Senin, 28 Desember 2015

Isyarat

Apakah isyarat itu? Serupa tanda atas pesan yang ingin tersampaikan. Atau mungkin simbol atas keterhubungan.

Mungkin isyarat adalah cara paling santun dalam bertutur. Bahkan seolah tak lagi ada kebutuhan akan tersampaikan atau tidak. Sekedar melepas tanda tanpa peduli terbaca atau tidak maksud dan maknanya.

Seperti klakson pelan itu, dibunyikan saja, saat melewati rumahnya. Mungkin akan terdengar dari dalam rumah, mungkin saja tidak, lalu apa maknanya. Entah. Mungkin memang sekedar bukti bahwa keduanya terhubung. Seperti canda dalam istilah René Descartes yang menyebut "Cogito ergo sum" bahwa saya berpikir maka saya ada, mungkin ini "Conecto ergo sum" dengan makna yang dipaksakan, saya terhubung maka saya ada.

Demikianlah, keterhubungan adalah keniscayaan.  Entah hubungan macam apa. Karena katanya ada hubungan yang tak terdefinisi, hanya terasa saat saling berinteraksi.

Padamu padaku, atau dalamku dalammu.

Demikianlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...