Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Lawan saja

hantu itu berdiam di gelap malam
berbisik-bisik di ruang ketidaktahuan
menebar getar-getar permusuhan
menjerat dengan jebakan saling curiga

hantu itu tak berbentuk
namun jejaknya terasa
nalar terseret dan terantuk bentur
aromanya jelas terasa

jika tak ada lentera, pejamkan saja mata
biarkan akal sehat tabik selamat
kejar pemahaman utuh itu
agar jelas
agar terang benderang

saat bulu kuduk takut terbangun
arahkan mata dalam gelap
jangan berkedip
paksa mata hantu itu bertatapan
nyalakan nyali
bakar kobar jiwa

lawan!

Bekasi, 26082018
Poetoe

hilang

di keramaian rimbunnya rimba beda
ada yang hilang

di keriuhan derasnya kedunguan
ada yang raib

: kemanusiaan

nyawa menjadi cuma-cuma
dibiarkan meregang nyawa
dalam kerumunan tawa
dan pekik caci maki

2018
Poetoe


catatan setelah jatuh korban suporter bola yang tewas dikeroyok, kematian yang perlu.

Kamis, 20 September 2018

Perempatan jalan

mengapa hanya berhadapan
tanpa sentuh tanpa rengkuh
serupa dua sisi yang bersebelahan
pada bidang segi empat
berjarak
kaku

rasa memiliki ini mula semua luka
luka kehilangan
luka ditinggalkan
luka berjalan sendiri di bawah hujan
dan di perempatan jalan tak ada kau
tak lagi ada tatapan

rasa yang naif
rasa kehilangan atas yang tak termiliki
dan air mata juga hujan bersama basahi kertas undangan di tangan
ada nama kau
ada nama lelaki itu

agh

cintaku terserak
di perempatan jalan
kataku tersedak
di isak sedu sedan.

Jakarta, 19092018
Poetoe

bara matahari pagi

selamat pagi, cinta
keluar rumah ku tantang matahari
dengan lantang aku seru "aku berani datang, sayang"
walau di tengah terang tanah lapang
disambut aku....
dengan sayat-sayat perih
dengan tusuk-tusuk nyeri

ini rindu yang tundukkanku
ini cinta yang gulitakanku

menerobos atmosfermu
terbakar pesawatku, tak aku peduli
membara wajahmu
terkejut, namun lalu hangat aku dekap

erat

pagi ini iri
biarkan saja
aku di sini
menghitung detak jantung kita

erat.

Bekasi, 15092018
Poetoe

sejarah takutku

dari mana ketakutanku?
dari betapa pekatnya kemungkinan-kemungkinan ini penuhi kerat-kerat masa,
sepekat asam laktat di sekujur tubuh di ujung senja
dan kemungkinan ialah rangkaian ketidakmengertian
saat tahu itu hanya duga
saat hitung sebab dan akibat itu hanya rapal ramal
bagaimana aku lalu tak takut?

lentera di perjalanan gelap ini adalah percaya,
saling percaya adalah cahaya
bimbing langkah menjadi yakin tak bergamang

namun saat api percaya itu padam,
maka gelaplah langkah
maka mata luluh dalam tangisan
ketakutan itu menggumpal menjadi kekecewaan bertubi-tubi, berjilid-jilid.

Bekasi, 14092018
Poetoe

mengapa dipaksa memilih?

gerak hati itu ruh atas amal
bersit jahat yang kuasai jiwa bisa dahsyat porandakan kapal
menyelusup dalam saling percaya
berbisik bisik dalam hembus ketaatan tanpa daya

sikap kritis itu sengat atas lelap
tapi rasa hormat yang kalap
justru lahap mengunyah rapinya barisan
belati diacungkan, pilihan yang sama mematikan

padahal tanpa pilihan yang disegerakan dan dipaksakan justru tak ada riak
namun tetap saja
berdalih penyelamatan padahal pembantaian

mengapa tak kau pejamkan mata
lalu gumamkan doa agar terbukalah petunjuk
biarkan nalar berikan isyarat
mana penghancur mana penabur kasih dan sayang?

Bekasi, 14092018
Poetoe

kekang kopi

hitamnya malam kuberteduh
hitamnya kopi terseduh
kelamnya hidup teramat gaduh
manusia tersuruk aduh mengaduh

kuda liar itu meringkik
hasrat liar itu bangkit
mana kendali mana tali kekang
terlepas saja dan debu beterbangan

keluhkan kebebasan yang terlampaui
rindu jeratmu
rindu tertambat olehmu
peluk aku dalam jerujimu

jampang kafe, 14092018
Poetoe

Puncak Bunyi: Sunyi

pada akhirnya kau yang menyelam dalam kelam
kau yang lenyap dalam senyap
kau yang lebur dalam sulur sulur kata

