Kamis, 15 Januari 2015

Membacamu.

Kau serupa buku dan butuh waktu untuk membacanya utuh. Namun tak pernah lelah mengulanginya lagi dan lagi. Bahkan terkadang waktu yang harus mengalah, menjadi acak dalam benak. Karena yang lalu kupaksa ke kini, dan yang kini terkadang ku abaikan.

Kau serupa karya seni yang tak pernah selesai aku nikmati. Karena sebagai patung, betapa rumit lekukan pahatanmu. Sebagai lagu, betapa harmoni dan detail perubahan nadamu. Juga sebagai lukisan, goresan warnamu kaya oleh energi.

Aku berusaha memahami sekaligus menikmatimu di setiap detailmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...