Kamis, 16 Juli 2015

sudah bertakbirkah?

Saat bertakbir maka yang penuhi isi kepala adalah KeagunganNya, maka kesadaran akan kerdilnya kita yang lalu muncul.

Sebagai hamba kita memang kecil, lemah, dan teramat butuh padaNya. Dan yang menyebalkan kita sering terlupa oleh kelemahan ini.

Bahkan saat bertakbir, kita justru sibuk dengan kita ini siapa, seberapa dianggap adanya kita dalam masyarakat.

Saat tersadar kita tak dianggap ada oleh lingkungan kita lalu cari perhatian dengan petasan dan tarikan gas motor di sepanjang jalan.

Manusia sebagai makhluk tempat salah dan lupa. Selama belum berani akui kelemahan dan kesalahan maka sulitlah kebahagiaan itu ada di dada.

Bagaimana bisa bahagia, jika kita masih serupa Iblis yang sibuk dengan rasa diri sebagai makhluk hebat hingga lupa diri sebagai pengabdi?

Bagaimana bisa bahagia jika kita masih sibuk membela nama baik dengan memoles diri berpura tak pernah punya salah dan dosa?

Bagaimana bisa bahagia saat semestinya sibuk beristighfar kita justru sedang sibuk menyalahkan orang lain. Agh. Jangan-jangan tulisan ini pun..?

Jika benar ingin bahagia, mungkin harus berhenti mengeluh, berhenti menyalahkan orang, berhenti membela diri saat disalahkan.

Mulai dari mengakui kesalahan, lalu menyesal, lalu beristighfar, lalu meminta ampunan padaNya, lalu meminta maaf pada sesama.

Bertakbir, bertahmid, bertahlil, beristighfar, bersimpuh di tengah lapang, sadari kelemahan diri, tundukkan hati, meleburlah diri...

Poetoe, 1 Syawal 1436 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...