Selasa, 20 September 2011

kesetiaan

di bawah payung senja, duduk bersama
bercakap tentang kesetiaan,
tentang cinta dan ikatan kata,
tentang janji dan gerak hati,
tentang rencana tertata dan goda semata....

ada yang bercerita tentang setianya cinta
yang walau terluka tetap saja sibuk mencari makna
ada yang cerita, betapa perjuangan saja
tak memadai untuk membangun asa
karena selalu saja ada; luka!

lalu juga tentang beberapa dari kita,
yang terjebak pada simpang, yang tak sengaja terbangun....
padahal sungguh ada takut tak terkira.

Sabtu, 17 September 2011

belajar dari Anis Mata

Semestinya Iman itu menjadi energi kita dalam menjalani dua tugas:
1) Memikul Beban, dan
2) Melawan Musuh.

Dan Puasa adalah pelatihan yang tepat untuk mengasah jiwa "sabar" kita, sabar yang bermakna "Konsistensi Amal", karena puasa itu perintah untuk tidak melakukan; dan ini adalah pendidikan katakter kita, karena dalam ilmu pengembangan diri, bagian tersulit adalah "pengendalian diri".

Peradaban selalu saja melewati tiga tahapan, yaitu:
1) saat menanjak naik; dominasi "Ruhiyah" indikatornya Sumber Daya lebih kecil daripada Output.
2) bergerak datar; dominasi "Akal", indikatornya Sumber Daya sama besar dengan output, di sini realisme yang berkuasa.
3) bergerak turun; dominasi "syahwat" indikatornya Sumber Daya jauh lebih banyak dari Out put.

Rabu, 07 September 2011

tentang Cinta

"Di Bawah Lindungan Ka'bah" difilmkan. Jadi teringat dulu pernah beberapa kali membacanya, dan beberapa kali pula teteskan air mata. Ini memang kisah cinta yang sedih, namun justru mengajarkan banyak hal. Seperti bagaimana cinta yang perlahan-lahan menjangkiti kita. Cinta yang semestinya membuat segalanya menjadi indah itu, justru menjadi belati yang menusuki rongga hati, atau menjadi pecahan kaca yang ditebar di sepanjang jalan tempat kaki telanjang kita harus menapak. Pedih.

Apa yang salah dengan Cinta? Bukan perasaan ini adalah pemberian dari Dzat yang Maha Cinta... mestinya Dia tak akan menyengaja menyakiti hamba-Nya. Namun kenapa?

Aku jadi tertarik memikirkan hal ini lebih jauh. Rasanya memang ada yang salah dalam "cara berfikir" kita. Kadang kita terjebak, untuk memberikan porsi yang kelewat bebas terhadap rasa Cinta ini. Karena ia [Cinta itu] memang serupa anak kecil, yang jika diberikan apa maunya, ia semakin kolokan... Karenanya jika kita hendak berlayar di samaudra Cinta, kita harus sedia panduan. Karena tanpa panduan, tentu kita bisa karam. Panduan yang paling tepat adalah "agama". Dan jangan lupa jadikan "akal sehat" sebagai Nahkoda.

Hmm... itu sih teori; kata para pecinta yang sudah terlanjur terbawa arus indahnya gelora rasa itu. Bagi kami yang terseret arus dan nyaris tenggelam ini, apa yang bisa kami lakukan? Jadi teringat Novel "Laila Majnun" bagaimana Qois yang menjadi "majnun" untuk seorang Laila, hingga banyak tabib tak bisa sembuhkan virus asmara itu. Dalam hal ini, kita memang butuh orang lain. Seseorang di pinggir sungai yang bisa menabik kita, untuk menepi lalu beranjak ke dataran yang lebih tinggi. Inilah pentingnya seorang teman. Agar ia tetap sadar saat kita terlena. Atau bisa pula "keluarga" yang kadang lebih "terjaga" dibanding kita yang saat itu terserang demam Cinta. Memang seringkali sang korban justru "marah", kalap... "Kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan sih..." Kita lupa, bahwa teman atau keluarga yang sedang mengingatkan kita itu pun melakukan semua itu atas dasar Cinta. Kita tergoda untuk membenturkan Cinta satu dengan Cinta yang lain; sementara sebenarnya bisa disintesakan. Karena Cinta itu seperti kuman yang bisa membelah diri, menyebar, tanpa mengurangi yang lainnya. Lihat saja, saat kita mencintai pasangan kita, lalu menikah, lalu beranak pinak, Cinta itu bisa berkembang begitu pesat; Cinta pada anak-anak, pada orang tua, pada masyarakat sekitar... dan tanpa mengurangi cinta kita pada pasangan kita. Entahlah....

Bicara tentang Cinta, memang selalu saja membingungkan.
Wallohu a'lam.

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...