Selasa, 12 Desember 2017

Hujan Bercanda

Hujan bercanda
pada mimpi di ruang benak
bahwa waktu telah sempurna ubah kita
demikian dekat dan hangat menjadi
kering dan sepi
ukuran angka angka itu melengkapi
tiba tiba percakapan kita adalah transaksional saja

Aku sih coba bertahan
berdiri pada ambang batas
biarkan kering, namun enggan beranjak jadi benci

Jadi semenjana saja.

Bekasi, 11/12/2017
Poetoe

Kopi pagi

Secangkir kopi, sosis bakar,
dan saus pedas.

Secawan mimpi, selapis kelakar,
dan tarikan nafas.

Angka tertebar di meja
seikat keinginan
bertabur rindu
harus kurekat rekat
sebelum kunikmati

Hasrat menyebar dalam jiwa
pekat oleh impian
bertabuh dengki yang merdu
harus ku sekat sekat
sebelum kupotong dan buang jauh jauh

Secangkir kopi
rebah aku menepi di suatu pagi.

Bekasi, 9 Desember 2017
Poetoe

Aku

Aku lahir tgl 21 april 2011 di hari kartini
aku ingin seperti kartini
aku ingin rajin belajar seperti kartini yang belajar tanpa henti

Cita citaku jadi desainer dan dokter
dan hobyku menulis

Semoga dapat kucapai.
Aamiin.

Bekasi, 09 Desember 2017
Asa Adila Madania

Bunda

Bunda adalah wanita penuh cinta karena ia sudah melahirkanku dan merawatku
dan memberi rasa pada setiap cerita

Bunda adalah wanita perkasa
dan tak pernah lelah membangunkanku
agar tak terlambat sholat shubuh

Bunda adalah ibu guruku
Bunda tak pernah lelah mengajarkanku
agar aku pintar dan berilmu

Bunda terima kasihku untukmu.

Bekasi, 7 Desember 2017
Asa Adila Madania

Bersama Asa


Seperti di suatu senja
saat belajar bersama Asa
belajar menulis puisi
bagaimana mengisi kertas kosong dengan curahan hati
aku menulis tentang Asa, anak ketiga
sedang Asa menulis tentang bundanya.

Ini tentang kata
yang kami tangkap pada setiap rasa
kami bariskan mereka
dalam ikatan bait dan irama

Ternyata memang luar biasa
menikmati sajian kata
di meja makan kita
sesap bersama maknanya.

Bekasi, 7 Desember 2017
Poetoe

Antara mimpi dan terjaga

Terbangun belum juga tengah malam
apakah mimpi si bunga tidur itu justru mengkhianati tidur dengan membuat kita kembali terjaga?

Yang tersisa justru debar dalam dada
Juga kaki yang terasa pegal, seolah mimpi berlari lari itu terjadi benar benar

Pertanyaan tentang batas nyata dan mimpi itu seperti mengabadi
Sejak dari kanak kanak tak juga terjawab tuntas

Seperti pernah bermimpi mengerjakan ujian saat sekolah menengah dulu,
lalu esoknya saat ujian terkaget, karena soalnya persis seperti dalam mimpi

Juga beberapa kali, mimpi menghapal materi pelajaran, esoknya benar benar hapal

Dan malam ini, mimpi berlari terburu buru itu, menyisakan kelelahan di kedua kaki.

Mungkinkah memang tak ada batas antara dua alam ini?

Bekasi, nyaris 11 Desember 2017
Poetoe

Rabu, 06 Desember 2017

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu
Cinta menjelaga
Kenangan menggenang di ceruk benak
Bagaimana bisa aku tanpa puisi....

Seperti memunguti terseraknya makna
di halaman masa
semakin teliti, semakin bernas kata kata
diksi menjadi kunci
terlahirnya syair syair mimpi.

Lalu diam,
biarkan sesaat setiap indra presentasikan rasa yang tertangkap
Otak berdenyut pimpin rapat
hasilnya adalah endapan.

Karena bahkan kopi pun
setelah terendapkan lebih nikmat kita sesap.

Bekasi 07 desember 2017
Poetoe

Minggu, 03 Desember 2017

Tata Surya dalam Kopi Kita

Mungkin kita terlahir oleh kata
dalam bincang di setiap ritual minum kopi kita
karena kopi dan perbincangan ringan itu berpasangan
keduanya bermuara pada kehangatan

Seperti benda benda di langit
kita dan kata berputaran
Mars yang merah terlihat marah
namun kenyataannya lembut dan penuh empati
Jupiter yang sabar
lebarnya sanggup berlama lama jadi pendengar saja
juga Sarurnus bercincin, banyak gaya di sekian banyak planet dalam tata surya

semuanya mengitari Matahari
yang beri kehangatan
hangatnya kopi
hangatnya bincang
hangatnya tawa lepas
hangatnya nada riang

Indahnya sulit dilupakan
ku tak ingin ada badai mana pun yang akan matikan pijarnya

Desember 2017
Poetoe

Racun Rindu

Seperti satu waktu
sengaja kucampur rindu
dalam cangkir kopiku
meracuni sepanjang hari
penuh olehmu
hingga tersedak jelang malam menggelap
dalam nir nalar aku terlelap.

Desember 2017
Poetoe.

Selasa, 28 November 2017

Kidung Dunia

Hei...
Senandung awan
Senandung angan
Senandung mimpi
Seanandung wang sinawang.....

Hidup ini seperti tarian saja
ada yang melihat ke sana lalu tertawa
ada yang melihat ke sini
lalu keinginannya berkobar kobar
lupa diri
lupa untuk siapa dia ada di muka bumi ini

Hah

Ooooo....
Senandung awan
Senandung angan
Senandung mimpi
Seanandung wang sinawang.....

Semua saling melihat
Saling menatap
Lupa bahwa apa urusannya dengan orang lain
kita kelak dipanggil kembali
untuk hadir dalam satu apel akbar
isinya hanya kita sendiri  berhadapan dengan Tuhan
dan bukan tentang orang lain.

Saat itu hanya takut yang ada kelopak mata
menyesali selama di dunia sibuk
untuk hal yang tiada punya arti
sebagai bekal di sana nanti.

Mau menyesal,
ya silakan..

Lanjutkan ketololan kalian!

28/11/2017
Poetoe

Duhai Senja

Senja
aku ingin rebah manja
di pundak langitmu
hari ini dunia terlalu perkasa
menggagahi renta jiwaku
mengisi penuh rongga kepalaku
dunia
dunia
dunia.....

aku ingin rehat
aku ingin bersandar saja
ah
aku ingin tanpa ingin
sejenak saja
karena inginku
hanya mengganggu ketenangan hati
seperti mengejar bayangan sendiri

Senja
jika hari serupa sungai kecil di pedesaan
aku ingin menjadi air yang terjebak dalam ceruk sempit
berputaran saja di sana
agar aku tak letih mengikuti arusnya
biarkan pepasir yang terikut olehku mengendap di sana
hingga airku lebih jernih
tak terombang ambing oleh hasrat
dan kejamnya dunia.

Senja
aku hanya ingin rebah manja
di pundak langitmu.

28/11/2017
Poetoe

Rabu, 22 November 2017

R

di sela rimba waktu
terselip pertemuan kita
sangat sebentar
namun genangan telaga itu
ternikmati sejuknya

membuka pintu
dan persilakan kau masuk
lalu berjalan berkeliling
kubiarkan kau kenali satu satu
kubiarkan kau pahami setiap detail
masa laluku....

Iya.

mungkin ini karena telaga hening itu
sunyi namun penuh energi
yang tertahan menunggu momentum
jika sampai waktunya meledak saja
entah kapan

aku sih ingin kita menunggu saja di sini
sambil nikmati kopi
dan bincang isi sepi
dan kata kata serupa kayu bakar
perapian kecil
yang hangatkan ruang cakap kita.

