Kamis, 24 Maret 2016

nun

Ketika ketulusan lah yang kau bilang bisa menjadi dasar ketakbersudahan, aku spontan bertanya "kalau aku...? tuluskah menurutmu?"

Tak kuduga, wajahmu terhenyak seperti kaget. "Tulus itu seperti ikhlas dan juga sabar, saat dinyatakan justru perlu dipertanyakan pembuktiannya."

Lalu aku tak lagi berharap pertanyaanku akan berjawab. Kubiarkan saja langit mendung di atas sana seolah mentertawai kami.

Aku penuh. Seperti bahagia yang tak lagi bersyarat. Bersamamu aku demikian merdeka. Karena bahkan untuk rindu yang sering dibilang indah namun membelenggu itu pun tak lagi aku rasa. Aku nyaris tak lagi peduli bagaimana jarak dan waktu itu menceraikan kita.

Kau tahu, saat bersama dengan orang lain terkadang ada basa basi yang kita pakai sebagai kedok untuk menutupi ketidakcocokan itu. Namun berbeda denganmu, aku bugil tanpa tabir, berbeda minat pun biasa saja. Bahkan saat dalam bincang itu aku bertanya, kau dengan ringan berkata "aku tidak mau jawab." dan aku merasa cukup. Kami berdua berpandangan lalu lepas tertawa.

Mungkin demikianlah Dia mempertemukan. Berharap selalu tumbuh bersama. Memahami dan memaklumi tanpa henti.

Jakarta, 24/03/2016. Senja.
Poetoe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...