Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

Ndalang Lelakon "Faazallanaa Sengkuni"

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap
Bumi goyang-goyang langit melayang-layang

Sengkuni petakilan
Walau polahnya selalu saja di balik bayang bayang
Hanya pembisik di sisi gelap sang raja
Serupa syetan yang tak berujud
Yang bisikan ke Adam agar ia terjerumus dalam fitnah khuldi
Dengan iming-imingi kekekalan.

Bisikan syetan membuat Adam dan Hawa terlempar ke bumi
Sementara bisikan sengkuni bisa saja lalu membuat amarah menjadi betah dalam jiwa.
Bahkan sesekali terjadi percikan  benturan, bisa pula perseturuan yang berdarah-darah.

Tapi siapa bisa tangkap sengkuni,
sementara ia adalah bayang-bayang
Mudah melayang terkadang berlompatan pindah dari orang ke orang yang lain....

Mungkin kita biarkan saja,
sampai Sang Dalang lah yang gemes lalu merobek mulutnya....

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap
Bumi goyang-goyang langit melayang-layang

Poetoe. 2015

Minggu, 25 Januari 2015

indonesia awal 2015

Adalah parang yang dilempar ke langit
kilatannya mengedip-kedip
dan orang-orang masih berkumpul bersekam amarah.

Adalah gelisah yang menjadi api
bahwa dusta menjadi biasa
bahwa pura-pura cepat menjadi nyata dalam berita.

Dustai saja aku...
Berita menjadi muak dalam karung kata juga penggalan fragmen.

Jadi rindu, pada Abu Nawas
yang saat gulita dalam pekat dusta dan fitnah,
ia tetap saja bersyair.
Ia yakin, pada saatnya orang dholim itu mati terpenggal parang orang dholim lainnya
lalu matahari terbit lagi, dari celah awan hitam
yang tersibak oleh anyir darah.



Selasa, 16 September 2014

#entah yang marah

Kenyataan yang dipertontonkan di media menjadi terlalu sering mengecewakan, bagaimana tidak... saat pencitraan menjadi begitu dominan. Seolah setiap tokoh cerita dalam berita itu menjadi punakawan yang petakilan, sebagian lain menjadi Sengkuni yang tega jilat pantat panci yang gosong oleh dusta yang menyemesta. Sementara yang masih ingin bertahan perjuangkan idealismenya justru diberangus, dengan jebakan media dan prosedur yang melecehkan substansi dan mengagungkan formalitas belaka.

Dunia macam apa ini, saat kejujuran menjadi kehilangan birama. Setiap yang mencoba jujur menjadi Fals, menjadi sumbang. Lalu penonton sepontan melototinya, bahkan beberapa ada yang melemparinya dengan botol kosong. Ah... menyedihkan.

Aku khawatir jika aku teruskan tetap berdiri jadi penonton, aku bisa kehilangan kendali. Menjadi liar karena marah yang frustasi, atau mendadak bego plonga plongo saksikan kebenaran dikebiri tanpa bisa berbuat apa apa. Dan sang Sengkuni lah yang petentengan di atas panggung, seolah semua kebenaran bermuara di dirinya. Tunjuk sana tunjuk sini, seolah semua rela mematuhinya. Padahal rasa terpaksa itu memang tak akan nampak di permukaan. Jika terlihat, bukan senapan yang digunakan untuk mengakhiri hidup para pembangkang itu, melainkan dengan kekuatan fitnah yang beruntun segera mendera. Hingga luluh lantak kehilangan harga diri. Lelakon hidup memang terlihat lebih beradab dibanding pendahulunya yang sering main tembak, namun bukankah "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?"

Mungkin kita sudah sedemikian keji. Menebar hal yang lebih dari pembunuhan itu ke pelosok negeri. Juga mengunyah daging bangsanya sendiri, saat asyek bercengkerama dalam gunjing yang berkesinambungan.

Agh, mengapa tulisanku hari ini menjadi penuh kemarahan....

Daripada memaki kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Hmmmm....

Baiklah, aku mulai nyalakan lilin di sini. Di dalam diri. Nyala lilinnya adalah kenikmatan dalam sepi. Menjauh carut marut popularitas. Bersihkan diri dari gairah untuk mendapatkan pujian dan citra dari manusia. Seperti kata Tuhan.... "Bekerjalah, cukuplah Alloh dan Rosul-Nya yang melihatmu bekerja."

Wallohu A'lam.

Jumat, 04 Juli 2014

mas Joko di mataku....

Awalnya memang sepak ternjangnya mengagumkan. Terlihat sangat merakyat, dekat dan hangat. Penampilannya sederhana. Komunikasi bagus, beda. Kata-katanya tak banyak bumbu. Terlihat informal. Cengengesan. Dengan cepat aku putuskan, aku menyukainya. Lalu dimulailah petualanganku di dunia maya, berburu berita tentangnya. Dan memang banyak sekali informasi tentangnya. Hampir semua "Youtube" tentangnya aku tonton. Pernah suatu malam, aku menontonnya sampai fajar tiba. Perjalanan yang memukau, dari walikota Solo hingga jadi Gubernur DKI Jakarta.

Perlahan-lahan kekaguman itu berubah. Awalnya memang dari perbincangan dengan beberapa teman yang aktif di pemda tempat dia berdinas. Agak kaget juga, ternyata justru di internal cerita tentang dia berbeda. Aku pikir, mungkin temanku ini masih belum siap direformasi sementara pak Gubernur sudah berubah paradigmanya tentang birokrasi. Namun hasil perbincangan itu lah yang memancing aku belajar lebih jauh tentang cara ia memimpin organisasi. Ternyata memang tak banyak janji-janji politik waktu itu yang saat ini sudah dibuktikan.

Apalagi setelah ada beberapa informasi tentang proyek pencitraan dari orang-orang di belakang dia. Awalnya pun aku menyangkal, jika memang ada yang bermain di belakang dia tapi tak akan jadi jika sosok dia secara pribadi tidak mendukung. Jadi ingat teori Kapasitas dan Performance. Semestinya Performance itu dibangun dari kapasitas diri, bukan sebaliknya performance dibuat untuk memoles kapasitas diri.

Semuanya mulai nampak jelang pilpres. Banyak hal yang terkesan dipaksakan. Bagaimana cara dia menggampangkan masalah ekonomi dengan sekedar kartu. Secara ilmu marketing itu menjual, memukau rakyat kecil. Tapi tidak mendewasakan masyarakat kita. Masalah anggaran seperti dikesampingkan. Seolah-olah keuangan negara kita tidak ada masalah. Padahal pembagian kartu sehat di Jakarta saja sudah menimbulkan banyak masalah.

Menurutku dia memang hebat sebagai manajer penyelia. Manajer pengawas. Mandor. Kemampuan dia dalam mengawasi kinerja patut diacungin jempol. Walaupun blusukan itu sebenarnya indikasi tidak sehatnya hubungan atasan dan bawahan. Karena mencerminkan ketidakpercayaan atasan terhadap bawahan. Jika bicara level strategik rasanya (maaf) dia sering terlihat terlalu naif.

Entahlah.... tapi ada satu pelajaran berharga. Bahwa, perubahan memang tak bisa kita titipkan pada sosok artis yang hanya hebat untuk dicitrakan saja. Kita butuh perubahan yang sistematik. Jika dia menang dalam pilpres ini, akan seru secara dramatis... seolah-olah ada tokoh yang terlahir dari rakyat, dan muncul memimpin negeri. Terlihat keren, padahal justru akan berbahaya. Karena kemenangan itu hanya membuktikan bahwa sistem bisa kalah oleh aksi-aksi spontan. Aksi pencitraan itu terbukti berhasil, mengapa harus katakan tak ada bagi-bagi kursi padahal di belakang justru berebut dengan cara yang aneh. Mengapa juga harus berpura-pura "ora mikir" namun ternyata tetap maju juga dalam pencalonan. Mengapa harus pilih solusi kartu-kartu yang kenyataannya akan menjerumuskan kita dalam kebangkrutan, hanya demi langkah yang terlihat sok pahlawan di mata rakyat kecil....

Bisa jadi cara pandang mikroskopik yang terbiasa "Zoom in" menyorot sudut-sudut sempit saja, akan membawa bangsa ini membentur-bentur, menabrak dan mungkin saja terjatuh dalam kubangan kesalahan yang sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya.

Entahlah.....

Selasa, 17 Juni 2014

Balada Wo dan Wi,

Setelah menonton serius debat itu, ternyata memang tak ada benturan, apalagi percikan.
Benturan tidak terjadi karena keduanya memang beda pandang.
Mungkin Wo seperti bunyinya mewakili cara pandang yang lebih luas. MakrO. Sedang Wi itu taktis dan teknis. MIkro.
Wo itu zoom out, Wi itu zoom in. Dengan Wo kita dapat melihat berapa tanah pertanian yang belum tergarap. Dengan Wi kita bicara kartu.
Dengan Wo sang pelatih mengukur lemah kuatnya lawan lalu tetapkan strategi, dengan Wi asisten pelatih pastikan cidera pemain tak mengganggu.
Wo dan Wi semestinya tak perlu kita adu, karena mereka bisa saling isi. Wo strategis Wi itu teknis.
Dengan Wo kita bicara mau kemana, dengan Wi kita bicara bagaimana kita ke sana. Wo butuh Wi, demikian juga Wi tanpa Wo pasti kesasar.
Wo itu pemimpin, gaya kepala keluarga, orientasi pada pendapatan. Wi itu operator, gaya ibu rumah tangga fokus pada teknis.

Rabu, 11 Juni 2014

Sopir vs Mandor

Ada yang bilang, saat macet di tol ikuti saja bis besar. Karena sopirnya punya ruang pandang yang lebih jauh daripada kendaraan kecil. Cara pandang yang jauh ke depan membuat sopir lebih tahu mana jalur yang lebih macet mana yang lebih lancar. Demikianlah pemimpin, visinya harus luas dan jauh ke depan. Sehingga tepat mengukur hambatan di masa depan, juga potensi bangsanya. Pandangan yang lebih luas dan lebih jauh membuat semua jadi lebih terencana, juga lebih optimis jalani program. Tidak picik dan parsial dalam memandang satu masalah.

Pemimpin yang visioner itu mengarahkan yang dipimpinnya ke arah yang sesuai visi. Dia butuh mandor yang mengawasi. Mandor sang manajer pengawasan itulah yang bertugas blusukan, memastikan program sang pemimpin masih berjalan sesuai visi. Memang kita semua pemimpin, sesuai kapasitasnya. Kapasitas mandor tetaplah dibutuhkan di level manajer penyelia. Namun di posisi tertinggi tetaplah ia yang memiliki visi yang jauh dan strategik bukan sekedar mandor pengawas yang teknis dan mikroskopik.

Jumat, 30 Mei 2014

nDalang Sore - Lelakon Sengkuni nDalang -

Ketika sengkuni keluar dari layar, lalu rebut kekuasaan dalang...
kepura-puraan pun menjadi arus utama, dan dusta menyemesta
Seperti cinta yang kehilangan pegangan, terseret oleh dengki juga ambisi, tertatih tatih nyaris tersuruk.
bagaimana tidak, jika kata-kata mencercau di semua media. Padahal dusta, padahal jelas pura-puranya, pembaca dan pemirsa ndomblong
mana berita mana cerita tak lagi beda. Blaik! mending menatap langit senja saja. Muak dengan topeng itu....
arus utama sudah mulai kotor, tak lagi jelas ke hilir yang mana. Mungkin memang saatnya beranjak, keluar dari lumpur jijik ini.
Bersama senja, semua menjadi semakin nampak jelas. Bahwa ini polah sengkuni yang menjelma jadi dalang. Terlihat senyum jahat dibalik topeng.

Yang tersisa hanya rapal doa, benamkan mereka saja ya Tuhan dalam lubang gelapmu, agar langit kembali terang

#nDalangSore

Jumat, 16 Mei 2014

Lelakon (yang antiklimaks)

Diawali dari lelakon yang harum tingkah polahnya, membuat terpukau kuli tinta dan media, penggemar menghamba dengan cara nan lebay;
asyik ia menari laksana peri atau bidadari, tebar pesona, lakukan hal-hal yang aneh di kalangan warga dunia yang kotor;
siapa sangka, bila kemudian terlihat ada luka menganga di balik jubah pencitraannya. Luka dari sabetan belati ibunya sendiri;
Luka yang memanjang juga dalam, merobek hingga nurani. Keindahan hati terciderai haus akan kuasa, dan lapar oleh harta, juga puja;
si dia kini memakai topeng "datar". Sembunyikan luka itu. Senyumnya adalah perih, tawanya adalah sumbang, ia hanya petugas saja;
Lihat saja nanti, pada puncaknya ia hanya akan menjadi temanten mendampingi sosok ceria tanpa makna. Sang ratu pura-pura. agh! #lelakon

Kamis, 20 Juni 2013

Kumandangkan Kebenaran [nDalang Malam]



Dan para pemegang modal semakin norak genggam kendali kuasa. Rakyat diinjak tanpa ampun. Mereka pongah karena sok kaya, bahkan membeli citra penguasa yang kenakan bedak populis dan pencitraan seolah berhala, dipuja puja, bahkan dengan ritual anti pencitraan. Keikhlasan dipoles di pipi, menjadi bahan tertawaan anak-anak yang masih cerdas hati, dan unggas pun tertawa berguling-guling.

Kenakalan hasrat berkuasa semakin membabi buta, mengubah berita menjadi cerita, menyihir fakta menjadi tak nyata, anggapan menjadi kebenaran. Dengan menjejal-jejalkan dusta ke liang telinga, kata menyihir akal sehat menjadi sakit , manusia biasa yang doyan berita murah itu menjadi pasukan tanpa hati. Berbaris kehilangan makna. Yang sadar tercecer dalam air mata ...mereka bagikan jutaan topeng sengkuni, untuk tutupi sembab air mata nurani juga hati yang mulai membusuk. ...mau marah saja kini malu. Karena alasan sudah menjadi anak sah pasukan seribu muka. Kejujuran menjadi hening yang fals dalam orkestra jiwa 

...hanya Punakawan yang ditunggu, petakilan kumandangkan tawa. Walau sumbang tetap saja, karena ini energi yang tersisa ...Semar jalan geyal geyol. Mukanya ambigu antara senyum atau menangis, ia simbol iman. Tempat bersandar saat letih hati ...Gareng jalan pincang, ingatkan kita yang pasti cacat saat abaikan gerak hati demi dengkinya ambisi. ...Petruk dan Bagong tertawa tawa sambil asyik update status dan ngetuit ttg negeri yg menanam ironi, ttg ngeri yg penuhi nurani. ...sepi pun basi, sunyi pun tak bernyali. Karena kebenaran jamuran saat tak lagi ada yang berani perdengarkan lagi ...bernyanyilah terus, berteriak lantang sajalah. Bunuh takutmu dengan simpan rapat-rapat dalam jeruji hatimu, kunci lalu buang kuncinya #ndalangMalam

Selasa, 11 Desember 2012

Belajar Politik

Membaca berita politik belakangan ini terbaca begitu banyak masalah, tumpang tindih. Dan yang menyedihkan adalah jarak antara rakyat dan penguasa yang demikian jauh, kami menyebutnya jurang ketidakpercayaan. Berawal dari jurang ini segala kerusuhan dimulai; demo, korup, penggusuran, laporan dusta, dsb.

Dan yang dapat menghubungkan jurang ketidakpercayaan itu adalah komunikasi yang efektif antara penguasa dan rakyat. Penguasa yang welas asih dan penuh perhatian terhadap kepentingan rakyat, dan rakyat yang penuh prasangka baik terhadap penguasa. "Tsiqoh mutabadilah"  

Dan ketulusan adalah pondasi penting dalam kepemimpinan, tanpa itu ia hanya topeng tanpa nyawa. Semestinya partai politik membangun sistem yang mampu memelihara ketulusan itu tetap ada dalam hati para kadernya saat mereka memimpin. 

Ketulusan memang tak terbaca secara dhahir, namun tanda-tandanya ada. Seperti saat dalam bis kota sesak penumpang, dan ada percikan api di dalamnya, apa yang dia lakukan? Apakah ia sibuk menyelamatkan yang lemah, atau sibuk selamatkan diri? Juga saat hujan deras dan rawan banjir, apakah ia tertidur pulas atau resah khawatirkan tetangganya yang mungkin kena banjir?

Entahlah.....   

Sabtu, 17 September 2011

belajar dari Anis Mata

Semestinya Iman itu menjadi energi kita dalam menjalani dua tugas:
1) Memikul Beban, dan
2) Melawan Musuh.

Dan Puasa adalah pelatihan yang tepat untuk mengasah jiwa "sabar" kita, sabar yang bermakna "Konsistensi Amal", karena puasa itu perintah untuk tidak melakukan; dan ini adalah pendidikan katakter kita, karena dalam ilmu pengembangan diri, bagian tersulit adalah "pengendalian diri".

Peradaban selalu saja melewati tiga tahapan, yaitu:
1) saat menanjak naik; dominasi "Ruhiyah" indikatornya Sumber Daya lebih kecil daripada Output.
2) bergerak datar; dominasi "Akal", indikatornya Sumber Daya sama besar dengan output, di sini realisme yang berkuasa.
3) bergerak turun; dominasi "syahwat" indikatornya Sumber Daya jauh lebih banyak dari Out put.

Senin, 15 Agustus 2011

instan

Budaya instan sepertinya sudah merasuki di hampir semua sisi hidup kita. Dari makanan instan, kebahagiaan instan, kaya instan, karya instan, termasuk membangun performance.... Idealnya performance itu lahir dari kapasitas diri yang memang memadai. Kini justru terbalik, Perfomance dimanipulasi untuk menutupi kekurangan dalam kapasitas diri. Pura-pura berubah menjadi strategi marketing, dusta menjadi samar dalam kemasan basa basi.

Bahkan para politikus terbawa latah budaya "facebook", menjadi narsis dalam spanduk-spanduk, juga dalam iklan-iklan di media. Berebutan jabatan dengan dalih panggilan tugas.

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...