Sabtu, 01 November 2014

Potongan Senja

Mungkin senja memang bisa kita potong, seperti dalam cerpen Seno Gumira Aji Darma. Caranya dengan memandangnya lekat, lalu kita potong, dengan kedipan mata dalam. Potongan ingatan tentang senja itu kita lipat rapi, kita simpan dalam rak benak di rongga kepala kita. Untuk menjaganya bisa kita tambahkan rasa kita yang tercerap saat itu segera bungkus lalu endapkan dalam hati. Di sana ia akan terkoneksi dengan ingatan dalam benak. Kapan-kapan kita bisa buka ulang filenya.

Seperti senja ini, saat warna lembayungnya kuasai retina mataku. Juga aroma sabtu sore yang gempita, dihiasi senyum bahagia pasangan muda yang berkendara dengan motor sambil bercanda. Juga rasa yang aneh di rongga kepalaku, karena dinodai sakit kepala dan suasana mriang. Kucoba penuhi otak dengan bacaan tentang budaya, film dan politik pendidikan. Sengaja dengan tema-tema yang terkesan berat, harapannya cepat mengusir rasa getir dari perpaduan sakit kepala dan meriang ini.

Apakah berhasil? Entahlah. Namun keindahan senja tetap saja aku dapat. Potongannya aku simpan. Dalam saku hati. Jika kau mau ikut nikmati boleh esok kubawakan untukmu.

Mutiara Gading Timur, 1 Nopember 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...