Hadits ke 40 dari Hadits Arba'in karya Imam Nawawi "Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau penyeberang jalan......"
Jadi punya dalil... untuk tetap menjadi orang asing. Yang pura pura tak terlalu kenal. Walau sesekali mungkin aku bisa membunyikan klakson di depan rumahmu. ... hehe...
Maksudnya agar tak menganggap dunia sebagai kampung halaman....
Karena kampung halaman kita di akhirat.
So kita bisa lebih mudah rela saat kehilangan sesuatu di dunia ini....
Toh itu bukan milik kita.
Lebih mudah rela saat terpuruk di dunia ini.
.... Toh ini bukan akhir dari kehidupan kita
Tak mudah untuk disakiti karena ini toh hanya di dunia. Di tempat asing..... yg penting nanti di kampung akhirat kita bahagia dan mulia
Mudah memaafkan, karena kesalahan orang lain atas kita di dunia ini toh itu urusan mereka dengan Tuhannya, justru dengan memaafkan, dapat menjadi bekal kita di kampung akhirat nanti. Aamiin.
# tentang dunia.
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Desember 2015
Senin, 23 Februari 2015
Bismillah
Cinta dan Sayang-Mu meluas dalam ruang dan kekal dalam waktu....
Demikian saat terlantunkan Asma-Mu di setiap mula kami.
Seperti badai kesejukan yang dahsyat menampar masalah apa pun....
Bahkan sakit yang teramat sangat saat maut menggigit perlahan sekujur jasad.... itu pun dapat dijalani dengan senyuman.
Nama-Mu demikian sakti meledak dalam dada, ciptakan bahagia yang tak terhingga....
aku kecil tenggelam dalam lautan puja puji untuk-Mu.
Kau aku cinta....
..dan terus kupaksakan cinta ini menguasai hatiku saat berdebar menghadapmu:
dalam sholat dan sabar
juga dalam detik-detik akhir hidupku.
Kau.
Demikian saat terlantunkan Asma-Mu di setiap mula kami.
Seperti badai kesejukan yang dahsyat menampar masalah apa pun....
Bahkan sakit yang teramat sangat saat maut menggigit perlahan sekujur jasad.... itu pun dapat dijalani dengan senyuman.
Nama-Mu demikian sakti meledak dalam dada, ciptakan bahagia yang tak terhingga....
aku kecil tenggelam dalam lautan puja puji untuk-Mu.
Kau aku cinta....
..dan terus kupaksakan cinta ini menguasai hatiku saat berdebar menghadapmu:
dalam sholat dan sabar
juga dalam detik-detik akhir hidupku.
Kau.
Kamis, 22 Januari 2015
HUJAN MENGENDALIKAN RASAKU
Hujan sedari dini hari, bahkan sedari kemarin mungkin. Rintiknya memukul-mukul hati. Dan mungkin karenanya aku jadi menangis pagi ini. Dengan entah sebab apa. Rasanya seperti dulu saat belia dan rasakan cinta yang terabaikan. Aku menangis di kamar mandi, persis seperti dulu. Mungkin ini badai puber keduaku.
Hujan tetap saja turun, hingga siang tak juga berhenti. Dan aku pun kembali menangis. Kali ini dengan sebab yang dapat aku mengerti. Karena aku menangis bersama khotib dan jamaah solat Jumat lainnya. Kami terbawa suasana oleh materi yang khotib sampaikan. Materinya materi yang sebenarnya sering dibawakan oleh khotib lainya, namun suasana hujan dan cara penyampaian yang mendukung, dengan tambahan kisah-kisah nyata yang menguatkan tamparan ke hati kami.
Khotib bercerita tentang hadits dari Bukhori Muslim yang menjelaskan tentang tiga amalan yang paling disukai Alloh SWT. Adalah:
1. Sholat tepat waktu
Dengan ditambahkan kisah nyata penjual bakso yang teguh menjaga solat lima waktu tepat waktu di masjid, dan konsisten membagi penghasilannya menjadi tiga, satu untuk infak masjid di dekat rumahnya, satu untuk modal usaha dan nafkah keluarga, dan satu lagi untuk tabungan hajinya. Akhirnya dia naik haji tahun lalu.
Juga tentang kisah tukang becak di Semarang yang bertemu dengan seorang pengusaha yang minta diantar keliling kota Semarang pada dini hari. Hingga saat masuk waktu solat Shubuh Ibnu si tukang becak itu minta maaf tidak bisa melanjutkan karena harus ke masjid untuk solat. Pengusaha itu tertarik dengan alasan tukang becak, namun coba mengujinya, akan berikan Rp.500.000,- hingga Rp.1.000.000,- jika Ibnu mau lanjutkan mengantarnya berkeliling. Namun Ibnu menolaknya, jawab dia, "Bukankah solat subuh tepat waktu itu lebih baik daripada dunia dan seisinya?" Akhirnya pengusaha itu mengalah, mereka solat di masjid terdekat. Dan selepas solat, pengusaha itu memeluk Ibnu, dan ungkapkan kekagumannya atas konsitensi dia menjaga solat tepat waktunya. Dan Pengusaha itu menawarkan membiayai Ibnu untuk naik haji.
2. Bakti kepada kedua orang tua.
Kisah Alqomah dipaparkan. Bagaimana amalan kebaikannya tak dapat memudahkannya menjalani sakaratul maut, bahkan menghalanginya mengucapkan kalimat toyibah saat sakaratul maut. Ternyata itu terjadi karena tak ada rido dari ibunya, yang pernah sakit hati karena Alqomah lebih cinta kepada istrinya daripada kepada ibunya.
3. Jihad di jalan Alloh.
Bersungguh-sungguh di jalan kebaikan, di jalan dakwah. Bagaimana bekerja sebagai ibadah, sehingga menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Berikanlah amal terbaikmu selama menjalani hidup ini.
Materi ini membuat air mata kembali tumpah.
Saat khutbah kedua, khotib membacakan ayat dalam surat At-Tahrim, tentang seruan bertaubat. Lalu dilanjutkan dengan doa bersama. Ini juga menampar hati. Sekali lagi air mata tumpah.
Dan ternyata tak cukup sampai di situ. Saat solat dua rakaat, imam memilih membaca surat At-Tahrim ayat tentang taubat itu di rakaat pertama, lalu surah Ar-Rahman di rakaat kedua. Kombinasi indah, Taubat dan Cinta/sayang. Ini seperti menu yang tepat untukku. Aku tertampar kesekian kalinya. Air mata. Namun segar.
Saat keluar masjid, walau matahari masih bersembunyi di balik mendung, aku lega. Aku merasa hari ini lebih terang. Aku bersyukur atas segala nikmatmu wahai Sang Pencinta, wahai Sang Penyanyang.
Hujan tetap saja turun, hingga siang tak juga berhenti. Dan aku pun kembali menangis. Kali ini dengan sebab yang dapat aku mengerti. Karena aku menangis bersama khotib dan jamaah solat Jumat lainnya. Kami terbawa suasana oleh materi yang khotib sampaikan. Materinya materi yang sebenarnya sering dibawakan oleh khotib lainya, namun suasana hujan dan cara penyampaian yang mendukung, dengan tambahan kisah-kisah nyata yang menguatkan tamparan ke hati kami.
Khotib bercerita tentang hadits dari Bukhori Muslim yang menjelaskan tentang tiga amalan yang paling disukai Alloh SWT. Adalah:
1. Sholat tepat waktu
Dengan ditambahkan kisah nyata penjual bakso yang teguh menjaga solat lima waktu tepat waktu di masjid, dan konsisten membagi penghasilannya menjadi tiga, satu untuk infak masjid di dekat rumahnya, satu untuk modal usaha dan nafkah keluarga, dan satu lagi untuk tabungan hajinya. Akhirnya dia naik haji tahun lalu.
Juga tentang kisah tukang becak di Semarang yang bertemu dengan seorang pengusaha yang minta diantar keliling kota Semarang pada dini hari. Hingga saat masuk waktu solat Shubuh Ibnu si tukang becak itu minta maaf tidak bisa melanjutkan karena harus ke masjid untuk solat. Pengusaha itu tertarik dengan alasan tukang becak, namun coba mengujinya, akan berikan Rp.500.000,- hingga Rp.1.000.000,- jika Ibnu mau lanjutkan mengantarnya berkeliling. Namun Ibnu menolaknya, jawab dia, "Bukankah solat subuh tepat waktu itu lebih baik daripada dunia dan seisinya?" Akhirnya pengusaha itu mengalah, mereka solat di masjid terdekat. Dan selepas solat, pengusaha itu memeluk Ibnu, dan ungkapkan kekagumannya atas konsitensi dia menjaga solat tepat waktunya. Dan Pengusaha itu menawarkan membiayai Ibnu untuk naik haji.
