Senin, 28 Maret 2016

isti'daadu

Tiga hari ini buruk kualitas rehat malamku. Banyak yang terpikir saat jelang tidur, hasilnya tak jadi terlelap.

Salah satunya adalah tentang kualitas hati, belakangan ini nilainya jatuh. Indikasinya berat untuk ibadah, ringan untuk maksiyat.

Padahal Ramadhan semakin dekat. Jika tak beranjak, bisa kehilangan momentum bulan bonus.

Salah satu caranya mungkin harus lebih jeli membaca potensi kesibukan pada kebaikan. Katanya itu akan menutup peluang untuk bermaksiyat. Seperti saat membawa lentera,  kegelapan otomatis akan sirna.

Kebaikan dalam bentuk apa pun. Seperti senyum dan keriangan pagi, bantuan kepada orang lain sekecil apa pun, kerelaan untuk memaafkan kesalahan orang lain, tentu juga kebaikan berupa ibadah rutin kepada-Nya.

Dan kenyataannya, setiap kebaikan itu meringankan, melegakan. Dan sebaliknya yang memberatkan hidup kita adalah sikap negatif kita.

Seperti saat kita komplain atas sesuatu, jika kita sampaikan datar saja tanpa rasa sakit hati, hasilnya akan nyaman untuk keduanya. Berbeda saat komplain itu dibarengi dengan suasana hati yang terluka, ini potensi konflik.

Tapi bagaimana hindari sakit hati ini? bukankah manusiawi?

Memang sudah fithrah kita untuk dapat terluka, namun sebenarnya dapat kita hindari. Salah satu caranya, dengan identifikasi sebab sakitnya.

Bisa jadi sakit itu karena kita menilai diri kita lebih tinggi, sehingga tak pantas diperlakukan seperti yang kita terima saat ini. Betulkah kita tak pantas diperlakukan seperti itu?

Bisa pula karena ada perasaan kita lebih benar,  dan mereka salah. Sehingga pantaslah kita marah, karena kita pada posisi benar. Apakah memang begitu, yang benar pantas marah kepada yang salah? Bukankah dulu para nabi pembawa risalah kebenaran itu tetap berlaku lemah lembut kepada objek dakwah yang tentu dalam posisi yang salah?

Bisa pula sakit hati kita, karena anggapan remeh dan rendah atas mereka. Padahal bukankah kita setara, dan semestinya tak ada tempat untuk meremehkan dan merendahkan itu?

Demikianlah yang terpikir olehku di tiga malam ini. Di bawah silau sinar matahari pagi, aku akhiri saja celoteh ini. Abaikan saja.

APTB (bekasi-Jakarta) Senin, 28/03/2016
Poetoe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...