Senin, 17 Agustus 2015

Dilema ibu bekerja

Pagi ini, mendapat inspirasi dari kisah seorang teman. Fragmen saat ia hendak selesaikan cuti bersalin anak kelimanya, dan harus berangkat kerja esok harinya. Anak pertamanya datang menghampirinya. Lalu mohon ijin padanya, "Bunda, boleh ndak aku mau nangis...?" Bundanya kaget, "lho ada apa??"
Lalu sang anak mulai menangis, tanpa rengekan, hanya air mata.
"Kenapa kak? Cerita dong... kalau gini bunda jadi sedih... ada masalah di sekolah? Temanmu nakal? Kenapa nangis, kak?"
Sang anak hanya menggeleng. Lalu menjawab perlahan ".... bunda besok mulai kerja lagi."
Jawaban itu membuat sang Bunda ikut menangis.

Kisah romansa ibu yang harus bekerja. Aku kebingungan hendak cerita apa. Kisah ini sudah membuatku berpikir banyak. Tak semua yang aku pikirkan hari ini terjawab, namun paling tidak ada air mata. Saat mendengar cerita ini dari sang ibu, juga saat aku harus menuliskannya lagi siang ini. Air mata.

Air mata untuk keresahan, saat tata nilai dibentur benturkan. Air mata untuk banyak pertanyaan yang tak berjawab. Entahlah. Kita memang butuh Dia untuk mengambil keputusan. Semoga selalu tercurah rahmah dan hidayah-Nya.

Aamiin.

Poetoe / 14 Agustus 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...