2. Bakti kepada kedua orang tua.
Kisah Alqomah dipaparkan. Bagaimana amalan kebaikannya tak dapat memudahkannya menjalani sakaratul maut, bahkan menghalanginya mengucapkan kalimat toyibah saat sakaratul maut. Ternyata itu terjadi karena tak ada rido dari ibunya, yang pernah sakit hati karena Alqomah lebih cinta kepada istrinya daripada kepada ibunya.
3. Jihad di jalan Alloh.
Bersungguh-sungguh di jalan kebaikan, di jalan dakwah. Bagaimana bekerja sebagai ibadah, sehingga menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Berikanlah amal terbaikmu selama menjalani hidup ini.
Materi ini membuat air mata kembali tumpah.
Saat khutbah kedua, khotib membacakan ayat dalam surat At-Tahrim, tentang seruan bertaubat. Lalu dilanjutkan dengan doa bersama. Ini juga menampar hati. Sekali lagi air mata tumpah.
Dan ternyata tak cukup sampai di situ. Saat solat dua rakaat, imam memilih membaca surat At-Tahrim ayat tentang taubat itu di rakaat pertama, lalu surah Ar-Rahman di rakaat kedua. Kombinasi indah, Taubat dan Cinta/sayang. Ini seperti menu yang tepat untukku. Aku tertampar kesekian kalinya. Air mata. Namun segar.
Saat keluar masjid, walau matahari masih bersembunyi di balik mendung, aku lega. Aku merasa hari ini lebih terang. Aku bersyukur atas segala nikmatmu wahai Sang Pencinta, wahai Sang Penyanyang.
Minggu, 18 Januari 2015
Melibatkan Dia
Seberapa agama mempengaruhi kita. Apakah kita hanya meletakkannya sebagai bagian dari kehidupan saja atau kehidupan ini seluruhnya kita tata dengan agama?
Teringat 15 tahun lalu ada seorang teman yang dengan semangat mendefinisikan agama sebagai penataan hidup. Mungkin ini istilah yang tepat untuk menjawab pemikiran sekulerisme yang memposisikan agama sebagai ritual semata. Dan kehidupan duniawi terpisah dengan kehidupan ruhani/ukhrowi kita.
Saat kuliah dulu, aku selalu terpesona oleh anak-anak muda, yang rajin bertanya dalam aktifitas hariannya, "apakah ini yang Tuhan ingin kita lakukan?". Selalu melibatkan-Nya dalam setiap keputusan. Jadi malu, jika pada saat keputusan-keputusan penting justru kita mengabaikan-Nya. Dan lebih memilih menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat duniawi.
Kita memang butuh kesadaran penuh bahwa perjalanan di dunia ini hanyalah jalan menuju kampung akhirat kita. Kesadaran penuh, karena dalam menjalaninya kita sering terlupa dan lalai. Karena demikian memukaunya perjalanan dunia ini. Semoga Dia selalu melindungi kesadaran kita.
Aamiin.
Teringat 15 tahun lalu ada seorang teman yang dengan semangat mendefinisikan agama sebagai penataan hidup. Mungkin ini istilah yang tepat untuk menjawab pemikiran sekulerisme yang memposisikan agama sebagai ritual semata. Dan kehidupan duniawi terpisah dengan kehidupan ruhani/ukhrowi kita.
Saat kuliah dulu, aku selalu terpesona oleh anak-anak muda, yang rajin bertanya dalam aktifitas hariannya, "apakah ini yang Tuhan ingin kita lakukan?". Selalu melibatkan-Nya dalam setiap keputusan. Jadi malu, jika pada saat keputusan-keputusan penting justru kita mengabaikan-Nya. Dan lebih memilih menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang bersifat duniawi.
Kita memang butuh kesadaran penuh bahwa perjalanan di dunia ini hanyalah jalan menuju kampung akhirat kita. Kesadaran penuh, karena dalam menjalaninya kita sering terlupa dan lalai. Karena demikian memukaunya perjalanan dunia ini. Semoga Dia selalu melindungi kesadaran kita.
Aamiin.
Sabtu, 03 Januari 2015
Masih tentang diri.
Ingin kembali berbincang tentang diri, membuka beberapa buku menemukan beberapa hal menarik:
1. Sutan Sjahrir dalam Renungan Indonesia: "Kita merasa diri yakin bahwa kita bisa menilai diri kita dengan objektif, bahwa kita tahu hubungan yang tepat antara kita dengan masyarakat dan kemanusiaan; tetapi betapa banyak energi yang kita pergunakan untuk membuat citra pribadi yang kecil ini seindah mungkin di mata orang lain dan juga di mata kita sendiri."
2. Kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam dengan alasan "abaa wastakbaro", menentang dan sombong. (QS. 2: 24)
Betapa banyak waktu kita habiskan untuk membangun citra diri kita. Sibuk bersolek. Mematut matut diri. Bahkan terkadang terlupa tidak lalu dengan menambah kapasitas diri. Jadi hanya citra saja yang dibangun sehingga semakin berjarak antara kapasitas diri yang sebenarnya dengan citra atau reputasi kita di hadapan orang lain. Hasilnya adalah terbangun pribadi yang egosentris. Merasa demikian hebat di mata diri sendiri. Merasa layak mendapat penghargaan dan penghormatan.
Efeknya adalah kita menjadi pribadi yang mudah tersinggung bahkan terluka saat orang tak memberikan penghargaan yang sesuai dengan anggapan diri kita atas diri kita sendiri. Dari perasaan ini muncul lagi potensi untuk berat mengeluarkan kata "maaf" dan "terima kasih". Juga tak mudah untuk memaafkan orang lain.
Bisa jadi kita tak sadar, sedang terjebak dalam "kesombongan". Sikap hati yang sama dengan sikap hati Iblis saat mula-mula melakukan tindakan kekafiran di hadapan Allah SWT.
Masih ada waktu, untuk mengikis habis sifat Iblis ini dalam diri kita ini. Mari....
Wallohu a'lam.
1. Sutan Sjahrir dalam Renungan Indonesia: "Kita merasa diri yakin bahwa kita bisa menilai diri kita dengan objektif, bahwa kita tahu hubungan yang tepat antara kita dengan masyarakat dan kemanusiaan; tetapi betapa banyak energi yang kita pergunakan untuk membuat citra pribadi yang kecil ini seindah mungkin di mata orang lain dan juga di mata kita sendiri."
2. Kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam dengan alasan "abaa wastakbaro", menentang dan sombong. (QS. 2: 24)
Betapa banyak waktu kita habiskan untuk membangun citra diri kita. Sibuk bersolek. Mematut matut diri. Bahkan terkadang terlupa tidak lalu dengan menambah kapasitas diri. Jadi hanya citra saja yang dibangun sehingga semakin berjarak antara kapasitas diri yang sebenarnya dengan citra atau reputasi kita di hadapan orang lain. Hasilnya adalah terbangun pribadi yang egosentris. Merasa demikian hebat di mata diri sendiri. Merasa layak mendapat penghargaan dan penghormatan.
Efeknya adalah kita menjadi pribadi yang mudah tersinggung bahkan terluka saat orang tak memberikan penghargaan yang sesuai dengan anggapan diri kita atas diri kita sendiri. Dari perasaan ini muncul lagi potensi untuk berat mengeluarkan kata "maaf" dan "terima kasih". Juga tak mudah untuk memaafkan orang lain.
Bisa jadi kita tak sadar, sedang terjebak dalam "kesombongan". Sikap hati yang sama dengan sikap hati Iblis saat mula-mula melakukan tindakan kekafiran di hadapan Allah SWT.
Masih ada waktu, untuk mengikis habis sifat Iblis ini dalam diri kita ini. Mari....
Wallohu a'lam.
Tentang Keyakinan
Belajar kembali tentang keyakinan.
Bahwa semestinya ini bukan doktrinisasi.
Bukan pula tentang jalan penuh kontradiksi.
Keyakinan kita mestinya tak lalu membuat kita gulita atas pintu pemahaman lain.
Begitu pula tak lalu ciptakan langkah penuh benturan.
Jika pun ada benturan itu atas hal asasi bukan perkara remeh yang ujungnya tentang ego kita saja.
Betapa banyak langkah kita yang keliru.
Betapa banyak informasi yang penting yang kita abaikan.
Yang mungkin terjadi semata-mata terlalu pentingnya diri kita di mata kita.
Bahwa semestinya ini bukan doktrinisasi.
Bukan pula tentang jalan penuh kontradiksi.