Yuk.

Bekasi, November 2017
Poetoe

Minggu, 19 November 2017

Cinta teruji

akhirnya sepakat,
bahwa aku mencintaimu
dan seperti tradisi cinta
ia akan diuji
tanpa henti
hingga tersisa nanti
cinta yang berbeda dengan saat mula terasa dulu
yang masih sarat dengan cemburu
dan gelora yang norak
mungkin ini tentang langit yang menarik kita
tak terasa
terbang
semakin tak membumi

semakin lama semakin platonik
semakin tak membutuhkan kata
semakin miskin tuntutan
hak mengabur
semua tentang memberi saja
memberi tanpa henti

pada akhirnya bahkan ada tak ada pun kehilangan urgensi
karena saat tak dekat pun tak terasa jauh
selama dirimu tumbuh di kepalaku
tumbuh terus

masih saja begitu
kau juga cintaku
demikian pun aku adalah cintamu.

Indonesia 2017
Poetoe

Minggu, 12 November 2017

pagi, merdeka

memulai hari dengan berbekal cinta yang cukup
karena di luar banyak fakir rasa
sibuk berebut bahagianya masing masing

tak perduli saling rampas dan injak
bahagia semakin tak terdefinisi

senyum pun menjadi bias
seperti harus ada maksud dari setiap tarikan pipi ke belakang itu

padahal sejatinya senyum hanya ekspresi saja
atas bahagia di hati
tumpah ke bibir emosi

dan senandung, menjadi sekedar hymne atau mars
yang membawa kepentingan
yang sarat dengan beban citra

padahal aku rindu untuk sekedar bersiul
senandungkan lagu apa pun
tapi nada dan iramanya selalu jadi ekspresi cinta

Bekasi, 13/11/2017
Poetoe

bisik duga

sudah lama
tak kusuka
terlalu bersandar
pada data saja
butuh bumbu
seperti firasat
walau nanti saat
ditanya alasan
jadi belepotan
iya seperti itu
ini terasa saja
alarm hati berbunyi

terkadang bahkan
ini hasil dari terpejam
bersaat saat dalam diam
lalu tercerahkan
begitu saja.

seperti saat ini
aku membaca banyak
ada yang tak ingin terceritakan
terasa saja
ada yang akan terjadi

apapun itu
tugasku hanya bersiap
agar tak lalu luka
agar tak lalu kecewa

bisik duga itu aku simpan saja
bukan jadi dasar keputusan
namun paling tidak
menjadi anti biotik
pereda kecewa sejak mula mula.

November 2017
Poetoe

Kerja Syetan

Mungkin ini pekerjaan syetan
Menabur marah dan benci
Hati yang keruh menjadi tanah suburnya
Sangka dan duga menjadi pupuk yang tepat

Tumbuhlah lebat
Menggurita di sela sela posting kita di sosial media
Menyebar dengan cepat
Mengunyah rasa sayang
Menggantinya dengan semangat permusuhan.

Jika tak hati hati, postingan kita pun hanya jadi bukti
Bahwa kita andil dalam skema syetan itu. Kita menjadi salah satu serdadunya.

Semoga tidak. Tetaplah utuh jadi manusia. Saja.

Bekasi, 11/11/2017
Poetoe

Melebur angin, menabur ingin

Berjalan pulang sambil menggigit malam.
Berharap temukan rasa dalam jejak lelah.
Karena gelap itu selimut atas terang, melindungi agar gelora siang jadi tenangnya malam.

Di perempatan saat menyeberang aku siulkan gumam, coba usir gelisah atas rela yang ternoda ambisi.

Berhenti sejenak di tengah, menginjak marka jalan sambil berdiskusi atas diri.

Bebaskan sejenak
Liarkan sesaat.

Dan di atas kendara, aku pejamkan mata
Menyengaja terbang, menjejaki awan
Memainkan rembulan.

Melebur pada angin
Manabur ingin pada nampan kenyataan.

Bekasi, 10/11/2017
Poetoe

Memilih sepi

Berjalan pulang itu antaraku dengan isi kepalaku. Berapa capaianku hari ini, apakah aku benar benar bergerak, atau sekedar merasa bergerak?

Jika jawabannya nihil, gagal, aku jadi cemas.

Kesepian, itu berbeda dengan sepi. Kesepian itu serupa kutukan, sementara sepi bisa jadi memang pilihan kita.

Saat kota terlalu gaduh, saat nama terlampau banyak mengisi hari kita. Berdiam itu nyaman.

Berteduh saja.

Di bis angkutan kota, bersama banyak tulisan tersebar di gadget para penumpang.

Saling kini menjadi kata asing.
Masing masing.

Tradisi menutup pintu di dunia nyata, namun demikian terbuka di dunia maya.

Keheningan menjadi saat yang dirindu. Karena kata demikian banyak dibuat. Semena mena dilahirkan, dalam pikiran, tulisan, atau kata kata lisan.

Aku membutuhkanmu, untuk sekedar membaca riuh di dalam sepi pilihanku, senja ini.

Pancoran, 10/11/2017
Poetoe

Rabu, 08 November 2017

Jaga hati

Bahwa harta kita sebenarnya adalah yang kita sedekahkan,  namun kita masih panik dan marah saat gajian kita kurang dari yang seharusnya.

Bahwa harta kita sebenarnya adalah yang kita sedekahkan,  namun kita masih panik dan marah saat merasa membeli barang yang terlalu mahal dari yang seharusnya.

Ternyata kita sering heboh merasa kehilangan atas apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Saat berkendara,  seringkali kita bangga jika berhasil tempuh waktu lebih cepat dari yang biasa.  Dengan bangga kita cerita beberapa kali menang saat berebut jalan.  Padahal jangan-jangan di "sana" nanti yang dinilai adalah berapa kali kita memberi jalan orang lain.

Sesungguhnya masalah dimulai dari saat kita merasa orang lain tak memperlakukan kita secara pantas menurut ukuran kita.

Saat kita merasa telah melakukan lebih dari yang seharusnya adalah saat-saat berbahaya kita akan segera kehilangan rasa bahagia kita.

Saat kita kecewa sebenarnya itu bukti kebodohan kita dalam menerima ketetapanNya. Semakin mahir menerima semakin sulitlah kita kecewa,  semakin mudah untuk bahagia.

Kita sering terjebak pada menit menit pendek sesaat,   lupa akan hari hari yang masih akan panjang kita jalani.

Merasa benar terkadang menggoda kita untuk marah.  Padahal itu tak perlu.

Jika kita merasa mereka salah, maka seharusnya kita ajari untuk benar.  Apakah dengan menyalahkannya lalu mereka bisa benar?

Saat ada potensi marah,  maka kumpulkan banyak alasan pemakluman agar kita paham dan tak perlu lagi marah.

Saat ada potensi kecewa,  maka kumpulkan banyak alasan pemakluman agar kita paham dan tak perlu lagi kecewa.

Poetoe,  2017

Komposisi hari ini

Dalam satu komposisi hari,  menjadi peran apa aku
Bas dan perkusi yang menjaga irama
Atau gitar melodi yang menjadi jiwa

Saat kita bergerak,  aku berharap menjadi bagian penggerak
Bukan sebaliknya
Dan birama menjadi batas ruang petakilanku
Berharap tak ada yang sumbang
Mebuat canda sebagai tone
Memainkan emosi dengan senyum dan wajah cerah

Tapi apa bisa lalu sempurna?

Masih saja ada terpelesetnya aku pada garis nada
Juga tersesatku di rimba birama

Aku takut melukaimu
Bukankah kau bagian dari indahnya hari ini

Melukaimu adalah aibku hari ini.

Aku minta maaf.  Sungguh.

