Tampilkan postingan dengan label Kita Dua Kurva Saling Terbuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kita Dua Kurva Saling Terbuka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2019

debu berangin



debu berangin melawan takdir
terasa pekat udara
terik menggunting masa, sadar terlambat hadir
dipikul mimpi yang kembara

aku bisu terbangun dalam beda
beterbangan tinggal jejak silam jadi tanda
genggam terlepas mula atas jeda
rasa rindu jadi aib jadi noda

hidup hanya tentang canda
ingin yang seolah angin
hasrat menjadi jerat
hanya rela yang sembuhkan segala

Subang, 31/03/2019
Poetoe

menunggu tamu



detik merayap dalam senyap
detak jantung berderap
perlahan mengisi penuh dada
celakalah masa silam, mengapa tak juga terlupakan?

mengiris iris kenang terkenang
meraciknya dengan bumbu mimpi
aroma yang sedap
manakah rembulan, mengapa tak pula kutemukan wajah itu?

angin hempaskan gerai rambut
malam selimuti segenap ruang
duga duga beterbangan
napas tersengal
apakah maut yang berkunjung malam ini?

Bekasi, 22/03/2019
Poetoe

Minggu, 30 Desember 2018

gema

rindu jadi bara
jarak jadi tatap
janji jadi bukti
bayang terlahap dekap

napas empas terhempas
helaan udara yang terampas
hasrat yang terkupas
jengah meranggas

rindu dalam detak
jeda musnah dalam jarak
kata kata beranak pinak
bayang-bayang menggelegak

jelang kehangatan hilang
bersandar pada tiang nalar
tersadar kita sama-sama jalang
napas ikan di trotoar menggelepar

lalu aku beri tanda
bubuhkan jelaga di dada
semakin luka semakin banyak bekal untuk jeda
jika pun ini terakhir, kenang ini kan menggema, lama.

Jakarta, 2112208
Poetoe

jarak

rindu itu racun
temu yang tabu
sapa yang hampa
peluk yang terkutuk

cinta menggulita
sekat norma pekat
hasrat tersedak
waktu menggerutu

pada akhirnya berlabuh
tatap berhadapan utuh
namun saat sentuh
sekujur tubuh lumpuh

kau di dermaga
aku di seberang telaga
kau tak menunggu
aku terpaku dalam pukau

Bekasi, 20122018
Poetoe

pencarian

ruang ruang gelap,
aroma arak,
asap yang mengerak,
rasa mencari cari yang memperjalankan kaki.

mata sembab,
lantai lembab,
aroma air tertahan lama,
bercak bercak sisa usia terinjak sol sepatu.

di mana ah di mana

pencarian adalah rangkaian penasaran yang terikat duga dan hipotesis
setiap teguk hanya tambahan dahaga


aku mencinta namun mana
aku mendamba namun untuk apa
aku menunggu namun reguk rindu tertawan di cawan masa
aku tertawa kubiar hasrat terlempar di rawa rawa

Pancoran, 03 Desember 2018
Poetoe

Bagaimana rindu bekerja

aku tak mengerti bagaimana rindu bekerja
seolah selalu menunggu di depan pintu saja
tiba tiba sudah melompat ke ruang ingatan
seenaknya berlompatan bermain-main dengan kenangan dan harapan

mungkin memang tak harus mengerti bagaimana rindu beraksi
biarkan saja ia menginterupsi
atas lintasan-lintasan bisik hati
lalu kuasai ruang sidang nurani

dan aku tetap saja tak mengerti
bagaimana kau bisa ada di sini
berkemah di tanah lapang jiwa
di samping telaga kenangan
katanya rindu yang menerbangkanmu
hingga jarak tak berdaya
hingga waktu tak mampu menghalangimu

Bekasi, 02122018
Poetoe

pawai kawula

langkah terhenti lilin hampir padam
degub jantung berdentuman
antara pembuktian keimanan
atau kejelian memaknai keberanian

seperti barisan yang betapa rapinya
terikat erat oleh cinta
ketaatan yang sempurna
melampaui batas batas pemahaman yang sederhana

sesaat terhenti pastikan tetap ada cahaya
langkah perlahan hati hati membaca bahaya
namun tetap waspada dari jeratan syak wasangka
sesekali pejamkan mata biarkan nurani berkata

Bekasi, 02 Desember 2018
Poetoe

bebal dan sengak

malas tanpa semangat
kata kata menyengat
benak menggeliat
mimpi penat

rindu ini bebal
diinjak malah menebal
diaduk justru menggumpal
diabaikan pun tetap mengental

cinta yang sengak
berdiri congkak
rasa memiliki yang koyak
rasa cemburu yang terinjak injak

hadapi badai rasa
porak poranda tak bersisa
tunduk dalam putus asa
harga diri pun moksa

