Kamis, 06 Agustus 2015

Siapa yang keliru

Jangan-jangan saat kita bilang orang lain keliru, justru kita yang keliru.

Karena secara fitrah cara pandang kita terbatas, memandang dengan jangkauan lebih pendek jika kita berdiri di tempat yang lebih rendah. Semakin tinggi posisi tentu semakin jauh jarak pandangnya.

Kepada para pengambil kebijakan, seringkali kita berpikir mereka keliru, karena kepentingan kita terganggu, padahal mungkin kepentingan yang menjadi dasar pengambilan keputusan itu adalah kepentingan yang lebih beragam. Kepentingan kita hanya salah satunya, atau bahkan bisa jadi tak diperhitungkan.

Apa lalu kita marah? Atau legowo saja.... ikuti sebisa kita. Terkadang manajemen tersadar salah saat efek keputusan terlihat belakangan. Dan itu wajar saja. Jika salah ya kebijakan itu diubah. "Gitu saja kok repot".

Sebenarnya ini perkara klasik, kecil tak tebaca besar terlalu dominan diperhitungkan. Detail tak terpikirkan, pandangan secara umum yang diperhitungkan. Tersesat dalam pengambilan keputusan itu hal biasa. Tak mengapa, selama bersegera diperbaiki.

Demikianlah. Entah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...