Pagi, mengunyah hangat matahari
dalam kehadiran yang tak sebenarnya
kita hanya menangkap tanda-tanda
semesta seperti akrab memberi isyarat
pada setiap cerapan indra kita saling sapa
pada cahaya yang bersembunyi di warna-warna benda
pada hening yang setia mendampingi dibalik kegaduhan
seperti interlude yang setia mengisi di antara birama nada
pada aroma yang seperti pintu kemana saja dan membawa kita dalam pertemuan di dunia alternatif yang tak pernah kita pilih.
Apakah kita sanggup melanjutkan orkestra kepedihan ini?
Agh!
**langit marah atas pesimisme ini.
Atau aku nekat saja hampiri matahari hingga moksa dalam larutan cahaya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar