Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Enam belas tahun kita

Enam belas tahun bersamamu, adalah masa pembelajaran yang indah. Aku membacamu kau membacaku. Nilai kita mungkin berbeda, kurasa kau lebih unggul, karena berhasil  mengertiku dengan baik.  Justru aku yang masih terbata-bata mengeja tentangmu.  Padahal bukan karena kau rumit, melainkan aku yang tak cukup kesungguhan. Maafkan aku.

Enam belas tahun, aku bertekad lebih serius belajar. Jika ini bangku sekolah, bukankah kita sudah sepantasnya lulus sarjana?

Padahal semestinya mudah, karena kau telah contohkan, seperti saat betapa jelinya kau membaca rahangku yang sedikit mengeras,  lalu kau usap punggungku dan bertanya "ada apa?" Kau memang tak pernah memberi aku ruang untuk sekedar menyimpan rasa sebel untukmu. Tak pernah terbersit, karena hari-hari yang terlalui hanyalah rangkaian perhatian, ekspresi sayang,  dan pemakluman atas keliruku.

Enam belas tahun, aku hanya bisa ungkapkan betapa syukur ku telah memilikimu,  dan terima kasih atas hari-hari indah ini.

Poetoe, 25 Oktober 2015.

Minggu, 30 Agustus 2015

paket lengkapku

Di akhir tahun lalu, aku masih ingat, betapa aku bertekad menulis buku sebelum umurku genap 40 tahun. Lalu seseorang tersenyum saat mendengar tekadku itu. Katanya "kau yakin? Pernah kau tanya istrimu apakah benar kau perlu menulis?" Saat itu aku hanya terdiam.  Tidak menyangka mendapat pertanyaan itu. Dan aku tidak menemukan jawaban kenapa justru mendapat pertanyaan seperti itu.

Sampai hari ini, setelah umurku genap 40 tahun lebih 3 hari, aku tersadar. Aku paham apa hubungan istriku dengan keinginanku menyusun buku. Jika tulisanku hanya tentang aku maka sebenarnya tak ada yang perlu aku tulis. Karena semuanya ada di istriku. Wanita yang telah aku pilih menjadi pendamping hidupku. Istriku adalah muara atas segala tentangku. Paket lengkap, karena ia adalah pintu kebahagiaan dunia akhiratku.

Cutiku beberapa hari ini, aku menemukan resep sakitku selama ini: istriku. Selama perhatianku tak benar-benar untuknya maka aku tak akan tenang. Benar kata Asa, anak ketigaku, "... Bapak beli bunga dong, sama cincin dan kalung, lalu kasihkan ke ibu. Tapi setelah itu Bapak tidak boleh marah-marah lagi, harus happy terus...."

Semoga ini jalan menuju kebahagiaan dunia akhiratku. Aamiin.

Poetoe / 29 Agustus 2015.

Rabu, 26 Agustus 2015

40 tahunku

Akhirnya tiba juga, saat aku resmi menjadi manusia dengan umur 40 tahun. Umur penting karena bahkan diajarkan doa khusus di umur ini....

Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)

Menyambut umur ini sempat lama tak bisa aku pejamkan mata. Karena secara medis pun perkembangan otak sudah sempurna di umur ini, khususnya otak depan yang mengelola emosi. Artinya jika di umur ini aku masih punya masalah pada pengendalian emosi, maka akan sulit membenahinya lagi.

Bagaimana pun, aku harus hati-hati menyambut hidupku di umur ini. Terlebih saat tepat 40 tahunku ini aku justru sedang diuji dengan sakit. Ini pertanda. Banyak memang yang harus aku benahi.

Semoga.

Poetoe/ 26 Agustus 2015.

Jumat, 27 Juni 2014

Ramadhan tahun ini, tanpa bapak....

Ramadhan tahun ini adalah ramadhan pertama tanpa bapak. Jadi ingin menulis tentang bapak. Betapa banyak pelajaran darinya.

Bapak adalah seorang ideolog, warga muhammadiyah biasa namun sangat teguh memegang prinsip organisasi. Bahkan berhenti merokoknya pun karena fatwa haram rokok dari Muhammadiyah.

