Sabtu, 24 Maret 2018

Taman itu, dulu

suatu pagi, di kursi taman, duduk berdua. embun berkilat, tatap matamu pun berkilat. sesekali kerjap indah, undang senyap sesaat. dalam kesima ku kehilangan sadar.

aku bercerita panjang tentang angan, kau sibuk menatap sambil genggam tangan.
aku penuh mimpi berapi api ekspresikan ambisi, kau penuh empati senyum seolah lembut kecup kulum.

dan mentari malu malu, semburat sopan menyibakkan wajah kita, wajah cinta, wajah penuh cerita.

semangat itu seolah dunia kubawa serta kemana mana, padahal hanya kau dan segenap rasa ini yang sejatinya sesak penuh dalam dada, dalam aku.

mencintai sedemikian dahsyat, saat jiwa muda bergelora, menjadi serupa melodi bersinergi dengan tarian hati dan lukisan penuh warna warna fana. indahnya menembus batas apresiasiku. deg.

fragmen itu telah lalu.
dulu.
kini terkubur di deru debu
taman itu tak lagi indah, kering,
kerontangnya pun sendu.

Bekasi, 10032018
Poetoe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

lelaki perempuan (memaki kegelisahan)

lelaki itu memaki mengutuki sunyi yang mendengki tanpa bunyi menggerogoti semua nada hingga jadi percuma rindu itu gula gula sublimasi atas ...