Pancoran,  8/11/2017
Poetoe

Tentang menyalahkan

Prasangka baik itu hulu. Hilirnya mungkin tak mudah salahkan orang lain.

Baca timeline kok banyak yang saling menyalahkan. Sedih.

Ke orang lain menyalahkan.
Ke diri sendiri sibuk membela diri.

Jika kita memang benar, mengapa risau disalahkan, sampai sibuk membela diri.
Jika orang lain memang salah, apa gunanya kita ikut menyalahkan

Mungkin dosa itu memang bahasan personal, bukan konsumsi publik. Demikian halnya kesalahan, itu personal. Saat dibeberkan malah jadi api.

Ya begitu. Sudah.

Kembali senyap.

Tanpa kejelasan

pagi itu bahagia
secangkir nikmat dalam kopi
sepiring sayang dalam nasi goreng
..dan pelukan erat dalam senyuman.

detik mengukir cerita kita
dalam keteraturan gerak sisir
rambut rapi
dan harum tubuh
pesona seolah lupakan tanya
yang tak berjawab atas waktu
kesewenang-wenangan mimpi atas harga diri
ikatan norma sopan yang kelewat kaku

jadilah kita minyak dan air.

dan memang cerita tak harus ditamatkan. Mungkin.

menjadi jeda saja atas waktu
manjalah kita meringkuk di ruang tunggu
sesekali kaki kita saat menggeliat sengaja menjejak jarum jam
agar waktu lambat bergerak

karena kuharap bisa
berlama lama dalam telaga ini
mengambang saja bersama
tanpa kejelasan

tanpa kejelasan.

Poetoe, 2017

Sederhana

mereka bergerak menuju yang terbaik untuk mereka sendiri
sudah fitrah sebagai manusia.

kunci membangun peradaban mungkin sederhana saja
adalah mengarahkan keinginan berlaku terbaik mereka pada arah yang sama
sederhana yang tak sederhana menjalankannya

seperti kita
saat putuskan untuk mencinta
aku hanya ingin bahagiamu sama dengan bahagiaku
menanam chip di celah otak dan hatimu
sederhana yang tak sederhana bukan?

dan hidup memang sederhana
baik dan buruk
berbuat baiklah
dan jangan berbuat buruk.

sudah.
begitu saja.

Bekasi, 2017
Poetoe

Nalar dan rasa

berharap purnama ternikmati
namun hujan datang,
rintik sesaat lalu deras memanahi pungung bumi

rasa yang mau kuasai asa
namun nalar masih saja berjaga
tombaknya tajam teracung
menempel di leher cinta
berani maju selangkah saja
darah kan tertumpah

sakit seperti energi yang mengalir
ada hukum kekekalan energi
ia selalu berpindah
ruang juga waktu
kita mau sakit di sisi mana dan kapan
sekarang, dengan turuti nalar yang kasar dan kaku
atau turuti rasa sampai nanti fakta yang akan menyiksa kita

dan malam
walau ada kata cinta
tetap saja gulita
karena sakit selalu menunggu
sekarang atau nanti
terparang atau mati.

Bekasi, 2017
Poetoe

Racun rindu.

Adalah tentang bagaimana sebuah rindu itu meracuni seluruh waktu
Keriuhan apa pun menjadi tetap senyap
Riak air yang teredam batu hitam di sungai belakang rumah, dulu. Sunyi.
Diam wingit yang wigati.

Adalah tentang jarak, yang serupa energi pegas, menjauh hanya mengumpulkan tenaga untuk bersegera kembali menyatu.

Mungkin, keindahannya justru pada bagaimana menyelesaikan sebuah rindu
Dengan ekspresi terbaik, yaitu: doa.

Aku teracunimu.
Aku sibuk mencari penawar rindu, selain bertemu
Karena kau matahari, mendekatimu hanya membakarku.

Poetoe, 2017

Rindu gila

Siang kosong
Matahari aku simpan di luar sana
Aku meringkuk di sudut
Sinar apapun aku bunuh sebisa mungkin
Hingga remang yang tersisa
Kuberharap gulita.

Mengingatmu adalah siksa
Setiap terlintas menjadi jelaga
Kerinduan yang menjadi kerak
Bercak di mana mana
Ruang ingatan jadi kelam tanpa warna

Semakin gila merindu
Semakin pekat jiwa ini.

Pancoran, 3 November 2017
Poetoe

Kamis, 02 November 2017

Senandung gung liwang liwung.

Segelas air putih, jelang tengah malam
Waktu, aku kapsul kan
Dan aku telan agar larut di lambung ingatanku
Kau bisu dalam layar kenanganku
Mengangguk saja
Saat aku hamburkan rindu itu dalam sajakku
Angin menghantamkan dingin
Cantik terancamkan ingin
Mata tetap terbuka
Tak gentar
Hadapi resahku
Hadapi geloraku.

Betapa aku berharap kencang berlari
Agar moksa saja
Lenyap senyap bersembunyi di lipatan otakmu
Meringkuk saja di sana
Berharap merasai setiap denyutnya
Hingga tak tersisa setiap harapmu yang tak kukecap
Hingga tandas segala resahmu aku seduh dalam cawan hasratku.

Duh
Malam, bagaimana bisa masih tersisa
Padahal waktu, sudah ku kapsulkan
Dan aku telan dalam lambung ingatanku?

Bekasi, 2 November 2017
Poetoe

Selasa, 31 Oktober 2017

Kopi masa lalu ku.

Saat menoleh ke belakang,
rimbun ilalang kenangan menghadang
tak ada kamu
hanya sepi

Dan kemarin itu serupa ruang lama
perabot tua berdebu
ada ngelangut yang getas
tak menduga telah sepanjang ini perjalanan
bekal memang masih
tapi lelah menggigit betis.

Terduduk aku di kursi taman.

Kau ada di hari ini dan nanti,
tapi kesinilah, temani aku
bermainlah kita sejenak di rimba lama
ruang ingatan yang sama
mungkin kau akan bosan,
tapi duduklah sebentar saja
biar kau paham bagaimana aku isi lalu-ku dulu,
sebelum kau diciptakan ada untukku.

Dan kopi aku aduk perlahan bersama masa lalu, yang telah dikemas dalam sachet 2.000an.

Cawang, 01/11/2017
Poetoe.

Bulan dalam mimpi

Mimpi lalu terjadi
Detail adegannya jelas
Imaji menyata
Bahkan posisi duduk
Juga caramu mengangkat gelas
Persis.

Namun mimpi tak sanggup
Menarik percakapan kita utuh
Yang tersisa setelah terjaga
Hanya nada suara kita
Kau gunakan nada fa
Sedang aku re
Kata kita sahut bersahut

Dan purnama dalam mimpi
Tak sekedar kita tatap
Melainkan aku rengkuh
Karena aku terbang perlahan
Tanpa sayap
Hanya nafas yang kusesuaikan dengan senyap
Awan juga angin
Sejuk juga dingin

Sampai tanganku menjamah bulan
Hangat
Nyaman di tangan
Dan aku seperti sangat enggan untuk terbangun.

Bekasi, 27 Oktober 2017
Poetoe.

18 tahun kita. (25 Oktober 1999-2017)

Bagaimana kita di tahun ke-18 ini? Catatanku tentangmu adalah konsistensimu, untuk tetap menjadi pendampingku yang berkualitas. Adalah perhatian yang tertatap tajam ke arahku. Kekhawatiran atas sakit kepalaku, atas telat makanku, atas tak dapat dudukku di angkutan umum, atas minimnya jumlah jam tidurku, dan atas banyak hal lain. Sekali lagi, nilai rapormu tahun ini melampauiku. Lagi.

18 tahun bukan tahun pendek. Sudah teramat sering kita duduk berdua sailing membaca. Perlahan verbal kehilangan perannya, karena hal lain di balik kata-kata itu lebih terbaca jelas sekarang. Verbal hanya menjadi piranti penegasan atas apa yang kita sudah sama mengerti.

Teringat dulu sebelum menikah, pernah kubaca dari sebuah buku, bahwa hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang didasari keinginan untuk mengubah pasangan. Karenanya aku takut jika terlihat ingin mengubahmu. Jika pun kenyataannya ada harapan perubahan, aku hanya ingin dirimu tumbuh di sisiku. Kita tumbuh bersama. Semoga demikian adanya hingga akhir hayat nanti. Tumbuh bersama.

Ke depan aku masih punya tugas. Pembuktian atas hubunganku denganNya yang seharusnya meningkat di 2 tahun setelah 40 tahunku. Usia spiritual itu selama ini masih terbengkalai. Tentu aku membutuhkanmu. Untuk tetap sabar bangunkan aku di sepertiga terakhir malam kita, juga untuk tetap telaten mengingatkanku atas tilawahku.

Bantu aku, agar bisa menjadi imam yang baik untukmu juga untuk anak-anak kita. Aamiin.

Bumyagara, 25 Oktober 2017
Poetoe.

Hujan senja. Kamu.

Hujan menabur kesejukan yang ranum
Kedamaian mendorong dengki keluar dari ruang hati
Aku enggan bertengkar lagi
dengan teori yang semakin angkuh
Mencibir ketundukan
menyebutnya pengecut
meremehkan tulus
menganggapnya pecundang

Abaikan aku
Biarkan tarianku di bawah hujan ini
Yang mampu mengisi senja
Hingga malam

Dan rebahlah jasad
Di tanah basah
Aroma rumput
Menyeruak penuhi rongga otak

Aku membutuhkanmu.

Tugu Pancoran, 23 Oktober 2017
Poetoe

Tumbuh dewasa dan menua

Dulu
Saat muda masih mula mula
Cinta adalah takut kehilangan
Rindu adalah gelisah ingin bertemu
Dulu
Berita tentangmu adalah nutrisi
Semua tentangmu wajib termengerti

Namun Dunia ajarkan hal beda
Tak mengerti tak lalu mati
Akan menyiksa saat tak ada berita
Adalah karena duga
Kenapa tak bunuh saja duga
Saat ia masih jadi benih
Bila perlu pasang kontrasepsi
Agar duga tak terlahir lagi dari rahim hati

Yang tersisa
Nanti
Adalah permukaan telaga yang jernih
Dan daun kering kecoklatan itu tenang mengambang
Seolah bercermin saja
Indah.

Hening
Wingit yang ngelangut.

Subang, 21 oktober 2017
Poetoe

Halte kita

Halte adalah tempat menanti
Serupa Dunia, tempat menanti
Iya menanti mati

Dalam halte bisa banyak yang terjadi
Menunduk saja, sibuk dengan telepon genggam
Atau berdiri saja menatap kosong ke depan
Atau sibuk perhatikan sekitar
Atau gelisah
Atau membaca buku. Seperti kita. Hingga buku perkenalkan kita.

Dan hidup memang harus diisi
Seperti juga penantian lain
Saat bosan menyerah
Bisa saja kita terjebak pada rasa
"hidup terlalu lama dijalani..."

Baiklah aku menanti di sini
Berharap bersama
Hingga waktu betah tersenyum di antara kita.

Jakarta, 19 Oktober 2017
Poetoe

Lini Masa (untuk seorang sahabat)

Lini masa bergerak lurus
Garis saja
Tapi cabikan di sekitarnya beragam rupa
Ada sayatan perih dan dalam semasa belia
Lalu luka lain yang tak kalah runyam,
bagaimana tidak... Jika dia tiba-tiba tinggalkan aku. Sendiri.
Pusara dan air mata.

Tak selesai begitu saja. Ternyata
Tokoh baru datang menjajah raga juga rasa
Terlempar tak keruan
Kesedihan menjadi irama
Berulang dan perlahan ternikmati
Air mata mulai terasa tak pantas
Semua kejadian buruk mengintip menunggu nalar lengah
Untuk tiba-tiba menerobos batas
Menyata dalam kenyataan.

Angkutan58, 19 October 2017
Poetoe

Ceruk sepiku

Dia selalu punya cara membuat kita belajar atas semua
Seperti suatu hari saat dipertemukanku dengan mereka
Orang orang hebat itu
Dan barisan kata yang menyempurna sebagai ekspresi dan emosi
Beberapa kali, dinding hati terseruduk makna yang berbenturan
Air mata.

Dan pelajaran itu berlanjut
Hingga pencerahan atas makna puisi
Sebagai rangkaian bait kata
Yang terhubung oleh kesenyapan
Hidup yang terlalu gaduh
Membuat jiwa mudah kecewa
Tersedak ingin yang berjejalan di tenggorokan hati
Kita butuh ruang senyap
Walau sesaat
Seperti interlude dalam sebuah lagu

Senyaplah sejenak
Lenyaplah sebentar saja
Rehat dari rasa sok penting itu walau tak lama....

Semua bermuara pada hening
Sepertiku padamu
Ceruk sepiku
Tempat ternyaman untukku meringkuk. Lama.

Tugu Pancoran, 18 October 2017
Poetoe

Mampang bergerak

Ini rumah, rumah kita
Tempat habiskan banyak waktu
Dalam kerja
Dalam tawa
Bersama

Kita dipersaudarakan
Dalam dimensi ruang-waktu
Kantor kita, Rumah kita
Saat ini

Tugas dan tantangan datang serupa riak ombak di pantai
Hempaskan pepasir
Jika tak bersama, mau bisa apa?
Kita butuh arah dan irama
Untuk terus bergerak bersama
Terus berbenah
Terus perbaiki diri....

Jika pun tantangan itu mampu goyahkan langkah
Kita tengadah namun bukan pasrah
Melainkan meminta pertolonganNya
Karena yakin Dia lah Dzat yang Maha Kuasa.

Kita pastikan hari ini tak sia sia
Dengan esok yang lebih baik dari hari ini.

Mampang terus bergerak.

(Sebagai bahan narasi dalam film profil Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Mampang Prapatan 2017)

Poetoe, 07/10/2017

penuh olehmu

Adalah dahaga yang terobati
Tersiram kerinduan ini olehmu
Tumbuhnya mempadat
Penuhi ruangku

Adalah waktu yang tertanami
Tetumbuhan kenangan ini oleh kita
Bahannya pekat
Perdu rinduku

Kau penuhiku.

Poetoe. 2017

Rindu Bunga

Ini pengalaman pertama. Tidak bertemu anak yang terlama. Satu bulan, tidak bertemu langsung dengan Bunga anak kedua kami. Karena dua pekan lalu saat jadwal kunjungan dia ke pesantrennya tak bisa kami manfaatkan, berbenturan dengan acara resepsi pernikahan adik sepupu kami. Sebagai ayah, seorang laki laki, terkadang malu untuk mengaku rindu. Benarlah memang kerinduan itu tentang pemberian harga atas ketiadaan. Saat tak bersama dalam waktu lama, rasanya jadi berat.

Rindu bertemu anak ini rasa yang kelak mau tak mau harus dibiasakan dan dikuasai. Karena semakin beranjak dewasa, mereka, anak-anak kita pasti akan sibuk dengan kehidupannya. Sementara kita, sebagai orang tua justru semakin tak sibuk. Semakin besar potensi untuk berlebihan menyikapi ketidakberadaan mereka bersama kita.

Hari ini, setiap menitnya menjadi berarti. Karena nanti jelang sore, Bunga pulang, isi waktu pesiarnya di rumah. Walau hanya sehari.

Bekasi, 07/10/2017
Poetoe

binari

binari menjadi penghubung,
kata kata menghati
rindu tercongkel'
menggelegak ke permukaan
pada ke-apaadaan
menjujur
tak lagi tertutupi

untuk apa malu
toh semua telah saling termengerti
ada ceruk dalam yang menyimpan badai
tertahan lama
wajar jika ditumpahkan saat ini

dan terulang
penuhi syarat minimal habituasi
beruntun
pagi berkeringat

jam dan nalar adalah satpam
dengan sopan persilakan hasrat menepi pergi
baiklah

detak jam
dan detak jantung juga nadi
perlahan menyerasi.

Bekasi, 05/09/2017
Poetoe

#istri

Seperti pagi
terburu waktu terbagi
secangkir kopi
tetap saja terhidang
kau ada
begitu saja

Bagaimana kau ubah makna
saat nafas itu demikian dekat
kau ada
selalu saja

Demikian kita hadapi
gelora itu ringkas dalam genggam
debar tak lagi menyiksa
karena redam
oleh senyum
Teratai terendam
kau ada
semoga selamanya.

Bekasi, 11/09/2017
Poetoe

Belajar dari kekalahan dan kemenangan.

Dari kemenangan akan tumbuh percaya diri, dari kekalahan akan tumbuh tahu diri.

Dalam kemenangan ada bangga diri yang dapat silaukan mata hati, hingga tak nampak lagi hikmah dan ilmu. Demikian halnya kekalahan, ada kecewa dan sakit hati yang bisa mengotori mata hati, menjadi kusam dan tak lagi jernih.

Dari kemenangan kita dapat belajar jika tak terjebak pada bangga hati. Demikian pula kekalahan, akan menjadi pintu hikmah, selama kita bisa lewati jebakan kecewa dan sakit hati.

Keduanya semestinya tetap diakhiri dengan rasa syukur.

Seperti semalam setelah kekalahan tim nas PSSI vs Tim Malaysia, menonton beritanya di pagi hari, membuat harus teteskan air mata. Bagaimana tidak, sesaat setelah peluit pertandingan usai, pemain Indonesia bergelimpangan, rebahan di lapangan. Menangis. Lalu beberapa pemain Malaysia datang menghibur. Evan dimas sang Kapten, ikut membangunkan mereka satu satu, lalu mengajak mereka bersujud syukur, bahkan bersama pemain malaysia. Terbayang, pasti itu sujud syukur yang indah.

Mungkin benar, tanpa kecewa dan sakit hati yang berlebihan, kita dapat belajar lebih banyak dari kekalahan.

Indonesia, 27/08/2017
Poetoe

Kisah Kopi #1


Ini tentang siang yang tak biasa
Saat terlambat minum kopi
Dan sesenggukan itu
Air mata yang tumpah tanpa basa basi
Menghentikan langkah
Arus itu berputar sesaat di ceruk waktu
Dan kisah lalu menguliti luka
Tersadar masalah demikian akrab memeluk hati
Telah berapa wajah hadir dan hanya sajikan ketidakpastian yang panjang

Genggeman tangan sahabat
Dan uluran nalar atas rasa yang hancur
Mentabik
Mengajak tetap bertahan di keyakinan atas harapan.

Jakarta, 18/08/2017
Poetoe

Nutrisi rindu

Duduk bersandar di sana
Berjarak
Hanya sesaat kusapa lewat tatap mata
Tanpa cakap personal
Hanya kata kata yang aku tumpahkan
Ke segenap sudut
Kubiar mereka jadi penggalan mozaik
Entah akan terbaca atau tidak

Bukankah percakapan adalah "saling"
Kebertautan
Tak pasti lalu bertukar makna
Terbiar saja dalam jeda
Dan diam saja cukuplah
Ada-mu saja di sekitar telah cukup kenyangkan lambung rinduku.

agustus 2017
Poetoe, 

D

Sampai pada suatu hari,
Saat namaku dipanggil
Dan ada wajah itu, saat aku menoleh

Nyaris tak aku kenal.

Hampir3 detik kosong....
Lalu senyum
Tabik

Dan bahagia menjadi cerita utama pagi hingga sore.

Pertemuan
Tak sengaja
Menjadi bukti
Memang tak berkesudahan

Mantan

Bagaimana mantan menurutmu?

Seorang yang dulu pernah demikian dekat, mengisi banyak waktumu. Namun karena memang tak berkesesuaian takdir, maka kalian terpisah. Awalnya kecewa, bahkan mungkin ada air mata. Namun bandul akan menemukan titik kesetimbangannya. Pedih, perih, pengabaian, mencoba lupakan, jalani hidup, lupa beneran.... air kembali tenang.

Lalu setelah dua puluh lima tahun, mungkin, kembali bertemu. Senyum, sapa, canggung, secangkir kopi, basa basi, obrolan masa lalu, akhirnya tersenyum bahagia. Seperti temukan yang lama hilang.

Setelah itu kembali akal sehat menguasai. Air kembali tenang. Biasa saja.

Begitulah, mantan, rendaman ingatan.

Siang, 19/07/2017
Poetoe

kecewa

Lalu aku harus menulis lagi. Tentang rasa yang sesuai pesanan seorang teman: Kecewa. Kata apa yang pantas aku tuliskan untuk memulai gambaran tentang kecewa? mungkin harapan. Iya karena mula dari kecewa adalah harapan yang yang tak dapat menyata. Bayangkan saja jika tak ada harapan itu, tentu tak ada pula kecewa.

Tapi aku tak mau senaif itu. Khawatir ia merasa dipojokan, lalu ia akan menjawab, terus yang salah itu harapanku? dan mungkin banyak kalimat lain. Karenanya aku tak jadi memulai tulisan ini dengan membahas makna harapan. Aku justru mau berbincang tentang air di kolam.

Ada apa dengan air di kolam? Kolam ini kolam kecil di depan rumah. Endapan lumpur di dasarnya sudah cukup tebal, hingga anak ikan terkadang menyelam ke dalam lumpur saat ia bermain petak umpet dengan teman-temannya. Saat sirip ikan itu bergerak, lumpur terkoyak, lalu air kolam menjadi keruh. Akan semakin keruh saat anak ikan itu semakin masuk ke lumpur. Jika saat itu teman anak ikan melihat tentu akan ketahuan di mana anak ikan itu sembunyi, karena keruhnya ciptakan jejak. Beberapa saat setelah itu, lumpur kembali mengendap, air kembali jernih. Begitulah.

Lalu cerita macam apa ini, apa hubungannya dengan tema kecewa? Kecewa adalah kepakan sirip yang keruhkan air kolam, dan kecepatan air kolam kembali jernih dengan endapkan lumpur adalah kemampuan hati kita untuk sembuhkan sendiri kecewa itu.

Entahlah. Semoga ia tak kecewa saat membaca tulisan pesanannya....
jikapun kecewa, semoga keruhnya lumpur segera mengendap, dan air kolam kembali jernih. Aamiin.

Ruang kantor, 19/07/2017
Poetoe.

Ada yang berbeda.

Lalu piranti komunikasi sosialku tiba-tiba gaduh. Banyak ucapan selamat hari raya dan permohonan maaf lahir dan bathin. Juga rangkaian doa, saling mendoakan.

Ada yang lalu berkurang, adalah percakapan ke langit. Sebulan ini curahan hati ke atas demikian riuh. Rapal doa dan dzikir, juga rukun ibadah yang tertunaikan. Seperti tergantikan, dengan interaksi sosial yang masif. Mudik. Silaturahiem.

Semenjana, semestinya tetap terjaga keduanya. Intensitas hubungan vertikal sekaligus horisontal. Terjaga pula walau di luar Ramadhan. Hingga kita menjadi bagian dari Rabbaniyun tak sekedar Ramadhaniyun.

