Beberapa hari ini, emosi keimanan teruji. Di Ciketing belum juga usai, muncul hal baru di Springfield. Kesemuanya memicu "adrenalin". Memang benar kata Prof. Dr. Mukti Ali (bapak perbandingan Agama) bahwa tidak ada yang lebih membuat kita emosional kecuali itu tema agama, tema tentang keyakinan. Berarti memang sudah wajar reaksi hati itu muncul. Masalah kita sekarang adalah bagaimana mengelolalnya.
Menahan diri itu serupa berlayar di lautan penuh ombak. Ini adalah tentang bagaimana aku (ego) itu mampu menguasai diri (self). Ada beberapa resep (aku mencomotnya dari beberapa sumber):
1. Lakukan objektifikasi; dudukan masalah secara rasional. Pikirkan sebanyak mungkin kemungkinan-kemungkinan yang ditimbulkan jika gelora hati itu kita biarkan menerpa jiwa. Tapi biasanya, kita menjawab... ya gimana dong, namanya juga lagi emosi... hehehe... karena itu perlu cara kedua;
2. Pastikan kita tetap dalam barisan; biasakan kita bergerak bersama. Kita butuh teman dalam mengelola emosi kita. Nasehat mereka itu yang kadang lebih mujarab, karena mungkin mereka memandang kita secara lebih transeden. Ingat, ketika badai menghantam kapal, seorang nahkoda tak mungkin bisa selamatkan kapal jika ia bekerja seorang diri. Harus ada para awak kapal, yang secara profesional bekerja sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Entahlah, tapi paling tidak... memikirkan dua hal di atas, membuat saya lebih tenang malam ini. Emosi sih iya... tapi berharap ekspresi kemarahan kita itu tidak memicu masalah baru. Bukankah kita sedang mencari solusi?
Wallohu a'lam
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Helopeboy Kami tidak tahu dari mana bintang redup itu datang, tiba-tiba ia di hadapan kami kini; sepatu boot putih, rambut agak ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar