Berbeda pendapat adalah satu hal yang tak bisa dihindari. Karena cara berpikir manusia memang berbeda beda. Setiap pendapat dipengaruhi latar belakang, sejarah, masa lalu dan mungkin juga harapan dan kepentingan yang bersangkutan.
Seperti kemarin saat pertemuan wali murid di sekolah anak, seorang ibu berpendapat tentang pentingnya keseriusan pihak sekolah dan orang tua dalam menyambut ujian kelulusan anak di kelas 6. Dia menganalogikan "perang". Atas langkah-langkah yang dia usulkan sebenarnya aku sepakat, namun pada pengistilahan "perang" itu yang membuat aku tergoda ikut berpendapat. Aku tunjuk tangan.
Aku sampaikan, kekhawatiranku sebagai orang tua, bukan atas jeleknya nilai ujian anakku melainkan pada stres sang anak atas suasana seram ujian yang dibangun secara sistemik ini. Beberapa orang tua murid lain ternyata sepakat. Diskusi pun berkembang, menjadi dua kubu. Satu sisi kubu ibu penanya pertama, yang mendapat dukungan dari kepala sekolah yang juga berpendapat bahwa anak-anak sekarang lebih butuh "disiplin" ketimbang belajar yang asik-asik saja. Sementara di satu sisi, beberapa orang tua murid yang lebih mengkhatirkan kondisi psikologis anak, atas ujian yang seolah demikian menyeramkan padahal ujian itu hanya sebagian proses belajar yang harus mereka jalani.
Setelah pertemuan, aku jadi berpikir banyak hal. Sebenarnya cara mana yang lebih efektif untuk anak kita? Mungkin memang benar yang disampaikan kepala sekolah bahwa ketegangan itu dibutuhkan untuk menanamkan kedisiplinan dan motivasi anak. Namun dalam hati aku masih ingin berbantah lebih lanjut tentang motivasi anak yang lebih asasi, bukan stres dan rasa takut melainkan cinta ilmu. Cinta atas ilmu yang demikian kuat akan membuat sang anak lebih enjoy dalam belajar. Proses pemahaman atas filosofi ilmu ini yang butuh keseriusan. Karena memang tak mudah. Namun tak mudah tidaklah bermakna tak mungkin.
Cara belajar asik ini akan aku bahas lebih dalam pada tulisan khusus. Untuk saat ini, aku justru lebih terpikir bahwa beda pendapat itu memang perlu. Dan pelajaran dari beda pendapat itu adalah bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana kesiapan sikap kita saat keputusan hasil rapat berbeda dengan pandangan kita. Agar selalu siap dengan hasil rapat, maka kita butuh dasar pemikiran yang tepat, paling tidak: mereka bisa saja benar, dan kita bisa saja salah.
Bisa jadi Alloh memberi petunjuk kepada kita dari pihak yang berbeda pendapat dengan kita. Petunjuk bahwa kita keliru. Jadi teringat hikmah berbanyak istighfar dan bahayanya sombong. Istighfar adalah merasa bersalah dan memohon ampun, mengingatkan kita untuk selalu memohon ampunan atas kekeliruan kita. Demikian pula sombong menjadi berbahaya, karena merasa kita benar dan hebat itu pada akhirnya akan menjerumuskan kita pada kesesatan yang nyata.
Wallohu a'lam.
Poetoe / 17 Agustus 2015
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Agustus 2015
Jumat, 20 Februari 2015
tentang tahu diri (3)
Semalam dalam diamku, sebagai bagian dari proses tahu diriku... aku menemukan cara yang mungkin bisa menyelesaikan kegelisahanku. Adalah dengan membongkar semua rasa tak nyaman di hati. Lalu mengurainya perlahan. Dan akhirnya melepaskannya dengan mengikhlaskannya.
Ada bayangan kegagalanku di masa lalu, atau justru bayangan kegagalanku di masa depan. Juga tentang dendam, iri, prasangka dan sikap-sikap hati negatif lainnya.
Aku bongkar atas sikap-sikap hati tersebut. Aku kunyah pelan-pelan. Untuk lalu aku relakan. Aku ikhlaskan.
Beban akan terasa ringan jika kita relakan ia lepas. Menyimpannya berlama lama hanya akan membuat kita tersiksa.
Ada bayangan kegagalanku di masa lalu, atau justru bayangan kegagalanku di masa depan. Juga tentang dendam, iri, prasangka dan sikap-sikap hati negatif lainnya.
Aku bongkar atas sikap-sikap hati tersebut. Aku kunyah pelan-pelan. Untuk lalu aku relakan. Aku ikhlaskan.
Beban akan terasa ringan jika kita relakan ia lepas. Menyimpannya berlama lama hanya akan membuat kita tersiksa.
tentang tahu diri (2)
Ini seperti pegas, ditekan dulu lalu akan terdorong kuat ke depan. Berawal dari kesadaran atas kelemahan maka kita bersiap hentakkan energi diri melesat menjadi hebat. Semakin menunduk, semakin kuat dorongannya.
Seperti menahan nafas lalu alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh. Menjadi demikian kuat memukul dan menangkis dalam bela diri.
Membuka kembali kitab tahu diri, lalu banyak membaca banyak kelemahan diri adalah cara mendorong kekuatan diri muncul secara lebih maksimal.
#tahudiri
Seperti menahan nafas lalu alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh. Menjadi demikian kuat memukul dan menangkis dalam bela diri.
Membuka kembali kitab tahu diri, lalu banyak membaca banyak kelemahan diri adalah cara mendorong kekuatan diri muncul secara lebih maksimal.
#tahudiri
Jumat, 06 Februari 2015
Tentang Tahu Diri
Membuka kitab "tahu diri" itu seperti bercermin dengan sungguh sungguh. Mengumpulkan data dan informasi tentang diri dari banyak sumber. Entah itu celaan, cacian, kritik pedas, penilaian objektif, apresiasi, sanjungan juga pujian. Aku letakkan di meja belajarku. Aku baca satu satu.
Tentang aku yang terlalu banyak bicara, cepat berkomentar, mengatakan kata-kata yang menyakiti hati dengan ringannya, tidak disiplin, sering lari dari masalah saat merasa tak bisa selesaikan, malas, dan sering tidak fokus.
Juga tentang aku yang banyak ide, suka terhadap hal hal baru, berani tampil, percaya diri di depan umum, terkadang berani out of the box, dan punya gaya konunikasi yang lumayan.
Selain tentang diri, aku juga perlu memfirasati kondisi di luar diri. Apakah mendukung diriku untuk terus berkembang? Atau untuk dapat mengurangi hal-hal burukku? Juga menambah hal-hal baikku?
Sehingga perjalananku terasa berisi dan tetap ceria.
Lalu sampai proses "tahu diriku" saat ini?
Mungkin aku sudah memahamiku separuh diriku. Analisa SWOT. Kelemahan dan kekurangan juga faktor eksternal berupa hambatan dan peluang.
Aku mulai belajar mengurangi kecepatan gerakanku, aku tambahkan variable pada kondisiku.... beberapa unsur kerentaanku.
Mungkin memang baru sampai pada pembahasan tentang tahu diri. Dan aku harus membangun perlahan informasi bahwa aku memang sudah tua. Sudah harus bijak memenej sisa energi, setelah sebelumnya sibuk mengoptimalkan potensi energi yang belum terpakai.
