Pertama menukil dari surat Kartini, tanggal 15 Agustus 1902, kepada Estelle Zeehandelaar:
"Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh.." hmm... Yang membedakan Kartini dengan wanita Indonesia lain di jaman-nya adalah... ia terus memelihara "harapan" dalam hatinya, demikian pula hati wanita2 Indonesia pada masa itu...
Kedua, dijelaskan dalam buku "Visi Peradaban Komprehensif - Al-Ikhwan Al-Muslimun" salah satu faktor kebangkitan dan unsur kekuatan utama yang dibutuhkan oleh berbagai ummat dan menjadi sandaran berbagai bangsa adalah:
Harapan yang luas. Al-Qur'an memberi ummatnya berbagai cara untuk mengeluarkannya dari umat yang mati menjadi umat yang setiap elemennya memiliki kehidupan, tekad,
harapan, dan ketetapan hati.
Berdasar dua hal tersebut di atas, rasanya tepat jika puteri ketiga-ku yang lahir bertepatan dengan hari Kartini itu, aku beri nama
Asa, yang bermakna harapan. Karena harapan unsur penting dalam kebangkitan ummat.... lengkapnya:
Asa Adila Madania, menjadi harapan tegaknya keadilan dan terwujudnya masyarakat madani, masyarakat modern yang berperadaban, egaliter, berfikiran terbuka, berwawasan luas, dan terus mendorong pembangunan yang berkesinambungan...
hmm... jadi berat banget, makna nama anak-ku; semoga tidak menjadi beban, melainkan motivasi, karena nama adalah do'a. Aamiin.