Minggu, 25 Januari 2015

indonesia awal 2015

Adalah parang yang dilempar ke langit
kilatannya mengedip-kedip
dan orang-orang masih berkumpul bersekam amarah.

Adalah gelisah yang menjadi api
bahwa dusta menjadi biasa
bahwa pura-pura cepat menjadi nyata dalam berita.

Dustai saja aku...
Berita menjadi muak dalam karung kata juga penggalan fragmen.

Jadi rindu, pada Abu Nawas
yang saat gulita dalam pekat dusta dan fitnah,
ia tetap saja bersyair.
Ia yakin, pada saatnya orang dholim itu mati terpenggal parang orang dholim lainnya
lalu matahari terbit lagi, dari celah awan hitam
yang tersibak oleh anyir darah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...