Sabtu, 08 Agustus 2015

Tentang kesepian

Seorang mengatakan aku kesepian. Awalnya tentu aku menyangkal, bagaimana kesepian jika aktifitasku banyak, komunitasku beragam. Namun perlahan ada kesadaran, bisa jadi dia benar. Mungkin aku memang kesepian.

Sepi itu merasa sendiri. Merasa sendiri itu bisa jadi tak benar benar sendiri.  Hanya merasa. Mungkin saja justru karena kebutuhan  untuk bersama yang teramat sangat membuat kita cepat merasa sendiri. Entahlah.

Aku coba membongkar sebab sepiku. Mungkin keliru, ini sekedar pencarian. Bisa jadi tersesat. Awalnya karena merasa beda. Sejak kecil dilatih untuk berbeda, gondrong di saat SD. Enam tahun menjadi berbeda di kalangan teman-teman. Guru tak ada yang berani tegakkan aturan rambut panjang untuk murid laki-laki, karena Bapak rasanya sudah ijin ke kepala sekolah, ia akan pakai gaya berbeda untuk anak-anaknya. Di SMP kami baru mulai sesuaikan. Walau sempat disetrap harus berdiri di depan kelas di sepanjang jam belajar karena aku tak mau potong rambut. Bapak tak mau memotong rambutku tepatnya. Karena salah satu undang-undang di rumah saat itu adalah satu-satunya yang berhak potong rambut kami adalah Bapak. Banyak hal lain yang membuat kami berbeda. Buku bacaan, permaianan, termasuk jam makan kami.

Entahlah, apakah keberanian bergaya beda ini yang akhirnya membuatku sepi. Karena kenyataannya aku merasa tidak ada seorang pun di sekitarku yang menyerupaiku. Entah. Ini hanya sekedar menebak-nebak sebab.

Kepada seseorang yang mengatakan aku kesepian itu, aku tanyakan alasan apa aku terlihat kesepian? Ia menjawab karena aku seperti tak pernah cukup mencari teman. Hmm... mungkin memang kebutuhanku berkomunikasi melebihi orang-orang kebanyakan. Aku enjoy dalam banyak komunitas. Apakah ini gejala tak sehat? Apakah ini juga menjadi sebab sakit kepalaku?

Sepi terlahir dari merasa sendiri, disebabkan oleh rasa tak pernah cukup berkomunikasi. Mungkin aku harus evaluasi "rasa tak pernah cukup"ku. Entahlah.

Paling tidak, dini hari ini, aku sudah meluangkan waktu berpikir mendalam tentang rasa sepi ini. Semoga menjadi langkah awal perbaikanku. Semoga esok hari selalu lebih baik dari kemarinku.

Terima kasih kepadamu yang menuduhku kesepian. Kau menyadarkanku.

Poetoe / 9 Agustus 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Bagaimana Ramadhanmu tahun ini? Adalah pertanyaan yang mungkin muncul di penghujung bulan ini. Lalu apa yang mungkin jadi jawaban? Masing-ma...