waktu pandai benar berkelakar
memisahtemukan kita tanpa kabar
walau saat pisah pun
tak benar sebenar pisah
karena kau selalu di hati. pasti.
dan kopi adalah bahasa kita
dan jari jariku serupa tulisan untukmu
membacai mereka satu satu
bagiku adalah debar yang tak sebentar
lalu tawa
terbahak bahagia
bahkan mereka yang pernah bahagia olehmu pun mengerumuniku
bangga
seolah pemenang, karena mereka percaya, juga kau
pada mimpi yang bahkan sekedar mimpi pun aku malu
bibir gelisah bergetar
keinginan ranum menawar debar
bekasi, 04012018
Poetoe
karena kata adalah awal dunia; butuh ruang untuk memelihara "kata" sejak ada di "pikiran", "lisan", bahkan "tulisan".
Senin, 08 Januari 2018
dan ang-kita
kopi, tikus, kucing, anjing dan laut
lalu siang itu kami kecup
cinta, lawan, pasangan, diri dan lingkungan
menebak nebakjiwa
harum matahari kami sesap
mau bahagia atau berarti?
pelepas dahaga atau sebilah belati?
kebergantungan menjadi tuak
sandaran entah mungkin pelarian
aku, kau atau mereka...
KopiMana, 3 Januari 2018
Poetoe
lalu siang itu kami kecup
cinta, lawan, pasangan, diri dan lingkungan
menebak nebakjiwa
harum matahari kami sesap
mau bahagia atau berarti?
pelepas dahaga atau sebilah belati?
kebergantungan menjadi tuak
sandaran entah mungkin pelarian
aku, kau atau mereka...
KopiMana, 3 Januari 2018
Poetoe
Selasa, 02 Januari 2018
Rabithah
rapatkan barisan,
pastikan jangan ada sela
kita bersama dalam cinta, jangan ada syetan di antara kita
bangunan ini kokoh oleh taat
ikatannya saling percaya
ruang pribadi dan kreasi ada
namun tak boleh melewati batas ketundukan
terkadang ada jebakan di tengahnya
berupa gairah membela teman
solidaritas
namun lingkupnya sempit sebatas kelompok kecil
terpeleset bisa jadi jatuh
jatuh pada konflik yang tak perlu
dan bersama tentu lebih utama
jika beda, kita tetap bisa saling berdoa
kuatkan ikatan hati ini,
sampai nanti
sampai mati.
Bekasi, 03 Januari 2018
Poetoe
pastikan jangan ada sela
kita bersama dalam cinta, jangan ada syetan di antara kita
bangunan ini kokoh oleh taat
ikatannya saling percaya
ruang pribadi dan kreasi ada
namun tak boleh melewati batas ketundukan
terkadang ada jebakan di tengahnya
berupa gairah membela teman
solidaritas
namun lingkupnya sempit sebatas kelompok kecil
terpeleset bisa jadi jatuh
jatuh pada konflik yang tak perlu
dan bersama tentu lebih utama
jika beda, kita tetap bisa saling berdoa
kuatkan ikatan hati ini,
sampai nanti
sampai mati.
Bekasi, 03 Januari 2018
Poetoe
Senjakala kamajaya
mana sayap mengapa begitu senyap
beterbangan aku dan lukaku
berkelidan dengan awan
bercumbu dengan mendung
tak terkejar kau
justru terkecup rinduku
buyarlah, berkibaran rahsa ajaib itu
kerinduan yang tabu
cinta yang menggebu namun tak layak tayang
untuk apa
nalar memang bengis
pisau tajam logika siap mengiris
mencongkel bersih serpihan kamajaya
tandas habis
mana sisa
kita poranda
dua tubuh tanpa rasa
hanya raga
hanya raga.