Bekasi, 1 Desember 2018
Poetoe

Kisah sekarat

seperti anjing lapar
waktu menguntit kita
tak kenal mundur ataupun gentar
hingga tiba saat sukma kita
dicabiknya

membaca sejarah kita berbenah
pelan-pelan mitos diri tertatah
pada dinding masa
pada kerjap rasa

akankah saat maut datang
aku justru meringkuk takut
bergetaran gelisah resah taut bertaut
menjadi pengembara tanpa bekal,
kumal dan kusut
perlahan wajah dikunyah waktu mengisut penuh kerut

jika tiba maka
berkelojotanlah raga
susah payah berkelindan dengan dunia
meregang raih sekenanya
nikmatnya raib
bibir mencercau rapalkan kata
entah doa entah nestapa

mata terbelalak
napas tercekat
nyawa mengepak
tubuh meregang cepat

titik.

Bekasi, 30 November 2018
Poetoe

Penat

siang terik menggunting kesadaran
percakapan dalam diri yang merahasia
semacam dusta yang santun
tersimpan saja di kantong waktu

secangkir kopi dengan kegelisahan yang basah
serupa jalanan yang tersiram hujan
di balik pepohonan malaikat maut mengintip
tak peduli kesiapan kita, kapan saja ia bisa jalankan tugasnya

udara terhempas dari pori pori bumi
terdorong air hujan
menguarlah aroma sisa hujan
tanah basah yang memeluk hangat kenangan

lalu kita enggan bercakapan
membiarkan saja sepi terseduh di sisa kopi kita
menarik nafas panjang
berharap kelegaan berharap kerelaan.

Bekasi, 23 November 2018
Poetoe

Kompetisi

ruang hampa ketidakmengertian
raung tanpa kemustahilan
bertarung takdir dan harapan
gaung dan gema pilihan pilihan

mungkin ini cinta yang terpilihkan
atau hanya gulita yang membinasakan
gelap yang teramat gelap
meniadalah kita dalam dunia tanpa cahaya

dua lentera kecil datang
berlomba menimba pesona
dua pelita bersaing benderang
berharap menang dapatkan hatinya

waktu adalah juri
menunggu yang sejati
tersisa di garis akhir
tercecer yang lainnya menepi pinggir

16112018
Poetoe

memeluk bulan


seperti malam itu kau terlelap saat bincang
dan tersisa aku yang menatap ruam ruam lelahmu
setiap senti aku kunyah dalam retina mata, perlahan lahan
aku baca sebagai tanda
aku baca sebagai nada

memeluk sepiku sendiri
membiarkan rinduku melepuh
terbakar panasnya gelisah
tersulut letupnya resah

masih dalam lelapmu
aku eja perkata
terbata bata
dan yakin ini tentang cinta

angin malam bergumam
purnama memberiku nama
pejuang kerinduan
yang berharap memeluk bulan.

14112018
Poetoe

Cinta tanpa peta

angin senja menjambak kesadaran
berputaran di bunderan tempat biasa rindu menunggu
lupa hitungan
telah berapa lama berulang ulang
gaun berkibaran
gaung berkejaran
raung maghrib menelan senja perlahan
rindu masih menunggu
waktu gagu mengajak berseteru
aku rebus saja ketakutan
hingga tanggal segala resah
hingga berguguran semua gelisah

tapi terlambat

rindu tetap menunggu
sedang cinta tanpa peta kehilangan arah
tersesat entah berlipat lipat jarak
waktu utuh
menyembelih kita pelan dan pasti
harapan pun mati.

Bekasi, 13 November 2018
Poetoe

bacaan pagi: surat tentang negeri

terulang lantunan kata dan nada
tanda tanda kebesaran
tanda tanda keagungan
tentang kemerdekaan yang melekat pada mula penciptaan
terikat kita pada darah pendahulu
mengeja kerinduan sebagai bangsa atas tanah airnya

dua bola mata
membelalak atas data dan kata
satu lidah dan dua bibir
merapalkan kesan dan pesan yang mengalir alir
tersediakan dua jalan
pilih yang sukar dan terjal
jalan perjuangan kemerdekaan atas perbudakan
jalan kepedulian saat lapar menggelepar

bergandenganlah dalam sabar
bergenggamanlah dalam kasih
bersamalah mereka di sisi kanan yang aman nyaman
bukan mereka di sisi kiri yang iri dengki.

Bekasi, 13112018
Poetoe

hari baru

ah, biasa
galau saat mulai perantauan
kacau saat tinggalkan kehangatan
beranjak dari kenyamanan
terjebak dalam rasa kehilangan

tapi tak boleh lama
ada banyak wajah baru harus kau sapa
banyak udara segar harus kau rasa
banyak tempat baru harus kau pijak
di balik sepi ini kita merdeka

kumpulkan mimpi lalu jalani
yang dulu tak sempat kini lakukan cepat cepat
batu menghimpit telah terangkat
saatnya kita berangkat

ada yang mengajak kembali bernostalgia
membawa seikat luka berbungkus kenangan
menyanyikan senandung kidung rindu

tapi buat apa?

usia kita tak lama
sebelum usai nanti lalu sesal berjejalan
bersegeralah sambut hari baru
bersegeralah mulai perjalanan.

Bekasi, 12112018
Poetoe

mengunyah siang (catatan di Hari Pahlawan 2018)

hari pahlawan dan langit pun berawan
dan di surabaya pun jatuh korban walau tanpa lawan
gempita rayakan
berjatuhan tak terelakkan

dan di siang menatap awan
teramat benderang merangkul angan
dan mencoba janjian
namun waktu masih tak relakan

merayakan terkadang hanya menambah kegaduhan
makna justru tercecer di pelabuhan
dan kapal pemahaman berlayar tinggalkan kita
mana arti mana kah kita berarti
mana cinta lengkapkah kita bergulita

dan kita di tengah terik kota
bersama mengunyah siang dengan kata
menyusun arti kata korban dan pengorbanan
menuntun arti kata lawan dan kepahlawanan.

Bekasi, 10112018
Poetoe

kopi malam di Bantargebang

kau lihatlah dari sini, dari sisi langit
agar luas bumi tersekap utuh di retina mata
dan tak lagi ada masalah sulit
hanya tersisa remah remah kata

dunia itu remeh temeh saja
ada tak adanya bisa saja dengan mudah ditiadakan
hanya hasrat diri yang manja
yang meronta ronta mengharap dipuaskan

maka duduklah kami malam ini
bergelas gelas kopi tanpa gula
kemerdekaan rasa ini
bebas dari harap dan citra di sela sela

kita tak ingin terjebak dari goda personal
karena ada mimpi negara kita
melampaui batas batas jengah kita
sesal terlepasnya jumpa, bergumpal-gumpal

Ciketing Udik, 09112018
Poetoe

asmara merana

senja menjamu malam,
lalu lalang kisah jalang datang hinggap di atap jiwaku.

ada cinta yang tak bertemu cinta
seperti sesat sasar ia mencari cari saja
pada langit senja mereka bertanya tanya
dan angin yang menjawabnya dengan gelengan kepala

tak semua berjawab
tak semua layak terjawab
bahkan dengan air mata pun tidak
hanya kengerian yang tak terbayang itu datang mendadak

apakah itu cinta jika hanya panggil gulita
apakah itu rindu jika hanya sisakan sendu
apakah itu asmara jika hanya memicu amarah
apakah itu rela jika hanya bibit atas kecewa

senja menjamu malam,
lalu lalang kisah jalang datang hinggap di atap jiwaku.

Bekasi, 07112018
Poetoe

dia dan segelas teh

dia duduk di seberang meja, menikmati sendiri segelas teh tawar tanpa gula, sedang kami duduk mengerumuni, melaporkan hal ihwal hari yang sedari pagi kami jalani.

dia berbicara banyak, tentang usaha yang tak boleh berjeda walau halangan menampar nampar, jika jatuh maka segera bangun, jika jatuh maka segera bangun.

dia sadar ada ilmu yang harus dibaca berulang ulang, detail dan jelas bahkan atas rencana kebaikan yang akan kita jalani.

dia mendongengkan pada kami tentang orang orang yang rendah semangat, yang mudah menghiba padahal tak layak meminta, dan mereka bisa saja lupakan luka kita yang telah kita pikul 10 bulan lalu.

terlupa seperti mudah saja.

dia bercerita banyak hal, dan ceritanya seperti memberi energi untuk lalu lebih yakin, dan angka angka merencana pada papan tulis, terukir dalam dinding senja.

sebelum senja melumat kami, gelas teh itu dihabiskannya sendiri.


Jakarta, 07112018
Poetoe

catatan siang di Pesantren Tuna Netra

dunia tanpa cahaya namun tetap bersinar
ada lentera di dalam benak
tergerai pemahaman yang benar
memadu dalam gerak

dalam remang itu bersama tinggalkan gamang
berpegangan dalam nalar benderang
untaian cinta yang erat saling pegang
jalani segala kurang ini dengan dada tetap lapang

narasi ilahi adalah cahaya teramat cahaya
mengulang ulang dalam bilik ingatan menjadi tenaga
menyimpannya dalam benak yang terjaga
kami bahagia kami bahagia

hari hari serupa temali
teruntai erat sekali
detik detik serupa senandung
terkepung dalam gelap yang menggantung

mata ini kuisi cinta
penglihatan yang hilang ini terganti oleh netra kamajaya
menjamah semesta tanpa dusta
usir enyah kelam nan gulita.

Serpong, 07112018
Poetoe

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...