Keyakinan kita mestinya tak lalu membuat kita gulita atas pintu pemahaman lain.
Begitu pula tak lalu ciptakan langkah penuh benturan.
Jika pun ada benturan itu atas hal asasi bukan perkara remeh yang ujungnya tentang ego kita saja.
Betapa banyak langkah kita yang keliru.
Betapa banyak informasi yang penting yang kita abaikan.
Yang mungkin terjadi semata-mata terlalu pentingnya diri kita di mata kita.
Senin, 08 Desember 2014
Berkumpul bersama.
Kami berkumpul di lereng gunung, bersama ratusan sahabat. Dengan niat yang sama, jalankan pelatihan diri sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Semangat ketaatan itu mewarnai segenap acara. Sehingga dalam padatnya agenda, dan angin dingin juga hujan, kami tetap diringankan untuk melaksanakan ibadah-ibadah harian kami.
Ada sepenggal fragmen yang rasanya akan lama dalam ingatan, ialah saat sampai di puncak gunung, dalam hujan dan pekatnya kabut. Berdesakan antri, karena lereng tak memungkinkan dilalui selain harus satu persatu. Dingin mencengkeram. Awalnya hanya kulit dan tubuh, perlahan mulai mengganggu otak dan akal sehat. Kami mencoba mengusirnya dengan tetap bergerak dan tetap mengunyah bekal yang kami bawa. Sampai akhirnya ada seorang dari kami membaca ma'tsurat - dzikir rutin pagi dan sore. Lantunannya langsung diikuti oleh kami. Perlahan semakin mengeras. Ratusan mulut itu bersama menggumamkan dzikir tersebut. Bergumam memenuhi alam, puncak gunung itu serasa ikut berdzikir. Dingin kami mulai terusir, namun kini yang aku rasakan justru merinding. Campur aduk. Rasa sebagai hamba yang kecil dan lemah. Tak ada apa pun dapat kami lakukan selain atas izin-Nya. Air mata mulai menyatu dengan tetes hujan.
Ada lagi kejadian yang aku catat sebagai keindahan suasana. Padahal mungkin ini hanya kejadian sederhana. Adalah suatu pagi selepas dzikir pagi dan sarapan, kami diminta berkumpul di lapangan. Karena lapangan di tengah tenda-tenda kami tak begitu luas, maka beberapa kami berdiri saja di depan tenda masing-masing. Seorang instruktur memimpin, awalnya ia gunakan pengeras suara, namun saat mulai memimpin senam, pengeras suara diletakkan. Hanya suara dia yang sayup-sayup terdengar. Secara otomatis, beberapa dari kami ikut membantu mengulang hitungan, sehingga terdengar suara hitungan yang semakin keras, kompak. Dan karena aku duduk di barisan belakang, maka terlihat gerakan yang rapi dengan irama suara hitungan yang padu. Indah. Hingga saat instruktur mengajak membuat lompatan yang bergantian, agar serupa dengan gelombang, kami melakukannya dengan indahnya. setiap lompatan kami ikuti dengan teriakan, sehingga gelombang manusia dan alunan teriakan itu serupa gelombang ombak dengan suara deburannya. Dan puncaknya saat selesai, kami spontan bertakbir bersama.
Demikianlah, satu rangkaian acara pelatihan yang tak terlupakan. Melahirkan kesadaran, bahwa kita memang kecil, kerdil, dan lemah. Namun jika bersama dalam satu barisan yang kokoh, pastilah kita menjadi kekuatan raksasa dan dahsyat. Dikumpulkan oleh cinta kepada-Nya, dipertemukan oleh ketaatan kepada-Nya. disatukan oleh dakwah kepada-Nya, dan terikat janji untuk terus menolong syari'at-Nya. Semoga Allah SWT eratkan ikatan ini. Aamiin.
Papandayan, desember 2014.
Ada sepenggal fragmen yang rasanya akan lama dalam ingatan, ialah saat sampai di puncak gunung, dalam hujan dan pekatnya kabut. Berdesakan antri, karena lereng tak memungkinkan dilalui selain harus satu persatu. Dingin mencengkeram. Awalnya hanya kulit dan tubuh, perlahan mulai mengganggu otak dan akal sehat. Kami mencoba mengusirnya dengan tetap bergerak dan tetap mengunyah bekal yang kami bawa. Sampai akhirnya ada seorang dari kami membaca ma'tsurat - dzikir rutin pagi dan sore. Lantunannya langsung diikuti oleh kami. Perlahan semakin mengeras. Ratusan mulut itu bersama menggumamkan dzikir tersebut. Bergumam memenuhi alam, puncak gunung itu serasa ikut berdzikir. Dingin kami mulai terusir, namun kini yang aku rasakan justru merinding. Campur aduk. Rasa sebagai hamba yang kecil dan lemah. Tak ada apa pun dapat kami lakukan selain atas izin-Nya. Air mata mulai menyatu dengan tetes hujan.
Ada lagi kejadian yang aku catat sebagai keindahan suasana. Padahal mungkin ini hanya kejadian sederhana. Adalah suatu pagi selepas dzikir pagi dan sarapan, kami diminta berkumpul di lapangan. Karena lapangan di tengah tenda-tenda kami tak begitu luas, maka beberapa kami berdiri saja di depan tenda masing-masing. Seorang instruktur memimpin, awalnya ia gunakan pengeras suara, namun saat mulai memimpin senam, pengeras suara diletakkan. Hanya suara dia yang sayup-sayup terdengar. Secara otomatis, beberapa dari kami ikut membantu mengulang hitungan, sehingga terdengar suara hitungan yang semakin keras, kompak. Dan karena aku duduk di barisan belakang, maka terlihat gerakan yang rapi dengan irama suara hitungan yang padu. Indah. Hingga saat instruktur mengajak membuat lompatan yang bergantian, agar serupa dengan gelombang, kami melakukannya dengan indahnya. setiap lompatan kami ikuti dengan teriakan, sehingga gelombang manusia dan alunan teriakan itu serupa gelombang ombak dengan suara deburannya. Dan puncaknya saat selesai, kami spontan bertakbir bersama.
Demikianlah, satu rangkaian acara pelatihan yang tak terlupakan. Melahirkan kesadaran, bahwa kita memang kecil, kerdil, dan lemah. Namun jika bersama dalam satu barisan yang kokoh, pastilah kita menjadi kekuatan raksasa dan dahsyat. Dikumpulkan oleh cinta kepada-Nya, dipertemukan oleh ketaatan kepada-Nya. disatukan oleh dakwah kepada-Nya, dan terikat janji untuk terus menolong syari'at-Nya. Semoga Allah SWT eratkan ikatan ini. Aamiin.
Papandayan, desember 2014.
Sabtu, 17 September 2011
belajar dari Anis Mata
Semestinya Iman itu menjadi energi kita dalam menjalani dua tugas:
1) Memikul Beban, dan
2) Melawan Musuh.
Dan Puasa adalah pelatihan yang tepat untuk mengasah jiwa "sabar" kita, sabar yang bermakna "Konsistensi Amal", karena puasa itu perintah untuk tidak melakukan; dan ini adalah pendidikan katakter kita, karena dalam ilmu pengembangan diri, bagian tersulit adalah "pengendalian diri".
Peradaban selalu saja melewati tiga tahapan, yaitu:
1) saat menanjak naik; dominasi "Ruhiyah" indikatornya Sumber Daya lebih kecil daripada Output.
2) bergerak datar; dominasi "Akal", indikatornya Sumber Daya sama besar dengan output, di sini realisme yang berkuasa.
3) bergerak turun; dominasi "syahwat" indikatornya Sumber Daya jauh lebih banyak dari Out put.
1) Memikul Beban, dan
2) Melawan Musuh.
Dan Puasa adalah pelatihan yang tepat untuk mengasah jiwa "sabar" kita, sabar yang bermakna "Konsistensi Amal", karena puasa itu perintah untuk tidak melakukan; dan ini adalah pendidikan katakter kita, karena dalam ilmu pengembangan diri, bagian tersulit adalah "pengendalian diri".
Peradaban selalu saja melewati tiga tahapan, yaitu:
1) saat menanjak naik; dominasi "Ruhiyah" indikatornya Sumber Daya lebih kecil daripada Output.
2) bergerak datar; dominasi "Akal", indikatornya Sumber Daya sama besar dengan output, di sini realisme yang berkuasa.
3) bergerak turun; dominasi "syahwat" indikatornya Sumber Daya jauh lebih banyak dari Out put.