pada akhirnya puncak dari bunyi memang sunyi
masa pencitraan akan usai
orang-orang akan lelah berebut untuk terlihat
orang-orang akan rindu duduk meringkuk di ceruk kesunyian

dan pada akhirnya puncak dari bunyi memang sunyi

kau yang riuh dalam gemuruh rinduku pun akhirnya meredup
kau yang riang dalam gempita asmaraku pun akhirnya mereda

cinta mengendap dalam sayang
gelora mempunya perlahan menjadi platonik
mendewasa
mendewa sang rasa
tak lagi sekedar terasa
melainkan ternikmati
jadi lantunan anggun

pada akhirnya puncak dari bunyi memanglah sunyi

Bekasi, 13092018
Poetoe

kaku beku

bersabar itu menahan
membuat ruang antara
mencipta jeda

tak berkabar ini ujian
membuat ruang tanpa kata
mencipta rangkaian nada

iramanya detak jantung kita
ada namun tanpa jumpa
hanya deru nafas di kejauhan
terlepas saja jadi bongkah air di awan sana

ketukannya denyut nadi kita
rindu tapi tak terikrar
hanya resah yang membelukar
tertahan bersama perdu dan ilalang

aku dan kau
tersekat kaku
terikat beku.

Bekasi, 13092018
Poetoe

perlahan lelap

asam laktat menempel erat
penuhi sekat-sekat di sela otot dan urat
syaraf mengirim pesan ke pusat benak
terpejamlah kelopak mata,
redupkanlah kesadaran,
turunkan fungsi otak kecil
hingga goyang dan limbung berdiriku

ugh...

lelah serupa larutan kental
dan aku terjebak di dalamnya
bergerakku menjadi lamban
menyempitlah ruang pandang

perlahan pejam
perlahan memudar
perlahan lenyaplah sadar
perlahan lepaslah genggam.

.......

Transjakarta, 13092018
Poetoe

setengah sadar

cahaya kuning beterbangan di langit malam, tapi bukan bintang
mungkin lampu mungkin pula efek sakit kepala ini
gelisah ini terlalu lama tertahan
resah atas beda yang lama kusama samakan
berpura-pura memang terlihat sopan
serupa basa basi
tapi perlahan menggerus pertahanan hati
melukai perlahan
lalu menaburi dengan garam

kunang-kunang beterbangan, tapi kunang-kunangkah?
ataukah kenangan yang menjelma jadi dosa dan menyala-nyala bagai kerlip lampu pesta di langit-langit otak?

dan tubuh menjadi sarana ruh dan jiwa menemukan rasa
dingin dan getir
lirih dan perih
bukankah ingatan terkadang hanya jadi sengatan yang mengoyak pusat rasa?

jangan lalu ingin henti,
karena berhenti itu lalu mati.

Transjakarta, 13092018
Poetoe

Puisi cinta yang tumbuh

sudahkah kau tuliskan puisi untukku hari ini?
selarut ini aku masih menunggu rangkaian katamu

tak adakah cukup rindu di dalam benak dan kotak hatimu yang menghiba paksa meminta disihir menjadi sulur-sulur kata

padahal aku tak berharap kata-katamu adalah puja puji dan bujuk rayu, sekedar kecap sederhana pengusir senyap pun tak mengapa

cinta pada akhirnya akan mendewasa, bisa tetap bertahan walau tanpa tatap temu,
bisa tetap tumbuh walau tanpa ikrar dalam riuh,
bisa tetap kuat walau tanpa ikatan baiat yang diulang ulang,
bisa tetap saling ingat mengingat, saling erat jabat menjaga, tanpa sekat tanpa basa basi hormat yang penuh syak wasangka

sudahkah kau tuliskan puisi untukku hari ini?
selarut ini aku masih menunggu rangkaian katamu

Bekasi, 06092018
Poetoe

lupa atau tahu

"Bantu aku, lupakan semua"

"aku usahakan"

kenyataannya tak mudah, ingatan dan kenangan tak mudah menyerah pada kata "lupakan"

semakin keras usaha untuk menghapusnya, mereka justru melawan
membenturkannya hanya ciptakan percikan
justru semakin membara

mungkin seperti pilihan, mau lupa diri atau tahu diri?

lupa diri dapat membahayakan semua, lebih aman tahu diri.

kita mungkin memang tak perlu saling melupakan, cukuplah saling memahami diri, tahu diri.

