Selasa, 04 Agustus 2026

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah Rindu Mampu Kauatur, aku dapat banyak hal baru. Ditutup dengan musikalisasi puisi dari puisi "Di Lapangan Banteng" sebuah catatan birokrat yang memuisi mewakili Komunitas Sastra Kemenkeu.

Terima kasih @bacaditebet menyediakan tempat nyaman di tengah buku-buku, seperti ditemani para penulis dunia dari masa ke masa.

 


Buku Kumpulan Puisi ke-7 "Apakah Rindu Mampu Kauatur?"


 Satu pertanyaan sederhana selalu datang mengetuk pintu kesadaran: Apakah rindu mampu kita atur?

Pertanyaan itu bukan sekadar kalimat retoris yang lahir dari renungan sesaat. Ia adalah muara dari banyak perjalanan batin, obrolan dengan diri sendiri di kala hening, serta lintasan cerita sederhana yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari—tentang kehangatan keluarga, tatapan jujur seorang anak, hingga dinamika rasa yang kerap hadir tanpa permisi.

Sering kali kita merasa mampu mengendalikan banyak hal dalam hidup: jadwal kerja, rencana masa depan, hingga keputusan-keputusan besar. Namun, ketika berhadapan dengan perasaan—khususnya rasa rindu—kita mendadak sadar betapa terbatasnya kendali yang kita miliki. Rindu tidak selalu datang tepat waktu, tidak selalu menyapa orang yang sama, dan kerap kali hadir di saat kita justru berusaha menepiskannya.

Apakah Rindu Mampu Kau Atur?

apakah rindu mampu kau atur? / seperti rasa yang berkendara di jalan masa / ingatan yang buka tutup seperti pintu bar / terayun-ayun oleh angin tertiup-tiup ingin

apakah nekat itu sama dengan tekad? / seperti peta yang kau lipat untuk melompat dari kota ke kota / sapaan seperti layangan tertiup angan / memeluk sepi menyelimuti mimpi

apakah keingintahuanmu itu ilmu?/ atau hanya penasaran berisikan perasan rasa / hasil bisikan setan untuk kekalkan tanda tanya / dan perjalanan dibuat berputar-putar saja

jiwa tertambat di stanplat / napas sisa-sisa di jelang jadi mayat / matahari muram remang temaram / matahati kusam dusta membungkam

apakah sudah cukup lelah? / seperti keledai di ujung senja / langkah gontai karena renta / lemah pandir meraih makna

Melalui buku kumpulan puisi ini, saya tidak berniat memberikan jawaban yang mutlak. Saya hanya ingin mengajak Anda melangkah sejenak keluar dari riuh dan berisiknya dunia. Mari kita duduk bersama, mengeja kembali makna rasa, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk sekadar bertanya, merenung, atau bahkan berdamai dengan kerinduan yang selama ini diam-diam kita simpan.

Puisi-puisi di dalam buku ini lahir dari bait-bait percakapan yang jujur. Saya berharap, lembar demi lembar buku ini bisa menjadi teman yang hangat untuk menemui sisi diri Anda yang paling hening.

Selamat membaca, selamat merenung, dan mari membiarkan rindu menemukan jalannya sendiri.

Nugroho Putu

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...