Kamis, 16 Maret 2017

Nyawa #3.

Sudah lama kata terlelap.
Kini terbangun lagi.
Mungkin karena alunan musik ini.
Jenis musik yang lama aku benam saja dalam palung jiwa.
Entah bagaimana masih saja bisa bertahan.

Terkadang yang kau jaga justru rusak.
Sebaliknya yang kau biarkan justru bertahan.
Siapa sangka. Duga dan kira memang tak punya banyak peran dalam kenyataan.

Bagaimana hari itu terjadi.
Kita serupa partikel yang teraduk dalam cawan hidup.
Dari ribuan mungkin kita terpilihkan bertatapan dalam satu nyata.
Suara berat.
Seperti nada rendah dalam gitar bass.

Lalu tersenyum, berterimakasih.
Itu saja.

Halte transjakarta-kuningan barat. 10/3/2017
Poetoe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Batas

batas itu siapa kita setiap ujungnya adalah definisi berubahnya kemampuan adalah bertambahnya batas dan definisi kita menjadi kurva tak bera...