Senin, 29 Februari 2016

Lelaki Senja

Ini tentang seorang yang duduk di pinggir jalan layang, saat orang-orang lalu lalang pulang kerja. Entah apa yang ia pikirkan. Mukanya datar, tak terbaca sedang marah atau bahagia. Yang nampak dari garis wajahnya adalah ia sedang berpikir. Entah berpikir apa.

Senja ia nikmati. Bersama aroma jalanan ia hayati. Tatap matanya tak fokus, seolah tak peduli ada apa di depannya. Bisa jadi ia korban PHK, bisa pula ia lelaki yang enggan pulang karena kehilangan makna surga di rumahnya. Bisa pula lebih parah, ia kehilangan kewarasan karena masalah yang ia pikul. Memang pasti bukan masalahnya yang terlalu berat untuk dirinya, melainkan cara pandang dia atas masalah yang memberatkannya sendiri. Tapi tanpa kesadaran tentu ia tetap akan tersesat, dalam belukar masalah yang ia pelihara sendiri. Lelaki yang malang. 

Lelaki itu masih di sana. Tatapannya kosong. Wajahnya entah bahagia entah sedih. Menikmati senja dengan caranya sendiri. Sementara aku di bis ini, memandangnya saja. Sambil membuat cerita dari duga duga dalam kepalaku yang sengaja aku pelihara. Tak seluruhnya benar,  bahkan bisa jadi seluruhnya salah. Tapi aku menikmatinya, aku biarkan cerita tentang lelaki itu tumbuh kembang di kepalaku. 

senja, 16/02/2016
poetoe


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...