Kamis, 16 Maret 2017

Nyawa #1

Aku menunggu hujan.
Anginnya sudah terasa.
Inginnya tak kuasa.
Sudah penuh isak di setiap sudut.
Kau mencoba menahan air mata.
Tak usah cerita, aku tahu.
Cinta yang sampai lahirkan buah hati, pasti cinta yang dahsyat.
Tak mudah.
Pasti tak mudah.

Tapi bukankah drama hidup harus dimainkan?
Dan wajah juga sosok baru mesti kutemui.
Mau lari dan berpaling itu naif.
Maka jalani saja.

Tenang saja, aku alihkan cerita.
Karena tak ingin nanti tumpah.
Ingat, kita sedang dalam rahsia pura pura.
Seolah berjarak, padahal sungguh aku telah membacamu lama.
Bahkan sejak puluhan tahun sebelum kita bertemu.

Aku menjadi nadi, ku harap kau jantung.
Sehingga detakmu yang mendorong alur darah dalam ku.

Dan alunan melodi menjadi interlude.
Kau mundur perlahan, sesekali sibakkan rambut tergerai itu.

Pancoran, 9/3/2017
Poetoe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...