Senin, 22 Agustus 2011
belajar Sirah Nabawiy di Ramadhan 1432 H
Ramadhan tahun ini, aku menyengaja belajar lebih serius tentang Sirah Nabawiayah. Ada beberapa buku sejarah hidup Nabi yang memang paksa untuk aku kunyah pelan-pelan. Paling tidak ada 4 perang yang aku berikan catatan khusus:
1. Perang Badar, perang yang terjadi di tahun 2 Hijriyah; Al-Qur'an banyak bercerita tentang perang ini di Surah Al-Anfaal. Indah betul... dan dari kejadian-kejadian di perang ini, aku belajar tentang "Iman". Adalah kisah tentang kesiapan hati kita dalam menerima ketentuan Alloh; seperti kesiapan kaum muslimin saat itu yang berharap bertemu dengan kabilah dagang Abu Sofyan, ternyata justru ketemu dengan pasukan siap perang yang dipimpin Abu Jahal. Jumlah pasukan jauh lebih banyak, banyak yang mengira kaum muslimin tidak akan menang, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kekuatan Iman lah yang memotivasi mereka untuk bertempur sepenuh hati.
2. Perang Uhud, adalah perang yang terjadi sebagai balasan kekalahan kaum Kafir Quraisy; dan dari perang ini aku belajar tentang "keikhlashan". Bagaimana akhirnya pasukan panah yang ditempatkan di bukit "ainaini" itu tergoda ikut turun untuk mengambil harta rampasan perang, dan ini dimanfaatkan oleh pasukan kafir untuk menyerang kaum muslimin. Karena ketidaktaatan ini, banyak pasukan muslim yang syahid. Bahkan Rosululloh pun nyaris terbunuh.
3. Perang Ahzab, atau perang Khandaq.. ini pelajaran tentang "Mimpi". Setelah mendengar informasi bahwa ada pasukan raksasa dari berbagai suku hendak menyerang Madinah, Rosululloh mengatur strategi; dan atas usulan Salman Al-Farisi dibuatlah parit di sekitar Madinah. Hanya dalam waktu tidak lebih dari satu pekan, parit itu harus dibuat. Banyak kejadian yang dramatis dalam proses pembuatan parit itu, konon diceritakan percikan api dari batu yang dipecahkan Rosululloh itu memiliki makna ekspansi dakwah Islam akan sampai ke persia dan romawi. Dan akhirnya memang terwujud dalam penaklukan Persia dan berhasil memukul mundur pasukan Romawi, di masa Khalifatur Rasyidin sepeninggal Rosululloh SAW. Ini menunjukkan pentingnya mimpi dalam isi kepala kita. Di saat ketakutan menghadapi Pasukan Multi nasional itu, Rosululloh justru memberikan mimpi kemenangan yang lebih besar. Seakan-akan Rosululloh ingin menjelaskan bahwa jangankan hanya Pasukan Kafir Qurais dari Makah, negara Persia atau pun Romawi [negara adi jaya di masanya] pun akan dapat kita kalahkan. hmm, motivasi yang luar biasa.
4. Perang Tabuk, [ekspedisi tabuk], darinya aku belajar tentang "totalitas". Karena Ekspedisi Tabuk ini membutuhkan kesiapan yang luar biasa, perjalanannya panjang dan melelahkan. Untuk melindungi umat Islam di Madinah, Muhammad SAW memutuskan untuk melakukan aksi preventif, dan menyiapkan pasukan. Hal ini disulitkan dengan adanya kelaparan di tanah Arab dan kurangnya kas umat Muslimin. Namun, Muhammad SAW berhasil mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 30.000 orang, jumlah pasukan terbanyak yang pernah dimiliki umat Islam. Dengan dibumbui sepenggal kisah tentang ketundukan tiga Sahabat yang tertinggal dalam ekspedisi tersebut, dan mereka siap menerima sanksi dari Rosululloh SAW atas kelalaiannya itu [Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’-]; indahnya kehidupan mereka....
Wallohu a'alam...
1. Perang Badar, perang yang terjadi di tahun 2 Hijriyah; Al-Qur'an banyak bercerita tentang perang ini di Surah Al-Anfaal. Indah betul... dan dari kejadian-kejadian di perang ini, aku belajar tentang "Iman". Adalah kisah tentang kesiapan hati kita dalam menerima ketentuan Alloh; seperti kesiapan kaum muslimin saat itu yang berharap bertemu dengan kabilah dagang Abu Sofyan, ternyata justru ketemu dengan pasukan siap perang yang dipimpin Abu Jahal. Jumlah pasukan jauh lebih banyak, banyak yang mengira kaum muslimin tidak akan menang, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kekuatan Iman lah yang memotivasi mereka untuk bertempur sepenuh hati.
2. Perang Uhud, adalah perang yang terjadi sebagai balasan kekalahan kaum Kafir Quraisy; dan dari perang ini aku belajar tentang "keikhlashan". Bagaimana akhirnya pasukan panah yang ditempatkan di bukit "ainaini" itu tergoda ikut turun untuk mengambil harta rampasan perang, dan ini dimanfaatkan oleh pasukan kafir untuk menyerang kaum muslimin. Karena ketidaktaatan ini, banyak pasukan muslim yang syahid. Bahkan Rosululloh pun nyaris terbunuh.
3. Perang Ahzab, atau perang Khandaq.. ini pelajaran tentang "Mimpi". Setelah mendengar informasi bahwa ada pasukan raksasa dari berbagai suku hendak menyerang Madinah, Rosululloh mengatur strategi; dan atas usulan Salman Al-Farisi dibuatlah parit di sekitar Madinah. Hanya dalam waktu tidak lebih dari satu pekan, parit itu harus dibuat. Banyak kejadian yang dramatis dalam proses pembuatan parit itu, konon diceritakan percikan api dari batu yang dipecahkan Rosululloh itu memiliki makna ekspansi dakwah Islam akan sampai ke persia dan romawi. Dan akhirnya memang terwujud dalam penaklukan Persia dan berhasil memukul mundur pasukan Romawi, di masa Khalifatur Rasyidin sepeninggal Rosululloh SAW. Ini menunjukkan pentingnya mimpi dalam isi kepala kita. Di saat ketakutan menghadapi Pasukan Multi nasional itu, Rosululloh justru memberikan mimpi kemenangan yang lebih besar. Seakan-akan Rosululloh ingin menjelaskan bahwa jangankan hanya Pasukan Kafir Qurais dari Makah, negara Persia atau pun Romawi [negara adi jaya di masanya] pun akan dapat kita kalahkan. hmm, motivasi yang luar biasa.
4. Perang Tabuk, [ekspedisi tabuk], darinya aku belajar tentang "totalitas". Karena Ekspedisi Tabuk ini membutuhkan kesiapan yang luar biasa, perjalanannya panjang dan melelahkan. Untuk melindungi umat Islam di Madinah, Muhammad SAW memutuskan untuk melakukan aksi preventif, dan menyiapkan pasukan. Hal ini disulitkan dengan adanya kelaparan di tanah Arab dan kurangnya kas umat Muslimin. Namun, Muhammad SAW berhasil mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 30.000 orang, jumlah pasukan terbanyak yang pernah dimiliki umat Islam. Dengan dibumbui sepenggal kisah tentang ketundukan tiga Sahabat yang tertinggal dalam ekspedisi tersebut, dan mereka siap menerima sanksi dari Rosululloh SAW atas kelalaiannya itu [Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi’-]; indahnya kehidupan mereka....
Wallohu a'alam...
Kamis, 11 Agustus 2011
Monster Amanah...
“Selamat Pagi” Matahari pagi menyapaku. Ia serupa bola oranye raksasa di langit biru. Dan aku mengerjap, masih ada genangan sisa mimpi tentang kematian semalam. Entahlah, sudah beberapa bulan Ramadhan yang aku jalani, ada beberapa malam didalamnya aku kehadiran mimpi tentang kematian. Awalnya aku memang tidak biasa takut mati. Pelajaran dari Bapak, bahwa mati itu keniscayaan, yang mestinya perlu percaya diri untuk menghadapinya. Namun kini, ketika banyak amanah yang belum aku tunaikan, kematian itu menjadi begitu menakutkan. Dalam mimpiku, amanah-amanah itu mengejar aku. Serupa monster yang menyeramkan.
Mestinya memang, seorang bertakwa itu adalah seorang yang selalu rapih terhadap semua amanah, sehingga dia selalu siap menyambut kematian. Tanpa kita selesaikan amanah itu, bagaimana mungkin kita mampu menghadapi “hari perhitungan” itu.... hiks.
Ya Alloh, kuatkan hati dan semangat kami... agar tetap mampu selesaikan amanah-amanah ini...
Aamiin.
