Janin malam menggumpal di langit gelap,
Perlahan meliuk mengunyah sisa cahaya mentari,
Langit merah tersudut.
Menepi di ujung cakrawala....
Pada tawa mana aku tawan kan kecewa,
Pada warta mana aku candai luka
Tak ada alasan
Tak ada hujjah
Semestinya tak ada.
Pengingkaran.
Mengapa pula api kecil itu tak kau akui, mengapa juga percikan bara ini tak kau iyakan...
Mungkin ini tentang gempita harga diri,
Bangunan tanpa sebab yang terlahir dari umur yang menimbun.
Padahal tua tak lalu pasti dewasa bukan?
Sepertiku di depanmu, membocah tanpa malu.
Dan bocah tua itu, duduk di meja makan dalam senja.
Sajian makan dan secangkir kopi hitam. Serupa americano kita dulu, namun ini beda.
Karena detik menyendiri kini, terhimpit di sela jarum menit dan jarum jam.
Seharusnya tersadar, bahwa jam menit dan detik tak berpihak padaku, pada rasa yang usang....
Timbun sajalah dulu...
Dan aku melengkung bungkuk, menahan beban yang nyaris meledak.
Bekasi, 22/01/2017
Poetoe
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Senin, 30 Januari 2017
Jumat, 20 Januari 2017
main Werewolf,
Permainan. Hidup ini permainan. Fakta seolah gelombang, persepsi adalah angin dan badai. Sedang kita terombang ambing dalam bahtera diri. Kecakapan kita mengelola kata dan sikap adalah penentu selamatnya kita.
Kebimbangan bisa mencelakai. Kesalahan menentukan pilihan bisa membunuh kita. Semua sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita membaca tanda. Mengolah bukti dan fakta. Dan keputusan kita pun bisa jadi sia sia saat kita salah dalam memilih kesempatan.
Demikianlah, dalam senja kita duduk melingkar, belajar tentang ombak, tentang buih, tentang angin, dan kerasnya karang.
Pancoran, werewolf community
18/01/2017
Poetoe.
Kebimbangan bisa mencelakai. Kesalahan menentukan pilihan bisa membunuh kita. Semua sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita membaca tanda. Mengolah bukti dan fakta. Dan keputusan kita pun bisa jadi sia sia saat kita salah dalam memilih kesempatan.
Demikianlah, dalam senja kita duduk melingkar, belajar tentang ombak, tentang buih, tentang angin, dan kerasnya karang.
Pancoran, werewolf community
18/01/2017
Poetoe.
Selasa, 17 Januari 2017
cukup
Jika cerdas itu kecepatan untuk memahami sesuatu, maka tersadar aku tak cukup cerdas.
Karena demikian panjang waktu belajarku, untuk sekedar memahami makna satu kata "cukup".
Butuh perjalanan yang melelahkan, hingga beberapa topeng harus ku kenakan, beberapa teori aku kumpulkan lalu formulanya aku coba namun akhirnya tetap saja aku nafikan.
Demikian, kata "cukup" itu aku pahami, lalu aku bisikkan berulang ulang. Karena takut aku terlupa untuk hentikan langkah di saat yang tepat.
Dulu kupikir bergerak adalah hal tersulit, karena butuh terbantainya kemalasan di tepi jendela jiwa. Ternyata berhenti itu lebih sulit. Ada keengganan, bayangan kerinduan, ketakutan akan sunyi, dan banyak hal lain.
Apapun, aku tetap coba berhenti. Saat ini.
Bekasi, tengah malam 18/01/2017
Poetoe
Karena demikian panjang waktu belajarku, untuk sekedar memahami makna satu kata "cukup".
Butuh perjalanan yang melelahkan, hingga beberapa topeng harus ku kenakan, beberapa teori aku kumpulkan lalu formulanya aku coba namun akhirnya tetap saja aku nafikan.
Demikian, kata "cukup" itu aku pahami, lalu aku bisikkan berulang ulang. Karena takut aku terlupa untuk hentikan langkah di saat yang tepat.
Dulu kupikir bergerak adalah hal tersulit, karena butuh terbantainya kemalasan di tepi jendela jiwa. Ternyata berhenti itu lebih sulit. Ada keengganan, bayangan kerinduan, ketakutan akan sunyi, dan banyak hal lain.
Apapun, aku tetap coba berhenti. Saat ini.
Bekasi, tengah malam 18/01/2017
Poetoe
Jumat, 06 Januari 2017
Idealis.
Skema pertarungan di dunia ini memang sederhana, kebenaran lawan kebathilan, malaikat lawan setan.
Manusia di antara dua pihak itu, terkadang terlempar dalam dosa bersama syetan, terkadang dalam ketenangan berselimut petunjuk dan hidayah-Nya dijaga malaikat.
Pagi dalam gemetar dosa, siang duduk di shaf terdepan tergugu sesal dalam rapal doa dan istighfar. Begitulah, seperti nada yang meliuk tajam dalam ruas birama.
Seperti siang yang terik, dan memesan menu makan siang yang bukan karena lezatnya rasa makanan, namun lebih karena semangat berbagi. Dan perbincangan kita tentang kemenangan ideologi yang tetap berusaha bertahan dalam badai pragmatis dan oportunis.
Bagaimana mengalahkan kebodohan itu dengan keyakinan, bagaimana mengalahkan kemiskinan itu dengan keyakinan. Bahkan saat akhirnya kita dianggap bodoh dan gila oleh sekitar kita.
Idealisme selalu saja memukau, kekuatan cinta atas keyakinan yang mengalahkan ketakutan atas monster dunia yang sejatinya ilusi.
Siang, kita, Dia, terik matahari, dan binar mata yang aku tahu ada air mata yang tertahan.
Indonesia Raya, Awal tahun 2017
Poetoe.
Manusia di antara dua pihak itu, terkadang terlempar dalam dosa bersama syetan, terkadang dalam ketenangan berselimut petunjuk dan hidayah-Nya dijaga malaikat.
Pagi dalam gemetar dosa, siang duduk di shaf terdepan tergugu sesal dalam rapal doa dan istighfar. Begitulah, seperti nada yang meliuk tajam dalam ruas birama.
Seperti siang yang terik, dan memesan menu makan siang yang bukan karena lezatnya rasa makanan, namun lebih karena semangat berbagi. Dan perbincangan kita tentang kemenangan ideologi yang tetap berusaha bertahan dalam badai pragmatis dan oportunis.
Bagaimana mengalahkan kebodohan itu dengan keyakinan, bagaimana mengalahkan kemiskinan itu dengan keyakinan. Bahkan saat akhirnya kita dianggap bodoh dan gila oleh sekitar kita.
Idealisme selalu saja memukau, kekuatan cinta atas keyakinan yang mengalahkan ketakutan atas monster dunia yang sejatinya ilusi.
Siang, kita, Dia, terik matahari, dan binar mata yang aku tahu ada air mata yang tertahan.
Indonesia Raya, Awal tahun 2017
Poetoe.
Kamis, 15 Desember 2016
rantai di sosmed
Saat posting di sosmed diatur lebih ketat, maka postingan
galau akan penuhi timeline. Karena dia yang lahir dari pencitraan itu mulai
takut di rimba pertempurannya sendiri.
Sudah diduga, bola bekel itu memantul saat berbentur. Sibuk dandan pakai topeng, ya akhirnya bingung dengan topengnya sendiri.
Seperti kalimatmu dulu, kenapa tak jadi diri sendiri? Mungkin saja aku suka wajah aselimu. (Dalam hati bergumam: mungkin juga tidak).
Ternyata kuncinya pada orientasi. Selama sekedar dunyawi, maka berpura pura itu senjatanya. Khas dunia yang fana, seperti nenek yang bersolek.
Lalu jalani hidup dengan berharap tetap dalam nalar. Rajin mencubit pipi sendiri. Takut hanyut oleh informasi yang pekat persepsi basa basi.
Bayangkan betapa pekat belukar ini, karena pendusta demikian dominan. Jika tak berasa dusta pun, ternyata tetap saja ada yang disembunyikan.
Bekasi, 29/11/2016
Poetoe.
Sudah diduga, bola bekel itu memantul saat berbentur. Sibuk dandan pakai topeng, ya akhirnya bingung dengan topengnya sendiri.
Seperti kalimatmu dulu, kenapa tak jadi diri sendiri? Mungkin saja aku suka wajah aselimu. (Dalam hati bergumam: mungkin juga tidak).
Ternyata kuncinya pada orientasi. Selama sekedar dunyawi, maka berpura pura itu senjatanya. Khas dunia yang fana, seperti nenek yang bersolek.
Lalu jalani hidup dengan berharap tetap dalam nalar. Rajin mencubit pipi sendiri. Takut hanyut oleh informasi yang pekat persepsi basa basi.
Bayangkan betapa pekat belukar ini, karena pendusta demikian dominan. Jika tak berasa dusta pun, ternyata tetap saja ada yang disembunyikan.
Bekasi, 29/11/2016
Poetoe.
memang tak layak
Demikianlah....
semua tiba-tiba rumit
seperti tak cukup energi untuk mengetuk pintu
harus menunduk dalam
terlalu berat langkah lama menghalangi
tersadar yang lambat
bahwa hati teramat lemah
masih demikian ingat,
wajahmu saat gumamkan kalimat
"Salah pilih aku"
Dan siang itu hanya diam
memang tak layak
memang tak layak.
Sudahlah.
Bumyagara, 29/11/2016
Poetoe.
semua tiba-tiba rumit
seperti tak cukup energi untuk mengetuk pintu
harus menunduk dalam
terlalu berat langkah lama menghalangi
tersadar yang lambat
bahwa hati teramat lemah
masih demikian ingat,
wajahmu saat gumamkan kalimat
"Salah pilih aku"
Dan siang itu hanya diam
memang tak layak
memang tak layak.
Sudahlah.
Bumyagara, 29/11/2016
Poetoe.
Ujian
Pada akhirnya semua akan diuji. Juga atas rasa. Ujian berkesinambungan. Kita akan liat hasilnya di ujung nanti.
Seperti rasa cinta yang mula-mula. Berawal dari sekedar ingin menguasai, lalu diuji oleh kegagalan, berubahlah ia menjadi serupa energi untuk melindungi, juga semangat untuk berbagi.
Apakah kita akan lulus? Atau harus mengulang, atau justru gagal? Dan terpental kita dalam sesal. Lihat saja nanti.
Jakarta-jogja 26/11/2016
Poetoe.
Seperti rasa cinta yang mula-mula. Berawal dari sekedar ingin menguasai, lalu diuji oleh kegagalan, berubahlah ia menjadi serupa energi untuk melindungi, juga semangat untuk berbagi.
Apakah kita akan lulus? Atau harus mengulang, atau justru gagal? Dan terpental kita dalam sesal. Lihat saja nanti.
Jakarta-jogja 26/11/2016
Poetoe.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...

