Senin, 08 Agustus 2011

SAJAK PULANG KANTOR, BERJALAN DI JEMBATAN PENYEBERANGAN

jengah pada angka, aku tinggalkan saja...
Seperti gelap yang bernafas
menyapa petugas keamanan,
dan malam menggulung keriangan.

Berjalan terburu, hanya semata ikut arus liar para pejalan kaki.
Karena memang tak ada agenda lain, selain rebah nanti mengisi energi....
Dan tawa abang pengamen, lenguhan bencong di halte.
Pengemis berkerudung, dengan batita pulas di sebelahnya, mulut tersenyum, mimpi indah ia pasti.
Dan jembatan penuh cahya, yang teringat satu waktu, saat tergila-gila padanya, berjalan bersama, dan angin malam rahsa surga meniupi daun telinga....

Dan kegaduhan yang tiba-tiba, juga sorot mata lelaki garang itu, kilatan pisau terhunus, dan nyeri yang sangat...
Anyir darah. Dan angin...dan angin membawaku terbang, menatap jasad terbujur, tertinggal dalam jaket berlumur darah, persis di depan loket busway.

Hiks....

4 komentar:

  1. ada secarik kertas kumal... di kantong jaketnya, separuhnya tak terbaca... tenggelam dalam bercak darah; sebait puisi...

    dua dunia yang terpisah
    hanya terbaca lewat kerlip lampu
    yang mengingatkan diri ini pada satu waktu
    senja yang temaram
    berjalan diiringi keriangan
    seakan tak ada lelah
    terlupakan oleh gairah....

    BalasHapus
  2. terpukau pada kemilau
    sang cahaya yang gemerlap
    terpukau pada suatu senyum
    riang di tengah senyap
    tulus menghias tidur yang lelap

    BalasHapus
  3. kira-kira ini puisi,artikel,feature ato opini??

    hehehe..

    BalasHapus
  4. sekedar coretan...
    tapi bisa kita kembangkan.

    Mau berkolaborasi?

    BalasHapus

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...