Sabtu, 14 April 2018

laci kenangan

aku mengunci laci,
kusimpan semua
jejak, surat, foto, juga air mata

aku ingin selesai
tak perlu ada lagi yang tahu
selesai?
tak benar benar selesai sih
bukankah menyimpan itu hanya menumpuk beban?

tapi aku memang hanya bisa menyimpan
aku tahu
tak akan bisa benar benar membuang kenang
tak akan mampu membakar gusar masa lalu
tak bisa bersihkan ingatan itu

jadi aku hanya mengunci laci
bahkan untuk lalu membuang kuncinya pun aku sayang.

ah.

Halte Tebet, 22032018
Poetoe

tarian di bawah matahari senja

sekumpulan orang menari di bawah senja
gerakannya berenergi
sisa sisa nafas hari
bercerita tentang harapan
yang serupa umpan membuat ikan jiwa bergerak cepat mengejar
padahal setelah tergigit pun bibir justru terluka
ditarik ia ke udara
menggelepar kehabisan air dalam insang

sekumpulan orang menari di bawah matahari keemasan
gerakannya derap dada
bercerita tentang detak nadi
berdenyut mengejar mimpi yang tak terbiasakan

sebelum senja usai
aku mulai mendekat ikut bergerak
mata terpejam
kubiar senja membimbingku
perlahan tubuhku melayang.

Halte pancoran, 22032014
Poetoe

istirahku

aku bersembunyi di kepakan kelopak mata itu
kejap demi kejap
meringkuk aku kelelahan

ini aku
yang terus bergerak
padahal tak sepenuhnya berenergi
megap megap namun kulipat saja

duduk berhadapan dan berbincang ringan adalah caraku bersandar
mengaharap tabik
berharap terhisap remah remah ruh muda itu
dalam rentaku
dalam redup usiaku

aku bersembunyi di kepakan kelopak mata itu
kejap demi kejap
meringkuk aku kelelahan

Halte Pancoran, 22032018
Poetoe

penjajahan citra

penjajahan di mana mana
citra seperti mantra
menjajah jiwa
tas mahal dan sepatu bagus itu
menyihir ia menjadi angkuh

ah

penjajahan di mana mana
tersandra oleh keinginan dihormati
menyulap ia menjadi mudah terluka
mudah tersinggung
sehari hari adalah marah
setiap saat adalah resah menjaga persepsi manusia lain

follower jadi penting
like itu serupa nafas
pujian itu berhala
celaan bahkan hanya kritik menjadi belati pembunuh

duh

menjadi lemah oleh citra
mudah mati
mudah mati
karena hal hal tak berarti

penjajahan di mana mana
bahkan di sosial media
bahkan di poster poster kampanye.

sedih.
sedih saja.
tapi tidak apa apa.

Masih jelang pancoran, 22032018
Poetoe

Sejenak saja.

duduklah sejenak
tak lelahkah kau menari di panggung dunia
mengikuti irama ambisi
mentaati laju inginmu

duduklah di sini
tinggalkan sesaat
bising dunia
pejamkan mata
cobalah pikirkan yang selama ini tak terpikirkan

tarik nafas dalam dalam
ulang ulang nama Tuhan
agar mengendap
agar kembali jernih belik jiwa.

Jelang pancoran, 22032018
Poetoe

energi bahagia itu

setiap jeda yang kau sengaja adalah rindu
setiap dekat yang kau buat adalah hangat
semua tak tersia
rasa rahasia

bisik bisik sepi
di setiap jam yang sama
pengulangan yang berirama
selalu menumbuhkan
selalu menguatkan

kuserap segala indahnya
kuhisap semua debarnya.

selamat pagi, beib

Bekasi Jakarta, 22032018
Poetoe

memberi arti atas mati juga nanti

kematian bisa datang kapan saja,
dan kita masih berboncengan bersama pagi itu
bercakap tentang mereka yang telah mendahului, mati.
dan kita kapan entah itu nanti.

setiap detik itu mungkin mati mungkin juga nanti
laju motor kita, belokan, juga langkah saat mrnyeberang
bisa saja lalu mati.

benar juga jika tugas yang bernafas itu memberi arti pada setiap hari
karena kematian di saat kosong arti itu kematian yang menyedihkan.
sangat.
dan bayangan atasnya adalah kengerian.

kugenggam remas tanganmu,
temani aku.
pagi ini aku takut.

Pintu Tol Bekasi Timur, 22032018
Poetoe

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...