Terkadang kita membaca sesuatu dengan kacamata pertandingan. Menang dan kalah. Seperti saat bicara tentang cinta.
Seorang yang mencinta seringkali diperlakukan sebagai pihak yang kalah saat yang dicintainya tak membalas cintanya. Menjadi agak aneh memang, karena yang aktif melakukan dengan awalan "me" justru kalah dengan objek pasif yang berawalan "di". Sepertinya kata dasarnya adalah hal negatif.
Apakah cara pandang ini benar? Apakah memang tak ada menang dan kalah dalam kata cinta? Atau cinta memang tak layak dipertandingkan?
Entahlah....
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar