lelaki itu memaki
mengutuki sunyi yang mendengki
tanpa bunyi
menggerogoti semua nada hingga jadi percuma
rindu itu gula gula
sublimasi atas sepi yang nestapa
semua tentang perih yang terasa
sakit yang berlipat ganda
demikianlah ini ruang penuh tanda tanya
udara riuh dengan ketidakmengertian
gaduh oleh tanda baca koma
tanda waqof itu tak kunjung terbaca
perempuan itu menunduk di sudut gelap
mengguntingi kartu kartu senyap
mengais ais kata ikhlas
pengorbanan yang enggan pamrih balas
senyum getir
dan hutang semakin banyak saja
sementara lelaki itu berkali kali
belanja hanya untuk diri
menangis saja
perempuan hanya relawan tanpa kata kasihan
agh.
Bumiayu, 2018
Poetoe
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Kamis, 21 Juni 2018
senja saja
merindukan seorang yang tak rindukan kita
menunggu seorang yang tak menunggu kita
tabik tangan yang tak berbalas
kata tanya yang tak terjawab
senja yang menggelepar
berjalan di belakang
selepas maghrib
selepas lambaian tangan perpisah
tak ada bunga di akhir cerita
hanya genggam tangan terampas
namun lalu terhempas
wajah iba
tanpa air mata
degub dan detak
menyita satu waktu
mengulum kecewa, saja.
senja saja
sudah.
Bekasi, 20 Juni 2018
Poetoe
menunggu seorang yang tak menunggu kita
tabik tangan yang tak berbalas
kata tanya yang tak terjawab
senja yang menggelepar
berjalan di belakang
selepas maghrib
selepas lambaian tangan perpisah
tak ada bunga di akhir cerita
hanya genggam tangan terampas
namun lalu terhempas
wajah iba
tanpa air mata
degub dan detak
menyita satu waktu
mengulum kecewa, saja.
senja saja
sudah.
Bekasi, 20 Juni 2018
Poetoe
kamajaya - kala
terpasung dalam ikatan rindu
jaring yang kau tebarkan
terjebak dalam karam rasa
badai asmara yang kau panggil panggil
tak sanggup singup aku hirup
remah resah kumamah
hidangan atas kegenitan fragmen norak kita
basa basi aku dan kau
panggungnya waktu dan jarak
hiasannya kata kata
tanpa kata cinta
namun diam diam penuh gelora
ahai
memperistri sepi
berselir sunyi
dan batara kala berbantah manja dengan batara kamajaya
di pihak mana kita?
Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe
jaring yang kau tebarkan
terjebak dalam karam rasa
badai asmara yang kau panggil panggil
tak sanggup singup aku hirup
remah resah kumamah
hidangan atas kegenitan fragmen norak kita
basa basi aku dan kau
panggungnya waktu dan jarak
hiasannya kata kata
tanpa kata cinta
namun diam diam penuh gelora
ahai
memperistri sepi
berselir sunyi
dan batara kala berbantah manja dengan batara kamajaya
di pihak mana kita?
Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe
Pulang itu pengulangan
pulang itu pengulangan
diputar ulang piringan hitam kenangan
wajah dan peristiwa datang
bertandang lalu lalang
adalah rasa syukur atas ada dan tiadanya
mana kau pilih
saat menyimpang lalu ditegur sayang
atau tetap dibiar dalam riang senang
dalam perjalanan
kecupan punggung tangan
lantunan doa
juga bincang bincang kabar
berteman aroma kopi terbakar
cerita lalu mereka para pendahulu
pada para penerus
adalah tongkat estafet itu
terserahkan
setiap jumpa
mungkin hanya penambahan
atas kerutan di wajah kita
merekam segala cerita
pulang itu pengulangan
diputar ulang piringan hitam kenangan
wajah dan peristiwa datang
bertandang lalu lalang
Bumiayu, 18 Juni 2018
Poetoe
diputar ulang piringan hitam kenangan
wajah dan peristiwa datang
bertandang lalu lalang
adalah rasa syukur atas ada dan tiadanya
mana kau pilih
saat menyimpang lalu ditegur sayang
atau tetap dibiar dalam riang senang
dalam perjalanan
kecupan punggung tangan
lantunan doa
juga bincang bincang kabar
berteman aroma kopi terbakar
cerita lalu mereka para pendahulu
pada para penerus
adalah tongkat estafet itu
terserahkan
setiap jumpa
mungkin hanya penambahan
atas kerutan di wajah kita
merekam segala cerita
pulang itu pengulangan
diputar ulang piringan hitam kenangan
wajah dan peristiwa datang
bertandang lalu lalang
Bumiayu, 18 Juni 2018
Poetoe
kata kata dan aku
kata kata yang terucap di depan banyak orang itu mengikatku
serupa barisan amanah yang bersiap menuntut balik sang penerbit kata katanya
ada takut menyangkut
ada gelisah basah
ada getir khawatir
ada cemas meremas jantung
akankah ini hanya sekedar kata kata tak mengada dalam peristiwa nyata
hingga semakin pantas tersematkan untuku gelar hipokrit itu
duh
tersadar bahwa bangunan tentang aku itu tersusun atas tulang, kenang, daging, pening, urat, hasrat, detak, juga kata kata yang terlahir dari lesan, tulisan bahkan sekedar lintasan pikiran
aku iya, aku.
Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe
serupa barisan amanah yang bersiap menuntut balik sang penerbit kata katanya
ada takut menyangkut
ada gelisah basah
ada getir khawatir
ada cemas meremas jantung
akankah ini hanya sekedar kata kata tak mengada dalam peristiwa nyata
hingga semakin pantas tersematkan untuku gelar hipokrit itu
duh
tersadar bahwa bangunan tentang aku itu tersusun atas tulang, kenang, daging, pening, urat, hasrat, detak, juga kata kata yang terlahir dari lesan, tulisan bahkan sekedar lintasan pikiran
aku iya, aku.
Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe
tenang saja
opini ditebar
dengan tagar
pagar penguasa merasa dilanggar
terbakar
ceramah dibatasi
dengan pukulan besi
ulama kritis perlahan dihabisi
ada yang mati
ada yang ditakut takuti
berita dibuat
berpura ramah di tengah rakyat
namun lengan kuasa tetap melumat
marah kecewa pun semakin pekat
tenang
masih ada air mata
rapal doa
tetes darah
jadi tak perlu marah marah
simpan saja
biarkan jadi gumpalan harap
yang kelak kan melahap,
tirani itu pasti lenyap....
terisa hanya aku dan senyap.
Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe
dengan tagar
pagar penguasa merasa dilanggar
terbakar
ceramah dibatasi
dengan pukulan besi
ulama kritis perlahan dihabisi
ada yang mati
ada yang ditakut takuti
berita dibuat
berpura ramah di tengah rakyat
namun lengan kuasa tetap melumat
marah kecewa pun semakin pekat
tenang
masih ada air mata
rapal doa
tetes darah
jadi tak perlu marah marah
simpan saja
biarkan jadi gumpalan harap
yang kelak kan melahap,
tirani itu pasti lenyap....
terisa hanya aku dan senyap.
Bumiayu, 17 Juni 2018
Poetoe
sampah
janji janji penguasa mengangkasa
lukisan langit pertiwi
remah remah harap nyaris putus asa
mendongak nanap teratapi
bisik bisik di warung kopi
bisik bisik karena persepsi pun bisa bawa ke terali besi
bisik bisik karena opini ilmiah pun bisa lahirkan sanksi
bisik bisik karena mimpi juga bisa terhakimi
bebas terampas
merdeka hanya mereka
demokrasi itu basa basi
kritik pun dituduh intrik
ke tepi bukit
berdiri malam malam
menatap kota banyak lampu
lalu meludah
sampah
Muntilan, 14 Juni 2018
Poetoe
lukisan langit pertiwi
remah remah harap nyaris putus asa
mendongak nanap teratapi
bisik bisik di warung kopi
bisik bisik karena persepsi pun bisa bawa ke terali besi
bisik bisik karena opini ilmiah pun bisa lahirkan sanksi
bisik bisik karena mimpi juga bisa terhakimi
bebas terampas
merdeka hanya mereka
demokrasi itu basa basi
kritik pun dituduh intrik
ke tepi bukit
berdiri malam malam
menatap kota banyak lampu
lalu meludah
sampah
Muntilan, 14 Juni 2018
Poetoe
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...