Bapak adalah lelaki cerdas, berfikir taktis, praktis, namun juga siap saja jika harus ber-strategis. Seorang pendidik yang meletakkan nalar dan logika dasar sebagai pilar belajar. Belajar bersamanya, kami jadi mudah memahami epistimologi. Spirit dari belajar. Mampu membuat aku merasakan demikian indahnya belajar. Belajar itu (saat itu) seperti berdiri di puncak gunung, dengan pemandangan yang indah, tatapan luas, dan udara segar. Teramat menyukai belajar hingga nyaris tak pedulikan nilai ujian. Yang penting belajar. Bapaklah yang mengajarkan untuk tetap mendengarkan pelajaran dari depan kelas, walaupun diusir guru keluar kelas. Atau menikmati saja saat dihukum berdiri di depan kelas, yang penting tetap ikut belajar. Bapak marah besar saat seorang kakak disuruh pulang hanya karena lupa membawa dasi. "Apakah karena dasi kita harus kehilangan kesempatan untuk belajar?"

Bapak adalah seorang rekan diskusi yang asyik, bisa berbincang dengan kami hingga ganti hari. Sangat egaliter dalam berbincang. Bahkan kami pernah berbeda pendapat, sampai aku harus membanting gelas. Belajar darinya kami jadi mengerti betul tabiat diskusi yang efektif untuk menangkap makna dan pemahaman.

Bapak juga seorang sahabat yang hangat saat dekat dan selalu paham apa yg tersirat. Seperti saat aku demikian suka bermain panah, lalu membuat panah dari bambu, suatu hari aku kehilangan panahku, bapak hanya tersenyum sambil menunjuk panah besar dan kokoh yang dipajang rapih di dinding rumah. Dengan tali busur yang indah dan terikat rapi. Dia membuatkannya untukku. Aku sangat bahagia. Bapak juga yang rela melobangi lantai rumah untuk membuat lubang golf, dan membuat stick golf dengan patahan kaki kursi. Kami merasa diistimewakan.

Bapak adalah seorang yang berhati hati saat ada hak orang lain masuk ke kantongnya, namun sebaliknya sangat mudah merelakan saat ada hak dia yang terampas orang lain. Pernah seperangkat sound system yang kami yakin dia sangat menyukainya, tiba-tiba dia berikan kepada seorang kerabat, hanya karena dia memintanya. Dia memang lelaki baik yang dengan ringan memberikan barang yang disukainya kepada orang yang lebih membutuhkan.

Bapak pernah rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk memberikan kelebihan uang kembalian, ia takut menjadi dholim atas hak orang. Padahal saat itu, kami sedang di Jakarta, dan untuk mencari warung tempat kami harus kembalikan uang kembalian itu kami harus bertanya-tanya dan berjalan kaki karena tak dilewati angkutan umum.

Suatu hari saat hari penerimaan raportku, bapak ke sekolah dengan pakaian rapi. Seingatku waktu itu dia kenakan sepatu, hal yang jarang dia lakukan. Di perjalanan, kami temui parit samping jalan meluap, kami turun dari angkot, bapak segera melepas sepatunya, lalu masuk ke parit untuk mengangkat sampah dan batu yang membuat air meluap. Cukup lama. Aku sempat khawatir akan terlambat ke sekolah. Setelah dewasa, baru paham. Ini tentang fiqh Auliyat. Skala prioritas. Dan masyarakat/ummat selalu ditempatkan bapak di posisi yang utama.

Tentang waktu untuk masyarakat, jadi ingat, bahwa bapak adalah pak RT terlama. Entah sudah puluhan tahun menjadi pamong masyarakat. Rumah kami sudah lama nyaris kehiangan aura privacy. Siapa pun akan merasa nyaman keluar masuk rumah ini. Bahkan pernah, saat kami berbincang di ruang tamu, seorang yang entah gila atau pengemis masuk dari pintu depan, lalu bablas ke pintu belakang. Kami hanya berpandangan... "Lho tadi siapa ya?"

Bapak. Bagaimana pun juga, kami pasti rindu. Ramadhan tahun ini kami jalani tanpamu di rumah ini.

Selasa, 17 September 2013

belajar dari anak-anakku

Malam ini, aku belajar banyak dari anak-anakku. Tentang bagaimana mengerti dan memahami orang lain. Sebagai orang tua, terkadang aku merasa pantas minta dipahami... seperti saat marah karena mereka meminta sesuatu di saat yang tidak tepat, seringkali kalimat ini yang muncul "... tolong ya, pahami posisi Bapak... Bapak sedang capek." Padahal ternyata, mereka justru yang mulai pandai memahamiku

Seperti malam ini, sepulang kantor aku langsung kuliah, sehingga sampai di rumah tentu kondisiku semrawut dan lelah. Haya anak sulungku, menyediakan kopi. Walaupun setelah itu dia meminta aku membantunya kerjakan tugas dari sekolah. Aku katakan "Siap..." secara sudah dapat secangkir kopi. Sayangnya, si Asa (anak ketiga) mulai cari perhatian, dia rewel dan menangis, sebenarnya ini karena aku gagal mengerti apa yang dia butuhkan. Tapi karena aku sedang sibuk dengan kakaknya, Asa aku gendong saja, dengan tetap dalam tangisnya. Yang membuat aku terkesan justru saat Asa mencoba menghentikan tangisnya sendiri, dia tidur di sebelahku dengan memeluk guling dan menutupi matanya, perlahan isaknya berhenti lalu tertidur. Aku dan Haya berhasil dengan tenang selesaikan tugas. Bagaimana dengan Bunga, dia yang mengingatkan aku untuk mandi, karena sebentar lagi akan ada pengajian di rumah. Selesai mandi pun, Bunga yang meminjamkan mushaf Qur'annya saat dia melihat aku kebingungan mencari mushaf Qur'anku.

Demikianlah, anak-anakku menunjukkan perhatiannya kepada orang tuanya. Mereka berhasil memahami kondisi orang tuanya. Haya dengan secangkir kopinya, Asa yang walau menangis memaksa tidur karena tahu kesibukan Bapak dan kakaknya, juga Bunga yang paham perlengkapan mengaji bapaknya. Jadi malu, karena aku sebagai orang tua masih sering gagal memahami mereka. Padahal mestinya sebagai manusia yang terlahir lebih dahulu dari pada mereka, aku lebih mampu memahami mereka.....

Ajari aku, Nak....

Minggu, 28 Oktober 2012

13 tahun kita ada di hari Arofah tahun ini


Tahun ke-13 pernikahan kita, 25 Oktober 2012 M bersamaan dengan 9 Dzulhijjah 1433 H, bukan karena ingin menyakralkan hari-hari tertentu, namun semata mengumpulkan hikmah dan memberi makna tahun ke-13 kita ini.

25 Oktober 2012 M hanyalah hari di mana 13 tahun yang lalu, pertemuan hati kita dicatat secara formal oleh negara. Sedangkan 9 Dzulhijjah 1433 H adalah hari di mana Jamah Haji sedang ber-wukuf di padang Arofah, sehingga diberi nama Hari Arofah. Dan saat berbicara tentang padang Arofah, aku teringat kisah pertemuan Adam dan Hawa, walaupun tercampur oleh dongeng Isroiliyat. Tentang Adam dan Hawa yang terusir dari surga setelah memakan buah terlarang, buah khuldi, terlempar dari surga yang penuh fasilitas ke dunia yang terbatas. Memakan buah Khuldi adalah kekeliruan, adalah dosa, yang lalu ciptakan hukuman yaitu terlempar ke dunia yang fana ini. Kekeliruan ciptakan kesadaran akan batasan.

Demikian pula aku memaknai hari ini, sebagai kesadaran bahwa melangkah bersamamu bukan tanpa rintangan, aku banyak berlaku keliru, 13 tahun masih saja tak mampu berikan yang terbaik untukmu. Apapun yang telah aku lakukan, perkenankan aku hari ini, mendatangimu, mengecup punggung tanganmu, untuk ucapkan kalimat yang sudah sering aku ucapkan “Aku mencintaimu.” Namun hari ini, kalimat ini terasa berbeda. Karena aku ucapkan dengan segenap kesadaran, bahwa dalam langkahku begitu banyak kekeliruan dan kesalahan. Kesadaran ini ikut aku lampirkan dalam kalimatku, semata agar kau tahu, bahwa aku memang benar-benar membutuhkanmu.

