Selasa, 01 Desember 2009

belajar kelola gerak hati dari "Perahu Kertas" dan "Negeri 5 Menara"

Belajar beberapa hal di beberapa hari ini. Tentang perencanaan yang matang atas segala sesuatu, bahkan gerak hati. Hehe.. aneh memang, gerak hati yang selama ini aku jadikan dalil untuk lakukan hal-hal di luar rencana, ternyata perlu juga kita rencanakan. Karena indahnya hari, juga bergantung pada gerak hati. Padahal tanpa indahnya hari, tentu kita tidak bisa mencapai kebahagiaan, yang memang selama ini menjadi dambaanku di setiap penggal waktu. Ada dua buku cerita yang belum lama ini aku selesaikan. Yang keduanya aku selesaikan dalam hanya dalam dua hari untuk masing-masing cerita... yang pertama: “Perahu Kertas”-nya Dee, dan yang kedua “Negeri 5 Menara”nya Ahmad Fuadi. Keduanya tentu saja berbeda, namun entahlah karena aku baca dalam waktu yang berdekatan, jadi rasanya beberapa hal yang terfikir belakangan itu dipengaruhi dari dua buku itu.

Di “Perahu Kertas”, aku menikmati “kebetulan-kebetulan” yang indah. Tentang kekuatan cinta, yang didasari pada “patron with connect” (istilah yang sering dipakai mas Rain, entah makna-nya pas atau tidak), perasaan “nyambung” di setiap tema pembicaraan. Kugy yang pendongeng dengan Keenan yang pelukis. Yang layaknya dongeng, akhirnya mereka bahagia hidup bersama... setelah melewati lika-liku kehidupan, dengan beberapa kali terjadi benturan rasa. Bagiku Kugy dan Keenan toh hanya ada dalam dongeng, karena dalam kehidupan nyata, justru kita harus hati-hati dengan “perasaan nyambung” itu. Harus hati-hati dengang “lintasan hati”. Karena jangan-jangan itu lahir dari bisikan syetan.

Di “Negeri 5 Menara” aku menikmati dunia yang dulu pernah aku rasakan... dunia pesantren yang begitu “teratur” seakan-akan motivasi, rasa, kehendak... semua menjadi objek dari penataan sistem pendidikan di sana... jadi gerak hati itu memang bisa diatur. Hehehe.. gerak hati itu bisa direncanakan; dengan perencanaan yang matang, dan masuk akal; didukung dengan kemauan yang keras (“Man Jadda Wajada”) dan juga “disiplin diri” yang teguh. Pastikan akal sehat yang menjadi panglima.
Begitulah...

4 komentar:

  1. Kya.. pinjem kedua buku nya mas putu.. kayanya seru..hehHE
    perahu kertas - dee.. harus di cari ASAP nih.. ngincer dari kemaren2.. ^^

    BalasHapus
  2. ehm...setuju mas, hati-hati dengan lintasan hati, jangan sampai perasaan nyambung itu dah menumbuhkan harapan tetapi ternyata kita tak mampu untuk memenuhi harapan tersebut.....(khas commentnya bujangan...hehehehehehe)

    BalasHapus
  3. @amie: sip, nanti aku siapin. Atau maen aja ke rumah...
    @estu: "Barang siapa bersungguh-sunguh, pasti ia dapat"
    @mas Faiz: hmmm, tetap berhati-hati; biar tidak terjebak dalam kubangan penuh derita para bujangan... hahahhaa... peace bro!

    BalasHapus

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...