Minggu, 18 Januari 2015

Tahu diri

Hari ini aku menyimpan kata yang diucapkan untukku, terdengar biasa namun kini aku resapi benar-benar. "Kasihan..."

Kata dasarnya memang kasih, kata yang mengungkapan rasa yang agung. Terkadang orang memposisikan lebih tinggi dari cinta. Namun saat mendapat akhiran "an" terasa berbeda jauh maknanya. Mendengar kata itu yang muncul kemudian kata "tahu diri", "sadar diri", dan "mawas diri".

Tiga rangkaian kata yang idealnya berujung pada introspeksi diri. Banyak kelemahan yang perlahan mengambil alih posisi dalam diri. Kasalahan membaca tentang kelemahan diri ini bisa berakibat fatal.
" Halakam ru'un lam ya'rif qodruhu."
Rusaknya seseorang itu karena tidak mengerti ukurannya.

Padahal tak mudah memahami diri. Karena kita butuh cermin. Agar lebih objektif memandang sisi subjektif kita. Semakin jernih cermin akan semakin objektif cara memandang kita.

Entahlah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...