Pajakafe, 02 Januari 2018
Poetoe
beterbangan aku dan lukaku
berkelidan dengan awan
bercumbu dengan mendung
tak terkejar kau
justru terkecup rinduku
buyarlah, berkibaran rahsa ajaib itu
kerinduan yang tabu
cinta yang menggebu namun tak layak tayang
untuk apa
nalar memang bengis
pisau tajam logika siap mengiris
mencongkel bersih serpihan kamajaya
tandas habis
mana sisa
kita poranda
dua tubuh tanpa rasa
hanya raga
hanya raga.
Pajakafe, 02 Januari 2018
Poetoe
di dalam.
Pintu: adalah penghubung antara dalam dan luar
dan luar terlalu liar
riuh gempita dengan marah
saling menyalahkan
mau menang sendiri
Fitnah
membuat enggan beranjak
meringkuk saja di sini
sesekali pintu kubuka, agar bisa
melihat luar
melihat saja
tanpa keberanian melangkah ke sana
meringkuk saja di sudut dalam
ternyata tak lalu sepi
dalam hening terkadang justru lebih bening melihat semua
duduk di tepi belik kecil
air yang tergenang benar benar dari mata air
dingin dan sejuk
berlama lama tak kan bosan.
lalu pintu aku tutup
di dalam saja; cukuplah.
Bekasi, 1 Januari 2018
Poetoe
dan luar terlalu liar
riuh gempita dengan marah
saling menyalahkan
mau menang sendiri
Fitnah
membuat enggan beranjak
meringkuk saja di sini
sesekali pintu kubuka, agar bisa
melihat luar
melihat saja
tanpa keberanian melangkah ke sana
meringkuk saja di sudut dalam
ternyata tak lalu sepi
dalam hening terkadang justru lebih bening melihat semua
duduk di tepi belik kecil
air yang tergenang benar benar dari mata air
dingin dan sejuk
berlama lama tak kan bosan.
lalu pintu aku tutup
di dalam saja; cukuplah.
Bekasi, 1 Januari 2018
Poetoe
Semut itu
semut kecil hitam berkepala besar
sendirian saja
gerakan kepalanya mengangguk angguk
entah anggukan setuju atau tanda bahwa ia mengerti
tapi setuju atas apa
atau mengerti tentang apa
atau
jangan jangan ia meledekku
lelaki bodoh yang duduk di bawah pohon,
memandang semut di bebatuan
mungkin bukan sekedar memandang
melainkan saling berpandangan
dan ia yang lebih mengerti aku
dibanding aku mengerti dia
dan sepertinya memang iya
karena lalu ia mendekat
memanjat sandalku, hingga meraih jempol kakiku
berhenti di sana, mungkin ia mencermati tekstur kulit kakiku
menghitung berapa luka di jemari
bisa jadi ia juga menganalisa sebab luka itu
membaca masa laluku dari kulit kakiku
aku jadi takut
hendak kusentil pergi tapi....
terpikir jika ternyata bukan itu yang ia pikirkan? alangkah kejamnya
akhirnya aku biarkan saja
jika pun ia baca, lalu apa rugiku
ia toh tak punya sosial media untuk menyebarkan rahasiaku
paling ia hanya akan sampaikan ke teman teman sesama semut,
itu pun kalau ia bisa kembali pulang
melihat kesendiriannya, bisa jadi ia semut yang tak punya banyak teman
belum lagi cuaca yang mungkin sebentar lagi hujan
bisa jadi ia terbawa arus, lalu tersesat tak temukan jalan pulang
semut itu mendongak ke atas
seperti mencari wajahku
lalu mengangguk angguk lagi
entah anggukan apa
mungkin anggukan mengerti
tentang apa yang aku pikirkan
atau anggukan permisi, ia mau pamit
karena tak lama setelah itu
ia beranjak
begitu saja
tanpa gigitan
begitu saja.
