labirin takdir
seperti angin yang datang bergegas
tanpa sempat ditangkap oleh duga
bagaimana rindu seperti kehilangan energi
terbentur karang lalu gemuruhnya tinggal sisa sisa
menyentuhi kaki hati
betapa cepat ia terlepas dari jemari
lalu awan aku tatap saja
karena meraihnya itu tak mungkin
apakah memang demikian fragmen ini biasa dimainkan?
alur cerita yang cepat bergelora
lalu tiba tiba saja berhenti berdendang
tanpa simbol birama yang tertangkap
mestinya memang semua terbaca dari mula
namun memang tak mudah
perut menjadi mual
tatap mata penuh kunang kunang
apakah ada terkejut yang dibiasakan
apakah biasa terkejut itu masih layak disebut kejutan?
rencana dan kejadian memang misteri
labirin takdir yang tak satu pun makhluk layak menggambarkan petanya.
senja, 16/02/2016
poetoe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar