Jumat, 08 Mei 2009

CATATAN PERJALANAN; (jakarta -batam- jakarta)

Dalam perjalanan ini, aku bertemu pesona alam yang mengguyur bilik kenangan. Tentang awan, langit, mentari, udara kering, genangan air laut dan telaga, barisan pulau-pulau.

Berbicang pada orang-orang, bersinggungan dengan banyak warna jiwa, dapatkan banyak cerita. Terlalu banyak mungkin, untuk bilik ingatanku yang tidak seberapa luas. Hal-hal yang coba aku catat dari perbincangan itu adalah: kerja, tugas, setiap amalan selalu ada balasan, kesetiaan, kata-kata indah itu bisa merebut hati, benturan-benturan yang tak terbayangkan, persahabatan-rasa sayang, cinta-pengkhianatan dan kebencian.

Belajar dari semua itu:
1. Memahami betul bahwa setiap kita memiliki potensi berbuat dosa, setiap kita bisa saja terjebak dalam kesalahan langkah, lalu tersesat saat mencari jalan pulang; (QS. Asy-Syaam: 8 “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”);
2. Godaan untuk menyimpang itu ada di mana-mana, di setiap langkah hidup, di setiap detik menjelang satu senyuman atau tangisan, di setiap kata-kata yang terucap;
3. Dibutuhkan faktor eksternal yang mendukung, sekumpulan teman-teman yang bisa saling mengingatkan untuk tetap jadikan petunjuk Allah dan akal sehat sebagai panglima (QS. Al’Ashr:3 “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”);
4. Kita perlu membangun irama hati, sehingga nyaman-lah kita dalam menjalani hidup, tidak banyak benturan: membuat keras menjadi lembut, cinta-nafsu menjadi sayang-empati, mengubah marah yang menggebu menjadi tegas namun tetap penuh senyuman;

Kepercayaan kita kepada seseorang bisa jadi pemicu rasa sakit yang “luar biasa” jika tidak diikuti dengan pemahaman bahwa bagaimanapun juga kita hanya manusia biasa. Sebagai manusia tentu kita sama-sama membutuhkan mekanisme pengawasan diri;

- Pengawasan --> antisipasi pelanggaran
- Tarbiyah/Pendidikan (peningkatan pemahaman) --> adalah proses membangun kepatuhan.
Keduanya mesti berjalan bersama...beriringan.

Hmm... semuai ini lahir dalam benak, setelah mencoba “menyelam” di beberapa samaudra “kenangan” teman-teman.
Rasanya Allah memang telah menyiapkan skenario ini untuk aku jalani.
Alhamdulillah!!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...