Subang, 01 Januari 2018
Poetoe
sendirian saja
gerakan kepalanya mengangguk angguk
entah anggukan setuju atau tanda bahwa ia mengerti
tapi setuju atas apa
atau mengerti tentang apa
atau
jangan jangan ia meledekku
lelaki bodoh yang duduk di bawah pohon,
memandang semut di bebatuan
mungkin bukan sekedar memandang
melainkan saling berpandangan
dan ia yang lebih mengerti aku
dibanding aku mengerti dia
dan sepertinya memang iya
karena lalu ia mendekat
memanjat sandalku, hingga meraih jempol kakiku
berhenti di sana, mungkin ia mencermati tekstur kulit kakiku
menghitung berapa luka di jemari
bisa jadi ia juga menganalisa sebab luka itu
membaca masa laluku dari kulit kakiku
aku jadi takut
hendak kusentil pergi tapi....
terpikir jika ternyata bukan itu yang ia pikirkan? alangkah kejamnya
akhirnya aku biarkan saja
jika pun ia baca, lalu apa rugiku
ia toh tak punya sosial media untuk menyebarkan rahasiaku
paling ia hanya akan sampaikan ke teman teman sesama semut,
itu pun kalau ia bisa kembali pulang
melihat kesendiriannya, bisa jadi ia semut yang tak punya banyak teman
belum lagi cuaca yang mungkin sebentar lagi hujan
bisa jadi ia terbawa arus, lalu tersesat tak temukan jalan pulang
semut itu mendongak ke atas
seperti mencari wajahku
lalu mengangguk angguk lagi
entah anggukan apa
mungkin anggukan mengerti
tentang apa yang aku pikirkan
atau anggukan permisi, ia mau pamit
karena tak lama setelah itu
ia beranjak
begitu saja
tanpa gigitan
begitu saja.
Subang, 01 Januari 2018
Poetoe
tunduk
lipatan lengan baju sendiri yang terlihat
kepala bersandar pada tepi meja
aku lelah mendongakkan wajah
butuh istirah, tunduk saja
biarkan ruang pandang menyempit
hanya aku dan diriku saja
hingga helaan nafas yang tarik hembus pelan itu terasa setiap detailnya
hingga laju darah dalam nadi itu terasa denyutnya
hingga ingus yang tertahan di pangkal hidung itu terasa posisi persisnya
juga kopi yang mengalir hingga ke lambung itu terasa sensasinya
dan aku tak temukan orang lain
hanya aku dan diriku
benak aku rehatkan sesaat dari aktifitas kenang mengenang
hati aku hentikan sejenak dari kegiatan harap mengharap
nguuuuung.
hanya dua menit saja
terasa lama dan menyegarkan
01 Januari 2018
Poetoe.
kepala bersandar pada tepi meja
aku lelah mendongakkan wajah
butuh istirah, tunduk saja
biarkan ruang pandang menyempit
hanya aku dan diriku saja
hingga helaan nafas yang tarik hembus pelan itu terasa setiap detailnya
hingga laju darah dalam nadi itu terasa denyutnya
hingga ingus yang tertahan di pangkal hidung itu terasa posisi persisnya
juga kopi yang mengalir hingga ke lambung itu terasa sensasinya
dan aku tak temukan orang lain
hanya aku dan diriku
benak aku rehatkan sesaat dari aktifitas kenang mengenang
hati aku hentikan sejenak dari kegiatan harap mengharap
nguuuuung.
hanya dua menit saja
terasa lama dan menyegarkan
01 Januari 2018
Poetoe.
Langganan:
Postingan (Atom)
Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...
-
Mereka, para Shahabat Rosulillah itu membaca "Ayat-ayat Allah" dan juga sabda Rosulullah SAW, tidak sekedar sebagai "pesan...
-
"Jika benar kau pemerhati hal-hal sederhana, maka apa yang paling tercatat di mula pertemuan kita dulu?" Mungkin jawabannya adalah...
-
Buku MADILOG, Materialisme, Dialektika dan Logika adalah buku karya Tan Malaka yang kaya. Berisi banyak pengetahuan. Tak kebayang buku ini...