Sabtu, 03 Januari 2015

Masih tentang diri.

Ingin kembali berbincang tentang diri, membuka beberapa buku menemukan beberapa hal menarik:

1. Sutan Sjahrir dalam Renungan Indonesia: "Kita merasa diri yakin bahwa kita bisa menilai diri kita dengan objektif, bahwa kita tahu hubungan yang tepat antara kita dengan masyarakat dan kemanusiaan; tetapi betapa banyak energi yang kita pergunakan untuk membuat citra pribadi yang kecil ini seindah mungkin di mata orang lain dan juga di mata kita sendiri."

2. Kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam dengan alasan "abaa wastakbaro", menentang dan sombong. (QS. 2: 24)

Betapa banyak waktu kita habiskan untuk membangun citra diri kita. Sibuk bersolek. Mematut matut diri. Bahkan terkadang terlupa tidak lalu dengan menambah kapasitas diri. Jadi hanya citra saja yang dibangun sehingga semakin berjarak antara kapasitas diri yang sebenarnya dengan citra atau reputasi kita di hadapan orang lain. Hasilnya adalah terbangun pribadi yang egosentris. Merasa demikian hebat di mata diri sendiri. Merasa layak mendapat penghargaan dan penghormatan.

Efeknya adalah kita menjadi pribadi yang mudah tersinggung bahkan terluka saat orang tak memberikan penghargaan yang sesuai dengan anggapan diri kita atas diri kita sendiri. Dari perasaan ini muncul lagi potensi untuk berat mengeluarkan kata "maaf" dan "terima kasih". Juga tak mudah untuk memaafkan orang lain.

Bisa jadi kita tak sadar, sedang terjebak dalam "kesombongan". Sikap hati yang sama dengan sikap hati Iblis saat mula-mula melakukan tindakan kekafiran di hadapan Allah SWT.

Masih ada waktu, untuk mengikis habis sifat Iblis ini dalam diri kita ini. Mari....

Wallohu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...