Karena kesadaran atas kekeliruan dan kesalahan-lah yang membuat kita berhati-hati. Bukankah kekeliruan dan luka yang menginspirasi petarung ciptakan perisai untuk melindungi? Juga kelalaian dan kecelakaanlah yang melatarbelakangi diciptakannya rambu-rambu lalu lintas? Entahlah. Yang jelas, bersamamu aku ingin siapkan perisai, juga buatkan rambu-rambu lalu lintas kita.

Semoga bahtera terus melaju, lewati badai apa pun. Terima kasih atas keindahan yang kau goreskan di kanvas hari-hari kita.

Minggu, 28 Agustus 2011

Bincang Keluarga di jelang Lebaran 1432 H


Jelang lebaran tahun ini, Alhamdulillah, kami berkumpul dengan keluarga besar di Bani Afwaniy...

Ini sudah menjadi ritual rutin tahunan, kami berbincang di meja makan, bicarakan banyak hal. Dari masalah keluarga, sampai masalah ummat. Hehe... rasanya acara-acara talk show di tivi itu pun kalah seru.

Tema kami berloncat-loncatan, kami sempat membahas tentang "ketiadaan Visi bisa membuat rancu gerakan bisnis" tentunya nara sumbernya pebisnis dik Din yang tahun ini melakukan lompatan besar, dengan membuka di tiga tempat "Ayam Penyet Kalasan", juga "Sabda Alam" di jalan Kaliuarang, juga "kolam ikan" di Klaten. Beberapa tips dan trik diberikan, seru juga.. sayang tidak semua berhasil dicatat. Yang jelas, ada rencana-rencana ke depan yang insya Alloh akan menjadi bahan perbincangan bisnis di lebaran tahun depan. hehehe...

Juga tentang manajemen dakwah, terkait dengan ke-khususan pendidikan Pesantren yang memeliki figur sentral Kyai, dan pentingnya ruh pendidik dalam diri sang kyai. Karena tanpa itu, program lembaga pendidikan akan menjadi garing. Kehilangan "nyawa". Lebih menarik lagi, ini sama dengan koki yang masak tanpa perasaan bahagia, akan menghasilkan masakan yang tidak berkualitas...

Seni sejatinya bumbu yang memberi rasa pada setiap aktifitas kita. Terkadang seni diterjemahkan dengan dosis yang lebay, di satu sisi menjadi kelewat "bebas", menciptakan sosok yang "aneh" bahkan dianggap gila oleh lingkungannya. Kata mas Rain, sebenarnya mereka tidak gila, melainkan hanya tidak bisa terbaca ide-ide mereka oleh masyarakat di sekitar mereka. Mereka butuh penerjemah atas ide-ide besarnya....

Juga tentang "kejernihan" membaca pola, yang sebenarnya inilah kunci kesuksesan orang-orang besar meraih mimpinya. Bebekal kejernihan membaca pola itulah, keputusan hidup yang tepat dapat diambil, dan potensi-potensi di sekitar kita dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai apa yang kita inginkan... Sekali lagi, ini juga tetap butuh Visi dan Misi yang jelas...

Entahlah, perbincangan kami malam itu bertema tentang apa, karena nyaris semua hal kita bahas...
Yang jelas, ini bagian dari menu lebaran yang berkualitas, semacam mata kuliah yang padat nilai dan makna. Dan tentunya tetap dalam koridor "ikatan persaudaraan" dan bumbu Cinta.

Alhamdulillah....

Kamis, 28 Juli 2011

Selamat Ulang Tahun dik Bunga....

Sekali lagi, di tanggal 28 Juli, Bapak justru ada di luar kota.
tapi do'a Bapak pasti tetap terkirim
agar tetap menjadi bunga bagi dunia...
karena keceriaanmu di sepanjang hari adalah energi untuk kita bersama.

Seperti namamu, Bunga dari Pemahaman itu adalah amal perbuatan....

