Enam belas tahun, aku bertekad lebih serius belajar. Jika ini bangku sekolah, bukankah kita sudah sepantasnya lulus sarjana?
Padahal semestinya mudah, karena kau telah contohkan, seperti saat betapa jelinya kau membaca rahangku yang sedikit mengeras, lalu kau usap punggungku dan bertanya "ada apa?" Kau memang tak pernah memberi aku ruang untuk sekedar menyimpan rasa sebel untukmu. Tak pernah terbersit, karena hari-hari yang terlalui hanyalah rangkaian perhatian, ekspresi sayang, dan pemakluman atas keliruku.Enam belas tahun, aku hanya bisa ungkapkan betapa syukur ku telah memilikimu, dan terima kasih atas hari-hari indah ini.
Poetoe, 25 Oktober 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar