Minggu, 17 November 2019

Sajak tentang ulang tahun

hidup ditarik pedati usia, terseret ke tanah-tanah sepi, jalanan yang tak kita kenal
ada kebimbangan, ada kegamangan
banyak yang tak termengerti
peta ini tak semua terbaca dengan benar
selalu ada kejutan, selalu ada yang baru

usia terus saja bertambah
warna-warna membercak di lini masa
cinta diam-diam
rindu mempesona bertaburan pesan-pesan yang tak terbaca

kita menua bersama
langkah kaki yang tersaruk-saruk
langkah hati yang memeluk peluk
jam dinding dingin menyimpan ingin
hanya getar bibir meminta
harap yang senyap
harap yang merayap rayap
hanya harap
tak berani menyata

kita menua juga akhirnya
walau darah muda kita tumpahkan
walau hasrat belia dahsyat meledak-ledak
kolam bergemericak
menyimpan kengerian
bersiap menenggelamkan
bersiap menggugurkan

yang tersisa hanya tanah basah
jalanan kota tua
arloji yang tak kalah tua
juga sepeda
menemani di temaram senja yang sama sejak muda dulu.

Pancoran Tugu, 11/10/2019
Poetoe

Kalahnya nalar

apakah kita hanya bidak catur yang menunggu digerakkan takdir?

apakah kita hanya nampan rasa yang menanti cinta datang dan merasuki hati?

membiarkan batara kamajaya kuasai jiwa, memenuhi isi kepala dengan ketidakmasukakalan yang nyaman mengendap di kedalaman kenangan.

pada akhirnya nalar yang kalah, terkapar di sudut kamar,
emosi mengusir narasi,
rasa menjajah makna kata.

Kemanggisan, 01/10/2019
Poetoe

Rabu, 25 September 2019

seperti bersama

dan pertemuan di depan stasiun suatu senja, tanpa jabat tangan, hanya senyuman, lalu berjalan beriringan.
kita semakin biasa seperti bersama.
kita semakin biasa bersama kata "seperti".
apakah kita pura-pura?
atau bahkan dusta?
tidak. mungkin bukan keduanya.
hanya tak selesaikan utuh kalimat kenyataannya, membiarkan menggantung, membiarkan orang-orang bebas dalam sangkaannya.
jika salah duga, ya maaf.

kita hanya butir-butir kelereng yang terserak,
berlarian tak tentu arah
bertabrakan lalu saling mengubah arah,
pada benturan berikutnya kita lalu beriringan, masih menggelinding namun saling mendekap bertukar hangat
menunggu waktu yang kan hentikan

senja jadi malam
manja berharap genggam
di sepi ruang sidang, pertemuan dan sapa tanpa curiga mengungkapkan semua
negeri ini butuh kita yang tak jengah dengan kata-kata terbuka
basa basi itu jelaga demokrasi
metafora kita jadi sudut gelap sebunyikan kebenaran.

maka bergenggamanlah,
sembunyikan hangat dari angin malam,
cinta pun kita seduh kembali dalam sajian tatap yang pekat,
walau ada sisa rayu yang tersesak
tak semua sanggup terungkap
ternyata kita masih tak mampu berprosa apa adanya, masih memuisi dalam kias-kias yang temaram.

Bekasi, 24092019
Poetoe

Menikmati berita dengan kaca mata cinta

waktu terhidang di sajian pagi, berdua kita berhadapan
sambil bertatapan kita nikmati semangkuk waktu itu perlahan
berteman secangkir hasrat yang hangat
tangan kita bergenggaman, dengan kaca mata cinta menikmati berita pagi
betapa nyawa seperti kawanan anak itik di tepi telaga maut
sangat dekat, sekali langkah lalu lompat.
sudah.

perlawanan hanya basa basi mimpi yang berambisi tampil di panggung kenyataan
bergantian
bentak membentak
teriak meneriaki
elok tubuh kebodohan yang tanggalkan baju kepura-puraan
satu-satu
bugil tanpa tabir
jujur yang terlambat hadir adalah aib kedunguan yang berdendang sumbang

maka sudahilah,
lelah jiwa rindu pelukan
letih hati harap kecupan
berkelindan kita dalam pagi yang beranjak siang.

Halte pancoran tugu, 25092019
Poetoe

Pembunuhan rindu

bagaimana kau bunuh kerinduanmu?
apakah dengan mengabaikan suara-suara dalam detak jantungmu, yang terulang ulang itu?
ataukah dengan memenuhi liang ingatan dengan kata-kata bising, hingga tak lagi ada ruang untuk nama yang menanam janin rindu itu dapat tinggal lebih lama dalam jiwa.

entahlah, bagaimana kau bunuh kerinduanmu itu.

aku mungkin tak kan mampu ikuti jejakmu, karena membunuh rindu itu serupa membunuh sisi nyawaku yang lain.
aku akan menjadi makhluk sebelah
dengan sisa rasa yang terseret di lini masa
perih yang sayat menyayat
pedih yang ratap meratap

rindu pun aku kuliti lalu aku lipat di sela sela saku.
ia tak mati,
hanya megap megap saja.

Tebet, 25/09/2019
Poetoe

bekal benar yang nanar

hiruk pikuk dan gaduh iringi langkah kami penuhi jalanan
pekikan dan teriakan menjadi nyanyian jalanan
dan sekantung kebenaran aku ikat di dalam tas jiwa.

berbaris
bergandengan tangan
berderap langkah
menutup jalanan, bahkan jalan tol tak lagi bisa dilalui

kebenaran dalam tas berdenyutan
seperti berharap aku lepaskan
tapi siraman water canon, gas air mata memburamkannya
kata-kata menyembur tak terkendali
semakin jauh jarak memisah, makna tersengal kehabisan napas.

berbaris
bergandengan tangan
berderap langkah
bahkan saat mobil dinas plat merah lewat, kemarahan tanpa arah pun menyala
batu
tongkat kayu terayun
kaca pecah berhamburan
darah pengemudi tanpa dosa
tak jelas lagi
tentang apa ini

kebenaran dalam tas pun bergetar
sesenggukan ia menangis
semua jadi sumbang
berbiaklah bimbang
masih dalam barisan, aku bernyanyi dalam isak
air mata seperti tanpa cinta
kesepian yang sempurna.

Bekasi, 25092019
Poetoe

Senin, 23 September 2019

Pak Anto.....

adalah muara tempat bertemunya kenyamanan
sandaran hati sebagai sahabat
perisai karier atas tugas
menyatu dalam mata air nasehat sebagai orang tua di belik jiwa

adalah pengingat betapa pentingnya berencana
karena gagalnya berencana adalah berencana untuk gagal
semua hal seperti pernah dipikirkan
terjawablah ketenangan itu lahir dari pengetahuan yang penuh dan utuh atas risiko

adalah mesin produksi atas canda verbal
bermain dengan kata kata dan makna
hingga tanpa sengaja acara ngopi bersama kita
menjadi serupa pelatihan tes potensi akademik

adalah pilar keluarga di ruangan seksi kita
bekerja sama sebagai keluarga
saling menyapa sebagai saudara
saling berbagi segenap hati.

terima kasih pak Anto.

F4ntastik Ningrat
Seksi Waskon IV
KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan
23092019

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...