Senin, 10 Januari 2011

catatan tanggal 10 Januari 2011

Mau tahu seperti apa siang ini menyapa? Ia dan matahari tenang, angin sopan membelai, dan aroma tanah basah harum menyeruak ke pangkal hidung, menerobos hingga ke lipatan2 otak yg terdalam....

[# Celakalah aku yg disuguhi paras-paras korup bertopeng rupawan di gedung-gedung penyelenggara negara.
Ah, tapi kenapa dipusingkan? Bukankah negara bangsa ini hanya imajinasi kolektif? -mas Edhie-]
[* hiks, ketenangan siang ini... menggelegak kembali, tersulut kemarahanmu, bung... Namun ini memang pantas dipusingkan, karena imajinasi tidak layak didahului oleh kata "hanya"... ini perkara isi kepala, dan layak untuk diperjuangkan; dan yakinlah bung, pemikirian tidak akan pernah mati....-aku-]


Sebutir debu menempel di kaca jendela kantorku, ia sedih betapa pemahaman akan hukum dan keadilan itu justru menorehkan luka, betapa harapan terbetot jauh dari kenyataan... Dan air matanya membuat ia terpeleset, kembali dihempas oleh sang angin.

Dan bagaimana senja menyapa kita? Ia dan robekan warna merah di langit itu, menawarkan antibiotik untuk gelisah hati, dan anginnya sedikit nakal, mencolek daun telinga, seperti hendak paksakan kita untuk mendengar cerita pilu tentang bangsa yang kehilangan rasa malu....

4 komentar:

  1. bangsa ini sedang sakit mas, sayangnya semua rasa sakit itu disesap dengan obat-obatan yang ternyata malah memperparah sakitnya, dan si penderitanya pun taks adar bila sedang sakit.

    BalasHapus
  2. betul mas, butuh dokter ahli untuk bisa dapatkan resep obat yang pas dan mujarab....

    mas ada ide?

    BalasHapus
  3. assalamualaikum........mas putu ingatkah engkau pada ku...kisah lama...yang.terpendam ...d ponpes aliman....lewat.blog ini.kutemukan engkau....aku fadhillah fatkhul islam dari semarang....email ku fadilah.fatkhul@yahoo.com...phone +6281374358256

    BalasHapus
  4. Wa'alaikum salam, hahaha.. bagaimana mungkin aku melupakanmu...
    "dul miki sut sildut sidado"

    Ponpes Al-Iman Muntilan banyak menyimpan kenangan kita....

    Afwan, terlamabat merespon komentar ini.. terlewat waktu ngecek "Blog"

    BalasHapus

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...