hantu itu berdiam di gelap malam
berbisik-bisik di ruang ketidaktahuan
menebar getar-getar permusuhan
menjerat dengan jebakan saling curiga
hantu itu tak berbentuk
namun jejaknya terasa
nalar terseret dan terantuk bentur
aromanya jelas terasa
jika tak ada lentera, pejamkan saja mata
biarkan akal sehat tabik selamat
kejar pemahaman utuh itu
agar jelas
agar terang benderang
saat bulu kuduk takut terbangun
arahkan mata dalam gelap
jangan berkedip
paksa mata hantu itu bertatapan
nyalakan nyali
bakar kobar jiwa
lawan!
Bekasi, 26082018
Poetoe
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 September 2018
hilang
di keramaian rimbunnya rimba beda
ada yang hilang
di keriuhan derasnya kedunguan
ada yang raib
: kemanusiaan
nyawa menjadi cuma-cuma
dibiarkan meregang nyawa
dalam kerumunan tawa
dan pekik caci maki
2018
Poetoe
catatan setelah jatuh korban suporter bola yang tewas dikeroyok, kematian yang perlu.
ada yang hilang
di keriuhan derasnya kedunguan
ada yang raib
: kemanusiaan
nyawa menjadi cuma-cuma
dibiarkan meregang nyawa
dalam kerumunan tawa
dan pekik caci maki
2018
Poetoe
catatan setelah jatuh korban suporter bola yang tewas dikeroyok, kematian yang perlu.
Kamis, 20 September 2018
Perempatan jalan
mengapa hanya berhadapan
tanpa sentuh tanpa rengkuh
serupa dua sisi yang bersebelahan
pada bidang segi empat
berjarak
kaku
rasa memiliki ini mula semua luka
luka kehilangan
luka ditinggalkan
luka berjalan sendiri di bawah hujan
dan di perempatan jalan tak ada kau
tak lagi ada tatapan
rasa yang naif
rasa kehilangan atas yang tak termiliki
dan air mata juga hujan bersama basahi kertas undangan di tangan
ada nama kau
ada nama lelaki itu
agh
cintaku terserak
di perempatan jalan
kataku tersedak
di isak sedu sedan.
Jakarta, 19092018
Poetoe
tanpa sentuh tanpa rengkuh
serupa dua sisi yang bersebelahan
pada bidang segi empat
berjarak
kaku
rasa memiliki ini mula semua luka
luka kehilangan
luka ditinggalkan
luka berjalan sendiri di bawah hujan
dan di perempatan jalan tak ada kau
tak lagi ada tatapan
rasa yang naif
rasa kehilangan atas yang tak termiliki
dan air mata juga hujan bersama basahi kertas undangan di tangan
ada nama kau
ada nama lelaki itu
agh
cintaku terserak
di perempatan jalan
kataku tersedak
di isak sedu sedan.
Jakarta, 19092018
Poetoe
bara matahari pagi
selamat pagi, cinta
keluar rumah ku tantang matahari
dengan lantang aku seru "aku berani datang, sayang"
walau di tengah terang tanah lapang
disambut aku....
dengan sayat-sayat perih
dengan tusuk-tusuk nyeri
ini rindu yang tundukkanku
ini cinta yang gulitakanku
menerobos atmosfermu
terbakar pesawatku, tak aku peduli
membara wajahmu
terkejut, namun lalu hangat aku dekap
erat
pagi ini iri
biarkan saja
aku di sini
menghitung detak jantung kita
erat.
Bekasi, 15092018
Poetoe
keluar rumah ku tantang matahari
dengan lantang aku seru "aku berani datang, sayang"
walau di tengah terang tanah lapang
disambut aku....
dengan sayat-sayat perih
dengan tusuk-tusuk nyeri
ini rindu yang tundukkanku
ini cinta yang gulitakanku
menerobos atmosfermu
terbakar pesawatku, tak aku peduli
membara wajahmu
terkejut, namun lalu hangat aku dekap
erat
pagi ini iri
biarkan saja
aku di sini
menghitung detak jantung kita
erat.
Bekasi, 15092018
Poetoe
sejarah takutku
dari mana ketakutanku?
dari betapa pekatnya kemungkinan-kemungkinan ini penuhi kerat-kerat masa,
sepekat asam laktat di sekujur tubuh di ujung senja
dan kemungkinan ialah rangkaian ketidakmengertian
saat tahu itu hanya duga
saat hitung sebab dan akibat itu hanya rapal ramal
bagaimana aku lalu tak takut?
lentera di perjalanan gelap ini adalah percaya,
saling percaya adalah cahaya
bimbing langkah menjadi yakin tak bergamang
namun saat api percaya itu padam,
maka gelaplah langkah
maka mata luluh dalam tangisan
ketakutan itu menggumpal menjadi kekecewaan bertubi-tubi, berjilid-jilid.
Bekasi, 14092018
Poetoe
dari betapa pekatnya kemungkinan-kemungkinan ini penuhi kerat-kerat masa,
sepekat asam laktat di sekujur tubuh di ujung senja
dan kemungkinan ialah rangkaian ketidakmengertian
saat tahu itu hanya duga
saat hitung sebab dan akibat itu hanya rapal ramal
bagaimana aku lalu tak takut?
lentera di perjalanan gelap ini adalah percaya,
saling percaya adalah cahaya
bimbing langkah menjadi yakin tak bergamang
namun saat api percaya itu padam,
maka gelaplah langkah
maka mata luluh dalam tangisan
ketakutan itu menggumpal menjadi kekecewaan bertubi-tubi, berjilid-jilid.
Bekasi, 14092018
Poetoe
mengapa dipaksa memilih?
gerak hati itu ruh atas amal
bersit jahat yang kuasai jiwa bisa dahsyat porandakan kapal
menyelusup dalam saling percaya
berbisik bisik dalam hembus ketaatan tanpa daya
sikap kritis itu sengat atas lelap
tapi rasa hormat yang kalap
justru lahap mengunyah rapinya barisan
belati diacungkan, pilihan yang sama mematikan
padahal tanpa pilihan yang disegerakan dan dipaksakan justru tak ada riak
namun tetap saja
berdalih penyelamatan padahal pembantaian
mengapa tak kau pejamkan mata
lalu gumamkan doa agar terbukalah petunjuk
biarkan nalar berikan isyarat
mana penghancur mana penabur kasih dan sayang?
Bekasi, 14092018
Poetoe
bersit jahat yang kuasai jiwa bisa dahsyat porandakan kapal
menyelusup dalam saling percaya
berbisik bisik dalam hembus ketaatan tanpa daya
sikap kritis itu sengat atas lelap
tapi rasa hormat yang kalap
justru lahap mengunyah rapinya barisan
belati diacungkan, pilihan yang sama mematikan
padahal tanpa pilihan yang disegerakan dan dipaksakan justru tak ada riak
namun tetap saja
berdalih penyelamatan padahal pembantaian
mengapa tak kau pejamkan mata
lalu gumamkan doa agar terbukalah petunjuk
biarkan nalar berikan isyarat
mana penghancur mana penabur kasih dan sayang?
Bekasi, 14092018
Poetoe
kekang kopi
hitamnya malam kuberteduh
hitamnya kopi terseduh
kelamnya hidup teramat gaduh
manusia tersuruk aduh mengaduh
kuda liar itu meringkik
hasrat liar itu bangkit
mana kendali mana tali kekang
terlepas saja dan debu beterbangan
keluhkan kebebasan yang terlampaui
rindu jeratmu
rindu tertambat olehmu
peluk aku dalam jerujimu
jampang kafe, 14092018
Poetoe
hitamnya kopi terseduh
kelamnya hidup teramat gaduh
manusia tersuruk aduh mengaduh
kuda liar itu meringkik
hasrat liar itu bangkit
mana kendali mana tali kekang
terlepas saja dan debu beterbangan
keluhkan kebebasan yang terlampaui
rindu jeratmu
rindu tertambat olehmu
peluk aku dalam jerujimu
jampang kafe, 14092018
Poetoe
Puncak Bunyi: Sunyi
pada akhirnya kau yang menyelam dalam kelam
kau yang lenyap dalam senyap
kau yang lebur dalam sulur sulur kata
pada akhirnya puncak dari bunyi memang sunyi
masa pencitraan akan usai
orang-orang akan lelah berebut untuk terlihat
orang-orang akan rindu duduk meringkuk di ceruk kesunyian
dan pada akhirnya puncak dari bunyi memang sunyi
kau yang riuh dalam gemuruh rinduku pun akhirnya meredup
kau yang riang dalam gempita asmaraku pun akhirnya mereda
cinta mengendap dalam sayang
gelora mempunya perlahan menjadi platonik
mendewasa
mendewa sang rasa
tak lagi sekedar terasa
melainkan ternikmati
jadi lantunan anggun
pada akhirnya puncak dari bunyi memanglah sunyi
Bekasi, 13092018
Poetoe
kau yang lenyap dalam senyap
kau yang lebur dalam sulur sulur kata
pada akhirnya puncak dari bunyi memang sunyi
masa pencitraan akan usai
orang-orang akan lelah berebut untuk terlihat
orang-orang akan rindu duduk meringkuk di ceruk kesunyian
dan pada akhirnya puncak dari bunyi memang sunyi
kau yang riuh dalam gemuruh rinduku pun akhirnya meredup
kau yang riang dalam gempita asmaraku pun akhirnya mereda
cinta mengendap dalam sayang
gelora mempunya perlahan menjadi platonik
mendewasa
mendewa sang rasa
tak lagi sekedar terasa
melainkan ternikmati
jadi lantunan anggun
pada akhirnya puncak dari bunyi memanglah sunyi
Bekasi, 13092018
Poetoe
kaku beku
bersabar itu menahan
membuat ruang antara
mencipta jeda
tak berkabar ini ujian
membuat ruang tanpa kata
mencipta rangkaian nada
iramanya detak jantung kita
ada namun tanpa jumpa
hanya deru nafas di kejauhan
terlepas saja jadi bongkah air di awan sana
ketukannya denyut nadi kita
rindu tapi tak terikrar
hanya resah yang membelukar
tertahan bersama perdu dan ilalang
aku dan kau
tersekat kaku
terikat beku.
Bekasi, 13092018
Poetoe
membuat ruang antara
mencipta jeda
tak berkabar ini ujian
membuat ruang tanpa kata
mencipta rangkaian nada
iramanya detak jantung kita
ada namun tanpa jumpa
hanya deru nafas di kejauhan
terlepas saja jadi bongkah air di awan sana
ketukannya denyut nadi kita
rindu tapi tak terikrar
hanya resah yang membelukar
tertahan bersama perdu dan ilalang
aku dan kau
tersekat kaku
terikat beku.
Bekasi, 13092018
Poetoe
perlahan lelap
asam laktat menempel erat
penuhi sekat-sekat di sela otot dan urat
syaraf mengirim pesan ke pusat benak
terpejamlah kelopak mata,
redupkanlah kesadaran,
turunkan fungsi otak kecil
hingga goyang dan limbung berdiriku
ugh...
lelah serupa larutan kental
dan aku terjebak di dalamnya
bergerakku menjadi lamban
menyempitlah ruang pandang
perlahan pejam
perlahan memudar
perlahan lenyaplah sadar
perlahan lepaslah genggam.
.......
Transjakarta, 13092018
Poetoe
penuhi sekat-sekat di sela otot dan urat
syaraf mengirim pesan ke pusat benak
terpejamlah kelopak mata,
redupkanlah kesadaran,
turunkan fungsi otak kecil
hingga goyang dan limbung berdiriku
ugh...
lelah serupa larutan kental
dan aku terjebak di dalamnya
bergerakku menjadi lamban
menyempitlah ruang pandang
perlahan pejam
perlahan memudar
perlahan lenyaplah sadar
perlahan lepaslah genggam.
.......
Transjakarta, 13092018
Poetoe
setengah sadar
cahaya kuning beterbangan di langit malam, tapi bukan bintang
mungkin lampu mungkin pula efek sakit kepala ini
gelisah ini terlalu lama tertahan
resah atas beda yang lama kusama samakan
berpura-pura memang terlihat sopan
serupa basa basi
tapi perlahan menggerus pertahanan hati
melukai perlahan
lalu menaburi dengan garam
kunang-kunang beterbangan, tapi kunang-kunangkah?
ataukah kenangan yang menjelma jadi dosa dan menyala-nyala bagai kerlip lampu pesta di langit-langit otak?
dan tubuh menjadi sarana ruh dan jiwa menemukan rasa
dingin dan getir
lirih dan perih
bukankah ingatan terkadang hanya jadi sengatan yang mengoyak pusat rasa?
jangan lalu ingin henti,
karena berhenti itu lalu mati.
Transjakarta, 13092018
Poetoe
mungkin lampu mungkin pula efek sakit kepala ini
gelisah ini terlalu lama tertahan
resah atas beda yang lama kusama samakan
berpura-pura memang terlihat sopan
serupa basa basi
tapi perlahan menggerus pertahanan hati
melukai perlahan
lalu menaburi dengan garam
kunang-kunang beterbangan, tapi kunang-kunangkah?
ataukah kenangan yang menjelma jadi dosa dan menyala-nyala bagai kerlip lampu pesta di langit-langit otak?
dan tubuh menjadi sarana ruh dan jiwa menemukan rasa
dingin dan getir
lirih dan perih
bukankah ingatan terkadang hanya jadi sengatan yang mengoyak pusat rasa?
jangan lalu ingin henti,
karena berhenti itu lalu mati.
Transjakarta, 13092018
Poetoe
Puisi cinta yang tumbuh
sudahkah kau tuliskan puisi untukku hari ini?
selarut ini aku masih menunggu rangkaian katamu
tak adakah cukup rindu di dalam benak dan kotak hatimu yang menghiba paksa meminta disihir menjadi sulur-sulur kata
padahal aku tak berharap kata-katamu adalah puja puji dan bujuk rayu, sekedar kecap sederhana pengusir senyap pun tak mengapa
cinta pada akhirnya akan mendewasa, bisa tetap bertahan walau tanpa tatap temu,
bisa tetap tumbuh walau tanpa ikrar dalam riuh,
bisa tetap kuat walau tanpa ikatan baiat yang diulang ulang,
bisa tetap saling ingat mengingat, saling erat jabat menjaga, tanpa sekat tanpa basa basi hormat yang penuh syak wasangka
sudahkah kau tuliskan puisi untukku hari ini?
selarut ini aku masih menunggu rangkaian katamu
Bekasi, 06092018
Poetoe
selarut ini aku masih menunggu rangkaian katamu
tak adakah cukup rindu di dalam benak dan kotak hatimu yang menghiba paksa meminta disihir menjadi sulur-sulur kata
padahal aku tak berharap kata-katamu adalah puja puji dan bujuk rayu, sekedar kecap sederhana pengusir senyap pun tak mengapa
cinta pada akhirnya akan mendewasa, bisa tetap bertahan walau tanpa tatap temu,
bisa tetap tumbuh walau tanpa ikrar dalam riuh,
bisa tetap kuat walau tanpa ikatan baiat yang diulang ulang,
bisa tetap saling ingat mengingat, saling erat jabat menjaga, tanpa sekat tanpa basa basi hormat yang penuh syak wasangka
sudahkah kau tuliskan puisi untukku hari ini?
selarut ini aku masih menunggu rangkaian katamu
Bekasi, 06092018
Poetoe
lupa atau tahu
"Bantu aku, lupakan semua"
"aku usahakan"
kenyataannya tak mudah, ingatan dan kenangan tak mudah menyerah pada kata "lupakan"
semakin keras usaha untuk menghapusnya, mereka justru melawan
membenturkannya hanya ciptakan percikan
justru semakin membara
mungkin seperti pilihan, mau lupa diri atau tahu diri?
lupa diri dapat membahayakan semua, lebih aman tahu diri.
kita mungkin memang tak perlu saling melupakan, cukuplah saling memahami diri, tahu diri.
-mereka berdua menunduk
di restoran yang semakin sepi-
Halte BNN, 05092018
Poetoe
"aku usahakan"
kenyataannya tak mudah, ingatan dan kenangan tak mudah menyerah pada kata "lupakan"
semakin keras usaha untuk menghapusnya, mereka justru melawan
membenturkannya hanya ciptakan percikan
justru semakin membara
mungkin seperti pilihan, mau lupa diri atau tahu diri?
lupa diri dapat membahayakan semua, lebih aman tahu diri.
kita mungkin memang tak perlu saling melupakan, cukuplah saling memahami diri, tahu diri.
-mereka berdua menunduk
di restoran yang semakin sepi-
Halte BNN, 05092018
Poetoe
Kopi Inflasi
jantung berdetak lebih cepat, namun tubuh lebih perlahan bergerak
bersandar pada pendar terik gamang
nikmati residu bincang
kopi dan kelelahan siang
beradu padu
dan jeda jarak ekonomi
kota dan desa
lelaki di dekat Cilacap yang nikmati pelannya waktu
sedang kita di bawah kilap gedung gedung kehabisan detak senggang
megap megap
uang seperti punya nyawa
bergerak di sela sela butuh dan ingin
menari nari di antara kerja dan cinta
merindumu pun ku perlu kanvas
di tepi napas
diterjang jarak yang culas
kutambahkan saja kopiku
jantung berdetak lebih cepat, namun tubuh lebih perlahan bergerak
Jampang kafe, 28082018
Poetoe
bersandar pada pendar terik gamang
nikmati residu bincang
kopi dan kelelahan siang
beradu padu
dan jeda jarak ekonomi
kota dan desa
lelaki di dekat Cilacap yang nikmati pelannya waktu
sedang kita di bawah kilap gedung gedung kehabisan detak senggang
megap megap
uang seperti punya nyawa
bergerak di sela sela butuh dan ingin
menari nari di antara kerja dan cinta
merindumu pun ku perlu kanvas
di tepi napas
diterjang jarak yang culas
kutambahkan saja kopiku
jantung berdetak lebih cepat, namun tubuh lebih perlahan bergerak
Jampang kafe, 28082018
Poetoe
Senin, 03 September 2018
kopi dan ia
ia aku tenggelamkan dalam genangan kopiku
senyumnya terlalu sering berkelebat di sesat mata
wajahnya terlalu rajin ijin tinggal di pangkal benak
kata katanya terulang ulang di ruang dengar dan ingatanku
maka ia aku benamkan saja dalam genangan kopiku
walau lalu aku sruput perlahan
nikmati imaji rasa dan segela cerita tentang ia
bagaimana lalu lupakan ia, bahkan dalam genangan kopi panas yang telah terbenami olehnya itu aku nikmati teguk demi teguk
ia sepertinya justru menghidupi lambungku
ia sepertinya justru menjalari nadi darahku
ia mengaku
aku mengia
Rest Area 62, 26 Agustus 2018
Poetoe
senyumnya terlalu sering berkelebat di sesat mata
wajahnya terlalu rajin ijin tinggal di pangkal benak
kata katanya terulang ulang di ruang dengar dan ingatanku
maka ia aku benamkan saja dalam genangan kopiku
walau lalu aku sruput perlahan
nikmati imaji rasa dan segela cerita tentang ia
bagaimana lalu lupakan ia, bahkan dalam genangan kopi panas yang telah terbenami olehnya itu aku nikmati teguk demi teguk
ia sepertinya justru menghidupi lambungku
ia sepertinya justru menjalari nadi darahku
ia mengaku
aku mengia
Rest Area 62, 26 Agustus 2018
Poetoe
Minggu, 06 September 2015
Senandung Kopi
Intronya adalah nada tentang mimpi
Lalu perlahan puisi lembut itu terdendangkan
Rangkaiannya adalah segenap rasa
Rindu yang terseret
Ketiadaan yang bukan karena jarak
Melainkan atmosfer saja yang tak mendukung
Dan segelas kopi seolah penawar
Karena jika ada kau tak lagi aku butuh kopi
Kau menggenapkan kehilangan yang kucari dari genangan hitam itu
Lalu interludenya adalah sepi yang tak dibuat - buat
Dengung saja penuhi birama
Hingga perlahan derap drum kembali terdengar
Dan chorus merobek sunyi....
Menggelepar dahaga rindu
Larut saja
Sampai birama terakhir itu memaksa senandung ini berakhir.
Tanpa nada yang perlahan memelan
Karena berhenti begitu saja
Begitu saja.
Poetoe / 6 Septemper 2015
Nyaris tengah malam.
Lalu perlahan puisi lembut itu terdendangkan
Rangkaiannya adalah segenap rasa
Rindu yang terseret
Ketiadaan yang bukan karena jarak
Melainkan atmosfer saja yang tak mendukung
Dan segelas kopi seolah penawar
Karena jika ada kau tak lagi aku butuh kopi
Kau menggenapkan kehilangan yang kucari dari genangan hitam itu
Lalu interludenya adalah sepi yang tak dibuat - buat
Dengung saja penuhi birama
Hingga perlahan derap drum kembali terdengar
Dan chorus merobek sunyi....
Menggelepar dahaga rindu
Larut saja
Sampai birama terakhir itu memaksa senandung ini berakhir.
Tanpa nada yang perlahan memelan
Karena berhenti begitu saja
Begitu saja.
Poetoe / 6 Septemper 2015
Nyaris tengah malam.
Senin, 27 Juli 2015
Rahsia
Terkadang dinampakkan itu tak buat bangga dan bahagia. Namun sebaliknya, saat disembunyikan justru terasa lebih berharga.
Tak sebut nama, tak ungkap kata, tak cantumkan dalam warta....
Namun dalam mata demikian indah tersimpan.
Kelopak yang mengerjap, jendela jiwa yang anggun.
Diam seperti sekam, bebintang bersulam awan....
Kunikmati saja.
poetoe, juli 2015
Tak sebut nama, tak ungkap kata, tak cantumkan dalam warta....