Semangat evaluasi diri.
Tentang aku yang terlalu banyak bicara, cepat berkomentar, mengatakan kata-kata yang menyakiti hati dengan ringannya, tidak disiplin, sering lari dari masalah saat merasa tak bisa selesaikan, malas, dan sering tidak fokus.
Juga tentang aku yang banyak ide, suka terhadap hal hal baru, berani tampil, percaya diri di depan umum, terkadang berani out of the box, dan punya gaya konunikasi yang lumayan.
Selain tentang diri, aku juga perlu memfirasati kondisi di luar diri. Apakah mendukung diriku untuk terus berkembang? Atau untuk dapat mengurangi hal-hal burukku? Juga menambah hal-hal baikku?
Sehingga perjalananku terasa berisi dan tetap ceria.
Lalu sampai proses "tahu diriku" saat ini?
Mungkin aku sudah memahamiku separuh diriku. Analisa SWOT. Kelemahan dan kekurangan juga faktor eksternal berupa hambatan dan peluang.
Aku mulai belajar mengurangi kecepatan gerakanku, aku tambahkan variable pada kondisiku.... beberapa unsur kerentaanku.
Mungkin memang baru sampai pada pembahasan tentang tahu diri. Dan aku harus membangun perlahan informasi bahwa aku memang sudah tua. Sudah harus bijak memenej sisa energi, setelah sebelumnya sibuk mengoptimalkan potensi energi yang belum terpakai.
Semangat evaluasi diri.
Senin, 26 Januari 2015
Keseimbangan dan kecenderungan
Aku memang masih mencari. Sebelum kau menebaknya, aku mengakuinya saja. Pencarianku belum berhenti, karena yang aku cari memang belum aku temukan. Walaupun rasanya malam ini ada sebagian yang aku temukan.Iya, tentang kegelisahanku. Bisa jadi salah satunya adalah karena mudahnya aku mewakilkan rasa, kondisi, dan pikirankanku hanya dengan beberapa kata saja. Keputusanku itu terkadang membuatku terikat dalam jerat yang sengaja aku buat. Bahasamu "aku terlalu cepat berteori."
Sebenarnya agak absurd, karena bisa jadi tulisanku ini pun bukti bagaimana aku terlalu mudah berteori. Hahaha... jadi sudahlah. Aku akan coba sedikit melonggarkannya. Bahwa bagaimanapun juga, aku pribadi yang bergerak. Teringat betapa kau tak percaya istilah idealis untukku. Awalnya bikin kuping panas, namun belakangan tersadar. Ada benarnya. Dalam banyak hal aku terlalu pragmatis. Bahkan untuk sebuah kata nyaman, aku bisa rela mengabaikan rasaku sendiri. Terlihat jelas pada kalimat menyebalkanku "pura-pura bahagiaaaa."
Jika belajar dari buku yang semalam aku baca, selain "keseimbangan" (tawazun) masih ada kata "kecenderungan" (an-nawazi', atau jika dalam kata yang sepadan: tanaazu'). Menjadi tak bijaksana jika cara berfikirku hanya mendahulukan "harmonis", seimbang saja, tanpa mempertimbangkan bahwa aku pun memiliki "kecenderungan" yang itu manusiawi. Istilah ibuku dulu saat aku masih kecil sering ditegur karena "suka menyiksa diri". Ibuku benar, cara pengambilan keputusanku sering kali memang berdasar logika penyiksaan diri. Ahai, jadi semakin serem.
Membaca tulisan ini, kau mungkin akan memasang wajah berkerut. Tak nyaman. Bisa jadi kau berpikir aku justru kembali dalam jeratan "egosentris". Namun apapun itu, ini adalah bagian dari ekspresiku dalam menyikapi firman-Nya "wa fii anfusikum afalaa tubshiruun" dan kepada dirimu apakah kau tak perhatikan? (QS 51: 21)
Wallohu a'lam.
Minggu, 25 Januari 2015
Menulis adalah teman terbaik
Jadi paham, mengapa ada yang bilang bahwa menulis adalah teman terbaik.... ternyata memang paling nyaman saat sepi adalah menulis. Terlebih jika dalam hati kita saat menulis itu tak lagi ada beban entah terbaca atau tidak tulisan kita. Sehingga kita merdeka dari kepentingan. Lepaskan saja. Karena ini tidak seperti menulis tesis atau karya ilmiah melainkan sekedar ekspresi pertemanan saja.
Mungkin tak semua orang sepakat, karena ada juga yang lebih suka saat sepi itu ya diam. Berfikir sendirian. Merenung saja. Dulu aku pernah menikmati itu. Duduk saja, lalu berpikir mendalam tentang sesuatu. Membuat dahi sedikit berkerut namun rasanya nyaman. Tapi belakangan aku lebih memilih menulis. Karena dengannya, kita lebih jelas runutan berpikirnya. Dan ada dokumentasi, rekam jejak yang pernah kita pikirkan. Sehingga jika ada kesalahan dalam pemikiran kita bisa pelajari lagi di kemudian hari.
Tinggal kita pilih, kita akan berpikir tentang sesuatu atau merasai sesuatu lalu ekspresikan dalam kata. Semuanya menjadi serupa selokan-selokan kecil yang dapat mengurangi denyut yang berlebihan di kepala kita. Mungkin serupa "sublimasi".
Entahlah....
Mungkin tak semua orang sepakat, karena ada juga yang lebih suka saat sepi itu ya diam. Berfikir sendirian. Merenung saja. Dulu aku pernah menikmati itu. Duduk saja, lalu berpikir mendalam tentang sesuatu. Membuat dahi sedikit berkerut namun rasanya nyaman. Tapi belakangan aku lebih memilih menulis. Karena dengannya, kita lebih jelas runutan berpikirnya. Dan ada dokumentasi, rekam jejak yang pernah kita pikirkan. Sehingga jika ada kesalahan dalam pemikiran kita bisa pelajari lagi di kemudian hari.
Tinggal kita pilih, kita akan berpikir tentang sesuatu atau merasai sesuatu lalu ekspresikan dalam kata. Semuanya menjadi serupa selokan-selokan kecil yang dapat mengurangi denyut yang berlebihan di kepala kita. Mungkin serupa "sublimasi".
Entahlah....
Gerimis senja
Gerimis senja
adalah perpaduan rasa
antara manis dan pahit
manis ialah salah satu bagian dari kelezatan,
sementara pahit bisa jadi manis yang keterlaluan.
Gerimis senja
adalah rima dan irama yang berbaris
terkadang memang tak lagi merdu,
bahkan masuk dalam kelompok nada sumbang
tapi tak masalah jika tetap tanpa sesal.
Karena biasalah kita terluka oleh lupa
biasalah kita ternoda oleh jelaga.
Asal jangan lalu mempermudah kesalahan untuk kembali terulang.
adalah perpaduan rasa
antara manis dan pahit
manis ialah salah satu bagian dari kelezatan,
sementara pahit bisa jadi manis yang keterlaluan.
Gerimis senja
adalah rima dan irama yang berbaris
terkadang memang tak lagi merdu,
bahkan masuk dalam kelompok nada sumbang
tapi tak masalah jika tetap tanpa sesal.
Karena biasalah kita terluka oleh lupa
biasalah kita ternoda oleh jelaga.
Asal jangan lalu mempermudah kesalahan untuk kembali terulang.
Sabtu, 24 Januari 2015
Hanya dan Cukup.
Ada dua penggalan ayat yang saat ini menjadi bahan pemikiranku:
1. "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" artinya: Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan.
2. "Wa kafaa billahi syahidaa." Artinya: cukuplah Alloh yang menjadi saksi.
Ada dua kata "hanya" dan "cukup" yang aku garis bawahi. Dua kata yang sering aku lalaikan. Kata "hanya" itu membuat kita fokus pada satu titik, sedangkan kata "cukup" itu membuat batas. Bisa jadi ini menjadi obat yang baik untukku. Fokus dan memiliki kemampuan ignoransi yang memadai atas hal-hal lain yang memang bukan hak kita. Seperti di sebuah perjalanan pastilah ada godaan pemandangan yang indah dan melenakan, bahkan mungkin ada tawaran yang mengajak kita mengubah arah tujuan.
Fokus dan ignoransi ini titik lemahku. Bersanding dengan empati dan peduli, satu hal lain yang seharusnya jadi potensi namun kesalahan meraciknya kita bisa jadi melanggar batas atas hak orang lain. Kesalahan itu terkemas apik. Bahkan tidak terlihat, sampai demikian parah. Saat terlalu jauh pelanggaran atas hak itu pun, aku masih belum juga tersadar.
Jika masih dengan analogi perjalanan tadi, maka kesalahan arah itu harus segera diperbaiki. Jika tidak, aku akan semakin jauh tersesat. Segera berhenti, dan balik arah. Semoga jejak kesalahanku masih bisa aku runut hingga bertemu kembali ke jalan semula. Lalu mulailah lanjutkan perjalanan sesuai rute yang benar. Tidak perlu terlalu disesali. Karena pasti ada keletihan yang seolah tak perlu, ada luka mungkin yang aku peroleh di sepanjang rute sasar itu. Mungkin lebih nyaman jika aku syukuri. Bahwa aku menjadi lebih banyak pengalaman.
Kata "hanya" kembali aku ulang. Hanya kepada-Mu. Peniadaan atas yang lainnya. Teringat pak Kyaiku dulu saat pelajaran tafsir surah Al-Fatihah, beliau menganalogikan kata "iyyaka" hanya kepada-Mu sebagai tindakan mengarahkan ujung anak mata panah kepada titik sasaran. "Na'budu" (kami menyembah) adalah fokusnya kita pada sasaran, dan "nasta'in" (kami mohon perlindungan) adalah kekuatan bertahan anak panah pada tiupan angin saat ia nanti terlepas menuju sasaran. Fokus dan memilki kemampuan tetap bertahan pada jalurnya dibutuhkan dalam mencapai sasaran kehidupan kita.
Kata "cukup" pada "wa kafaa billahi syahidaa" (cukuplah Alloh sebagai saksi) bisa membuatku lebih tenang. Di dalamnya ada rasa syukur. Juga ada keberanian untuk mengabaikan pandangan orang selama menurut kita telah sesuai dengan yang Dia inginkan.
Wallohu a'lam.
1. "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" artinya: Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan.
2. "Wa kafaa billahi syahidaa." Artinya: cukuplah Alloh yang menjadi saksi.
Ada dua kata "hanya" dan "cukup" yang aku garis bawahi. Dua kata yang sering aku lalaikan. Kata "hanya" itu membuat kita fokus pada satu titik, sedangkan kata "cukup" itu membuat batas. Bisa jadi ini menjadi obat yang baik untukku. Fokus dan memiliki kemampuan ignoransi yang memadai atas hal-hal lain yang memang bukan hak kita. Seperti di sebuah perjalanan pastilah ada godaan pemandangan yang indah dan melenakan, bahkan mungkin ada tawaran yang mengajak kita mengubah arah tujuan.
Fokus dan ignoransi ini titik lemahku. Bersanding dengan empati dan peduli, satu hal lain yang seharusnya jadi potensi namun kesalahan meraciknya kita bisa jadi melanggar batas atas hak orang lain. Kesalahan itu terkemas apik. Bahkan tidak terlihat, sampai demikian parah. Saat terlalu jauh pelanggaran atas hak itu pun, aku masih belum juga tersadar.
Jika masih dengan analogi perjalanan tadi, maka kesalahan arah itu harus segera diperbaiki. Jika tidak, aku akan semakin jauh tersesat. Segera berhenti, dan balik arah. Semoga jejak kesalahanku masih bisa aku runut hingga bertemu kembali ke jalan semula. Lalu mulailah lanjutkan perjalanan sesuai rute yang benar. Tidak perlu terlalu disesali. Karena pasti ada keletihan yang seolah tak perlu, ada luka mungkin yang aku peroleh di sepanjang rute sasar itu. Mungkin lebih nyaman jika aku syukuri. Bahwa aku menjadi lebih banyak pengalaman.
Kata "hanya" kembali aku ulang. Hanya kepada-Mu. Peniadaan atas yang lainnya. Teringat pak Kyaiku dulu saat pelajaran tafsir surah Al-Fatihah, beliau menganalogikan kata "iyyaka" hanya kepada-Mu sebagai tindakan mengarahkan ujung anak mata panah kepada titik sasaran. "Na'budu" (kami menyembah) adalah fokusnya kita pada sasaran, dan "nasta'in" (kami mohon perlindungan) adalah kekuatan bertahan anak panah pada tiupan angin saat ia nanti terlepas menuju sasaran. Fokus dan memilki kemampuan tetap bertahan pada jalurnya dibutuhkan dalam mencapai sasaran kehidupan kita.
Kata "cukup" pada "wa kafaa billahi syahidaa" (cukuplah Alloh sebagai saksi) bisa membuatku lebih tenang. Di dalamnya ada rasa syukur. Juga ada keberanian untuk mengabaikan pandangan orang selama menurut kita telah sesuai dengan yang Dia inginkan.
Wallohu a'lam.
Kamis, 22 Januari 2015
HUJAN MENGENDALIKAN RASAKU
Hujan sedari dini hari, bahkan sedari kemarin mungkin. Rintiknya memukul-mukul hati. Dan mungkin karenanya aku jadi menangis pagi ini. Dengan entah sebab apa. Rasanya seperti dulu saat belia dan rasakan cinta yang terabaikan. Aku menangis di kamar mandi, persis seperti dulu. Mungkin ini badai puber keduaku.
Hujan tetap saja turun, hingga siang tak juga berhenti. Dan aku pun kembali menangis. Kali ini dengan sebab yang dapat aku mengerti. Karena aku menangis bersama khotib dan jamaah solat Jumat lainnya. Kami terbawa suasana oleh materi yang khotib sampaikan. Materinya materi yang sebenarnya sering dibawakan oleh khotib lainya, namun suasana hujan dan cara penyampaian yang mendukung, dengan tambahan kisah-kisah nyata yang menguatkan tamparan ke hati kami.
Khotib bercerita tentang hadits dari Bukhori Muslim yang menjelaskan tentang tiga amalan yang paling disukai Alloh SWT. Adalah:
1. Sholat tepat waktu
Dengan ditambahkan kisah nyata penjual bakso yang teguh menjaga solat lima waktu tepat waktu di masjid, dan konsisten membagi penghasilannya menjadi tiga, satu untuk infak masjid di dekat rumahnya, satu untuk modal usaha dan nafkah keluarga, dan satu lagi untuk tabungan hajinya. Akhirnya dia naik haji tahun lalu.
Juga tentang kisah tukang becak di Semarang yang bertemu dengan seorang pengusaha yang minta diantar keliling kota Semarang pada dini hari. Hingga saat masuk waktu solat Shubuh Ibnu si tukang becak itu minta maaf tidak bisa melanjutkan karena harus ke masjid untuk solat. Pengusaha itu tertarik dengan alasan tukang becak, namun coba mengujinya, akan berikan Rp.500.000,- hingga Rp.1.000.000,- jika Ibnu mau lanjutkan mengantarnya berkeliling. Namun Ibnu menolaknya, jawab dia, "Bukankah solat subuh tepat waktu itu lebih baik daripada dunia dan seisinya?" Akhirnya pengusaha itu mengalah, mereka solat di masjid terdekat. Dan selepas solat, pengusaha itu memeluk Ibnu, dan ungkapkan kekagumannya atas konsitensi dia menjaga solat tepat waktunya. Dan Pengusaha itu menawarkan membiayai Ibnu untuk naik haji.
2. Bakti kepada kedua orang tua.
Kisah Alqomah dipaparkan. Bagaimana amalan kebaikannya tak dapat memudahkannya menjalani sakaratul maut, bahkan menghalanginya mengucapkan kalimat toyibah saat sakaratul maut. Ternyata itu terjadi karena tak ada rido dari ibunya, yang pernah sakit hati karena Alqomah lebih cinta kepada istrinya daripada kepada ibunya.
3. Jihad di jalan Alloh.
Bersungguh-sungguh di jalan kebaikan, di jalan dakwah. Bagaimana bekerja sebagai ibadah, sehingga menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Berikanlah amal terbaikmu selama menjalani hidup ini.
Materi ini membuat air mata kembali tumpah.
Saat khutbah kedua, khotib membacakan ayat dalam surat At-Tahrim, tentang seruan bertaubat. Lalu dilanjutkan dengan doa bersama. Ini juga menampar hati. Sekali lagi air mata tumpah.
Dan ternyata tak cukup sampai di situ. Saat solat dua rakaat, imam memilih membaca surat At-Tahrim ayat tentang taubat itu di rakaat pertama, lalu surah Ar-Rahman di rakaat kedua. Kombinasi indah, Taubat dan Cinta/sayang. Ini seperti menu yang tepat untukku. Aku tertampar kesekian kalinya. Air mata. Namun segar.
Saat keluar masjid, walau matahari masih bersembunyi di balik mendung, aku lega. Aku merasa hari ini lebih terang. Aku bersyukur atas segala nikmatmu wahai Sang Pencinta, wahai Sang Penyanyang.
Hujan tetap saja turun, hingga siang tak juga berhenti. Dan aku pun kembali menangis. Kali ini dengan sebab yang dapat aku mengerti. Karena aku menangis bersama khotib dan jamaah solat Jumat lainnya. Kami terbawa suasana oleh materi yang khotib sampaikan. Materinya materi yang sebenarnya sering dibawakan oleh khotib lainya, namun suasana hujan dan cara penyampaian yang mendukung, dengan tambahan kisah-kisah nyata yang menguatkan tamparan ke hati kami.
Khotib bercerita tentang hadits dari Bukhori Muslim yang menjelaskan tentang tiga amalan yang paling disukai Alloh SWT. Adalah:
1. Sholat tepat waktu
Dengan ditambahkan kisah nyata penjual bakso yang teguh menjaga solat lima waktu tepat waktu di masjid, dan konsisten membagi penghasilannya menjadi tiga, satu untuk infak masjid di dekat rumahnya, satu untuk modal usaha dan nafkah keluarga, dan satu lagi untuk tabungan hajinya. Akhirnya dia naik haji tahun lalu.
Juga tentang kisah tukang becak di Semarang yang bertemu dengan seorang pengusaha yang minta diantar keliling kota Semarang pada dini hari. Hingga saat masuk waktu solat Shubuh Ibnu si tukang becak itu minta maaf tidak bisa melanjutkan karena harus ke masjid untuk solat. Pengusaha itu tertarik dengan alasan tukang becak, namun coba mengujinya, akan berikan Rp.500.000,- hingga Rp.1.000.000,- jika Ibnu mau lanjutkan mengantarnya berkeliling. Namun Ibnu menolaknya, jawab dia, "Bukankah solat subuh tepat waktu itu lebih baik daripada dunia dan seisinya?" Akhirnya pengusaha itu mengalah, mereka solat di masjid terdekat. Dan selepas solat, pengusaha itu memeluk Ibnu, dan ungkapkan kekagumannya atas konsitensi dia menjaga solat tepat waktunya. Dan Pengusaha itu menawarkan membiayai Ibnu untuk naik haji.
2. Bakti kepada kedua orang tua.
Kisah Alqomah dipaparkan. Bagaimana amalan kebaikannya tak dapat memudahkannya menjalani sakaratul maut, bahkan menghalanginya mengucapkan kalimat toyibah saat sakaratul maut. Ternyata itu terjadi karena tak ada rido dari ibunya, yang pernah sakit hati karena Alqomah lebih cinta kepada istrinya daripada kepada ibunya.
3. Jihad di jalan Alloh.
Bersungguh-sungguh di jalan kebaikan, di jalan dakwah. Bagaimana bekerja sebagai ibadah, sehingga menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Berikanlah amal terbaikmu selama menjalani hidup ini.
Materi ini membuat air mata kembali tumpah.
Saat khutbah kedua, khotib membacakan ayat dalam surat At-Tahrim, tentang seruan bertaubat. Lalu dilanjutkan dengan doa bersama. Ini juga menampar hati. Sekali lagi air mata tumpah.
Dan ternyata tak cukup sampai di situ. Saat solat dua rakaat, imam memilih membaca surat At-Tahrim ayat tentang taubat itu di rakaat pertama, lalu surah Ar-Rahman di rakaat kedua. Kombinasi indah, Taubat dan Cinta/sayang. Ini seperti menu yang tepat untukku. Aku tertampar kesekian kalinya. Air mata. Namun segar.
Saat keluar masjid, walau matahari masih bersembunyi di balik mendung, aku lega. Aku merasa hari ini lebih terang. Aku bersyukur atas segala nikmatmu wahai Sang Pencinta, wahai Sang Penyanyang.
Rabu, 21 Januari 2015
Menjadi Berbeda
Tiba tiba saja, hari hariku tanpa kopi hitam
Minuman yang dulu serupa dupa dalam sesajen
Pemicu inspirasi, teman dalam sepi
Berhentiku bukan oleh hatiku melainkan
Lambungku
Didukung pula tahun ini tahun perubahan
Rasanya tepat
Mengubah banyak hal
Meninggalkan apa yang dulu teramat kusuka
Berpaling pada hal hal yang berbeda
Harapan tentu
Menjadi lebih baik...
Bukan hanya olah raga yang berbeda
Bukan hanya pola makan dan minum
Namun juga cara melihat dunia
Sedikit berjarak pada mimpi
Memberi ruang pada kesadaran dan hal hal nyata
Entahlah.
Mungkin benar.
Aku banyak berteori sebelum praktek
Melanggar kaidah asasi... bahwa teori itu lahir setelah praktek.
Entahlah....
Minuman yang dulu serupa dupa dalam sesajen
Pemicu inspirasi, teman dalam sepi
Berhentiku bukan oleh hatiku melainkan
Lambungku
Didukung pula tahun ini tahun perubahan
Rasanya tepat
Mengubah banyak hal
Meninggalkan apa yang dulu teramat kusuka
Berpaling pada hal hal yang berbeda
Harapan tentu
Menjadi lebih baik...
Bukan hanya olah raga yang berbeda
Bukan hanya pola makan dan minum
Namun juga cara melihat dunia
Sedikit berjarak pada mimpi
Memberi ruang pada kesadaran dan hal hal nyata
Entahlah.
Mungkin benar.
Aku banyak berteori sebelum praktek
Melanggar kaidah asasi... bahwa teori itu lahir setelah praktek.
Entahlah....
Minggu, 18 Januari 2015
Melibatkan Dia
Seberapa agama mempengaruhi kita. Apakah kita hanya meletakkannya sebagai bagian dari kehidupan saja atau kehidupan ini seluruhnya kita tata dengan agama?
Teringat 15 tahun lalu ada seorang teman yang dengan semangat mendefinisikan agama sebagai penataan hidup. Mungkin ini istilah yang tepat untuk menjawab pemikiran sekulerisme yang memposisikan agama sebagai ritual semata. Dan kehidupan duniawi terpisah dengan kehidupan ruhani/ukhrowi kita.
Saat kuliah dulu, aku selalu terpesona oleh anak-anak muda, yang rajin bertanya dalam aktifitas hariannya, "apakah ini yang Tuhan ingin kita lakukan?". Selalu melibatkan-Nya dalam setiap keputusan. Jadi malu, jika pada saat keputusan-keputusan penting justru kita mengabaikan-Nya. Dan lebih memilih menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat duniawi.
Kita memang butuh kesadaran penuh bahwa perjalanan di dunia ini hanyalah jalan menuju kampung akhirat kita. Kesadaran penuh, karena dalam menjalaninya kita sering terlupa dan lalai. Karena demikian memukaunya perjalanan dunia ini. Semoga Dia selalu melindungi kesadaran kita.
Aamiin.
Teringat 15 tahun lalu ada seorang teman yang dengan semangat mendefinisikan agama sebagai penataan hidup. Mungkin ini istilah yang tepat untuk menjawab pemikiran sekulerisme yang memposisikan agama sebagai ritual semata. Dan kehidupan duniawi terpisah dengan kehidupan ruhani/ukhrowi kita.
Saat kuliah dulu, aku selalu terpesona oleh anak-anak muda, yang rajin bertanya dalam aktifitas hariannya, "apakah ini yang Tuhan ingin kita lakukan?". Selalu melibatkan-Nya dalam setiap keputusan. Jadi malu, jika pada saat keputusan-keputusan penting justru kita mengabaikan-Nya. Dan lebih memilih menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat duniawi.
Kita memang butuh kesadaran penuh bahwa perjalanan di dunia ini hanyalah jalan menuju kampung akhirat kita. Kesadaran penuh, karena dalam menjalaninya kita sering terlupa dan lalai. Karena demikian memukaunya perjalanan dunia ini. Semoga Dia selalu melindungi kesadaran kita.
Aamiin.
Selasa, 13 Januari 2015
Lagu tahu diri dalam hujan pagi
Pagi ini masih dalam hujan. Bahagia dalam balutan dinginnya. Hujan adalah salah satu cara Dia menyapa kita sebagai makhluknya. Segar airnya, segar pula aromanya. Meniupkan energi pagi ini.
Tetesannya serupa senandung. Mengajakku menari di bawah curahnya. Dan laguku tentu masih tentang tahu diri. Lagu yang lama tak kusenandungkan. Karena sibuk bernyanyi tentang percaya diri saja.
Dalam lagu tahu diri, akan banyak garis birama yang menahan nada. Ada banyak batasan yang harus aku mengerti baik baik. Keinginan terevaluasi secara signifikan. Menjadi temuan nalar yang berperan sebagai auditor.
Awalnya tentu perih. Karena pisau nalar terkadang terlalu tajam mengiliti mimpi. Tapi perlahan jiwa akan beradaptasi. Membiasakan diri... membebalkan diri.....
Aku terus belajar. Pada pagi, pada hujan. Pada matahari yang bersembunyi di balik mendung.
Tetesannya serupa senandung. Mengajakku menari di bawah curahnya. Dan laguku tentu masih tentang tahu diri. Lagu yang lama tak kusenandungkan. Karena sibuk bernyanyi tentang percaya diri saja.
Dalam lagu tahu diri, akan banyak garis birama yang menahan nada. Ada banyak batasan yang harus aku mengerti baik baik. Keinginan terevaluasi secara signifikan. Menjadi temuan nalar yang berperan sebagai auditor.
Awalnya tentu perih. Karena pisau nalar terkadang terlalu tajam mengiliti mimpi. Tapi perlahan jiwa akan beradaptasi. Membiasakan diri... membebalkan diri.....
Aku terus belajar. Pada pagi, pada hujan. Pada matahari yang bersembunyi di balik mendung.
Sabtu, 03 Januari 2015
Masih tentang diri.
Ingin kembali berbincang tentang diri, membuka beberapa buku menemukan beberapa hal menarik:
1. Sutan Sjahrir dalam Renungan Indonesia: "Kita merasa diri yakin bahwa kita bisa menilai diri kita dengan objektif, bahwa kita tahu hubungan yang tepat antara kita dengan masyarakat dan kemanusiaan; tetapi betapa banyak energi yang kita pergunakan untuk membuat citra pribadi yang kecil ini seindah mungkin di mata orang lain dan juga di mata kita sendiri."
2. Kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam dengan alasan "abaa wastakbaro", menentang dan sombong. (QS. 2: 24)
Betapa banyak waktu kita habiskan untuk membangun citra diri kita. Sibuk bersolek. Mematut matut diri. Bahkan terkadang terlupa tidak lalu dengan menambah kapasitas diri. Jadi hanya citra saja yang dibangun sehingga semakin berjarak antara kapasitas diri yang sebenarnya dengan citra atau reputasi kita di hadapan orang lain. Hasilnya adalah terbangun pribadi yang egosentris. Merasa demikian hebat di mata diri sendiri. Merasa layak mendapat penghargaan dan penghormatan.
Efeknya adalah kita menjadi pribadi yang mudah tersinggung bahkan terluka saat orang tak memberikan penghargaan yang sesuai dengan anggapan diri kita atas diri kita sendiri. Dari perasaan ini muncul lagi potensi untuk berat mengeluarkan kata "maaf" dan "terima kasih". Juga tak mudah untuk memaafkan orang lain.
Bisa jadi kita tak sadar, sedang terjebak dalam "kesombongan". Sikap hati yang sama dengan sikap hati Iblis saat mula-mula melakukan tindakan kekafiran di hadapan Allah SWT.
Masih ada waktu, untuk mengikis habis sifat Iblis ini dalam diri kita ini. Mari....
Wallohu a'lam.
1. Sutan Sjahrir dalam Renungan Indonesia: "Kita merasa diri yakin bahwa kita bisa menilai diri kita dengan objektif, bahwa kita tahu hubungan yang tepat antara kita dengan masyarakat dan kemanusiaan; tetapi betapa banyak energi yang kita pergunakan untuk membuat citra pribadi yang kecil ini seindah mungkin di mata orang lain dan juga di mata kita sendiri."
2. Kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam dengan alasan "abaa wastakbaro", menentang dan sombong. (QS. 2: 24)
Betapa banyak waktu kita habiskan untuk membangun citra diri kita. Sibuk bersolek. Mematut matut diri. Bahkan terkadang terlupa tidak lalu dengan menambah kapasitas diri. Jadi hanya citra saja yang dibangun sehingga semakin berjarak antara kapasitas diri yang sebenarnya dengan citra atau reputasi kita di hadapan orang lain. Hasilnya adalah terbangun pribadi yang egosentris. Merasa demikian hebat di mata diri sendiri. Merasa layak mendapat penghargaan dan penghormatan.
Efeknya adalah kita menjadi pribadi yang mudah tersinggung bahkan terluka saat orang tak memberikan penghargaan yang sesuai dengan anggapan diri kita atas diri kita sendiri. Dari perasaan ini muncul lagi potensi untuk berat mengeluarkan kata "maaf" dan "terima kasih". Juga tak mudah untuk memaafkan orang lain.
Bisa jadi kita tak sadar, sedang terjebak dalam "kesombongan". Sikap hati yang sama dengan sikap hati Iblis saat mula-mula melakukan tindakan kekafiran di hadapan Allah SWT.
Masih ada waktu, untuk mengikis habis sifat Iblis ini dalam diri kita ini. Mari....
Wallohu a'lam.
Tentang Keyakinan
Belajar kembali tentang keyakinan.
Bahwa semestinya ini bukan doktrinisasi.
Bukan pula tentang jalan penuh kontradiksi.
Keyakinan kita mestinya tak lalu membuat kita gulita atas pintu pemahaman lain.
Begitu pula tak lalu ciptakan langkah penuh benturan.
Jika pun ada benturan itu atas hal asasi bukan perkara remeh yang ujungnya tentang ego kita saja.
Betapa banyak langkah kita yang keliru.
Betapa banyak informasi yang penting yang kita abaikan.
Yang mungkin terjadi semata-mata terlalu pentingnya diri kita di mata kita.
Bahwa semestinya ini bukan doktrinisasi.
Bukan pula tentang jalan penuh kontradiksi.
Keyakinan kita mestinya tak lalu membuat kita gulita atas pintu pemahaman lain.
Begitu pula tak lalu ciptakan langkah penuh benturan.
Jika pun ada benturan itu atas hal asasi bukan perkara remeh yang ujungnya tentang ego kita saja.
Betapa banyak langkah kita yang keliru.
Betapa banyak informasi yang penting yang kita abaikan.
Yang mungkin terjadi semata-mata terlalu pentingnya diri kita di mata kita.
Sabtu, 13 Desember 2014
Filodiri
Saat malam, saat bercakap dengan diri. Kita ada dalam dimensi ruang dan waktu. Ada di waktu sekarang itu berarti sebelum nanti dan setelah tadi. Kini itu karena tadi dan untuk nanti.
Pemahaman kita bermula dari ketidaktahuan yang memicu pencarian. Berterima kasihlah pada ketidaktahuan kita.
Pencerahan kita bermula dari pekatnya gelap yang membuat pupil mata sesuaikan diri. Terang lahir dari gelap.
Selalu ada alasan di setiap perbuatan. Alasan yang masuk akal dan alasan yang sebenarnya. Memahami alasan yang sebenarnya membuat kita tenang, sebaliknya alasan yang masuk akal terkadang sesatkan langkah.
Masuk akal tak lalu benar. Karena akal demikian terbatas. Yang diketahui oleh akal sedikit sekali dibanding yang tak diketahuinya.
Jangan bangga jika pandai berkata kata, karena kata bisa sedemikian naif dalam menyembunyikan alasan yang sebenarnya.
Kata itu hanya kemasan untuk alasan masuk akal bersembunyi, sedangkan fakta itu baru wilayah alasan yang sebenarnya.
Karenanya saat tak lagi populer itu hal yang layak disyukuri, karena akan berkurang potensi mencari-cari alasan yang masuk akal, hingga dapa fokus pada alasan yang sebenarnya.
Wallohu a'lam.
Pemahaman kita bermula dari ketidaktahuan yang memicu pencarian. Berterima kasihlah pada ketidaktahuan kita.
Pencerahan kita bermula dari pekatnya gelap yang membuat pupil mata sesuaikan diri. Terang lahir dari gelap.
Selalu ada alasan di setiap perbuatan. Alasan yang masuk akal dan alasan yang sebenarnya. Memahami alasan yang sebenarnya membuat kita tenang, sebaliknya alasan yang masuk akal terkadang sesatkan langkah.
Masuk akal tak lalu benar. Karena akal demikian terbatas. Yang diketahui oleh akal sedikit sekali dibanding yang tak diketahuinya.
Jangan bangga jika pandai berkata kata, karena kata bisa sedemikian naif dalam menyembunyikan alasan yang sebenarnya.
Kata itu hanya kemasan untuk alasan masuk akal bersembunyi, sedangkan fakta itu baru wilayah alasan yang sebenarnya.
Karenanya saat tak lagi populer itu hal yang layak disyukuri, karena akan berkurang potensi mencari-cari alasan yang masuk akal, hingga dapa fokus pada alasan yang sebenarnya.
Wallohu a'lam.
Senin, 08 Desember 2014
Berkumpul bersama.
Kami berkumpul di lereng gunung, bersama ratusan sahabat. Dengan niat yang sama, jalankan pelatihan diri sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Semangat ketaatan itu mewarnai segenap acara. Sehingga dalam padatnya agenda, dan angin dingin juga hujan, kami tetap diringankan untuk melaksanakan ibadah-ibadah harian kami.
Ada sepenggal fragmen yang rasanya akan lama dalam ingatan, ialah saat sampai di puncak gunung, dalam hujan dan pekatnya kabut. Berdesakan antri, karena lereng tak memungkinkan dilalui selain harus satu persatu. Dingin mencengkeram. Awalnya hanya kulit dan tubuh, perlahan mulai mengganggu otak dan akal sehat. Kami mencoba mengusirnya dengan tetap bergerak dan tetap mengunyah bekal yang kami bawa. Sampai akhirnya ada seorang dari kami membaca ma'tsurat - dzikir rutin pagi dan sore. Lantunannya langsung diikuti oleh kami. Perlahan semakin mengeras. Ratusan mulut itu bersama menggumamkan dzikir tersebut. Bergumam memenuhi alam, puncak gunung itu serasa ikut berdzikir. Dingin kami mulai terusir, namun kini yang aku rasakan justru merinding. Campur aduk. Rasa sebagai hamba yang kecil dan lemah. Tak ada apa pun dapat kami lakukan selain atas izin-Nya. Air mata mulai menyatu dengan tetes hujan.
Ada lagi kejadian yang aku catat sebagai keindahan suasana. Padahal mungkin ini hanya kejadian sederhana. Adalah suatu pagi selepas dzikir pagi dan sarapan, kami diminta berkumpul di lapangan. Karena lapangan di tengah tenda-tenda kami tak begitu luas, maka beberapa kami berdiri saja di depan tenda masing-masing. Seorang instruktur memimpin, awalnya ia gunakan pengeras suara, namun saat mulai memimpin senam, pengeras suara diletakkan. Hanya suara dia yang sayup-sayup terdengar. Secara otomatis, beberapa dari kami ikut membantu mengulang hitungan, sehingga terdengar suara hitungan yang semakin keras, kompak. Dan karena aku duduk di barisan belakang, maka terlihat gerakan yang rapi dengan irama suara hitungan yang padu. Indah. Hingga saat instruktur mengajak membuat lompatan yang bergantian, agar serupa dengan gelombang, kami melakukannya dengan indahnya. setiap lompatan kami ikuti dengan teriakan, sehingga gelombang manusia dan alunan teriakan itu serupa gelombang ombak dengan suara deburannya. Dan puncaknya saat selesai, kami spontan bertakbir bersama.
Demikianlah, satu rangkaian acara pelatihan yang tak terlupakan. Melahirkan kesadaran, bahwa kita memang kecil, kerdil, dan lemah. Namun jika bersama dalam satu barisan yang kokoh, pastilah kita menjadi kekuatan raksasa dan dahsyat. Dikumpulkan oleh cinta kepada-Nya, dipertemukan oleh ketaatan kepada-Nya. disatukan oleh dakwah kepada-Nya, dan terikat janji untuk terus menolong syari'at-Nya. Semoga Allah SWT eratkan ikatan ini. Aamiin.
Papandayan, desember 2014.
Ada sepenggal fragmen yang rasanya akan lama dalam ingatan, ialah saat sampai di puncak gunung, dalam hujan dan pekatnya kabut. Berdesakan antri, karena lereng tak memungkinkan dilalui selain harus satu persatu. Dingin mencengkeram. Awalnya hanya kulit dan tubuh, perlahan mulai mengganggu otak dan akal sehat. Kami mencoba mengusirnya dengan tetap bergerak dan tetap mengunyah bekal yang kami bawa. Sampai akhirnya ada seorang dari kami membaca ma'tsurat - dzikir rutin pagi dan sore. Lantunannya langsung diikuti oleh kami. Perlahan semakin mengeras. Ratusan mulut itu bersama menggumamkan dzikir tersebut. Bergumam memenuhi alam, puncak gunung itu serasa ikut berdzikir. Dingin kami mulai terusir, namun kini yang aku rasakan justru merinding. Campur aduk. Rasa sebagai hamba yang kecil dan lemah. Tak ada apa pun dapat kami lakukan selain atas izin-Nya. Air mata mulai menyatu dengan tetes hujan.
Ada lagi kejadian yang aku catat sebagai keindahan suasana. Padahal mungkin ini hanya kejadian sederhana. Adalah suatu pagi selepas dzikir pagi dan sarapan, kami diminta berkumpul di lapangan. Karena lapangan di tengah tenda-tenda kami tak begitu luas, maka beberapa kami berdiri saja di depan tenda masing-masing. Seorang instruktur memimpin, awalnya ia gunakan pengeras suara, namun saat mulai memimpin senam, pengeras suara diletakkan. Hanya suara dia yang sayup-sayup terdengar. Secara otomatis, beberapa dari kami ikut membantu mengulang hitungan, sehingga terdengar suara hitungan yang semakin keras, kompak. Dan karena aku duduk di barisan belakang, maka terlihat gerakan yang rapi dengan irama suara hitungan yang padu. Indah. Hingga saat instruktur mengajak membuat lompatan yang bergantian, agar serupa dengan gelombang, kami melakukannya dengan indahnya. setiap lompatan kami ikuti dengan teriakan, sehingga gelombang manusia dan alunan teriakan itu serupa gelombang ombak dengan suara deburannya. Dan puncaknya saat selesai, kami spontan bertakbir bersama.
Demikianlah, satu rangkaian acara pelatihan yang tak terlupakan. Melahirkan kesadaran, bahwa kita memang kecil, kerdil, dan lemah. Namun jika bersama dalam satu barisan yang kokoh, pastilah kita menjadi kekuatan raksasa dan dahsyat. Dikumpulkan oleh cinta kepada-Nya, dipertemukan oleh ketaatan kepada-Nya. disatukan oleh dakwah kepada-Nya, dan terikat janji untuk terus menolong syari'at-Nya. Semoga Allah SWT eratkan ikatan ini. Aamiin.
Papandayan, desember 2014.
Rabu, 03 Desember 2014
Yang tiba-tiba mengada di rongga kepala.
Tiba-tiba saja, ini yang aku pikirkan:
-Satu-
Terkadang dalam menetapkan pilihan, kita menambahkan syarat
yang justru menjauhkan dari substansi atas dasar pilihan tersebut. Syarat
formal itu sengaja kita tambahkan agar kita lebih mudah mencoret salah satu
pilihan yang terlihat sama baiknya.
-Dua-
Ternyata pada kebanyakan orang yang sukses justru
karena kepandaian membaca “yang tersembunyi” dari beberapa pilihan. Artinya
yang terlihat dan terkesan masuk akal itu belum tentu baik pada akhirnya untuk
kita.
Lalu esok harinya, skema ini yang muncul di kepalaku:
Sesuatu perbuatan itu pasti punya alasan, paling tidak ada dua jenis alasan (terima
kasih pak Didi M Saleh atas ilmunya.):
1.
Alasan yang masuk akal, dan
2.
Alasan yang sebenarnya.
Alasan yang sebenarnya dipengaruhi oleh:
1.
Internal (dalam), yaitu factor niat, motivasi,
hasrat, keinginan, dasar pemikiran, dan sebagainya.
2.
Eksternal (luar), adalah situasi dan kondisi,
suasana yang melingkupi, lingkungan di sekitar, peristiwa yang terjadi, dan
sebagainya.
Memahami hal-hal di atas akan sangat membantu kita, untuk
dapat memaklumi apapun yang terjadi di sekitar kita. Menjadi lebih bijaksana
dalam menyikapi, dan mengambil keputusan.
Jumat, 14 November 2014
cawan Otak
Mungkin isi cawan otak kita adalah larutan ingatan, sedikit bercampur dengan pekatnya kenangan, dan di dasarnya ada endapan keyakinan. Mungkin hari-hari yang kita lalui itulah larutan yang mendominasi. Sehingga ketika sesaat terpejam saja, semua seperti terputar ulang. Fragmen yang jelas, dengan detail kejadian yang tertata. Bagaimana bisa melupakannya?
Namun dalam cawan itu juga ada proses yang harus terjadi. Menjadi seperti adukan dalam secangkir kopi. Ia mengaduk-aduk ingatan. Mencampurnya dengan ramuan logika, bumbu akal sehat, dan tentu nurani. Walau akan ada rasa yang lahir tanpa permisi. Serupa rindu, atau sayang yang aneh. Terkadang rasa itulah yang menggangu akal sehat dan pertimbangan logika.
Bagaimana menyelamatkan ego kita dalam lautan diri yang terkadang penuh badai? Ego terhempas dalam tarikan hasrat dan kendali diri. Sesaat kendali lepas, maka bahtera ego terbanting-banting. Sesaat kembali terjaga, namun arah bahtera seringkali terlanjur terjauhkan dari tujuan.
Kita dan waktu memang terkadang saling menyerang. Memanfaatkan kesempatan, atau justru kesempatan yang menyempitkan kita. Kita bisa saja terpenjara tanpa punya daya melepaskan dari jeratan hasrat. Dan waktu juga kesempatanlah yang mungkin akan kita persalahkan. Entahlah.
Dan jika masih boleh berharap, biarlah senja yang langitnya melogam itu yang kita nikmati. Dan kita tenggelam dalam bincang yang bernas. Pekat oleh makna. Dan detik demi detik tak kita sia-sia kan.
Seperti doa para pendahulu kita, maka doaku.... semoga yang tersisa adalah genangan berkah, dan taufik juga hidayah-Nya melengkapi hidup kita.
Aamiin
Namun dalam cawan itu juga ada proses yang harus terjadi. Menjadi seperti adukan dalam secangkir kopi. Ia mengaduk-aduk ingatan. Mencampurnya dengan ramuan logika, bumbu akal sehat, dan tentu nurani. Walau akan ada rasa yang lahir tanpa permisi. Serupa rindu, atau sayang yang aneh. Terkadang rasa itulah yang menggangu akal sehat dan pertimbangan logika.
Bagaimana menyelamatkan ego kita dalam lautan diri yang terkadang penuh badai? Ego terhempas dalam tarikan hasrat dan kendali diri. Sesaat kendali lepas, maka bahtera ego terbanting-banting. Sesaat kembali terjaga, namun arah bahtera seringkali terlanjur terjauhkan dari tujuan.
Kita dan waktu memang terkadang saling menyerang. Memanfaatkan kesempatan, atau justru kesempatan yang menyempitkan kita. Kita bisa saja terpenjara tanpa punya daya melepaskan dari jeratan hasrat. Dan waktu juga kesempatanlah yang mungkin akan kita persalahkan. Entahlah.
Dan jika masih boleh berharap, biarlah senja yang langitnya melogam itu yang kita nikmati. Dan kita tenggelam dalam bincang yang bernas. Pekat oleh makna. Dan detik demi detik tak kita sia-sia kan.
Seperti doa para pendahulu kita, maka doaku.... semoga yang tersisa adalah genangan berkah, dan taufik juga hidayah-Nya melengkapi hidup kita.
Aamiin
Senin, 11 Agustus 2014
jaga hati
Ternyata serangan itu datang dari perasaan nyaman saat menerima pujian. Sulit mengingkari bahwa pujian itu nikmat dan indah. Terkadang kita berdalih sebagai motivasi.
Benar kata ustadz, saat terima pujian ingatlah kalimat Hamdalah, bahwa pujian hanya milik Alloh. Jangan pikul pujian itu sendirian, ia akan jadi beban, semakin lama semakin berat. Suatu hari bisa rubuhkan kita. Mungkin ini jawaban mengapa banyak tokoh terjerembab justru pada saat banyak pujian yang ia terima. Jika mendapatkan pujian segeralah kirim ke Alloh, segala puji untuk-Nya, agar ringan langkah kita.
Bersyukurlah saat prestasi kita tersembunyi, karena itu berarti terselamatkannya kita dari godaan pujian.
Jika pujian itu pintu serangan, bisa jadi cacian dan hinaan itu justru pil pahit yang menyehatkan. Penolakan atas cacian dan hinaan, mungkin seperti melepeh pil itu, tak lagi pahit, namun kita kehilangan kesempatan untuk sembuh. Penolakan atas hinaan itu biasanya dengan dalih nama baik, mungkin angapan orang lain atas diri kita ini terlalu penting. Padahal bisa jadi ini jebakan, sehingga kita tak pernah dapat hikmah dari cacian dan hinaan itu.
Cobalah nikmati rasanya. Cacian itu seperti gelombang radar yang membentur objek, benturan itu perlu untuk menangkap pesannya.
Bagaimana cara menikmati cacian dan hinaan? Entahlah. Tapi bisa diawali dengan kalimat ini: "kita mungkin memang pantas mendapatkannya".
Mengapa kita tak pantas dicaci dan dihina, sementara banyak para nabi dan orang suci pun mendapatkannya? Tak perlu terluka.
Benar kata ustadz, saat terima pujian ingatlah kalimat Hamdalah, bahwa pujian hanya milik Alloh. Jangan pikul pujian itu sendirian, ia akan jadi beban, semakin lama semakin berat. Suatu hari bisa rubuhkan kita. Mungkin ini jawaban mengapa banyak tokoh terjerembab justru pada saat banyak pujian yang ia terima. Jika mendapatkan pujian segeralah kirim ke Alloh, segala puji untuk-Nya, agar ringan langkah kita.
Bersyukurlah saat prestasi kita tersembunyi, karena itu berarti terselamatkannya kita dari godaan pujian.
Jika pujian itu pintu serangan, bisa jadi cacian dan hinaan itu justru pil pahit yang menyehatkan. Penolakan atas cacian dan hinaan, mungkin seperti melepeh pil itu, tak lagi pahit, namun kita kehilangan kesempatan untuk sembuh. Penolakan atas hinaan itu biasanya dengan dalih nama baik, mungkin angapan orang lain atas diri kita ini terlalu penting. Padahal bisa jadi ini jebakan, sehingga kita tak pernah dapat hikmah dari cacian dan hinaan itu.
Cobalah nikmati rasanya. Cacian itu seperti gelombang radar yang membentur objek, benturan itu perlu untuk menangkap pesannya.
Bagaimana cara menikmati cacian dan hinaan? Entahlah. Tapi bisa diawali dengan kalimat ini: "kita mungkin memang pantas mendapatkannya".
Mengapa kita tak pantas dicaci dan dihina, sementara banyak para nabi dan orang suci pun mendapatkannya? Tak perlu terluka.
Kamis, 12 Juni 2014
#filosenja //catatan di perjalanan pulang kantor
Menunggu APTB, saat tepat berbagi isi hati. Yang terfikir saat ini adalah tentang fitrah air yang bergerak menghindar saat hendak bertubrukan dengan material lain. Seperti kita mungkin juga lebih bijak menghindar daripada membentur. Lebih hemat energi. Selain itu, memilih menghindar itu lebih aman dari godaan kesombongan. Karena bisa jadi keberanian untuk membentur itu buah dari benih kesombongan dalam hati kita. Menghindar memang miskin pujian, dibanding dengan keberanian untuk membentur, namun ini lebih sedikit memakan korban. Bahkan terkadang memilih menghindar bisa memicu cemooh. Tapi itu memang risiko, yang mungkin lebih baik dibanding dengan jumlah mereka yang terluka sebab oleh benturan.
Kesombongan itu bahaya yang dapat menggerus hati. Dengan kemasan percaya diri abaikan unsur kehati-hatian. Analisa SWOT bisa untuk menghindarinya. Bongkar diri, ukur kapasitas kita, seberapa tangguh hadapi tekanan, lalu mulailah membangun sistem pengendalian diri. Dengan rajin menilai secara objektif kapasitas diri, selain kita dapat membangun sistem pengendalian yg rapi, juga dapat tetap terjaga dari benih kesombongan.
Entahlah.....
Kesombongan itu bahaya yang dapat menggerus hati. Dengan kemasan percaya diri abaikan unsur kehati-hatian. Analisa SWOT bisa untuk menghindarinya. Bongkar diri, ukur kapasitas kita, seberapa tangguh hadapi tekanan, lalu mulailah membangun sistem pengendalian diri. Dengan rajin menilai secara objektif kapasitas diri, selain kita dapat membangun sistem pengendalian yg rapi, juga dapat tetap terjaga dari benih kesombongan.
Entahlah.....
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...