesai membaca satu novel, kepalaku justru memproduksi banyak pertanyaan. Tak semua terjawab. Makanya jadi penuh ketidakjelasan.

Pembelaannya : karena hidup terlalu sederhana. Kita butuh terus mencari masalah. Masalah lahir dari tanya dan tanya. Buktinya skipsi, tesis, atau desertasi itu dimulai dengan mencari masalah. Pun itu butuh dosen pembimbing. Siapa bilang orang cari masalah itu kurang kerjaan, justru secara akademik kita dituntut untuk pintar mencari masalah.

Dan ketidakjelasan kita pun jangan diartikan tanpa keindahan. Bukankah warna hitam itu pilar penting dalam lukisan, bukankah jeda sunyi itu bagian penting dari sebuah komposisi lagu, bukankah misteri itu sisi penting dari sebuah cerita?

Karenanya mari kita nikmati ketidakjelasan ini. Mari.

Halte pancoran 01/08/2016
Poetoe

Menunggu

Menunggu
sesal itu datang bertamu
ragu yang mengantarkan
gelisah yang menyilakan.

Jika tak benar mengapa gusar?
Otak pongah menerjemahkan hari
padahal tak senaif itu.
Karena ada rasa
ada ruang antara
curiga juga duga
marah juga sayang
sebel juga rindu.

Adakah senja ini yang kau tunggu?

Halte pancoran tugu; 29/07/2016
Poetoe

Kebaikan tanpa syarat

Seorang tetangga depan rumah, ia penghapal quran. Hidupnya tenang. Pernah suatu kali menjadi korban penipuan. Ia tetap tenang. Bahkan saat dipertemukan dengan si penipu setelah terbukti aksi penipuannya, ia tetap tenang tidak lalu marah. Justru kami saat itu yang terpancing emosi.

Pada kesempatan lain aku bertanya bagaimana bisa tetap tenang? Ia hanya tersenyum. Kata dia "Bisa jadi harta kita yang telah dia pakai itu menjadi jalan untuk dia bertobat."

Iya. Mungkin ini yang disebut kebaikan tanpa syarat. Kebaikan lalu "titik", tanpa embel embel.

Terkadang kita masih gagal, saat melakukan kebaikan masih menambahkan syarat "asal dia ngerti aja... Masak gitu sih, kebangetan kan..."

Mungkin banyak kebaikan kebaikan kita yang gagal menjadi buah pahala, karena tak terjaganya hati kita.

Halte Pancoran tugu, 3 Agustus 2016.
Poetoe

Petak Umpet

Mengapa petak umpet itu menarik?
Sembunyi memang permainan purba
Sejak mula mula manusia ada.

Demikian pula rahasia juga kejutan
Tetap menjadi pesona tersendiri
Manusia
di tengah kesibukannya menggali pengetahuan
mereka juga bermain main dengan ketidaktahuan.

Bukankah indahnya rahasia adalah ketidaktahuan, demikian halnya kejutan adalah ketidakdugaan?

Dan rindu itu menjadi lebih indah,
saat tersembunyi demikian dalam.
Menjadi rahsia, puisi diam diam.
Dan ke tidak terungkap nya bukanlah tragedi,
karena lestarinya rahasia itu menjadi karya
kata yang terucap itu lirik lagu,
rahsia rasa itu menjadi alunan nada,
dan rindu yang terlarang itu adalah birama.

Teringat bahwa salah satu doa yang makbul adalah doa yang terucap namun tetap menjadi rahasia antara si pendoa dengan Tuhannya saja, bahkan target yang didoakan pun tak mengerti.

Dan semakin yakinlah, ekspresi kerinduan terbaik adalah doa. Dan doa terbaik itu doa yang "diam-diam".

Bekasi, 27/07/2016
Poetoe

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...