Aamiin.

Bumiayu, 29 Ramadhan 1438 H
Poetoe

Selasa, 20 Juni 2017

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban?

Masing-masing dari diri kita yang lebih tahu jawabnya. Seberapa dekat kita dengan Al Quran, berapa juz tilawah kita, berapa ayat yang berhasil kita tambahkan dalam hafalan kita? Atau berapa rakaat sholat malam yang persembahkan di malam ramadhan kita? Berapa air mata yang meleleh dalam dzikir dan doa kita? Berapa kebaikan yang berhasil kita rutinkan? Berapa keburukan yang berhasil kita tinggalkan? Adakah prestasi kita yang mampu menjadi pilar manfaat bagi banyak orang di sekitar kita?

Dan perlahan Ramadhan pun meninggalkan kita. Tak terasa, ia bergegas beranjak, kesadaran kita tertatih lalu tertinggal dalam sesal. Mengapa tak kita optimalkan ibadah kita?

Bekasi, 26 Ramadhan 1438H
Poetoe

Senin, 19 Juni 2017

Benih Ide Kebaikan

Kalimat yang baik akan menancap dalam hati secara sempurna jika dikemas dengan tepat, dan suasana juga mendukung.

Setelah tertangkap pesan kebaikan itu, kita butuh sigap mengikatnya dan menahannya dalam jeruji tekad. Dan bersegeralah membawanya dalam amalan nyata.

Karena kita tak cukup ilmu, tentang berapa waktu yang kita miliki. Menundanya bisa bermakna menaburkan benih penyesalan di kemudian hari.

Memanfaatkan sebuah ide kebaikan menjadi amal kebaikan adalah menyiram suburkan amal jariyah bagi si pemilik ide. Dan kebaikan akan tumbuh kembang dalam taman hidup kita.

Aamiin.

Masjid Al Hikmah, 25 Ramadhan 1438 H.
Poetoe

Rabu, 14 Juni 2017

Doa

Menengadah adalah meminta penuh kesungguhan
Penyerahan diri
Kesiapan menerima kucuran pemahanan
Tangan tengadah
Benak terbuka
Hati siap bergetar oleh frekuensi kebaikan dalam bentuk apapun

Dan demikianlah
Proses perebusan diri itu tanpa henti.....

Bekasi, 20 Ramadhan 1438 H
Poetoe

Percakapan itu

Percakapan itu seperti racikan menu,
ada kegelisahan, ada cinta yang disangkal, ada kerinduan yang merimba. Ada kamu, ada aku.

Berusaha saling memahami,
aku membacamu,
aku membacamu sepertiku membaca buku.

Walau di sini ada air mata tertahan,
ada perih,
ada harapan....

Juga cercaan, bahwa khawatir ini yang berharap kau berhenti.
Jangan lagi kau dendangkan perih namun tetap saja kau hampiri bilah pisau itu....
Kau menikmati luka.

Sini duduklah sebentar di sini
Biarkan senja mengguruimu
Mengajarkan tentang kehilangan
Bahwa ada keniscayaan malam yang akan meniadakannya
Senja paham itu
Mestinya kau pun begitu.

Tugu Pancoran, Juni 2017
Poetoe

Selasa, 30 Mei 2017

Cahya malam

Kita bersandar pada sopan dan tabu
Menunduk dan senyum secukupnya
Melupakan binar binar keonaran yang tertahan
Walau pasti semua telah sama terbaca
Pada detik
Pada jeda nafas

Namun

Berlalu saja

Bukankah ini binatang buas yang telah kita mengerti bahayanya
Jadi pastikan kerangkeng itu terkunci
Dan nikmati semua dalam batas
Rantai yang dingin kokoh

Duh

Bahkan pada tanda waqof itu tak sempat aku bubuhkan percakapan.

Selamat malam.

Poetoe 2017

Senin, 22 Mei 2017

Langit

Tak pernah berhasil mendefinisikan
Tiba-tiba terasa dan lalu terjadi
Tak peduli jeda waktu
Nyaris separuh
Tatap mata dan senyum menjadi pengganti
Berbait bait kata
Kesepakatan lahir dari telepati dua hati
Cinta?

Berakhirlah hari pada cemeti waktu
Harus terhenti
Dahi dan leher hangat
Khawatir
Sayang?

Iya.
Sayang.

Bekasi, 2017
Poetoe

Menjadi baik 2

Ternyata aslinya kita itu baik. Defaultnya kita itu baik. Sesuai aturan, tak menyakiti orang lain, jujur apa adanya, rumah, ingin selalu bermanfaat untuk orang lain. Itu asli kita.

Karenanya saat kita lakukan hal buruk, pasti muncul perasaan tak nyaman. Kebahagiaan kita berkurang. Semakin jauh dari hal hal baik, maka semakin tidak bahagialah kita.

Mungkin demikianlah peran neraka dalam dosa kita. Menyiksa kita bahkan saat masih di dunia, berupa rasa tak nyaman dan sakit hati di setiap perbuatan buruk kita. Dan sebaliknya saat kita jalani hidup sesuai defaultnya, yakni selalu dalam kebaikan, maka kita akan bahagia.

Seperti sakit hati, ternyata bisa kita hindari dengan meningkatkan kualitas ikhlas kita. Pada akhirnya seburuk apapun yang terjadi, kita selalu punya alasan untuk tetap bahagia.

Bekasi, 27/04/2017
Poetoe

1999-2017

Begitu banyak waktu telah kita habiskan bersama. Namun sebanyak apa pun, aku masih merasa kurang. Karena aku lelaki manja, sebisa mungkin pilihan yang ku ambil adalah tak jauh dirimu.

Memang harus aku akui, walau tak jauh, aku sering juga terlihat terlalu asyik dengan duniaku, tanpamu. Tapi tak lama aku akan kembali kehausan. Karena bersamamu itu perigi, penyembuh dahaga hati. Seringkali ini menjadi bebanmu, karena dalam istirah itu, aku justru menjadi menyebalkan. Melepas luka lelah itu tak mudah. Maafkan aku.

Saat kau letih olehku, aku sedih. Karena kau rehatku, sementara aku justru menjadi bebanmu. Aku malu, tak pernah cukup baik untukmu.

Mungkin ini justru berkah, saat terbuka ruang yang luas untuk terus berusaha. Bukankah yang dinilai itu adalah usahanya? Sehingga ladang kumpulkan nilai itu lebih banyak tersedia untuk aku punguti.

Aku selalu berharap, kau mau bersabar. Beri waktu untuk terus berbenah. Dan pintaku jangan tunggu aku selesai berbenah baru kau bahagia... bahagialah sekarang juga. Bahagia dalam proses, bukan pada hasil.

Jakarta-Bekasi, 05/04/2017
Poetoe

Menjadi baik

Menjadi orang baik itu sederhana:
Jangan marah.
Jangan sakiti orang lain, buat orang di sekitar kita bahagia.
Perbanyak menolong orang, jangan merepotkan orang lain.
Bermanfaat untuk orang lain.
Jangan riya, jika amal baikmu bisa tak terlihat itu lebih baik.
Jangan merugikan orang lain, jangan dholim, penuhi hak mereka.

Sudah itu dulu saja. Sederhana kan.
Sederhana namun tak mudah.

Bekasi, 30/03/2017; 23:54
Poetoe

Semenjana itu bijaksana

Angin
Ingin
Waktu mengunyah mimpi
Terlalu keluar jangan
Terlalu ke dalam

Jangan

Lebih baik menggantung
Tidak kanan tidak kiri
Atau kanan sekaligus kiri
Entah

Kau berlalu
Mendelik pada hening
Basa basi lebur

Semenjana itu bijaksana

29/03/2017
Poetoe


Tawadhu

Masalah kita justru dimulai saat kita merasa memberi terlalu banyak. Biasanya berlanjut dengan anggapan bahwa kita menerima terlalu sedikit. Lalu lahirlah tuntutan atas hak, dengan disertai beberkan daftar pengorbanan kita.

