Selasa, 28 Oktober 2008

tentang keluarga dan dakwah

Satu hal yang saya pelajari setelah sekian lama berkecimpung dalam "ikatan" ini, adalah bagaimana tetap menjaga ritme dakwah, aktivitas kita kadang terpancing untuk "habis-habisan" dalam bertadkhiah, namun tanpa kesiapan hati untuk tetap terus bertahan dalam ritme yang stabil, menjadi tidak efektif, karena pergerakan kita pada satu hari akan berhenti, kehabisan energi, sementara kita belum siapkan gelombang baru untuk menggantikan kita.

Keluarga; adalah muayyid pokok dalam memback up aktivitas kita, sehingga jika kita tidak pandai memenej energi kita untuk membina mereka, bisa jadi suatu hari nanti, justru aktivitas kita terhalang oleh mereka.

Irama butuh pemimpin, dan kita lah pemimpin terbaik bagi konser diri kita. Jadilah imam untuk mereka, imam yg tidak otoriter,mau mendengar, melayani, mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul, mengelola gejolak-gejolak, merubahnya menjadi riak-riak kecil yang indah.

irama membutuhkan konsistensi, dan konsistensi tersebut dijaga dengan amaliyat harian kita.

dan Cinta, adalah improvisasi dalam gubahan lagu kita. mencintai istri, anak-anak kita, adalah energi ghaib yang mendorong kita untuk terus bersabar dalam komitmen terhadap kerja dakwah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis puisi

Saat rindu serupa perdu Cinta menjelaga Kenangan menggenang di ceruk benak Bagaimana bisa aku tanpa puisi.... Seperti memunguti terseraknya ...