Mestinya memang, seorang bertakwa itu adalah seorang yang selalu rapih terhadap semua amanah, sehingga dia selalu siap menyambut kematian. Tanpa kita selesaikan amanah itu, bagaimana mungkin kita mampu menghadapi “hari perhitungan” itu.... hiks.
Ya Alloh, kuatkan hati dan semangat kami... agar tetap mampu selesaikan amanah-amanah ini...
Aamiin.
Jumat, 20 Mei 2011
Dunia itu Lucu ya...
Ini tentang pelajaran yang aku dapatkan di 24 jam terakhir...
Pertama, menukil satu kalimat bos-ku saat pulang kantor, "Dunia itu lucu ya, mas...." saat melihat betapa orang-orang itu begitu semangat mengejar "dunia", sementara melupakan bekal mereka di akhirat. Saat itu aku hanya diam. Diam membenarkan.
Kedua, esok harinya, saat aku berangkat kantor, mendengarkan satu lagu judulnya "Cintamu Sepahit Topi Miring" di Album HIPHOPDINENGRAT yang diambil dari Puisinya Sindhunata. Isinya semacam sinisme atas kehidupan.
Memang enak jadi wedhus daripada manusia
bila mati, manusia dikubur di gundukan tanah
kepalanya dikencingi wedhus yang merumput
Nasib manusia, hanya sengsara, sampai akhirnya
mengapa kita, mesti bersusah?
Ketiga, khutbah Jum'at siang tadi... dengan materi kisah percakapan Ulama Abdullah bin Mubarok dengan seorang wanita yang tidak mengucapkan sepatah kata pun kecuali ayat2 Al-Qur'an selama 40 tahun... Subhanalloh. Yang terfikir olehku, adalah... kehati-hatian wanita tersebut, dalam menjaga lisannya. hiks...
Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, bahwa kehidupan dunia menjadi begitu dominan dalam isi kepala kita. Sepanjang hari, disibukkan dengan mencari nafkah. Sibuk dengan rencana-rencana masa depan yang "dunyawi" semata. Di sisi lain, kita lalai dalam menyiapkan bekal kita di akhirat. Tidak ada perencanaan yang "serius" untuk menyambut kehidupan kita di akhirat kelak. Sementara, dunia justru menyuguhkan berbagai macam kepalsuan.... bahkan media hanya menjual propaganda yang provokatif, berita sarat dengan ghibah juga fitnah. Hiks, terbayang begitu jauh dari lisan wanita yang bertemu dengan Abdullah bin Mubarok tersebut di atas.
Lalu atas amanah yang begitu banyak, yang mungkin terlalaikan... rasanya memang pantas kita menangisi itu semua semalaman, bahkan seharusnya lebih dari semalam... karena teramat banyak dosa kita; dosa kolektif kita. Menyiakan amanah, menebar dusta, dan menyembunyikan kebenaran. Hiks. Wallohu a'lam.
Pertama, menukil satu kalimat bos-ku saat pulang kantor, "Dunia itu lucu ya, mas...." saat melihat betapa orang-orang itu begitu semangat mengejar "dunia", sementara melupakan bekal mereka di akhirat. Saat itu aku hanya diam. Diam membenarkan.
Kedua, esok harinya, saat aku berangkat kantor, mendengarkan satu lagu judulnya "Cintamu Sepahit Topi Miring" di Album HIPHOPDINENGRAT yang diambil dari Puisinya Sindhunata. Isinya semacam sinisme atas kehidupan.
Memang enak jadi wedhus daripada manusia
bila mati, manusia dikubur di gundukan tanah
kepalanya dikencingi wedhus yang merumput
Nasib manusia, hanya sengsara, sampai akhirnya
mengapa kita, mesti bersusah?
Ketiga, khutbah Jum'at siang tadi... dengan materi kisah percakapan Ulama Abdullah bin Mubarok dengan seorang wanita yang tidak mengucapkan sepatah kata pun kecuali ayat2 Al-Qur'an selama 40 tahun... Subhanalloh. Yang terfikir olehku, adalah... kehati-hatian wanita tersebut, dalam menjaga lisannya. hiks...
Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, bahwa kehidupan dunia menjadi begitu dominan dalam isi kepala kita. Sepanjang hari, disibukkan dengan mencari nafkah. Sibuk dengan rencana-rencana masa depan yang "dunyawi" semata. Di sisi lain, kita lalai dalam menyiapkan bekal kita di akhirat. Tidak ada perencanaan yang "serius" untuk menyambut kehidupan kita di akhirat kelak. Sementara, dunia justru menyuguhkan berbagai macam kepalsuan.... bahkan media hanya menjual propaganda yang provokatif, berita sarat dengan ghibah juga fitnah. Hiks, terbayang begitu jauh dari lisan wanita yang bertemu dengan Abdullah bin Mubarok tersebut di atas.
Lalu atas amanah yang begitu banyak, yang mungkin terlalaikan... rasanya memang pantas kita menangisi itu semua semalaman, bahkan seharusnya lebih dari semalam... karena teramat banyak dosa kita; dosa kolektif kita. Menyiakan amanah, menebar dusta, dan menyembunyikan kebenaran. Hiks. Wallohu a'lam.
Senin, 02 Mei 2011
masih tentang media...
Awalnya saya sudah berusaha untuk percaya atas berita kematian Usamah bin Laden, namun setelah membaca berita bahwa tentara AS membuang jasadnya ke laut kok jadi ragu...
Tercium aroma dusta di sana. Lalu terfikir beberapa teori.antara lain:
1) usamah memang tertembak, dan ternyata Alloh memberikan kematian dengan kategori Syahid, sehingga ciri2nya begitu nampak, bau yang harum, mayat yang tidak busuk... dan saat di kapal, sang komandan takut, tanda2 itu mempengaruhi anak buahnya..... akhirnya dibuanglah jasadnya ke laut.
2) usamah ternyata memang sudah lama tiada, ia hanya tokoh rekaan, yang diciptakan sebagai alasan penyerangan negeri2 kaya minyak... setelah dirasa cukup, dongeng itu diakhiri dengan fragmen terbunuhnya ia di pakistan, lalu untuk menghindari pembuktian akan jasadnya, dibuatlah berita bahwa jasad itu telah dibuang ke laut....
3) jasad itu terbuang secara tidak sengaja, entah karena apa...
Mohon maaf, ini hanya sekedar membuktikan bahwa media kita saat ini sudah kelewat sering membeberkan berita yang isinya opini semata, bukan fakta... jika hanya opini, kita semua juga bisa kan? hehehehe...
Tercium aroma dusta di sana. Lalu terfikir beberapa teori.antara lain:
1) usamah memang tertembak, dan ternyata Alloh memberikan kematian dengan kategori Syahid, sehingga ciri2nya begitu nampak, bau yang harum, mayat yang tidak busuk... dan saat di kapal, sang komandan takut, tanda2 itu mempengaruhi anak buahnya..... akhirnya dibuanglah jasadnya ke laut.
2) usamah ternyata memang sudah lama tiada, ia hanya tokoh rekaan, yang diciptakan sebagai alasan penyerangan negeri2 kaya minyak... setelah dirasa cukup, dongeng itu diakhiri dengan fragmen terbunuhnya ia di pakistan, lalu untuk menghindari pembuktian akan jasadnya, dibuatlah berita bahwa jasad itu telah dibuang ke laut....
3) jasad itu terbuang secara tidak sengaja, entah karena apa...
Mohon maaf, ini hanya sekedar membuktikan bahwa media kita saat ini sudah kelewat sering membeberkan berita yang isinya opini semata, bukan fakta... jika hanya opini, kita semua juga bisa kan? hehehehe...
Jumat, 29 April 2011
media adalah sarana...
Pintu informasi saat ini terbuka luas, banyak berita yang tidak lagi sajikan fakta, melainkan hanya opini. Dengan munculnya facebook dan tweeter, celotehan siapa pun bisa terdengar ke seluruh dunia. Dan manusia menjadi pelepah pohon yang terhempas-hempas dalam ombak berita... kebenaran terjual demikian mudah, namun kadang juga terlempar di ceruk dalam. Di kepala kita, tiba-tiba saja dipaksa menikmati sajian pernikahan di negeri asing, yang sebenarnya tak penting; bahkan hanya "jadiannya" seorang duda selebritis pun tiba-tiba dipaksakan menginap dalam rongga kepala....
Dalam segala galau ini, sejenak aku butuh nikmati segarnya makna dua ayat dalam surat Al-Hujuraat:
[6]Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [7]Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
Mungkin kita memang harus terus berbenah, bagaimana tidak terlalu "lebay" mengkonsumsi berita dan opini masyarakat; namun juga menjadi motivasi, bagaimana merencanakan dakwah, sebagai informasi kebenaran yang mestinya bisa "populer" dan dapat dikonsumsi secara meluas di seluruh lapisan masyarakat. Media adalah sarana penting dalam piranti dakwah kita...
Semoga...
Dalam segala galau ini, sejenak aku butuh nikmati segarnya makna dua ayat dalam surat Al-Hujuraat:
[6]Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [7]Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
Mungkin kita memang harus terus berbenah, bagaimana tidak terlalu "lebay" mengkonsumsi berita dan opini masyarakat; namun juga menjadi motivasi, bagaimana merencanakan dakwah, sebagai informasi kebenaran yang mestinya bisa "populer" dan dapat dikonsumsi secara meluas di seluruh lapisan masyarakat. Media adalah sarana penting dalam piranti dakwah kita...
Semoga...
Jumat, 11 Maret 2011
Khoirunnaas anfa'uhum linnaas jilid II
Ini masih tentang nilai manfaat kita sebagai manusia, [semacam kelanjutan dari tulisan lama tentang "khoirunnaasi anfa'uhum linnaas.."] namun kali ini lebih pada bagaimana kita "menolong" orang lewat "mengalahnya" kita....
Kadang saat kita ada dalam pilihan untuk berebut sesuatu, maka semangat untuk mengalahkan akan lebih dominan. Bagaimanapun juga ber-kompetisi itu membuat lebih semangat. Mungkin hal ini memang manusiawi. Namun jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, bahwa sebenarnya yang kalah itu [jika ikhlas] justru memiliki nilai kemanfaatan yang lebih dibanding yang menang. Yang kalah, justru bisa membuat yang menang lebih bahagia, artinya si pecundang/yang kalah itu bermanfaat membuat orang lain/sang pemenang itu bahagia.
Aneh memang... jika kita coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya menjadi janggal, namun bisa jadi inilah yang lebih baik... terbayang saat kita berebut jalan di tengah padatnya lalu lintas, dan kita selalu tersenyum penuh kemenangan ketika ada yang menerobos jalur kita... hmmm....
Lebih dalam lagi, jika kita membandingkan kondisi makro ekonomi suatu negara; yang diukur dari "neraca perdagangan"nya dengan negara lain. Bagaimana jika kita pun membuat "neraca perdagangan" kita dengan orang-orang di sekitar kita. Ukuran perbandingannya adalah nilai-nilai kebaikan yang kita lakukan. Misalnya neraca perdagangan antara aku dengan mas "A". Di daftar itu, tertulis berapa kali mas "A" itu lakukan kebaikan untukku, lalu di kolom lain tertulis berapa kali aku lakukan kebaikan untuk mas "A". Di bawahnya, kita hitung saldonya... hehe, siapa yang lebih banyak nilai kebaikannya? Jika model ini kita coba, maka yang terbangun adalah kita berlomba-lomba saling mengalah, saling bersaing dalam kemanfaatan, saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Demikian halnya dengan orang-orang lain di sekitar kita. Semakin luas jangkauannya, maka semakin terukur target-target kebaikan yang akan kita lakukan di lingkungan sekitar kita.
Mau kita coba? Yuuk...
Wallohu a'lam.
Kadang saat kita ada dalam pilihan untuk berebut sesuatu, maka semangat untuk mengalahkan akan lebih dominan. Bagaimanapun juga ber-kompetisi itu membuat lebih semangat. Mungkin hal ini memang manusiawi. Namun jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, bahwa sebenarnya yang kalah itu [jika ikhlas] justru memiliki nilai kemanfaatan yang lebih dibanding yang menang. Yang kalah, justru bisa membuat yang menang lebih bahagia, artinya si pecundang/yang kalah itu bermanfaat membuat orang lain/sang pemenang itu bahagia.
Aneh memang... jika kita coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya menjadi janggal, namun bisa jadi inilah yang lebih baik... terbayang saat kita berebut jalan di tengah padatnya lalu lintas, dan kita selalu tersenyum penuh kemenangan ketika ada yang menerobos jalur kita... hmmm....
Lebih dalam lagi, jika kita membandingkan kondisi makro ekonomi suatu negara; yang diukur dari "neraca perdagangan"nya dengan negara lain. Bagaimana jika kita pun membuat "neraca perdagangan" kita dengan orang-orang di sekitar kita. Ukuran perbandingannya adalah nilai-nilai kebaikan yang kita lakukan. Misalnya neraca perdagangan antara aku dengan mas "A". Di daftar itu, tertulis berapa kali mas "A" itu lakukan kebaikan untukku, lalu di kolom lain tertulis berapa kali aku lakukan kebaikan untuk mas "A". Di bawahnya, kita hitung saldonya... hehe, siapa yang lebih banyak nilai kebaikannya? Jika model ini kita coba, maka yang terbangun adalah kita berlomba-lomba saling mengalah, saling bersaing dalam kemanfaatan, saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Demikian halnya dengan orang-orang lain di sekitar kita. Semakin luas jangkauannya, maka semakin terukur target-target kebaikan yang akan kita lakukan di lingkungan sekitar kita.
Mau kita coba? Yuuk...
Wallohu a'lam.
Minggu, 02 Januari 2011
Masih tentang tertib berfikir (marotibul fikri 2)
Awalnya ini terfikir saat mendengar lagu "kupu2 malamnya" titiek puspa, nada dan liriknya indah. Tapi jika kita cermati, terasa ada kesalahan dalam tertib berfikirnya. Diceritakan ttg derita seorang pelacur. Betapa ia dicaci dan dicela. Pada akhir lagu disampaikan semua itu dengan dalih "menyambung nyawa"... Kayaknya sih memang biasa saja... Tapi apa ya boleh seperti itu? logika yang kita pakai, kita harus bebaskan dulu dari miskin dan rasa lapar, baru bicarakan "iman". Lho, padahal betapa banyak sahabat rosul dulu yg demikian miskin namun tetap teguh memegang keyakinan mereka. Bilal bin rabbah misalnya, dia seorang budak yg itu berarti seorang yg ada dalam puncak kemiskinan, karena bahkan dirinya pun tidak dia miliki. Namun ia teguh menjaga keimanannya....
Mungkin, kita harus mendudukan masalah2 sosial kita dg cara pandang seperti ini: mulailah dengan iman, baru kita melangkah menyelesaikannya. Karena dalam Islam telah banyak disediakan sarana2 penyelesaian masalah2 sosial. Mekanisme zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf misalnya. Jadi jangan dibaca terbalik, kenyang dulu baru bicara iman. Yg lebih parah, seringkali ada yg bilang: "jangankan yang halal, yang haram aja susah dapatnya"
wallohu a'lam.
Pantai bulakan, awal 2011.
Mungkin, kita harus mendudukan masalah2 sosial kita dg cara pandang seperti ini: mulailah dengan iman, baru kita melangkah menyelesaikannya. Karena dalam Islam telah banyak disediakan sarana2 penyelesaian masalah2 sosial. Mekanisme zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf misalnya. Jadi jangan dibaca terbalik, kenyang dulu baru bicara iman. Yg lebih parah, seringkali ada yg bilang: "jangankan yang halal, yang haram aja susah dapatnya"
wallohu a'lam.
Pantai bulakan, awal 2011.
Senin, 20 Desember 2010
Khoirunnasi anfa'uhum linnaas...
Diriwayatkan dari Jabir, Rosulillah bersabda,”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seseorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain”. (HR. Tabhrani dan Daruquthni. Dishahih kan al-Albani dalam “Ash-Shahihah”)
Rasanya kita semua yakin betul atas kebenaran hadits di atas. Namun terkadang kita masih terjebak dalam perasaan "sakit hati", atau "tersinggung" saat ada orang lain memanfaatkan kita. Lho, padahal dengan dimanfaatkan orang lain berarti kita menjadi semakin baik....
Terkadang kita berdalih bahwa, dimanfaatkan kan berbeda dengan bermanfaat... hehe, entah lah. Namun mungkin saja, berbagai permasalahan kita itu timbul dari rasa "berhitung" atas nilai manfaat kita terhadap orang lain. Contoh, saat kita menolong orang lain, dan orang yang kita tolong itu terlihat [terkesan] tidak berterima kasih terhadap kita... kita lalu sakit hati. Kita merasa, bahwa kita sedang dimanfaatin. Dan yang lebih parah, kita terjebak pada perasaan menyesal telah memberi pertolongan... hiks, na'udzubillahi min dzalik! bisa-bisa musnah sudah pahala yang perlahan-lahan kita kumpulkan, terserak, tersapu ombak "pamrih" yang didorong oleh penilaian terlalu tinggi terhadap diri kita. hiks!...
Jika mau berbincang lebih jauh, ternyata konsep berharap bermanfaat untuk orang lain, tanpa peduli penilaian orang lain terhadap diri kita inilah yang seringkali tanpa sengaja kita sebut sebagai "kepahlawanan". Dan kepahlawanan inilah yang diharapkan bisa menyelesaikan berbagai macam krisis yang melanda bangsa ini.
Terbayang jika, setiap kita sibuk lakukan sesuatu, dengan tidak berharap untuk dapatkan sesuatu [kecuali pahala tentunya, jika pahala masuk dalam batasan ini kita secara tidak langsung akan terbawa dalam pembahasan bab tasawuf]. Masyarakat yang terwujud adalah, masyarakat yang penuh pengorbanan, berlomba-lomba tunaikan kewajiban, dengan memberikan hak-hak orang lain. Tidak perlu lagi ada demonstrasi yang menuntut hak, karena seluruh hak telah terpenuhi, atau jika pun belum, masyarakat tersebut tidak fokus pada tuntutan hak, karena mereka fokus pada kewajiban, mereka fokus pada apa yang bisa dikorbankan, bukan fokus pada apa yang akan mereka dapatkan. Masyarakat dalam mimpiku ini selalu sibuk memikirkan kebutuhan orang lain, namun kebutuhan mereka pun terpenuhi oleh orang lain, karena mereka saling berbagi beban. hmmm.... indah sekali rasanya...
Rasanya kita semua yakin betul atas kebenaran hadits di atas. Namun terkadang kita masih terjebak dalam perasaan "sakit hati", atau "tersinggung" saat ada orang lain memanfaatkan kita. Lho, padahal dengan dimanfaatkan orang lain berarti kita menjadi semakin baik....
Terkadang kita berdalih bahwa, dimanfaatkan kan berbeda dengan bermanfaat... hehe, entah lah. Namun mungkin saja, berbagai permasalahan kita itu timbul dari rasa "berhitung" atas nilai manfaat kita terhadap orang lain. Contoh, saat kita menolong orang lain, dan orang yang kita tolong itu terlihat [terkesan] tidak berterima kasih terhadap kita... kita lalu sakit hati. Kita merasa, bahwa kita sedang dimanfaatin. Dan yang lebih parah, kita terjebak pada perasaan menyesal telah memberi pertolongan... hiks, na'udzubillahi min dzalik! bisa-bisa musnah sudah pahala yang perlahan-lahan kita kumpulkan, terserak, tersapu ombak "pamrih" yang didorong oleh penilaian terlalu tinggi terhadap diri kita. hiks!...
Jika mau berbincang lebih jauh, ternyata konsep berharap bermanfaat untuk orang lain, tanpa peduli penilaian orang lain terhadap diri kita inilah yang seringkali tanpa sengaja kita sebut sebagai "kepahlawanan". Dan kepahlawanan inilah yang diharapkan bisa menyelesaikan berbagai macam krisis yang melanda bangsa ini.
Terbayang jika, setiap kita sibuk lakukan sesuatu, dengan tidak berharap untuk dapatkan sesuatu [kecuali pahala tentunya, jika pahala masuk dalam batasan ini kita secara tidak langsung akan terbawa dalam pembahasan bab tasawuf]. Masyarakat yang terwujud adalah, masyarakat yang penuh pengorbanan, berlomba-lomba tunaikan kewajiban, dengan memberikan hak-hak orang lain. Tidak perlu lagi ada demonstrasi yang menuntut hak, karena seluruh hak telah terpenuhi, atau jika pun belum, masyarakat tersebut tidak fokus pada tuntutan hak, karena mereka fokus pada kewajiban, mereka fokus pada apa yang bisa dikorbankan, bukan fokus pada apa yang akan mereka dapatkan. Masyarakat dalam mimpiku ini selalu sibuk memikirkan kebutuhan orang lain, namun kebutuhan mereka pun terpenuhi oleh orang lain, karena mereka saling berbagi beban. hmmm.... indah sekali rasanya...
Jumat, 10 Desember 2010
godaan untuk tinggal di permukaan
Ketika berbincang dengan seorang teman yang menawarkan bisnis MLM, seperti biasa.... diceritakan bagaimana membangun "mimpi dan keinginan" kita, untuk divisualkan di sekitar kita, agar terbangun kekuatan bawah sadar. Bisa saja itu mobil, rumah mewah, atau bahkan pesawat. hiks... kok malah jadi sedih. Seperti ditarik kembali menjadi "manusia permukaan". Sebenarnya tidak ada yang salah dalam bisnis ini, namun ini masalah cara pandang. Ketika yang dijadikan motivasi adalah hal-hal duniawi, rasanya kok jadi menyempitkan motivasi hidup kita.
Mungkin ini terlalu lebay, bagaimana ketakutan ini ada dalam hati. Takut jika ada yang menyelinap di hati, satu keinginan atas hal-hal "cemen", yang bisa saja merusak orientasi hidup kita. hiks... seperti kata Iwan Fals, bahwa "Keinginan adalah sumber penderitaan..."
Mungkin ini terlalu lebay, bagaimana ketakutan ini ada dalam hati. Takut jika ada yang menyelinap di hati, satu keinginan atas hal-hal "cemen", yang bisa saja merusak orientasi hidup kita. hiks... seperti kata Iwan Fals, bahwa "Keinginan adalah sumber penderitaan..."
Rabu, 27 Oktober 2010
ekstrimisme, bencana banjir dan cara bertutur...
Akhir pekan kemarin, aku mengikuti acara diskusi yang menarik, bersama anak-anak muda di Mustika jaya dan Bantar Gebang. Temanya ekstrimisme dalam Islam. Di sana kami mencari tahu, apa itu ekstrimisme, apa bibit-bibit pemicu ekstrimisme itu, dan juga sebenarnya ada nggak sih ketentuan syari'at tentang ekstrimisme dalam Islam...
Seru. Banyak ide, banyak hal-hal baru. Anak-anak muda itu begitu bersemangat. Jadi terharu... Mungkin kami memang tidak mendapatkan kata simpulan yang "jelas", namun paling tidak kami bisa lebih memahami, bahwa ekstrim itu sesuatu di luar mainstream. Sesuatu di luar "arus besar". Sesuatu yang "lebay", "berlebih-lebihan". Secara ekstrim memahami Islam, kita bisa tersesat.
Esok harinya, bencana banjir datang. Yang menarik adalah, munculnya hujatan-hujatan di media kepada Pemda DKI, juga sanggahan dari pak Gub yang tidak kalah seru... hihi, jadi berbalas serang. Menjadi lahirnya konflik.... bertemunya dua kubu ekstrim. hiks... yang menyedihkan konflik itu justru mengaburkan substansi masalah kita, yakni kemiskinan dan kebodohan.
Ternyata ini memang masalah "cara bertutur", ketika datang kritik dan kita justru sibuk menyanggah, maka yang datang adalah badai cacian. Lalu kita sibuk saling berbantahan, lupakan substansi "kritik" yang sebenarnya adalah "pertanyaan" tentang solusi penyelesaian masalah. hiks...
Jika tradisi berbantahan ini yang lahir maka berat betul beban hidup kita.
Kepada teman-teman yang senang "berkonflik", saya himbau tinggalkan hoby itu. Karena itu tidak sehat, untuk diri kita juga dunia. Karena berbantahan bisa menjauhkan kita dari solusi. Jangan senang bermain di ranah ekstrim, ayuk kita dorong kebenaran itu sebagai mainstream hidup. Kata orang tua dulu... "sing sak madya" jadi indah hidup ini dalam kebersamaan, tanpa benturan-benturan yang tidak perlu.
Wallohu a'lam.
Seru. Banyak ide, banyak hal-hal baru. Anak-anak muda itu begitu bersemangat. Jadi terharu... Mungkin kami memang tidak mendapatkan kata simpulan yang "jelas", namun paling tidak kami bisa lebih memahami, bahwa ekstrim itu sesuatu di luar mainstream. Sesuatu di luar "arus besar". Sesuatu yang "lebay", "berlebih-lebihan". Secara ekstrim memahami Islam, kita bisa tersesat.
Esok harinya, bencana banjir datang. Yang menarik adalah, munculnya hujatan-hujatan di media kepada Pemda DKI, juga sanggahan dari pak Gub yang tidak kalah seru... hihi, jadi berbalas serang. Menjadi lahirnya konflik.... bertemunya dua kubu ekstrim. hiks... yang menyedihkan konflik itu justru mengaburkan substansi masalah kita, yakni kemiskinan dan kebodohan.
Ternyata ini memang masalah "cara bertutur", ketika datang kritik dan kita justru sibuk menyanggah, maka yang datang adalah badai cacian. Lalu kita sibuk saling berbantahan, lupakan substansi "kritik" yang sebenarnya adalah "pertanyaan" tentang solusi penyelesaian masalah. hiks...
Jika tradisi berbantahan ini yang lahir maka berat betul beban hidup kita.
Kepada teman-teman yang senang "berkonflik", saya himbau tinggalkan hoby itu. Karena itu tidak sehat, untuk diri kita juga dunia. Karena berbantahan bisa menjauhkan kita dari solusi. Jangan senang bermain di ranah ekstrim, ayuk kita dorong kebenaran itu sebagai mainstream hidup. Kata orang tua dulu... "sing sak madya" jadi indah hidup ini dalam kebersamaan, tanpa benturan-benturan yang tidak perlu.
Wallohu a'lam.
Rabu, 15 September 2010
mengelola emosi [ekspresi keimanan]
Beberapa hari ini, emosi keimanan teruji. Di Ciketing belum juga usai, muncul hal baru di Springfield. Kesemuanya memicu "adrenalin". Memang benar kata Prof. Dr. Mukti Ali (bapak perbandingan Agama) bahwa tidak ada yang lebih membuat kita emosional kecuali itu tema agama, tema tentang keyakinan. Berarti memang sudah wajar reaksi hati itu muncul. Masalah kita sekarang adalah bagaimana mengelolalnya.
Menahan diri itu serupa berlayar di lautan penuh ombak. Ini adalah tentang bagaimana aku (ego) itu mampu menguasai diri (self). Ada beberapa resep (aku mencomotnya dari beberapa sumber):
1. Lakukan objektifikasi; dudukan masalah secara rasional. Pikirkan sebanyak mungkin kemungkinan-kemungkinan yang ditimbulkan jika gelora hati itu kita biarkan menerpa jiwa. Tapi biasanya, kita menjawab... ya gimana dong, namanya juga lagi emosi... hehehe... karena itu perlu cara kedua;
2. Pastikan kita tetap dalam barisan; biasakan kita bergerak bersama. Kita butuh teman dalam mengelola emosi kita. Nasehat mereka itu yang kadang lebih mujarab, karena mungkin mereka memandang kita secara lebih transeden. Ingat, ketika badai menghantam kapal, seorang nahkoda tak mungkin bisa selamatkan kapal jika ia bekerja seorang diri. Harus ada para awak kapal, yang secara profesional bekerja sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Entahlah, tapi paling tidak... memikirkan dua hal di atas, membuat saya lebih tenang malam ini. Emosi sih iya... tapi berharap ekspresi kemarahan kita itu tidak memicu masalah baru. Bukankah kita sedang mencari solusi?
Wallohu a'lam
Menahan diri itu serupa berlayar di lautan penuh ombak. Ini adalah tentang bagaimana aku (ego) itu mampu menguasai diri (self). Ada beberapa resep (aku mencomotnya dari beberapa sumber):
1. Lakukan objektifikasi; dudukan masalah secara rasional. Pikirkan sebanyak mungkin kemungkinan-kemungkinan yang ditimbulkan jika gelora hati itu kita biarkan menerpa jiwa. Tapi biasanya, kita menjawab... ya gimana dong, namanya juga lagi emosi... hehehe... karena itu perlu cara kedua;
2. Pastikan kita tetap dalam barisan; biasakan kita bergerak bersama. Kita butuh teman dalam mengelola emosi kita. Nasehat mereka itu yang kadang lebih mujarab, karena mungkin mereka memandang kita secara lebih transeden. Ingat, ketika badai menghantam kapal, seorang nahkoda tak mungkin bisa selamatkan kapal jika ia bekerja seorang diri. Harus ada para awak kapal, yang secara profesional bekerja sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Entahlah, tapi paling tidak... memikirkan dua hal di atas, membuat saya lebih tenang malam ini. Emosi sih iya... tapi berharap ekspresi kemarahan kita itu tidak memicu masalah baru. Bukankah kita sedang mencari solusi?
Wallohu a'lam
Jumat, 10 September 2010
energi "saling memaafkan" di hari fitri...
Kata "maaf" itu adalah sumber energi. Energi bagi kedua belah pihak, baik yang mendapatkan maaf, maupun yang memberikan maaf. Mengapa demikian? Mari kita lihat.....
Seorang yang mendapatkan maaf dari seseorang, adalah serupa terangkatnya beban yang selama ini mengganjal. Ia akan menjadi lebih "ringan", karena ada kelegaan dalam hatinya. Ia menjadi lebih bebas, bisa jadi ia akan lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya. Tiba-tiba saja ia menjadi "tercerahkan". Lalu lahir "solusi" atas masalah2 yang ia hadapi, yang selama ini "mumpet" karena terhalang "perasaan bersalah". Inilah luar biasanya mendapatkan maaf dari orang lain.
Demikian hal-nya, bagi orang yang memberikan maaf. Sedetik setelah, kalimat "aku memaafkanmu." atau gerak hati yang merelakan, memaafkan kesalahan orang lain, maka saat itu juga jiwa terasa lebih luas. Karena ia sedang membuang beban dalam dadanya... beban itu bernama kesal, benci, sakit hati, dendam, cemburu, dan banyak rasa2 lain yang lahir dari kesalahan orang lain yang menimpa diri kita.... Dengan kata "maaf", penyakit2 hati itu terangkat; seperti kuman yang terusir oleh antibiotik bernama "maaf".
Jadi wajar, jika di hari raya ini... saat begitu banyak kata "maaf" berhamburan... saat begitu banyak hati saling memaafkan, senyum yang rido, tatapan mata yang memahami sisi kemanusiaan orang lain, dan melantunkan kata "maaf" ke seluruh penjuru bumi... lihat saja di beranda facebook kita, sms, di masjid, di halaman rumah kita, di telepon, di radio, di Tivi.... maka terasa energi yang dahsyat itu memenuhi rongga jiwa kita. Kita menjadi begitu bahagia. Penuh inspirasi, bahkan kadang menjadi begitu melo dengan menitikkan air mata saking bahagianya....
Ini adalah gelombang energi "saling memaafkan".
Mari kita canangkan, hari2 yang penuh kata maaf. Pastikan kita dalam barisan ummat yang penuh semangat "saling memaafkan" tersebut, dan biarkan energi dahsyat itu membenamkan jiwa kita; dan bergetar hati kita, penuh rasa bangga dan bahagia. Wallohu a'lam.
Seorang yang mendapatkan maaf dari seseorang, adalah serupa terangkatnya beban yang selama ini mengganjal. Ia akan menjadi lebih "ringan", karena ada kelegaan dalam hatinya. Ia menjadi lebih bebas, bisa jadi ia akan lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya. Tiba-tiba saja ia menjadi "tercerahkan". Lalu lahir "solusi" atas masalah2 yang ia hadapi, yang selama ini "mumpet" karena terhalang "perasaan bersalah". Inilah luar biasanya mendapatkan maaf dari orang lain.
Demikian hal-nya, bagi orang yang memberikan maaf. Sedetik setelah, kalimat "aku memaafkanmu." atau gerak hati yang merelakan, memaafkan kesalahan orang lain, maka saat itu juga jiwa terasa lebih luas. Karena ia sedang membuang beban dalam dadanya... beban itu bernama kesal, benci, sakit hati, dendam, cemburu, dan banyak rasa2 lain yang lahir dari kesalahan orang lain yang menimpa diri kita.... Dengan kata "maaf", penyakit2 hati itu terangkat; seperti kuman yang terusir oleh antibiotik bernama "maaf".
Jadi wajar, jika di hari raya ini... saat begitu banyak kata "maaf" berhamburan... saat begitu banyak hati saling memaafkan, senyum yang rido, tatapan mata yang memahami sisi kemanusiaan orang lain, dan melantunkan kata "maaf" ke seluruh penjuru bumi... lihat saja di beranda facebook kita, sms, di masjid, di halaman rumah kita, di telepon, di radio, di Tivi.... maka terasa energi yang dahsyat itu memenuhi rongga jiwa kita. Kita menjadi begitu bahagia. Penuh inspirasi, bahkan kadang menjadi begitu melo dengan menitikkan air mata saking bahagianya....
Ini adalah gelombang energi "saling memaafkan".
Mari kita canangkan, hari2 yang penuh kata maaf. Pastikan kita dalam barisan ummat yang penuh semangat "saling memaafkan" tersebut, dan biarkan energi dahsyat itu membenamkan jiwa kita; dan bergetar hati kita, penuh rasa bangga dan bahagia. Wallohu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...