Rabu, 26 Januari 2011

SAMARA;

Dimintain tolong oleh seorang teman, untuk menjadi pembawa acara di "Training Samara". Temanya "Tumbuh suburkan rasa cinta, perhatian dan romantisme, demi menjaga komunikasi dan keharmonisan keluarga". Agar lebih jelas, panitia mengirimkan proposal ke rumah. Saat ini proposal itu masih ada di tangan saya. Membacanya melahirkan kesadaran kembali, akan pentingnya peran keluarga dalam pembentukan peradaban masyarakat madani. Menyikapi tradisi atau budaya buruk yang berkembang selama ini, jika kita coba renungkan, semuanya bermuara pada kata "keluarga" sebagai bagian dari solusinya. Korupsi misalnya, tak kan terjadi jika seluruh elemen bangsa ini terbina dalam keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah.... demikian halnya dengan tindakan2 kriminal yang frekuensinya meningkat belakangan ini, semua itu terjadi karena kondisi keluarga yang selama ini tidak sejalan dengan jaminan hidup yang semakin buram. Teringat satu penggalan kalimat dalam film "Jamila dan Presiden" bahwa "... kemiskinan punya kekejian untuk melumpuhkan akal sehat..." atau dalam khasanah ilmu kita : "Kaadal faqru ayyakuna kufron" Sungguh kefaqiran itu dekat dengan kemiskinan. Ketidakpahaman orang tua terhadap pendidikan anak, didukung dengan himpitan ekonomi, mendorong orang tua bersikap keras terhadap sang anak. Lalu anak2 pun menjadi cenderung beringas... karena memang kekerasan di rumah mereka menjadi cukup alasan untuk mempraktekkan kebrutalan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

SAMARA; itu Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah.
1) Sakinah itu betah, nyaman, tempat yang tepat untuk berlindung, curhat, istirahat.....
2) Mawaddah, secara etimologis, bermakna gelora Asmara yang menggebu;
3) sedang Rahmah, itu kasih dan sayang.

Sudahkah ada Sakinah di rumah tinggal kita? Bagaimana respon kita, ketika mendapat Surat Tugas ke luar kota? Bahagiakah? jika bahagia itu karena memang berusaha mencintai pekerjaan mereka itu menjadi tidak masalah. Namun bagaimana jika bahagia itu merupakan justru karena bisa sesaat jauh dari keluarga. Hiks.. jika memang demikian maka, memang harus diakui, bahwa kita semua punya masalah; karena belum bisa membangun "sakinah" di rumah kita... Atau jangan2 ada yang merasa lebih bahagia ketika ada jadwal mabit, karena sekali lagi terbebas dari urusan2 rumah. hmm... jangan2 kita memang merasa lebih nyaman ketika ada di luar rumah ketimbang kumpul bareng keluarga di rumah? Wallohu a'lam.

Mawaddah itu gelora. Biasanya terjadi saat cinta pertama dulu datang mengetuk hati kita. Ada perasaan deg2an, cemas yang tidak jelas karena apa, gelisah, rindu yang menggumpal... hmmm banyak lagi deh... Mungkinkah perasaan itu kembali datang? atau perlukah? jawabannya adalah "mungkin" dan memang "perlu". Karena asmara itu energi yang luar biasa... dibutuhkan untuk para pekerja keras [termasuk pekerja dakwah]; tanpa gelora itu, kadang kerja dakwah jadi "gitu2 saja". Terkadang merasa [na'uszubillah min dzalik] bosan dengan suasana rumah. Nah, karena itulah kita perlu gelora asmara itu kembali datang. Kita perlu menyengaja jatuh cinta lagi kepada pasangan kita.... Wallohu a'lam.

Bagaimana dengan rahmah? Rahmah adalah kasih sayang. Adalah perasaan yang terlahir dari interaksi panjang. Ia berupa rangkaian dari perhatian, senyuman, perlindungan, tanggung jawab.... ini adalah bangunan besar yang harus ditata perlahan.... hmm, Wallohu a'lam.

Entahlah esok seperti apa acara training ini, tapi paling tidak sebelum acara itu dimulai saya sudah mendapat banyak inspirasi dari proposal yang disampaikan panitia. Kepada teman2 panitia [Bidang Kewanitaan DPC PKS Mustika Jaya] saya ucapkan "Jazakumulloh khoiron katsiro...."

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...