Minggu, 28 Oktober 2012

13 tahun kita ada di hari Arofah tahun ini


Tahun ke-13 pernikahan kita, 25 Oktober 2012 M bersamaan dengan 9 Dzulhijjah 1433 H, bukan karena ingin menyakralkan hari-hari tertentu, namun semata mengumpulkan hikmah dan memberi makna tahun ke-13 kita ini.

25 Oktober 2012 M hanyalah hari di mana 13 tahun yang lalu, pertemuan hati kita dicatat secara formal oleh negara. Sedangkan 9 Dzulhijjah 1433 H adalah hari di mana Jamah Haji sedang ber-wukuf di padang Arofah, sehingga diberi nama Hari Arofah. Dan saat berbicara tentang padang Arofah, aku teringat kisah pertemuan Adam dan Hawa, walaupun tercampur oleh dongeng Isroiliyat. Tentang Adam dan Hawa yang terusir dari surga setelah memakan buah terlarang, buah khuldi, terlempar dari surga yang penuh fasilitas ke dunia yang terbatas. Memakan buah Khuldi adalah kekeliruan, adalah dosa, yang lalu ciptakan hukuman yaitu terlempar ke dunia yang fana ini. Kekeliruan ciptakan kesadaran akan batasan.

Demikian pula aku memaknai hari ini, sebagai kesadaran bahwa melangkah bersamamu bukan tanpa rintangan, aku banyak berlaku keliru, 13 tahun masih saja tak mampu berikan yang terbaik untukmu. Apapun yang telah aku lakukan, perkenankan aku hari ini, mendatangimu, mengecup punggung tanganmu, untuk ucapkan kalimat yang sudah sering aku ucapkan “Aku mencintaimu.” Namun hari ini, kalimat ini terasa berbeda. Karena aku ucapkan dengan segenap kesadaran, bahwa dalam langkahku begitu banyak kekeliruan dan kesalahan. Kesadaran ini ikut aku lampirkan dalam kalimatku, semata agar kau tahu, bahwa aku memang benar-benar membutuhkanmu.

Karena kesadaran atas kekeliruan dan kesalahan-lah yang membuat kita berhati-hati. Bukankah kekeliruan dan luka yang menginspirasi petarung ciptakan perisai untuk melindungi? Juga kelalaian dan kecelakaanlah yang melatarbelakangi diciptakannya rambu-rambu lalu lintas? Entahlah. Yang jelas, bersamamu aku ingin siapkan perisai, juga buatkan rambu-rambu lalu lintas kita.

Semoga bahtera terus melaju, lewati badai apa pun. Terima kasih atas keindahan yang kau goreskan di kanvas hari-hari kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Bercanda

Hujan bercanda pada mimpi di ruang benak bahwa waktu telah sempurna ubah kita demikian dekat dan hangat menjadi kering dan sepi ukuran angka...