-mereka berdua menunduk
di restoran yang semakin sepi-

Halte BNN, 05092018
Poetoe

Kopi Inflasi

jantung berdetak lebih cepat, namun tubuh lebih perlahan bergerak
bersandar pada pendar terik gamang
nikmati residu bincang
kopi dan kelelahan siang
beradu padu

dan jeda jarak ekonomi
kota dan desa
lelaki di dekat Cilacap yang nikmati pelannya waktu
sedang kita di bawah kilap gedung gedung kehabisan detak senggang
megap megap

uang seperti punya nyawa
bergerak di sela sela butuh dan ingin
menari nari di antara kerja dan cinta
merindumu pun ku perlu kanvas
di tepi napas
diterjang jarak yang culas

kutambahkan saja kopiku
jantung berdetak lebih cepat, namun tubuh lebih perlahan bergerak

Jampang kafe, 28082018
Poetoe

Senin, 03 September 2018

kopi dan ia

ia aku tenggelamkan dalam genangan kopiku
senyumnya terlalu sering berkelebat di sesat mata
wajahnya terlalu rajin ijin tinggal di pangkal benak
kata katanya terulang ulang di ruang dengar dan ingatanku

maka ia aku benamkan saja dalam genangan kopiku

walau lalu aku sruput perlahan
nikmati imaji rasa dan segela cerita tentang ia
bagaimana lalu lupakan ia, bahkan dalam genangan kopi panas yang telah terbenami olehnya itu aku nikmati teguk demi teguk

ia sepertinya justru menghidupi lambungku
ia sepertinya justru menjalari nadi darahku

ia mengaku
aku mengia

Rest Area 62, 26 Agustus 2018
Poetoe

Minggu, 06 September 2015

Senandung Kopi

Intronya adalah nada tentang mimpi
Lalu perlahan puisi lembut itu terdendangkan
Rangkaiannya adalah segenap rasa
Rindu yang terseret
Ketiadaan yang bukan karena jarak
Melainkan atmosfer saja yang tak mendukung

Dan segelas kopi seolah penawar
Karena jika ada kau tak lagi aku butuh kopi
Kau menggenapkan kehilangan yang kucari dari genangan hitam itu

Lalu interludenya adalah sepi yang tak dibuat - buat
Dengung saja penuhi birama
Hingga perlahan derap drum kembali terdengar
Dan chorus merobek sunyi....
Menggelepar dahaga rindu

Larut saja
Sampai birama terakhir itu memaksa senandung ini berakhir.
Tanpa nada yang perlahan memelan
Karena berhenti begitu saja

Begitu saja.

Poetoe / 6 Septemper 2015
Nyaris tengah malam.

Senin, 27 Juli 2015

Rahsia

Terkadang dinampakkan itu tak buat bangga dan bahagia. Namun sebaliknya, saat disembunyikan justru terasa lebih berharga.

Tak sebut nama, tak ungkap kata, tak cantumkan dalam warta....
Namun dalam mata demikian indah tersimpan.

Kelopak yang mengerjap, jendela jiwa yang anggun.

Diam seperti sekam, bebintang bersulam awan....

Kunikmati saja.

poetoe, juli 2015

Kamis, 12 Maret 2015

Antara kita. Antara kita, saja (untuk MPing)

Rasanya belum lama,
Ini tentang genangan yang kita tuang bersama.
Nafas yang kita bagi pada semesta
Angin yang kita tiupkan pada segenap ruang.

Lepaskan keheningan, enyahkan
Indahnya sunyi yang kita usir dengan tawa
Laparnya kesedihan terkenyangkan dengan gelegak bahagia
Antara kita. Antara kita, saja.

Kita adalah armada harapan
Hidup dalam bahtera
Asah mimpi
Menyiasati waktu
Dalam cengkerama hangat
Antara kita. Antara kita, saja.
Nama kita tercatat di permukaan meja biru.

Pastikan ini tak hanya sementara
Untuk menjaga rima dan
Tarian jelang perpisahan
Ulurkan tangan... ayo berpegangan.

Senin, 16 Februari 2015

Rejana malam

Daun pintu terayun
angin berhenti persis di depan lubang hidung
suara menggantung
nada meraung

Malam menyelam
suara gelas diletakkan di atas meja kaca
kau bersenandung
katak menangisi mendung

Kata meronta dalam sepi
mencari gendang telingamu
atau sekedar tangkap nafasmu
jika kata itu tersaji dalam tulisan,
berharap ternikmati oleh retina matamu

Kau pada gulita rinduku
aku mengerjap kerjap
mencari sekedar percikan basa basi pedulimu
mencari sekedar kerelaanmu untuk aku lumuri sekujurmu dalam tatapku....

aku mengendap endap
bersembunyi dari senyap
yang mengunyah lahap
setiap mimpi hingga lenyap
.... tak berbekas

Moksa.

Poetoe, Februari 2015

Kamis, 05 Februari 2015

Selamat bernafas

Hai....
Aku berhasil menangkap hangat matahari
...dalam semburat yang tak jelas.

Menangkap lalu melepas
Seperti nafas, menghirup lalu menghembus

Mau lari kemana aku jika sedih itu demikian pandai menghantui.
Yang mungkin justru aku rebah pasrah
Dalam cengkeraman duka yang tak jelas
Terlahir oleh bahagia yang didustai atau
.... kehilangan yang tak seharusnya.

Selamat bernafas.


Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...