Saat itu juga, ikhlas kehilangan kekuatan. Hidup menjadi adonan hambar, jual beli pengorbanan yang naif. Kita tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan bocah tanpa malu, berebut harga diri, padahal sejak kita "merasa" telah berkorban terlalu banyak itu, diri mungkin tak lagi berharga.

Mungkin memang harus duduk diam sesaat, menunduk saja. Menghadirkan kerendahan hati. Benarlah batu mulia terkeras itu ada di dasar bumi terdalam. Demikian pula hati.

Merendahlah. Merendahlah.
Mengalahlah.

Masalah selesai dengan merendah. Karena saat hujan peluru itu, tiarap akan menyelamatkan. Berdiri gagah pongah yang membuat terbunuh.

Bekasi, 20/03/2017
Poetoe

Kamis, 16 Maret 2017

Nyawa#5

Sambil membaca buku putu wijaya, di bis kota, selepas senja,
melirik ke kaca jendela, bayangan diri.
Tirus.
Dahi kecil.
Banyak tanda raut wajah tak cerdas.
Padahal dulu selalu merasa kecerdasan adalah sisi positifku.
Mungkin memang sudah habis.
Atau seperti juga nilai asset, harus mengalami penyusutan dan amortisasi.

Mungkin memang sesuai dengan akuntansi,
hidup hanya perkara mengelola saldo.
Memanfaatkan sisa.

Lalu kesadaran atas sisa waktu yang tak banyak inilah yang menguras air mata.
Seperti saat ber-tilawah, membaca Firman-Nya, bertemu dengan ayat tentang hukumNya yang telah aku langgar, maka tercekat, tiba-tiba kehilangan energi. Tak kuat untuk lanjutkan.
Namun sesuai nasehat pak Mawardi, guru ngaji pertamaku dulu, jangan mudah berhenti saat tilawah, karena di situlah godaannya.
Dan benar, di ayat berikutnya ada kalimat "...dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Nyesss.
Sejuk dan sugar.
Lalu air mata.

Demikianlah, menjalani sisa ini memang harus dalam pemahaman yang benar atas tempat dan kesempatan.

Bis 9 BT (Uki-Bekasi Timur), 13/03/2017
Poetoe.

Nyawa #4

Berkendara di bawah terik.
Tak merasakan kantuk, namun kesadaran seperti api lilin yang nyaris padam.
Harus rehat.
Walau hanya dua rakaat.
Terpejam sesaat, rasakan gerak darah.
Bahkan pembuluh di kelopak mata demikian jelas, terlihat dan terasa gerak darahnya.

Nyawa entah di mana?
Di nadi, jantung, atau lipatan benak dalam rongga kepala?
Mungkin juga di Bandung.

Jadi aku letakkan saja sejenak.
Mencoba lepas dari semua rasa.
Penat, rindu, juga halusinasi.
Aku merayuMu, jangan jauh dariku.....

Mushola kecil di rest area, 11/03/2017
Poetoe.

dua orang besar

Membiarkan basi senampan kata, itu pelanggaran dalam percakapan.
Terlebih dalam duduk di warung kopi.
Berbicara dengan orang besar tentu pembicaraan besar.
Namun tetap sanguinistik irama yang aku mainkan.
Ada cakap tentang pergeseran motif, juga tentang keberanian membangun interaksi dan mengambil peran.
Semua indah, saat kita dendangkan dalam birama yang hangat.

Lagu daerah yang bergoyang ala jazz.
Dan sekali lagi rambut itu tergerai.

Dua orang besar itu, beradu cakap bersamaku. Hari ini.
Hasilnya tentu mimpi dan rencana di sisa ruang kepala.
Sedang nada itu masih berusaha berlompatan di sela sela tawa.

Aku berbekal banyak senyum saja.
Dan kata kata yang nyaris basi.
Jangan bilang bilang, sebenarnya aku sedang mengunyah ide besar mereka.
Aku sesap pelan.
Nikmati sarinya.

Pancoran, 10/03/2017
Poetoe

Nyawa #3.

Sudah lama kata terlelap.
Kini terbangun lagi.
Mungkin karena alunan musik ini.
Jenis musik yang lama aku benam saja dalam palung jiwa.
Entah bagaimana masih saja bisa bertahan.

Terkadang yang kau jaga justru rusak.
Sebaliknya yang kau biarkan justru bertahan.
Siapa sangka. Duga dan kira memang tak punya banyak peran dalam kenyataan.

Bagaimana hari itu terjadi.
Kita serupa partikel yang teraduk dalam cawan hidup.
Dari ribuan mungkin kita terpilihkan bertatapan dalam satu nyata.
Suara berat.
Seperti nada rendah dalam gitar bass.

Lalu tersenyum, berterimakasih.
Itu saja.

Halte transjakarta-kuningan barat. 10/3/2017
Poetoe.

Nyawa #2

Kopi semakin banyak kutenggak.
Menikmati rasanya secara serius.
Ada pahit.
Ada gemetar debar.
Sesekali bijinya menyelip di celah gigi.

Pelan pelan, aku mulai paham.
Mana biji kopi, mana biji lain yang dipaksa dicampurkan. Ah... Kopi sobek.

Aku mengikuti yang aku pikirkan.
Bahkan saat ia menenggelamkan diri dalam adukan kopi.
Menyesap semua rasa.
Aih.

Lalu hati bersenandung, bahkan akhirnya menyanyi.
Lagu dengan rima indah.
Gelisah yang basah, menempel di tiang birama.

Kau menatap tajam, menusukkan duga demikian dalam.
Dan nada yang kau nyanyikan dahsyat.
Mengoyak etik dan perhitungan kaku sebab akibat.
Moksa sudah akal sehat.

Pancoran, 9/3/2017
Poetoe

Nyawa #1

Aku menunggu hujan.
Anginnya sudah terasa.
Inginnya tak kuasa.
Sudah penuh isak di setiap sudut.
Kau mencoba menahan air mata.
Tak usah cerita, aku tahu.
Cinta yang sampai lahirkan buah hati, pasti cinta yang dahsyat.
Tak mudah.
Pasti tak mudah.

Tapi bukankah drama hidup harus dimainkan?
Dan wajah juga sosok baru mesti kutemui.
Mau lari dan berpaling itu naif.
Maka jalani saja.

Tenang saja, aku alihkan cerita.
Karena tak ingin nanti tumpah.
Ingat, kita sedang dalam rahsia pura pura.
Seolah berjarak, padahal sungguh aku telah membacamu lama.
Bahkan sejak puluhan tahun sebelum kita bertemu.

Aku menjadi nadi, ku harap kau jantung.
Sehingga detakmu yang mendorong alur darah dalam ku.

Dan alunan melodi menjadi interlude.
Kau mundur perlahan, sesekali sibakkan rambut tergerai itu.

Pancoran, 9/3/2017
Poetoe.

Stasiun Tugu, kopi dan diri

Baiklah, aku harus menuliskannya.
Bangunan yang megah, jam dinding besar di atasnya. Dingin.
Seolah terlalu banyak mencatat perpisahan.
Juga pertemuan.

Terlalu banyak.

Bahkan kenangan juga ingatan itu melarut saja dalam gelap kopi Americano.
Baru dua teguk, tiba-tiba saja sepi.

Mengapa kita masih sering galau oleh apa yang orang lain pikirkan?
Bukankah ada ain dan kifayah yang mesti kita pilah?
Sekedar galau memang tak mengapa, namun saat lahir dalam kata kasar atau sikap permusuhan maka ini masalah.
Kita menanam kebencian, bahkan atas kebenaran yang belum kita mengerti.
Mengapa tak kita relakan saja, dengan pengakuan bahwa kita masih lebih kotor dari mereka. Dan terima dengan tulus, nasehat adalah nutrisi hati.

Kita butuh rendah hati dalam apapun.
Agar kebenaran tak beranjak pergi jauhi kita.

Dan cinta adalah kata yang layak kita punya.
Karena cinta kita enggan membenci dan memelihara syak wasangka.

Jelang senja bercampur dengan maghrib, di lantai stasiun, aku letakkan egoku.
Di bawah, bersebelahan dengan gelas kopiku.
Aku berhenti menjadi pongah, aku putuskan hati beranjak dari sombong dalam bentuk apapun.

Ini hanya cara,
Agar tak terluka saat kau cela
Agar tak terhina saat kau hina.

Sekian.

Stasiun Tugu, 5/3/2017
Poetoe 
Mengerutkan kening, di tepi sungai belakang rumah. Saat terik menggaruk ubun ubun. Ada kegaduhan logika, saat sebagian terseluruhkan, emosi terkadang menutup ruang. Seolah hanya salah saja.

Adil ternyata tak mudah. Bahkan pada diri.

Dan riak air yang aku nikmati, iramanya selaras dengan debur jantungku. Debaran yang terpicu oleh larutan kopi hitam segelas penuh.

Aku mengerti jika ingin selamat dari labirin logika ini, aku harus semenjana. Memberi ruang yang memadai atas keyakinan dan keberpasrahan.

Muntilan, 4/4/2017
Poetoe
Dan kau tahu, bagaimana semua itu tercatat dengan caranya masing-masing.
Seperti suasana tengah malam di stasiun, dengan iringan lagu lama, yang mampu endapkan semua galau jadi kenangan.
Juga laju kereta yang datang dan pergi, atas mula sapa kenal itu toh pada akhirnya adalah jabat tangan berpisah.
Biarkan saja wajah tertampar sejenak angin malam, dan aroma kota tua penuhi rongga hidung, toh pada akhirnya gerbong kereta itu lanjutkan perjalanan.

Pada diam apalah yang bisa kita harapkan, karena hidup bagaimanapun juga harus bergerak.

Dan anak itu berkata entah kepada siapa, saat kereta mulai bergerak, "selamat jalan kereta". Padahal ia sendiri ada di dalamnya.

Siapa berjalan dan kemana.

Stasiun Purwokerto, 4/3/2017. Tengah malam.
Poetoe.

Selasa, 14 Maret 2017

Tiba tiba takut

Tiba tiba aku ketakutan,
seolah lampu mati dan tak ada satu pun cahaya,
sementara lolongan srigala demikian dekat....

Ketakutan bukan hanya karena srigala itu mengancam nyawa,
namun juga kekhawatiran, bahwa diri ini pun bagian dari buasnya binatang itu.

Terlepas kendali diri,
lalu lakukan kebodohan.
Kebengisan atas peran mulia yang seharusnya diemban....

Tersadar namun terlambat,
sauh telah diangkat, layar telah berkibar....
Badai di depan tak lagi bisa dielakkan.

Aku takut.

Dalam senja yang menggelepar dikunyah malam, aku memintamu.... bantu aku.

UKI, 03/02/2017
Poetoe.

Senin, 30 Januari 2017

tak berpihak

Janin malam menggumpal di langit gelap,
Perlahan meliuk mengunyah sisa cahaya mentari,
Langit merah tersudut.
Menepi di ujung cakrawala....

Pada tawa mana aku tawan kan kecewa,
Pada warta mana aku candai luka
Tak ada alasan
Tak ada hujjah
Semestinya tak ada.

Pengingkaran.
Mengapa pula api kecil itu tak kau akui, mengapa juga percikan bara ini tak kau iyakan...

Mungkin ini tentang gempita harga diri,
Bangunan tanpa sebab yang terlahir dari umur yang menimbun.
Padahal tua tak lalu pasti dewasa bukan?

Sepertiku di depanmu, membocah tanpa malu.

Dan bocah tua itu, duduk di meja makan dalam senja.
Sajian makan dan secangkir kopi hitam. Serupa americano kita dulu, namun ini beda.
Karena detik menyendiri kini, terhimpit di sela jarum menit dan jarum jam.

Seharusnya tersadar, bahwa jam menit dan detik tak berpihak padaku, pada rasa yang usang....
Timbun sajalah dulu...

Dan aku melengkung bungkuk, menahan beban yang nyaris meledak.

Bekasi, 22/01/2017
Poetoe

Jumat, 20 Januari 2017

main Werewolf,

Permainan. Hidup ini permainan. Fakta seolah gelombang, persepsi adalah angin dan badai. Sedang kita terombang ambing dalam bahtera diri. Kecakapan kita mengelola kata dan sikap adalah penentu selamatnya kita.

Kebimbangan bisa mencelakai. Kesalahan menentukan pilihan bisa membunuh kita. Semua sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita membaca tanda. Mengolah bukti dan fakta. Dan keputusan kita pun bisa jadi sia sia saat kita salah dalam memilih kesempatan.

Demikianlah, dalam senja kita duduk melingkar, belajar tentang ombak, tentang buih, tentang angin, dan kerasnya karang.

Pancoran, werewolf community
18/01/2017
Poetoe.

Selasa, 17 Januari 2017

cukup

Jika cerdas itu kecepatan untuk memahami sesuatu, maka tersadar aku tak cukup cerdas.

Karena demikian panjang waktu belajarku, untuk sekedar memahami makna satu kata "cukup".

Butuh perjalanan yang melelahkan, hingga beberapa topeng harus ku kenakan, beberapa teori aku kumpulkan lalu formulanya aku coba namun akhirnya tetap saja aku nafikan.

Demikian, kata "cukup" itu aku pahami, lalu aku bisikkan berulang ulang. Karena takut aku terlupa untuk hentikan langkah di saat yang tepat.

Dulu kupikir bergerak adalah hal tersulit, karena butuh terbantainya kemalasan di tepi jendela jiwa. Ternyata berhenti itu lebih sulit. Ada keengganan, bayangan kerinduan, ketakutan akan sunyi, dan banyak hal lain.

Apapun, aku tetap coba berhenti. Saat ini.

Bekasi, tengah malam 18/01/2017
Poetoe

Jumat, 06 Januari 2017

Idealis.

Skema pertarungan di dunia ini memang sederhana, kebenaran lawan kebathilan, malaikat lawan setan.

Manusia di antara dua pihak itu, terkadang terlempar dalam dosa bersama syetan, terkadang dalam ketenangan berselimut petunjuk dan hidayah-Nya dijaga malaikat.

Pagi dalam gemetar dosa, siang duduk di shaf terdepan tergugu sesal dalam rapal doa dan istighfar. Begitulah, seperti nada yang meliuk tajam dalam ruas birama.

Seperti siang yang terik, dan memesan menu makan siang yang bukan karena lezatnya rasa makanan, namun lebih karena semangat berbagi. Dan perbincangan kita tentang kemenangan ideologi yang tetap berusaha bertahan dalam badai pragmatis dan oportunis.

Bagaimana mengalahkan kebodohan itu dengan keyakinan, bagaimana mengalahkan kemiskinan itu dengan keyakinan. Bahkan saat akhirnya kita dianggap bodoh dan gila oleh sekitar kita.

Idealisme selalu saja memukau, kekuatan cinta atas keyakinan yang mengalahkan ketakutan atas monster dunia yang sejatinya ilusi.

Siang, kita, Dia, terik matahari, dan binar mata yang aku tahu ada air mata yang tertahan.

Indonesia Raya, Awal tahun 2017
Poetoe.

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...