Senin, 27 Juli 2015

dead line

Aku harus menemukan jawaban sebelum pukul 18.00 sore ini. Jika tidak maka aku resmi menjadi manusia naif. Ini tak mudah. Aku harus berpikir keras.

Mungkin aku perlu sesaat terpejam. Biarkan gelap menguasai retina mata. Lalu aku biarkan suara-suara di sekitarku berhamburan lalu bergerak menyatu. Serupa mozaik yang perlahan tersusun. Iya. Aku mulai menemukan jawaban.

Adalah semenjana, sikap yang sering aku jadikan judul puisi. Sikap pertengahan. Terlahir oleh dua tarikan yang terlihat kontradiktif. Kesalahan itu harus diperbaiki. Bukan sekedar disesali. Memperbaiki itu membangun bukan memporakporandakan. Jika ingin mengubah dengan melanjutkan dengan bangunan baru, tentu butuh kesantunan. Terkesan gamang mungkin, tapi tidak. Ini tentang kehati-hatian. Tak ada yang tak bisa kita petakan. Bahkan rasa.

Peta rasa itu kita gubah. Lalu rencana perjalanan kita susun. Ada penyesalan, ada kesadaran, ada gulita kecewa ada pula kepedihan. Namun semua tentu kita racik dengan komposisi terbaik.

Semenjana itu mungkin kearifan juga. Namun tentu aku berharap kearifan itu tidak serta merta membuat aku pantas disebut naif.

Entahlah.

Kamis, 23 Juli 2015

Tetap Bahagia

Keberpasangan tidaklah lalu saling menggantikan, bahkan terang dan gelap. Terkadang mereka justru beriringan.

Mungkin juga musibah tak lalu berarti enyahnya bahagia, dan lahirnya kesedihan. Karena alasan untuk tetap bahagia itu selalu mengiringi langkah kita, bahkan pada saat musibah datang pun ia ada.

Hanya kita yang sering lengah. Terbiasa bermain iya dan tidak. Hitam putih. Gelap terang. Seperti tak ada pilihan lain selain kesedihan saat musibah datang. Padahal bukankah Dia melarang kita bersedih? 

Jika kita benar-benar tak ingin bersedih, maka pandai-pandailah mengumpulkan energi kegembiraan kita sepekat apa pun kabut kesedihan itu datang menyerang. Ambil hikmah yang indah dari setiap peristiwa, terus fokus memandang setengah gelas terisi bukan setengahnya yang kosong. Seperti juga tetap memegang empat balon lainnya setelah balon hijau meletus. Bukan sibuk meratapi si balon hijau (belajar dari lagu Balonku).

Apakah ini mudah? Tentu tidak. Butuh latihan yang serius, dan kesiapan hati yang memadai. Salah satunya adalah bersering-sering bersimpuh kepadaNya, memohon perlindungan dan ampunan. Ekspresi ketidakberdayaan sebagai hamba bisa menjadi energi saat hadapi berbagai keputusanNya. Musibah atau nikmat, menjalaninya tetap dengan bahagia.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kesabaran dan kesyukuran untuk kita. Aamiin.

Poetoe....
Syawal, 1436 H

Kamis, 16 Juli 2015

sudah bertakbirkah?

Saat bertakbir maka yang penuhi isi kepala adalah KeagunganNya, maka kesadaran akan kerdilnya kita yang lalu muncul.

Sebagai hamba kita memang kecil, lemah, dan teramat butuh padaNya. Dan yang menyebalkan kita sering terlupa oleh kelemahan ini.

Bahkan saat bertakbir, kita justru sibuk dengan kita ini siapa, seberapa dianggap adanya kita dalam masyarakat.

Saat tersadar kita tak dianggap ada oleh lingkungan kita lalu cari perhatian dengan petasan dan tarikan gas motor di sepanjang jalan.

Manusia sebagai makhluk tempat salah dan lupa. Selama belum berani akui kelemahan dan kesalahan maka sulitlah kebahagiaan itu ada di dada.

Bagaimana bisa bahagia, jika kita masih serupa Iblis yang sibuk dengan rasa diri sebagai makhluk hebat hingga lupa diri sebagai pengabdi?

Bagaimana bisa bahagia jika kita masih sibuk membela nama baik dengan memoles diri berpura tak pernah punya salah dan dosa?

Bagaimana bisa bahagia saat semestinya sibuk beristighfar kita justru sedang sibuk menyalahkan orang lain. Agh. Jangan-jangan tulisan ini pun..?

Jika benar ingin bahagia, mungkin harus berhenti mengeluh, berhenti menyalahkan orang, berhenti membela diri saat disalahkan.

Mulai dari mengakui kesalahan, lalu menyesal, lalu beristighfar, lalu meminta ampunan padaNya, lalu meminta maaf pada sesama.

