Kamis, 23 Juli 2015

Tetap Bahagia

Keberpasangan tidaklah lalu saling menggantikan, bahkan terang dan gelap. Terkadang mereka justru beriringan.

Mungkin juga musibah tak lalu berarti enyahnya bahagia, dan lahirnya kesedihan. Karena alasan untuk tetap bahagia itu selalu mengiringi langkah kita, bahkan pada saat musibah datang pun ia ada.

Hanya kita yang sering lengah. Terbiasa bermain iya dan tidak. Hitam putih. Gelap terang. Seperti tak ada pilihan lain selain kesedihan saat musibah datang. Padahal bukankah Dia melarang kita bersedih? 

Jika kita benar-benar tak ingin bersedih, maka pandai-pandailah mengumpulkan energi kegembiraan kita sepekat apa pun kabut kesedihan itu datang menyerang. Ambil hikmah yang indah dari setiap peristiwa, terus fokus memandang setengah gelas terisi bukan setengahnya yang kosong. Seperti juga tetap memegang empat balon lainnya setelah balon hijau meletus. Bukan sibuk meratapi si balon hijau (belajar dari lagu Balonku).

Apakah ini mudah? Tentu tidak. Butuh latihan yang serius, dan kesiapan hati yang memadai. Salah satunya adalah bersering-sering bersimpuh kepadaNya, memohon perlindungan dan ampunan. Ekspresi ketidakberdayaan sebagai hamba bisa menjadi energi saat hadapi berbagai keputusanNya. Musibah atau nikmat, menjalaninya tetap dengan bahagia.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kesabaran dan kesyukuran untuk kita. Aamiin.

Poetoe....
Syawal, 1436 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...