Namun dalam mata demikian indah tersimpan.
Kelopak yang mengerjap, jendela jiwa yang anggun.
Diam seperti sekam, bebintang bersulam awan....
Kunikmati saja.
poetoe, juli 2015
Kamis, 12 Maret 2015
Antara kita. Antara kita, saja (untuk MPing)
Rasanya belum lama,
Ini tentang genangan yang kita tuang bersama.
Nafas yang kita bagi pada semesta
Angin yang kita tiupkan pada segenap ruang.
Lepaskan keheningan, enyahkan
Indahnya sunyi yang kita usir dengan tawa
Laparnya kesedihan terkenyangkan dengan gelegak bahagia
Antara kita. Antara kita, saja.
Kita adalah armada harapan
Hidup dalam bahtera
Asah mimpi
Menyiasati waktu
Dalam cengkerama hangat
Antara kita. Antara kita, saja.
Nama kita tercatat di permukaan meja biru.
Pastikan ini tak hanya sementara
Untuk menjaga rima dan
Tarian jelang perpisahan
Ulurkan tangan... ayo berpegangan.
Ini tentang genangan yang kita tuang bersama.Nafas yang kita bagi pada semesta
Angin yang kita tiupkan pada segenap ruang.
Lepaskan keheningan, enyahkan
Indahnya sunyi yang kita usir dengan tawa
Laparnya kesedihan terkenyangkan dengan gelegak bahagia
Antara kita. Antara kita, saja.
Kita adalah armada harapan
Hidup dalam bahtera
Asah mimpi
Menyiasati waktu
Dalam cengkerama hangat
Antara kita. Antara kita, saja.
Nama kita tercatat di permukaan meja biru.
Pastikan ini tak hanya sementara
Untuk menjaga rima dan
Tarian jelang perpisahan
Ulurkan tangan... ayo berpegangan.
Senin, 16 Februari 2015
Rejana malam
Daun pintu terayun
angin berhenti persis di depan lubang hidung
suara menggantung
nada meraung
Malam menyelam
suara gelas diletakkan di atas meja kaca
kau bersenandung
katak menangisi mendung
Kata meronta dalam sepi
mencari gendang telingamu
atau sekedar tangkap nafasmu
jika kata itu tersaji dalam tulisan,
berharap ternikmati oleh retina matamu
Kau pada gulita rinduku
aku mengerjap kerjap
mencari sekedar percikan basa basi pedulimu
mencari sekedar kerelaanmu untuk aku lumuri sekujurmu dalam tatapku....
aku mengendap endap
bersembunyi dari senyap
yang mengunyah lahap
setiap mimpi hingga lenyap
.... tak berbekas
Moksa.
Poetoe, Februari 2015
angin berhenti persis di depan lubang hidung
suara menggantung
nada meraung
Malam menyelam
suara gelas diletakkan di atas meja kaca
kau bersenandung
katak menangisi mendung
Kata meronta dalam sepi
mencari gendang telingamu
atau sekedar tangkap nafasmu
jika kata itu tersaji dalam tulisan,
berharap ternikmati oleh retina matamu
Kau pada gulita rinduku
aku mengerjap kerjap
mencari sekedar percikan basa basi pedulimu
mencari sekedar kerelaanmu untuk aku lumuri sekujurmu dalam tatapku....
aku mengendap endap
bersembunyi dari senyap
yang mengunyah lahap
setiap mimpi hingga lenyap
.... tak berbekas
Moksa.
Poetoe, Februari 2015
Kamis, 05 Februari 2015
Selamat bernafas
Hai....
Aku berhasil menangkap hangat matahari
...dalam semburat yang tak jelas.
Menangkap lalu melepas
Seperti nafas, menghirup lalu menghembus
Mau lari kemana aku jika sedih itu demikian pandai menghantui.
Yang mungkin justru aku rebah pasrah
Dalam cengkeraman duka yang tak jelas
Terlahir oleh bahagia yang didustai atau
.... kehilangan yang tak seharusnya.
Selamat bernafas.
Aku berhasil menangkap hangat matahari
...dalam semburat yang tak jelas.
Menangkap lalu melepas
Seperti nafas, menghirup lalu menghembus
Mau lari kemana aku jika sedih itu demikian pandai menghantui.
Yang mungkin justru aku rebah pasrah
Dalam cengkeraman duka yang tak jelas
Terlahir oleh bahagia yang didustai atau
.... kehilangan yang tak seharusnya.
Selamat bernafas.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...