Bertakbir, bertahmid, bertahlil, beristighfar, bersimpuh di tengah lapang, sadari kelemahan diri, tundukkan hati, meleburlah diri...

Poetoe, 1 Syawal 1436 H.

Tentang Dunia

Dunia memang serba sementara. Selalu ada mula lalu akhir. Karena di dalam dunia kita tak lepas dari cengkeraman waktu.

Jika mula adalah pertemuan maka akhir adalah perpisahan, jika mula adalah perkenalan maka akhirnya adalah melupakan.

Perpisahan itu pasti demikian juga dilupakan itu keniscayaan. Seperti kematian yang selalu ada di balik kehidupan.

Karenanya takut akan perpisahan, dilupakan dan kematian itu ketakutan yang akan menyiksa. Takut atas sesuatu yang pasti.

Agar tak tersiksa bersiapsiagalah hadapi perpisahan, dilupakan, juga kematian. Pastikan tak ada air mata yang sia sia. 

Poetoe, akhir Ramadhan 1436 H.

Tidak tersinggung (menikmati) kritik, celaan, bahkan hinaan

Belakangan ini aku sempat beberapa kali sesumbar "aktifitas yang jarang aku lakukan adalah tersinggung." Tergolong sesumbar, karena sebenarnya kenyataannya tak mudah menjalaninya. Tetapi aku memang sedang belajar, bagaimana untuk tetap tidak tersinggung atas kritik, bantahan atau bahkan cacian dan celaan.

Caranya adalah, dengan menumbuhkan kesadaran bahwa sebagai manusia aku adalah tempat salah dan lupa. Artinya hal buruk apapun kata orang tentangku itu pasti mengandung kebenaran, karena memang aku banyak salah dan lupa. Jika yang disampaikan itu tak benar, tapi ada kesadaran bahwa sebenarnya masih banyak aibku yang masih Allah SWT sembunyikan, jadi untuk apa tersinggung? Karena jika aib itu dibeberkan rasanya aku lebih hina dari celaan dan hinaan dia.

Dengan berbekal kesadaran itu, insya Allah hatiku selamat dari aktifitas tersinggung atau pun sakit hati yang bisa jadi akan merusak rasa bahagiaku. Tidak berarti lalu kritik dan hinaan itu tak aku dengar, namun paling tidak aku mendengarnya dengan lebih objektif, lalu menerimanya sebagai masukan untuk langkah perbaikan di kemudian hari.

Jika sudah terlatih, mungkin aku  akan merasa senang saat mendapat kritik, sedikit pedas pun tak mengapa, karena itu membantuku untuk lebih menikmati hidupku. Menjadi bahan pembelajaran yang artinya ada tambahan proyek pengembangan diriku yang kuharap bisa menjadi proses tanpa henti di sepanjang hidupku.

Wallahu a'lam.

Poetoe, 25 Ramadhan 1436 H.

Beranjak dari dosa

Memahami diri dengan melihat potensi dosa dan kebaikan sebagai fithrah jiwa. Sehingga dapat terbaca dari mana sebab dosa.  Antara pemakluman dan kesadaran atas kesalahan. Titik tengah. Karena terlalu memaklumi diri jadi sepelekan dosa. Sikap sebaliknya bisa menjebak rasa bersalah berlebihan.

Kesadaran atas dosa pun harus berlanjut pada rencana tertata untuk meninggalkannya. Rencana tertata itu juga pertimbangkan potensi godaan yang akan membuat dosa terulang. Semacam internal kontrol.

Bisa juga dengan melibatkan pihak lain untuk ikut mengawasi. Bersama akan lebih mudah dibanding sendiri. Pantaslah jika salah satu "tombo ati" adalah berkumpul dengan orang shaleh. Karena kebaikan itu menular. Paling tidak bersama komunitas kebaikan potensi dosa kita terminimalisasi.

Semoga dimudahkan langkah kita. Aamiin. 

Poetoe, 24 Ramadhan 1436H.

Senandung Gatotkaca

Seperti ketika waktu berlarian sedang kita diam
Pengulangan demi pengulangan datang
Memaksa menangkap kesan yang berseliweran
Mencoba mencerap pesan yang lalu lalang
Seperti terjemahan cinta khas anak muda
Bahwa cinta adalah rangkaian tantangan dan pembuktian
Pembuktian-pembuktian itu menjadi seolah persembahan
Persembahan atas nama cinta
Semakin tinggi nilainya jika persembahan itu tak bermakna harapan atas imbalan

Terlepas saja.... sudah

Sedang layang-layang jiwa kita masih  menandak nandak seperti menapak jejak angin
Semakin tinggi semakin keras angin menampar.

Poetoe, Juli 2015.

Makasih mas Rahman Hakim telah memandu acara dengan asyik, juga kak Edmalia Rohmani dan mas Dhimas Wisnu Mahendra yang membedah buku Apakah ...